Bagian Keempat Puluh Empat - Pemeliharaan
Pertumbuhan jumlah penduduk sudah pasti akan diiringi dengan peningkatan konsumsi makanan. Oleh karena itu, sumber perolehan makanan pun menjadi masalah utama yang harus dipikirkan oleh Tian Xiang sebagai kepala suku. Jika dibandingkan dengan kelompok awal yang jumlahnya tak sampai dua ratus orang, masuknya para wanita dari Liuyun membuat angka itu bertambah lebih dari separuh. Kini, jumlah anggota suku sudah mencapai sekitar tiga ratus orang. Walaupun kehadiran para wanita itu memang bisa menengahi beberapa konflik internal, bagaimanapun juga mereka tetaplah manusia yang membutuhkan makanan. Tian Xiang sangat menyadari, sekalipun ia telah menyelamatkan mereka, tanpa pasokan makanan yang cukup, para wanita itu tetap saja bisa memilih meninggalkan kelompok. Bahkan mungkin, ketika kelaparan melanda, mereka akan diam-diam memenggal kepalanya saat ia tertidur, lalu memanggangnya di atas api untuk berpesta makan malam.
“Budi setetes air harus dibalas dengan mata air!” Itulah gambaran terbaik hubungan antara pemberi dan penerima kebaikan menurut kitab kuno. Sayangnya, hal semacam itu hanya bisa terjadi di masa lalu. Di antara para pemburu yang berjuang demi hak hidup paling dasar, pepatah itu hanyalah lelucon belaka. Meskipun kau pernah menyelamatkan nyawaku, membagikan suapan terakhir, bahkan menjadi kekasih yang tidur sekasur bersamaku, selama aku lapar, aku takkan ragu memakanmu. Tak perlu bicara tentang moralitas, apalagi omong kosong seperti keadilan atau kebajikan. Realitas begitu sederhana: saat ada makanan, kita adalah teman, kekasih, bahkan budakmu. Tapi ketika kau membuatku kelaparan, kaulah makananku yang terbaik.
Aku ingin hidup, dan untuk itu aku harus makan. Saat perut lapar, tak ada argumen apa pun yang bisa diterima. Tentu saja, ketika aku tengah makan, mungkin aku akan teringat segala kebaikanmu. Sayangnya, saat itu kau sudah menjadi daging panggang di perutku, dan tulang-tulang tak bernyawa di hadapanku.
Tentang Liu Rui, manusia elektronik yang hidup berabad-abad, Tian Xiang selalu merasa heran. Ia tahu, selama ratusan tahun Liu Rui menjadi kepala suku, mustahil ia bisa menyediakan makanan cukup bagi anggota suku setiap hari. Namun anehnya, ia tidak pernah dimangsa oleh anak buahnya yang kelaparan. Apa rahasia di balik itu? Apakah karena kulitnya sebagai manusia elektronik terbuat dari bahan sintetis yang benar-benar tidak bisa dikunyah?
Terhadap pertanyaan itu, Liu Rui tak pernah memberi jawaban. Setiap kali Tian Xiang bertanya, orang tua itu hanya tersenyum samar, lalu mengalihkan pembicaraan.
Persediaan daging serangga di ruang pendingin masih cukup untuk waktu lama. Tapi setelah itu? Jika semuanya habis, apa lagi yang bisa dimakan? Berburu memang perlu, tapi serangga pun sama seperti manusia, butuh waktu untuk berkembang biak. Di suatu tempat, mustahil hari ini kau membunuh seekor, lalu esoknya langsung muncul pengganti yang sama besar untuk disantap. Keajaiban semacam itu hanya ada dalam mimpi! Karena itu, kelompok pemburu mana pun yang terlalu lama tinggal di satu tempat, pasti harus bermigrasi, mencari sumber makanan baru. Ini adalah hukum besi yang tak bisa dilanggar oleh siapa pun. Maka, setiap kali menemukan tempat tinggal yang sesuai, mereka akan membantai habis semua serangga yang bisa ditangkap, merampas dengan rakus, lalu pindah ke tanah perburuan berikutnya yang lebih subur. Sebaliknya, serangga pun belajar hal yang sama. Banyak serangga yang pernah merasakan daging manusia tak pernah melupakan kelezatannya, lalu mulai berpindah tempat, melahap semua manusia yang ditemui, sebelum bergerak ke lokasi baru yang mungkin dihuni manusia.
