Bagian Dua Puluh Sembilan: Pakaian
Tentang pertanyaan ini, tak seorang pun tahu jawabannya. Meski semua pemburu sadar bahwa garam, benda berharga itu, sepenuhnya berasal dari bangsa laut, namun tak satu pun dari mereka mengetahui di mana tepatnya bangsa itu berada.
Satu-satunya hal yang mereka ketahui ialah: bangsa laut datang dari arah timur. Konon di sanalah kampung halaman mereka—laut yang luas.
Karena tak ada pilihan lain, Tian Xiang pun terpaksa mundur dan mengambil jalan tengah, yaitu mengawetkan daging serangga dalam jumlah besar dengan cara dipanggang kering.
Meski cara ini menghabiskan banyak bahan bakar.
Bahan yang dapat dibakar tersedia di mana-mana di dunia yang gelap ini: kayu, kertas, sampah bekas, juga bangkai serangga yang mengering setelah mati, semua bisa dijadikan bahan bakar. Namun, masalahnya, mengumpulkan semua itu sangat merepotkan. Terutama seperti sekarang, ketika harus mengeringkan daging serangga dalam jumlah besar sekaligus, bahan bakar yang dibutuhkan pun jauh lebih banyak.
Beberapa hari pengumpulan berturut-turut memang berhasil mendapatkan banyak bahan bakar, tetapi juga membuat semua benda yang bisa dibakar di sekitar markas habis sama sekali. Dengan kata lain, meski di masa depan mereka mendapat lebih banyak daging serangga, anggota suku pun harus mencari bahan bakar ke tempat yang lebih jauh. Realitas yang kejam ini membuat Tian Xiang harus kembali mengurungkan niatnya untuk mengawetkan daging serangga dengan dipanggang kering. Sebab, selain terlalu boros, sukunya pun harus menghadapi ancaman lain yang tak kalah menakutkan dari kelaparan.
Sebab, musim dingin telah tiba.
Sejak beberapa hari matahari terakhir, Tian Xiang sudah merasakan dengan jelas bahwa kehangatan yang tersisa dalam cahaya matahari sudah jauh berkurang dibanding hari-hari sebelumnya. Ditambah lagi, akibat penumpukan awan, sinar matahari yang bisa menembus ke permukaan tanah pun kian sedikit. Hingga saat matahari terakhir muncul, cahayanya benar-benar tertahan awan, hanya beberapa bayangan samar yang tampak malas menyentuh tanah.
Sebaliknya, dingin yang tersembunyi di balik kehangatan pun kian menjadi-jadi. Satu demi satu angin dingin yang membelai wajah selalu mampu membuat tubuh menggigil. Dalam keadaan seperti ini, bahan bakar untuk menghangatkan diri menjadi semakin tak ternilai.
Karena tak bisa mengawetkan makanan dengan cara dipanggang, setidaknya mereka harus mendapat persediaan bahan makanan yang cukup setelah musim dingin tiba. Bagaimanapun, dalam suhu yang amat rendah, kualitas makanan bisa bertahan lama tanpa membusuk.
Maka, ada dua masalah terbesar yang kini membebani Tian Xiang. Pengumpulan bahan bakar jelas salah satunya. Namun, dengan cuaca yang sudah sedingin ini, membawa anggota suku keluar untuk mencari bahan bakar jelas mustahil. Belum lagi soal berburu setelah musim dingin tiba. Pakaian yang mereka kenakan sudah amat tipis, berjalan di luar saja sudah membuat seluruh tubuh gemetar kedinginan. Apalagi memegang lembing dingin untuk berburu—itu benar-benar tak bisa dibayangkan.
Pakaian! Aku butuh pakaian musim dingin yang mampu menahan dingin!
Itulah masalah terbesar yang beberapa hari ini terus berputar dalam benak Tian Xiang. Masalah terpenting yang harus segera dipecahkan oleh seluruh suku. Jika mereka gagal melewati musim dingin ini, maka suku kecil yang baru lahir ini akan musnah selamanya.
Di gudang rahasia ruang kepala museum, memang ada beberapa pakaian tempur berkualitas baik. Pakaian ini cukup hangat, namun jumlahnya sedikit, tidak cukup untuk semua anggota suku. Tian Xiang sudah menghitung, sisa pakaian tempur hanya ada dua puluh empat buah. Dibandingkan dengan anggota suku yang berjumlah lebih dari seratus orang, selisihnya sangat besar.
