Bab Seratus Empat Puluh Dua: Gempar Sekali
Ketika pidato Lu Qiujian berakhir, Xiaoyue bertepuk tangan karena refleks, tetapi setelah beberapa ketukan, ia menyadari bahwa sepertinya hanya dirinyalah yang bertepuk tangan di seluruh auditorium. Dengan perasaan cemas, ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Xu Ye dan Li Yincheng tampak terkejut dengan mulut terbuka lebar, menatap lekat-lekat pada sosok yang tampak familier sekaligus asing di atas panggung.
"Ada apa ini?" Tanpa latar belakang matematika, mustahil bagi seseorang untuk memahami arti di balik pidato Lu Qiujian kali ini. Xiaoyue mengarahkan pandangan memohon kepada Xu Ye. Setelah Xiaoyue menarik-narik lengannya beberapa kali, barulah Xu Ye sadar. Melihat ekspresi bingung Xu Ye, Xiaoyue kembali bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tidak ada yang bertepuk tangan?"
"Isi pidato kali ini terlalu... terlalu mengejutkan!" Butuh waktu lama bagi Xu Ye untuk menemukan kata yang tepat.
"Apakah yang dia katakan salah?"
"Aku tidak tahu!" Xu Ye tersenyum pahit. Sekarang, ia bahkan tidak mampu memahami pidato teman sekamarnya sendiri, yang membuatnya merasa sangat terpukul. "Dia sedang memaparkan masa depan perkembangan matematika!"
"Apa masalahnya dengan itu?" Xiaoyue tetap tidak mengerti.
"Dia ini sedang berniat menjadi pemimpin dunia persilatan!" seru Xu Ye penuh keheranan. "Seorang pemuda berusia dua puluh tahun, berdiri di atas panggung dan memberi tahu para sarjana yang sudah lama memiliki nama besar, memberi tahu mereka bagaimana matematika akan berkembang, dan ke arah mana kalian harus berusaha selanjutnya!"
"Kamu dari jurusan bahasa asing, kan?" Setelah memastikan bahwa jawabannya benar, Xu Ye berkata, "Ini analoginya seperti kamu berdiri di atas panggung Konferensi Federasi Penerjemah Internasional, lalu memberi tahu para penerjemah senior bahwa penerjemah harus mengikuti standar baru yang kamu tetapkan. Menurutmu, apa yang akan terjadi?"
"Mana mungkin aku punya kualifikasi sebesar itu!" Xiaoyue tampak ketakutan oleh perumpamaan Xu Ye, tubuhnya menggeliat gelisah di kursi. Barulah saat itu ia memahami situasi pelik yang dihadapi Lu Qiujian.
Tindakan Lu Qiujian saat ini, jika dikatakan dengan bahasa yang baik adalah angan-angan belaka; jika dikatakan dengan buruk adalah tindakan yang tidak tahu diri. Urusan merencanakan masa depan perkembangan matematika hanya layak dilakukan oleh Grothendieck yang hadir di tempat ini. Orang-orang sisanya, bahkan sekelas Wiles dan Deligne pun masih terpaut sangat jauh, apalagi dirinya yang baru saja mulai mencuat di dunia matematika.
"Apakah kamu tahu apa yang sedang kamu bicarakan! Sejak kapan arah perkembangan dunia matematika menjadi giliranmu untuk mendefinisikannya!" Setelah rasa terkejut itu mereda, akhirnya seseorang sadar kembali.
"Bukankah arah perkembangan dunia matematika seharusnya bergerak ke arah yang benar?" Tanpa menunggu terjemahan simultan, Lu Qiujian langsung menjawab dalam bahasa Jerman.
"Apakah yang kamu katakan itu pasti benar?" Orang lain bangkit untuk membantah.
"Jika kamu menemukan kesalahanku, silakan tunjukkan secara spesifik!" Lu Qiujian menjawab dengan tenang tanpa merendahkan diri namun juga tidak sombong.
"Pidatomu tadi melibatkan total dua puluh tiga cabang matematika penting. Seberapa usiamu sekarang? Bahkan jika kamu mulai mempelajari matematika sejak lahir, kurasa itu tidak akan cukup untuk meneliti cabang-cabang ini secara mendalam! Apa yang kamu lakukan sekarang tidak lebih dari sekadar mencari perhatian! Ini adalah penghinaan terhadap seluruh dunia matematika!" Suasana perdebatan menjadi semakin sarat akan permusuhan.
"Jangan mengira orang lain tidak mampu melakukan apa yang tidak bisa kamu lakukan!" Lu Qiujian membalas dengan tegas tanpa sedikit pun niat mengalah. Ia kembali menegaskan, "Jika kamu memiliki keberatan terhadap isi pidatoku, sampaikan alasanmu. Jika kamu hanya bisa melakukan serangan personal seperti ini, itu hanya membuktikan bahwa integritas pribadimu bermasalah!"