Jadi, satu-satunya solusi untuk masalah pasokan makanan suku hanyalah bermigrasi.
Dalam hal ini, baik manusia maupun serangga, tak punya pilihan selain patuh. Namun Tian Xiang enggan pergi. Ia tahu betul betapa berbahayanya dunia luar. Dibandingkan dengan markas bawah tanah yang aman dan tersembunyi ini, tempat tinggal mana pun pasti menyimpan beragam bahaya tersembunyi.
Terlebih lagi, makhluk setengah manusia misterius itu jelas sudah bergabung dalam kelompok pemburu serangga pemakan manusia.
Jika tak pergi, akan mati kelaparan. Tapi kalau keluar, akan menghadapi berbagai bahaya, bahkan risiko punah. Tian Xiang punya rencana sendiri. Gagasan itu sudah lama bersarang di hatinya, dan kini saatnya diwujudkan. Sejak menolong para wanita Liuyun, ia selalu menyesal, bukan karena telah membantu mereka, melainkan akibat tindakan membantai besar-besaran serangga spiral demi mendapat bulu untuk pakaian musim dingin. Bersama para anggota, ia hampir memusnahkan seluruh populasi serangga spiral di wilayah itu. Seekor serangga spiral butuh setidaknya satu setengah tahun sejak menetas hingga dewasa. Meski ukurannya kecil dan siklus hidupnya hanya tiga tahun, untuk membentuk kelompok besar tetap perlu waktu bertahun-tahun. Pemburu serangga pemakan daging, manusia, serta ancaman aneh lainnya selalu menjadi penghalang utama berkembangnya koloni serangga. Kawanan serangga spiral di samping markas yang jumlahnya lebih dari sepuluh ribu itu, setidaknya telah tumbuh selama enam hingga tujuh tahun. Kalau saja Tian Xiang tak membantai mereka demi mengambil bulu, dengan hanya berburu seperlunya, populasi serangga di sana sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sukunya. Tapi penyesalan tak berguna. Kekecewaan itu hanya berlangsung sebentar, sebab ia telah menemukan solusi baru.
Beternak.
Itulah istilah khusus yang ia temukan dalam buku kuno. Menurut pemahamannya, beternak berarti “menukar sedikit makanan untuk memperoleh makanan lebih banyak.” Ayam, bebek, angsa, babi—nama-nama aneh yang konon pernah dipelihara orang zaman dulu, tujuannya agar bisa dibesarkan lalu disembelih untuk dimakan.
Bukankah ini mirip dengan “beternak manusia daging”? Kalau manusia, biasanya kakinya dipotong agar tak bisa lari. Namun menurut buku, binatang ternak harus dikurung dalam sesuatu yang disebut “kandang.” Kandang ayam, kandang babi, kandang sapi—itulah asal-usul namanya. Dengan kandang, hewan peliharaan takkan lari, bahkan saat dipotong pun akan mengangkat leher dengan senang hati.
Kandang serangga. Mungkinkah itu? Dua kilometer dari markas, ada sebidang tanah yang dulunya dipenuhi ribuan serangga spiral—sebuah surga kecil yang terbentuk dari reruntuhan beton akibat bertumbuknya beberapa gedung roboh. Celah-celah di antara puing bata dan batu menjadi tempat tinggal favorit serangga spiral. Tian Xiang sudah sering ke sana. Namun kini, tak seperti sebelum musim dingin yang penuh dengan pemandangan serangga menjijikkan, sarang itu tampak seperti reruntuhan biasa. Mungkin di bagian paling dalam masih ada beberapa serangga malang yang bertahan. Tapi jelas, kawanan besar itu telah lenyap. Yang tersisa pun tak lagi berani berkeliaran mencari makan seperti dulu.
Membiakkan serangga di bekas sarang itu, sekaligus menjadikannya “kandang serangga” sebagai sumber makanan suku di masa depan—itulah rencana Tian Xiang. Manusia butuh bertahan di musim dingin, begitu juga serangga. Terhadap serangga yang tengah berhibernasi di bawah tanah, Tian Xiang tak ingin mengusik mereka. Walau sudah mendekati musim semi, belum ada tanda-tanda serangga keluar sarang. Tapi ia tak ingin membuang waktu. Ia hendak mengajak anggota suku berkeliling di daerah yang mulai mencair, berharap bisa menemukan titik kumpul serangga spiral baru.
