Bagian Kelima Puluh Dua: Pengurungan
"Bunga Pemakan Manusia", inilah sejenis tumbuhan yang tercatat dalam ensiklopedia flora kuno. Para pemburu pun nyaris tak mengenal makhluk semacam ini. Bukan karena mereka acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar, melainkan jumlahnya memang sangat langka, hingga orang cenderung tak memperhatikannya.
Tanaman menjalar yang sekilas tak berbeda dari sulur biasa itu ditemukan saat seorang anggota suku mencoba memindahkannya. Namun, penemuan itu harus ia bayar mahal. Begitu ia mengangkat batang besi, hendak mencabutnya dari akar, ranting-ranting yang semula tampak tenang tiba-tiba bergerak liar seolah dikendalikan kekuatan tak kasatmata. Dari segala penjuru, sulur-sulur itu melilit tubuhnya, mencengkeram tangan dan kaki dengan kuat, membungkus tubuhnya erat—seperti membalut ketan menjadi lontong—hingga sosok setinggi hampir dua meter itu berubah menjadi gumpalan daging yang terikat rapat. Terakhir, ia diseret masuk ke dalam rimbun semak tempat sulur tumbuh paling rapat.
Mendengar kabar itu, Tian Xiang dan para pemburu lain bergegas datang dan hanya bisa menatap nanar pada tragedi di depan mata. Tak satu pun mampu berkata-kata. Kegembiraan yang baru saja tumbuh di hati mereka seketika padam, seolah iblis penguasa kegelapan tengah menegaskan sekali lagi kekuasaannya, memperingatkan manusia-manusia yang ingin menantang martabatnya untuk membuang jauh-jauh mimpi kebebasan dan tunduk tanpa syarat pada tiraninya.
Kematian bukan hal ganjil bagi para pemburu. Mereka tak gentar, pun tak menghindari maut. Namun menyaksikan kematian kawan yang begitu mengenaskan dan aneh, rasa takut yang tak terjelaskan merambati hati semua orang, termasuk Tian Xiang.
Pemburu yang "ditangkap" sulur tanaman itu jelas sudah tewas. Tak mungkin manusia tetap hidup setelah tubuhnya dililit dan ditekan sampai sedemikian rupa. Kepala dan badan telah menyatu, ditekan sulur-sulur kasar hingga bagian belakang kepala menempel pada belakang paha, begitu rapatnya hingga kaki yang kekar membentuk lekukan bundar di bawah tekanan itu. Lengan dipatahkan pada sudut yang tak mungkin dilakukan manusia, hanya kulit dan daging yang masih menghubungkannya ke tubuh. Sementara telapak tangan, karena tekanan luar biasa, terpaksa membenam ke perut sendiri. Semua orang bisa melihat jelas, sepotong usus bercorak putih kemerahan, terjulur dari robekan luka di perut yang diakibatkan tangan sendiri...
Darah, warna merah itu memenuhi pandangan. Tian Xiang memperhatikan sulur-sulur yang membelit tubuh korban, penuh dengan duri-duri kecil yang tajam dan keras. Duri-duri itulah yang menusuk tubuh korban, menorehkan luka di sekujur badan hingga darah menetes membasahi seluruh tanaman. Bisa dibayangkan, betapa pedih dan mengerikannya siksaan yang dialami korban sebelum mati.
Namun, sulur pemakan manusia itu tampaknya tak puas hanya dengan kematian. Ia terus mengencangkan jerat, menyesaki setiap celah di tubuh korban. Bahkan, beberapa sulur telah merasuk jauh ke dalam tubuh tanpa tanda-tanda akan berhenti. Yang paling mengerikan, seolah sulur-sulur itu mampu bergerak bebas. Beberapa di antaranya bahkan menjulur keluar lewat rongga kepala dan mata korban, menampilkan cabang kuat yang masih bergetar, menggenggam bola hitam-putih berlumur darah merah—itu adalah bola mata korban!
Tian Xiang belum pernah melihat tanaman mengerikan semacam ini, bahkan sekadar mendengarnya pun tidak. Bukan hanya dia, bahkan Liu Rui, manusia elektronik yang telah hidup ratusan tahun dan memiliki pengalaman luas, pun ternganga menyaksikan pemandangan berdarah itu.
Namun, Tian Xiang menangkap sesuatu dari sorot mata Liu Rui—bukan sekadar takut, melainkan juga cemas, secercah kepanikan samar yang sulit dilukiskan... Di balik sulur yang bergoyang liar, Tian Xiang melihat pecahan cangkang serangga, potongan tubuh, dan helaian rambut yang berserakan.
Jelas, ini sejenis tumbuhan karnivora. Ia bukan hanya memakan manusia, melainkan juga serangga, mungkin bahkan hewan lain pun akan dilahap jika ada kesempatan. "Hancurkan! Hancurkan saja tanaman buas ini!" Tian Xiang hampir saja meneriakkan perintah itu, namun akhirnya ia menahan diri.