Sanggahannya sama sekali tidak membuat orang lain gentar. Satu demi satu matematikawan bangkit untuk membantah. Jangan mengira dunia matematika adalah tempat yang damai; perjuangan di sini sama kejamnya. Jauh pada masa Yunani Kuno, Hippasus menemukan bahwa perbandingan antara sisi siku-siku dan sisi miring dari segitiga siku-siku sama kaki bukanlah bilangan rasional. Penemuan ini membuat marah mazhab Pythagoras yang percaya bahwa segala hubungan di alam semesta dapat diekspresikan dengan bilangan bulat atau perbandingan bilangan bulat! Meskipun ia adalah murid langsung Pythagoras, ia tetap tidak luput dari penganiayaan mazhab Pythagoras. Dalam sebuah pelayaran di laut, ia dilempar ke laut dan dibunuh oleh anggota mazhab Pythagoras.
Betapa kejamnya persaingan di antara para matematikawan dapat terlihat dari contoh tersebut. Meskipun kini kecil kemungkinan berisiko kehilangan nyawa, namun jika begitu banyak orang menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan reputasi seorang pendatang baru di dunia matematika, itu adalah hal yang sangat mungkin dilakukan.
Orang-orang yang mengenal Lu Qiujian, seperti Thurston, Profesor Nan, dan yang lainnya, juga tidak memahami mengapa Lu Qiujian harus melakukan hal ini. Meskipun mereka tidak bangkit untuk membantah, mereka juga tidak berani dengan mudah maju membantunya. Pertama, karena mereka masih menyimpan keraguan terhadap visi masa depan Lu Qiujian, dan kedua, bahkan kekuatan Princeton sekali pun tidak akan mampu menahan serangan dari seluruh dunia matematika.
Profesor Zhang dan sang rektor saling berpandangan. Mereka sempat memiliki firasat bahwa akhir pidato Lu Qiujian tidak akan berjalan tenang, tetapi mereka sama sekali tidak menyangka reaksi dunia matematika akan sedemikian besar! Mereka mengarahkan pandangan memohon kepada Akademisi Qiao.
Akademisi Qiao perlahan bangkit, berjalan ke atas panggung, merogoh saku jasnya untuk mengeluarkan sebuah diset pendek yang kemudian dimasukkannya ke dalam komputer podium. Ia menampilkan hasil kerja yang sebelumnya telah dibuat menggunakan draf pidato Lu Qiujian. Ketika halaman pertama data tersebut muncul di layar proyektor, ia mengambil mikrofon dan berkata, "Ini adalah sedikit hasil kerja yang saya buat berdasarkan naskah pidato Lu Qiujian. Silakan Anda sekalian mengujinya. Beberapa hari lalu, saya menggunakan superkomputer untuk memverifikasi salah satu rumus dari masalah pertama yang disebutkan dalam pidato tadi. Hasilnya membuktikan bahwa metode ini memberikan peningkatan yang luar biasa pada algoritma kuantum..."
Suara gaduh perlahan-lahan mereda. Orang-orang untuk sementara mengubur ketidakpuasan di dalam hati mereka dan mulai memperhatikan barisan angka-barisan angka di layar proyektor. Sebagian menunjukkan ekspresi meremehkan, sebagian tampak berpikir dalam-dalam, dan ada pula yang sedikit membuka mulut seolah-olah teringat akan sesuatu yang luar biasa...
Proses dan hasil perhitungan ini tidak memakan banyak halaman, dan Akademisi Qiao menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk menampilkan seluruh isinya. Setelah itu, ia berdiri di samping Lu Qiujian dan mengamati mereka dengan tenang.
"Keberhasilan dari satu kasus tunggal tidak bisa merepresentasikan bahwa seluruh isinya benar!" Setelah beberapa saat terdiam, seseorang kembali bersuara untuk membantah. Dari sudut pandang matematika, kalimatnya memang tidak salah.
"Namun, langsung menyangkal pandangan orang lain tanpa menemukan celah terlebih dahulu, bukankah cara seperti itu juga bermasalah?" Akademisi Qiao mulai berbicara untuk membela Lu Qiujian.
"Siapa yang tahu apakah data ini sudah kalian persiapkan sebelumnya?"
"Prinsip dan prosesnya telah tertulis dengan jelas di sana! Kalian sepenuhnya bisa mengujinya sendiri!"
"Sebuah perhelatan akbar yang pada akhirnya justru menjadi sebuah lelucon!" Seseorang menggelengkan kepala seraya merasa menyayangkan apa yang terjadi pada Lu Qiujian.
"Anak muda, kamu terlalu terburu-buru!" seseorang menasihati dengan niat baik.
"Pidato yang konyol! Ini tidak lebih dari khayalan seorang megaloman!" Lebih banyak orang lagi yang tetap berpegang pada pandangan awal mereka dan melancarkan serangan terhadap Lu Qiujian.
Tepat ketika seluruh ruangan dipenuhi dengan kehebohan, Grothendieck bangkit dengan tubuh yang sedikit gemetar. Didampingi oleh Deligne, ia berjalan ke atas panggung, menatap tajam ke arah para hadirin di bawah. Di bawah bayang-bayang wibawa agungnya yang menekan, aula tersebut perlahan-lahan menjadi sunyi.