Nanti, saat udara menghangat, ia akan “menculik” sejumlah serangga yang cocok lalu memasukkannya ke kandang untuk dibiakkan. Ada pepatah kuno yang sangat tepat: “Kelinci tak memakan rumput di depan sarangnya.”
Meski Tian Xiang tidak punya gambaran jelas tentang “kelinci,” dan hanya tahu deskripsi hewan lemah itu dari data di Markas Dua, baginya kelinci hanyalah seonggok daging berbulu halus. Sampai saat ini, Tian Xiang belum pernah berpikir tentang tanggung jawab besar sebagai “penjelajah.” Kenyataan sudah di depan mata: “Kalau perut saja tak terisi, dengan apa aku akan menyelamatkan dunia? Menyelamatkan umat manusia?”
“Pengemis di pinggir jalan bermimpi menikahi gadis jutawan.” Itulah lelucon kuno, sindiran tajam bagi para pemimpi tanpa realitas. Jadi, Tian Xiang kini hanya punya satu tujuan: menemukan sumber makanan baru untuk mencegah kelaparan. Karena itu, ia sangat setuju dengan pepatah kuno tentang “kelinci.”
Hanya dengan membiakkan sumber makanan di depan rumah sendiri, barulah bisa dimanfaatkan dalam keadaan darurat. Cara ini sama saja dengan menimbun makanan—memang agak sulit, tapi keuntungannya jelas, setidaknya makanan yang didapat akan sangat segar.
Membiakkan serangga di sekitar tempat tinggal untuk diburu secara wajar—itulah inti dan makna paling sederhana dari “tak memakan rumput di dekat sarang.”
Kulit yang dikuliti dari tubuh manusia memang sangat bagus. Setelah diasapi dengan abu tumbuhan, terasa lembut dan hangat, jauh lebih baik dibanding sepatu dari kulit belalang raksasa. Memakai sepatu seperti itu di salju pun tak terasa dingin.
Beberapa hari berturut-turut, Tian Xiang dan Zhan Feng memimpin masing-masing satu regu untuk melakukan pencarian. Tugasnya sederhana: temukan sebanyak mungkin lokasi kumpul serangga pemakan tumbuhan.
Wilayah pencarian sangat luas, dengan markas sebagai pusat dan radius hingga sepuluh kilometer. Namun di mata Tian Xiang, itu masih terlalu kecil. Menurut rencananya, seharusnya daerah pencarian diperluas dua kali lipat. Sebab sekarang musim dingin, berbeda dengan musim lain di mana serangga berkeliaran di mana-mana. Musim dingin memang dingin, namun justru lebih aman.
Meski Tian Xiang dan Zhan Feng bekerja keras seperti sepasang tikus tanah mencari sarang serangga, waktu terus berjalan tanpa memberi mereka perlakuan istimewa. Perlahan, lapisan salju tebal mulai mencair, hawa dingin pun berangsur hilang. Semuanya memberi pertanda sunyi bagi para pemburu: musim dingin segera berakhir. Kegiatan pencarian mesti dihentikan, setidaknya tak mungkin lagi dilakukan dengan regu kecil seperti sekarang.
Setelah sebulan pencarian teliti, Tian Xiang merasa puas. Walau wilayahnya belum seluas yang diharapkan, hasilnya sudah sangat melimpah.
Di sebelah selatan markas, terdapat hutan gundul. Meski musim dingin memaksa pohon-pohon menanggalkan daunnya, saat musim semi tiba, tunas-tunas hijau muda akan bermunculan, lalu batang dan ranting yang rimbun membentuk naungan lebat. Tempat seperti itu selalu menjadi surga bagi kutu daun.
Di utara markas, reruntuhan gedung tua menumpuk membentuk gundukan. Tian Xiang menggunakan indra pikir untuk mendeteksi bahwa di bawah bongkahan-bongkahan itu, ribuan kecoa minyak sedang berhibernasi. Serangga ini hidup dari sampah, dan banyak benda menjijikkan justru menjadi santapan lezat mereka. Bahkan, ketika sangat lapar, kecoa berlengan keras dan berwarna hitam ini akan melahap kotorannya sendiri. Meski kebiasaan serangga ini sangat menjijikkan, setiap pemburu harus mengakui: daging putih di balik cangkang kecoa minyak itu sungguh lezat.