"Manusia itu sudah mati. Menghancurkan tanaman ini pun takkan mengubah apa-apa. Daripada mengambil risiko tak berguna, lebih baik pikirkan bagaimana memanfaatkan tanaman mengerikan ini." Metode meditasi yang ia pelajari memang mampu menenangkan pikiran di tengah kekalutan. Setidaknya, ia bisa membawa pikirannya ke keadaan yang relatif tenang.
Di dunia gelap yang penuh bahaya dan ancaman, sebuah tanaman pemakan manusia bisa menjadi ancaman besar, baik bagi dirinya sendiri maupun musuh. Apalagi jumlahnya yang sangat langka, jika dimanfaatkan dengan baik, bisa dijadikan alat pertahanan yang kuat untuk melindungi markas.
Beberapa hari berikutnya, Tian Xiang terus mengamati tanaman pemakan manusia itu secara diam-diam. Ia menemukan bahwa tanaman ini selalu berada dalam mode berburu yang tegang—begitu ada gerakan di sekitarnya, sulur-sulur berduri itu akan bergerak dengan kecepatan luar biasa, membungkus mangsa dari segala arah. Cepatnya seperti mesin pengemas otomatis zaman dahulu.
Untung saja, ia hanyalah tanaman, sepenuhnya tertanam di tanah, tidak bisa bergerak bebas. "Kalau saja makhluk ini punya kaki, siapa tahu siapa yang akan menguasai bumi sekarang, manusia atau serangga?" Tian Xiang tersenyum pahit. Daerah sebaran sulurnya pun tak luas, paling hanya lima hingga enam meter persegi. Tanaman ini juga tidak punya naluri khusus untuk menarik mangsa, hanya menunggu dengan pasif siapa saja yang mendekat. Dari sini, lebih tepat menyebutnya perangkap tetap.
Mungkin, akarnya yang menancap dalam di tanah hanya berfungsi untuk mencukupi nutrisi tumbuh, sementara energi utama untuk pertumbuhan didapat dari mangsa yang diburu. Tian Xiang ingin sekali memindahkan tanaman ini lebih jauh dari markas, namun dengan keadaan sekarang, hal itu jelas mustahil. Sulur-sulurnya terlalu peka, sedikit saja ada gerakan langsung bergerak liar. Setelah peristiwa kematian anggota suku, Tian Xiang tentu tak akan sebodoh itu untuk mencoba dengan tangannya sendiri.
Lalu, bagaimana dengan bijinya? Bisakah tanaman ini ditanam di tempat yang diinginkan? Dengan pertanyaan itu, Tian Xiang menyebarkan kepekaan pikirannya, mencari di sekitar tanaman. Akhirnya, ia menemukan tiga buah berbentuk oval berwarna hitam legam, tersembunyi di bawah pecahan batu yang dicengkeram sulur.
Dengan batang besi panjang, ia menggeser batu itu dan menarik buah tadi keluar dari jangkauan sulur. Selama proses itu, tentu saja sulur-sulur sempat bereaksi, namun tampaknya bisa membedakan antara benda mati dan hidup. Setelah beberapa kali percobaan yang mendebarkan, Tian Xiang akhirnya berhasil mendapatkan biji yang diinginkan. Tempat penanaman pun dipilih di beberapa jalur menuju markas yang tampak seperti jalan biasa. Menurut Tian Xiang, kelangkaan tanaman ini mungkin karena pertumbuhannya lambat. Namun, di luar dugaan, hanya dalam waktu kurang dari seminggu, bijinya sudah menumbuhkan beberapa sulur hijau muda yang lembut.
Tim pemburu yang dipimpin Zhan Feng sudah dua kali kembali. Hasilnya sangat baik, stok daging segar di gudang semakin melimpah. Untuk mempercepat transportasi dan perburuan, mereka juga membuat gerobak roda satu kuno yang banyak digunakan di masa lampau. Dengan alat ini, para pemburu bisa mengangkut barang lebih banyak dan berat. Siapa sangka, Tian Xiang sendiri justru yang pertama kali memakai gerobak itu, bukan pemburu.
Sejak musim semi, "lingkaran serangga" dibiarkan kosong. Hal ini memang akibat perburuan besar-besaran sebelum musim dingin, namun utamanya karena para pemburu sibuk dengan urusan lain dan tak sempat mengurus lahan produksi makanan masa depan itu. Setelah bolak-balik membantu tim pemburu mengangkut hasil buruan, Tian Xiang akhirnya memutuskan untuk memimpin sebagian anggota suku menyelesaikan masalah utama pasokan daging ke depan.
Ulat bulu, kutu daun, pemakan rumput—serangga herbivora ini rupanya gemar hidup berdampingan. Meski sarang mereka berdekatan, tetap saja mereka membentuk kelompok masing-masing. Selain itu, pilihan makanan mereka juga sama, mungkin inilah sebab populasi mereka selalu besar dan stabil hingga kini.