Di pabrik pakaian otomatis markas nomor dua, memang ada banyak kapas untuk bahan tekstil. Namun, kapas itu belum diolah dan tidak bisa langsung dipakai. Yang lebih utama, tempat itu terlalu jauh dari tempat tinggal mereka sekarang. Anggota suku tidak akan sanggup menahan dingin untuk menempuh perjalanan ke sana. Selain itu, di markas yang kekurangan energi, sulit membayangkan betapa tekanan psikologis yang harus dihadapi para pemburu di dalam kegelapan yang pekat.
Apalagi, saat Tian Xiang pergi, komputer sudah dengan jelas memberitahunya: tidak ada energi cadangan. Maka, untuk mengaktifkan markas dan mengambil kapas di dalamnya, tingkat kesulitannya jelas jauh melampaui kisah-kisah kuno tentang memindahkan gunung atau membendung lautan.
Selama waktu ini, hal yang paling sering dilakukan Tian Xiang setiap hari adalah memeras otak mencari solusi di antara pengetahuan yang ditanamkan komputer kepadanya. Ia harus menemukan cara untuk memecahkan kesulitan saat ini. Maka, semua hal mengenai tekstil dan pembuatan kain telah ia selami habis-habisan.
Dari masa manusia kuno yang menutupi tubuh dengan daun, hingga era industrialisasi tekstil massal, seluruh sejarah dan teknologi tersebut dikuasai Tian Xiang. Ia bahkan tahu bagaimana menanam benih kapas, cara memanennya, cara memintal menjadi benang, hingga menenunnya menjadi kain. Semua pengetahuan dan proses itu ia pahami dengan jelas. Bahkan seorang kepala pabrik tekstil di zaman kuno pun mungkin tidak tahu lebih banyak darinya.
Tak hanya itu, ia juga tahu banyak jenis bulu hewan atau serat tumbuhan lain yang bisa dijadikan bahan baku tekstil, dan kain yang dihasilkan juga cukup hangat untuk menahan dingin.
Namun masalahnya, tak satu pun dari semua itu ia miliki. Kalaupun ada, tak ada mesin yang siap pakai untuk menenunnya jadi kain. Apalagi untuk menggerakkan mesin itu pun, ia tak memiliki cukup energi.
Dengan kata lain, kepala suku baru ini tak punya apa-apa, kecuali segudang ide dan rencana di kepalanya.
Beberapa hari berturut-turut, Tian Xiang memimpin anggota sukunya berburu mati-matian. Namun, berbeda dengan perburuan sebelumnya yang hanya demi mendapatkan daging, kali ini tujuan perburuan jauh lebih banyak.
Cacing spiral, adalah serangga yang sepenuhnya memakan tumbuhan. Layaknya serangga herbivora lainnya, cacing spiral pun hidup berkelompok. Serangga ini tidak besar, bahkan setelah dewasa, panjangnya hanya sekitar tiga atau empat puluh sentimeter. Dibandingkan dengan berbagai serangga herbivora raksasa lainnya, ia sungguh makhluk lemah. Bahkan bagi banyak serangga karnivora, cacing spiral yang kurus kecil ini adalah mangsa paling mudah.
Hanya saja, para pemburu biasanya tidak menjadikan serangga ini sebagai target mereka. Pertama, karena dagingnya sangat sedikit. Lebih penting lagi, karena sifat berkelompoknya.
Di dunia yang gelap, sekelompok besar serangga pemakan tumbuhan jauh lebih menakutkan daripada seekor serangga karnivora yang kuat.
Tentu, itu berlaku bagi pemburu yang hidup sendirian.
Beberapa hari berturut-turut, Tian Xiang bersama semua anggota suku yang mampu berburu, memburu cacing spiral di sekitar tempat tinggal mereka. Dengan tim pemburu yang kuat, ditambah beberapa senapan serbu yang bertenaga besar, perburuan berlangsung tanpa hambatan. Biasanya, dua baris lembing dilempar serentak, lalu beberapa kepala regu bersenjata api menahan balik serangan balasan cacing-cacing itu. Sementara para pelempar yang sudah mundur, kembali melemparkan lembing besi seperti hujan. Setelah beberapa kali pengulangan, kawanan cacing spiral yang besar hanya menyisakan beberapa ekor kecil yang ketakutan dan termenung di tempat.
Setiap hari, tim pemburu membawa pulang banyak cacing spiral, sehingga kegiatan pengajaran di dalam markas pun harus dihentikan sementara. Para orang tua dan pemuda yang tinggal pun ikut membantu mengolah bangkai serangga.
Sebab menurut kepala suku baru, serangga-serangga ini akan membawa kehangatan dan harapan bagi seluruh suku untuk melewati musim dingin.
Meski banyak yang masih ragu akan hal itu. Bagaimanapun, memakai serangga untuk melawan dingin adalah hal yang belum pernah mereka dengar.