Sungai kecil yang mengalir berkelok di kota membuat Tian Xiang sangat gembira. Manusia butuh air, begitu juga serangga. Di sepanjang tepian sungai, banyak ditemukan jejak aktivitas serangga, bahkan di dalam air pun terdapat sumber makanan tak terduga.
Ikan.
Menurut orang kuno, ikan adalah binatang dengan rasa yang sangat lezat. Hewan air ini jumlahnya melimpah, dan dalam sejarah kuno, ikan pernah menjadi makanan utama manusia.
Makanan sebagus itu, tentu saja tak boleh dilewatkan.
Hanya saja, bentuk ikan di sini sangat berbeda dengan gambar yang pernah dilihat Tian Xiang dari buku kuno. Pernahkah kau melihat ikan berkaki empat?
Sebenarnya, itu tidak bisa disebut kaki, melainkan selaput yang ditarik keluar oleh otot tubuh ikan. Namun, dari strukturnya, sudah tampak seperti cikal bakal kaki. Meski bentuknya aneh, kelezatan dagingnya tetap tiada tara. Regu kecil Zhan Feng berhasil menangkap dua ekor dan merebusnya menjadi sup. Belum sempat matang sempurna, dagingnya sudah habis diperebutkan semua orang.
Bahkan tulang ikan yang tajam pun disantap dengan lahap oleh beberapa pemuda, seperti camilan istimewa.
Memang lezat, hanya saja berburu ikan jauh lebih berbahaya ketimbang serangga. Meski sungainya kecil, kedalamannya cukup berbahaya, dan ikan-ikan lezat itu tentu tak akan diam menunggu ditangkap. Mereka punya gigi tajam, sangat lincah di air, dan yang paling mengerikan, mereka hidup berkelompok—begitu ada makhluk asing, mereka akan menyerbu dan dalam sekejap melahap tubuhmu hingga hanya tersisa kerangka dengan rahang bawah yang bisa bergerak.
Ikan yang dibawa Zhan Feng itu benar-benar kebetulan. Ia menemukannya di kolam air yang membeku. Meski sulit ditangkap, bagaimanapun juga, ini adalah sumber makanan baru.
Sedangkan serangga spiral yang paling diincar Tian Xiang juga ditemukan di beberapa reruntuhan besar. Meski populasinya tak sebanyak kelompok sebelumnya, jika dijumlahkan, tetap ada sekitar tiga sampai empat ribu ekor yang layak. Tian Xiang yakin, dengan “dibudidayakan” selama beberapa waktu, jumlah itu bisa berlipat ganda.
Daya berkembang biak serangga memang jauh melampaui makhluk bumi mana pun. Hangatnya udara semakin mendekat, salju tebal mulai mencair, tanah hitam yang tersembunyi sepanjang musim dingin pun mulai tampak. Gumpalan es bening yang menggantung di atap reruntuhan pun tak kuat menahan berat tubuhnya sendiri—sebagian mencair perlahan, sebagian lagi nyaris jatuh, tak sabar ingin segera menyatu dengan tanah.
Musim semi hampir tiba. Dalam masa ini, kepala suku muda itu sangat sibuk. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaan sebelum cuaca benar-benar menghangat. Sebab, beternak serangga merupakan ide yang belum pernah terlintas di benak para pemburu.
Reruntuhan dekat markas telah dipilih sebagai lokasi “kandang serangga.” Tugasnya tampak sederhana: cukup lemparkan serangga spiral yang tertangkap ke dalamnya. Sisanya tinggal duduk menunggu dagingnya.
Kenyataannya, tidak semudah itu. Bahkan untuk menangkapnya saja sudah sangat sulit. Serangga spiral yang panjangnya hampir seukuran lengan, meski pemakan tumbuhan, tetap bisa menggigit keras. Membunuhnya mudah, satu tembakan sudah cukup. Tapi menangkap hidup-hidup tanpa luka, sulitnya setara dengan menantang seekor monster sendirian dengan tangan kosong.
Masalahnya, hanya serangga hidup yang bisa diternakkan.
Hal ini membuat Tian Xiang lama pusing, Zhan Feng dan Liu Rui pun tak punya solusi. Sebab, hal seperti ini belum pernah mereka pikirkan sebelumnya. Namun, satu kejadian tak terduga memberikan Tian Xiang petunjuk jalan keluar...