Reruntuhan dua kilometer di barat daya markas dipilih sebagai lokasi lingkaran serangga. Kerja keras anggota suku dalam beberapa hari saja mengubah tempat itu dari suram sebelum musim dingin menjadi hijau dan rimbun oleh tanaman liar. Beberapa ulat bulu yang selamat dari perburuan sebelumnya pun kini lahap memakan batang rumput segar, seolah sudah lupa akan ancaman manusia. Benar kata pepatah, "manusia mati demi harta, burung mati demi makan."
Serangga pun demikian. "Tangkap serangga herbivora hidup-hidup dan pelihara di lingkaran serangga kita." Itulah perintah Tian Xiang pada seluruh pemburu. Sederhana dan singkat. Namun, hanya perintah yang jelas dan mudah dipahami seperti itu yang bisa dijalankan semua orang, sementara makna mendalamnya baru akan mereka sadari kelak setelah menikmati manfaatnya.
Lokasi perburuan sudah ditentukan, dua bukit serangga di selatan markas, sekitar sepuluh kilometer jaraknya, merupakan sumber terbaik. Di bawah puing-puing dan batu berlumut hijau, puluhan ribu serangga bergerak, pemandangan yang membuat kepala pusing, mual, dan merinding melihat punggung mereka berhiaskan corak merah-kuning cerah.
Inilah makanan—mengerikan, menjijikkan, buas, namun harus dihadapi. Membunuh serangga itu mudah, lempar tombak dan selesai. Sisanya tinggal mendekat dan, bila perlu, menancapkan tombak sekali lagi. Setelah itu, angkat dan bawa pulang.
Setiap pemburu bisa melakukan ini. Namun, perburuan kali ini berbeda. Sesuai perintah sang kepala suku muda, hanya serangga hidup yang ia inginkan, bukan yang mati. Tak ada yang tahu harus bagaimana.
Sebuah gerobak berisi guci tanah liat kecil berwarna kuning didorong ke depan. Itulah guci bius ciptaan Tian Xiang. Lucu memang, awalnya ia ingin menjadikannya pengganti granat, tak menyangka penggunaan pertamanya adalah di sini.
Dua puluh meter di depan, sekelompok ulat bulu menumpuk malas di antara puing dan rumput, tampak baru saja makan besar dan kini tengah beristirahat. Tian Xiang meletakkan jari telunjuk di bibir, mengisyaratkan agar semua diam. Ia mengambil satu guci bius, menimbang-nimbang di tangan, lalu melemparkannya ke tengah kerumunan ulat.
"Plaak!" Guci rapuh itu tepat mengenai sasaran, pecah di sudut batu, menyebarkan cairan hijau gelap dan aroma menyengat ke udara lembap. "Bagus juga efeknya!" gumam Tian Xiang puas, melihat satu per satu ulat tergeletak telentang tanpa daya.
Memang, guci bius itu sangat ampuh. Semua serangga dalam radius belasan meter dari titik jatuh langsung tak bergerak, anggota tubuh mengerut, kaku seakan mati, tergeletak tanpa kesadaran. Serangga lain yang berada agak jauh memang tampak waspada, namun mereka hanya melihat manusia-manusia itu membawa guci kecil, bukan senjata.
"Teruskan, lempar lagi!" Beberapa guci berwarna cerah kembali melayang dan pecah di area yang telah ditentukan. Serangga yang lengah pun tertidur di waktu yang semestinya mereka waspada.
"Ayo, pungut semuanya!" Tian Xiang tersenyum sambil menambah lapisan kain basah di wajahnya, lalu melompat ke atas "gunung serangga", mengambil dua ulat dan memasukkannya ke gerobak. Melihat sang kepala suku memberi contoh, anggota lain pun mengikuti. Betapa ajaibnya, ulat yang biasanya ganas kini jinak seperti peliharaan, bahkan saat dilempar ke gerobak pun mereka tetap tertidur pulas.
"Astaga, ini bukan berburu, ini cuma pungut serangga saja!" celetuk seorang anggota suku bertubuh pendek. Memang, selain Tian Xiang, semua orang berpikiran sama.
Pengangkutan berlangsung cepat, dalam waktu singkat lima puluh gerobak penuh dengan ulat yang dibius. Sisanya tinggal membawa mereka ke lingkaran serangga. Setelah empat kali bolak-balik, malam harinya lebih dari seribu lima ratus ulat akhirnya menempati rumah baru yang disiapkan manusia tanpa mereka sadari.
Sehari penuh berlalu, efek bius perlahan menghilang. Tian Xiang senang melihat para ulat yang baru bangun hanya melihat-lihat sebentar lalu langsung melahap rumput tanpa ragu. Siapa pun pasti akan melakukan hal sama setelah tidur seharian tanpa tahu sebabnya.
"Tanaman di sini tumbuh cepat, makanan pasti cukup. Selama mereka bertahan dan berkembang biak, tim pemburu tak perlu lagi pergi jauh. Luar biasa betul metode pemeliharaan makanan kuno!" Tian Xiang tersenyum puas memandangi ulat-ulat yang merayap bebas di antara puing. Ia pun mulai memikirkan rencana berikutnya...
Saat itulah, sebuah suara panik terdengar dari dekat.
"Kepala... kepala suku, celaka... cepat pulang... ada... ada masalah!"