Hasil perburuan yang beruntun sangat melimpah. Lebih dari tujuh ribu ekor cacing spiral dibawa ke markas. Atas perintah Tian Xiang, semua anggota suku menghentikan perburuan. Sebab, dalam beberapa hari ke depan, tugas mereka adalah memisahkan dan membersihkan daging yang bisa dimakan dan bagian lain yang diperlukan, sebelum bangkai serangga membusuk atau berbau.
Layaknya serangga herbivora lainnya, tubuh cacing spiral pun dilapisi lapisan tipis cangkang. Ini seolah sudah menjadi ciri khas semua serangga. Tentu, nama spiral pada serangga ini menandakan keunikannya. Di bagian ekor tubuhnya, ada bulu halus tebal sepanjang lima hingga enam sentimeter, dengan diameter sekitar sepuluh sentimeter.
Inilah yang menjadi incaran Tian Xiang. Lebih tepatnya, hanya sebagian dari incaran itu saja. Karena, jika membuka cangkang yang menutupi tubuh cacing spiral, pada bagian dalam cangkang yang menempel pada daging, juga tumbuh lapisan bulu tebal. Rasanya seperti jaket kulit mengilap yang diberi lapisan bulu di dalamnya.
Ini bukan rahasia. Setiap pemburu pernah memburu cacing spiral dan mereka tahu bahwa di dalam tubuh serangga ini tumbuh bulu. Namun, karena bulu itu tak bisa dimakan ataupun dipakai, biasanya mereka membuangnya, atau membakarnya sebagai bahan bakar.
Inilah yang dicari Tian Xiang: bulu yang tumbuh di bagian dalam tubuh serangga.
Jika kau datang ke markas untuk pertama kalinya, kau pasti akan terkejut melihat pemandangan di hadapanmu. Dari orang tua hingga anak-anak, semua sibuk bekerja, namun teratur dan tidak kacau. Kau akan melihat ratusan pemburu terbagi dalam beberapa kelompok. Mereka menangani gunungan bangkai serangga dalam serangkaian proses. Mulai dari membedah tubuh serangga, memisahkan daging dan cangkang, mencabuti bulu, mengikis cangkang, hingga membuang isi perut serangga. Semua itu menunjukkan kemampuan dan bakat pengorganisasian kepala kegiatan ini.
Sistem kerja jalur perakitan. Itulah cara baru yang didapat Tian Xiang dari pengetahuan para leluhur.
Tujuh ribu lebih serangga, seratus delapan puluh orang. Meski semua orang bekerja hingga kelelahan, dalam waktu terbatas mereka hanya bisa membersihkan sebagian besar saja. Untuk mendapatkan yang mereka butuhkan sebelum musim dingin tiba dan bangkai serangga membusuk, satu-satunya cara adalah meniru metode jalur perakitan para leluhur.
Terbukti, cara ini sangat efektif.
Bulu yang dikikis dari cangkang serangga sudah menumpuk menjadi beberapa bukit kecil berwarna gelap. Karena terendam darah serangga, bulu-bulu itu menyatu seperti sikat kasar. Saat disentuh, terasa kasar dan menusuk tangan.
Bulu serangga seperti itu baru berupa bahan mentah yang Tian Xiang butuhkan. Bahan mentah yang belum diproses.
Di dalam markas yang terbengkalai, terdapat sumur air. Sumbernya berasal dari sungai yang mengalir dari reruntuhan sejauh kurang lebih lima ratus meter. Meski airnya sangat dingin, namun sangat jernih dan yang paling penting, bisa langsung diminum.
Di sudut markas ada toilet peninggalan orang kuno. Tian Xiang sudah mencoba, sistem pembuangan air di sana sangat baik. Setelah dibersihkan, tempat itu bisa digunakan untuk membuang air limbah. Kini, tempat itu juga harus menanggung tugas tambahan.
Beberapa kuali besi besar diletakkan di depan selokan pembuangan, api besar menyala di bawahnya, mendidihkan air hingga meluap. Atas komando Tian Xiang, para pemburu membawa bulu-bulu serangga yang hitam keras, lalu melemparkannya ke dalam air hangat hasil campuran air panas dan dingin, mencuci dan menggosoknya berulang kali. Mereka membersihkan sisa darah di atasnya, menghilangkan lemak yang tersisa di bulu.
Proses ini sangat penting. Tian Xiang berulang kali mengingatkan agar pembersihan dilakukan dengan cermat dan teliti, semua lemak yang menempel pada bulu harus dibersihkan. Hanya dengan begitu, bulu akan menjadi lembut dan ringan, nyaman dikenakan tanpa rasa kasar yang menusuk.
Sabun, deterjen, cairan pembersih... Benda-benda ini sangat akrab bagi manusia masa lalu. Bagi mereka, itu bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, juga kunci dalam mencuci pakaian.
Sulit dibayangkan, sehelai pakaian yang sangat kotor, jika hanya dicuci dengan air tanpa bantuan bahan-bahan itu, apakah bisa kembali bersih seperti semula.
Tian Xiang memang belum pernah melihat benda-benda itu, tapi ia tahu semuanya pernah ada. Bahkan, ia hafal di luar kepala resep pembuatannya. Tapi semua itu sia-sia, karena meski ia menghafal proses pembuatan sabun seribu kali, sabun tak akan muncul begitu saja.
Satu-satunya cara hanya mengandalkan diri sendiri.
Buah lerak, adalah benda yang sering disebut dalam pengetahuan manusia kuno. Konon, inilah bahan baku sabun, juga benda wajib manusia zaman dahulu sebelum sabun ditemukan. Bahannya alami, sepenuhnya berasal dari tumbuhan.
Manusia di dunia gelap ini juga perlu mencuci pakaian. Cairan pembersih yang mereka gunakan juga disebut lerak. Namun, Tian Xiang tak yakin apakah lerak yang ia gunakan sama dengan lerak manusia zaman dahulu. Sebab, dari penampilannya, kedua jenis itu sangat berbeda. Setidaknya, dari ukurannya saja, lerak sekarang jauh lebih besar dari yang disebutkan di masa lalu, bentuknya pun berubah.
Namun bagaimanapun, inilah satu-satunya benda di dunia perburuan yang bisa membersihkan kotoran.
Meski pohon lerak mudah dijumpai, masa berbuahnya sangat singkat. Walau semua pemburu tahu kegunaannya, mereka tak membawa banyak, karena bukan bahan makanan.
Beruntung, kelompok Liu Rui menyimpan banyak lerak. Menurutnya, apapun yang dibutuhkan anggota suku harus masuk dalam daftar persediaan. Berkat itu pula, proses pembersihan bulu serangga bisa berjalan lancar.
Direbus, dicuci, diperas, dikeringkan... Setelah melalui serangkaian proses, bulu serangga yang semula hitam pekat pun mulai memutih, utamanya karena lemak yang menempel telah hilang. Rasa kasar dan menusuk pun lenyap, berganti kelembutan dan kehalusan.
Namun, bulu-bulu itu masih belum bisa dipakai. Karena, ini tetap bulu serangga, belum berupa kain. Agar bisa digunakan, masih ada satu proses penting lagi.
Beberapa hari lalu, Tian Xiang sudah memerintahkan Zhan Feng dan beberapa orang menebang beberapa pohon besar di sekitar markas. Kayu itu dibuat menjadi beberapa palu kayu berat. Tentu, bobot palu itu tak bisa diangkat manusia biasa. Untuk menggunakannya, mereka harus mengandalkan kekuatan mekanik.
Sebuah batang besi, sepotong besi bekas sebagai tumpuan, dan satu set katrol sederhana. Maka, terciptalah lumpang kayu raksasa yang paling sederhana dan efisien.
“Injak ke atasnya, injak sekuat tenaga, lalu lepaskan.” Itulah tugas yang diberikan Tian Xiang kepada anggota suku.
Bagi pemburu, alat aneh seperti itu sangat menarik. Terlebih saat mereka melihat tubuh mungil Tian Rou yang bahkan belum berusia sepuluh tahun bisa dengan mudah menggerakkan lumpang kayu itu, mereka benar-benar tercengang. Sebab, benda sebesar dan seberat itu bisa dijadikan mainan oleh anak sekecil itu, adalah sesuatu yang bahkan belum pernah mereka dengar.
Prinsip tuas. Salah satu teknologi paling sederhana dan berguna dari masa lalu.
Empat lumpang kayu raksasa, siang dan malam tanpa henti, terus-menerus menumbuk dan menggiling bulu serangga yang dibentangkan di tanah. Inilah inspirasi Tian Xiang dari proses pembuatan kain felt wol manusia kuno.
(Malam ini, sahabat hitamku menikah. Terpaksa, dengan mata berlinang dan hati perih, aku harus memberikan angpau yang penuh keringat dan air mata. Jadi, bagian malam akan kuposting pagi ini, jumlahnya tetap. Semoga kalian tetap mendukung. Demi semangat menulisku, demi bacaan yang lebih seru di masa depan, juga demi angpau sialan yang harus kuberikan meski tak rela.)