Bab Tujuh Puluh Sembilan: Media Berkerumun
"Wah! Mobil dari Stasiun Televisi Nasional! Sekali datang langsung dua!" Di area parkir Universitas Ibukota, seorang mahasiswa yang jeli langsung memperhatikan dua mobil bertuliskan logo stasiun televisi nasional itu. "Ada kejadian besar apa di kampus kita kali ini?"
"Sepertinya berita bagus. Lihat saja, yang datang satu dari saluran sains dan teknologi, satu lagi dari saluran berita! Pasti ada terobosan besar dari salah satu jurusan di kampus kita!" jawab temannya dengan yakin.
"Itu juga ada mobil Harian Rakyat dan Harian Pemuda! Jangan-jangan pemenang Penghargaan Tertinggi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi tahun ini sudah diumumkan?" seorang mahasiswa lain ikut nimbrung dalam diskusi.
"Masa sih? Kandidat unggulan tahun ini kan Akademisi Liu dan Akademisi Wang. Satunya lulusan Universitas Shuimu, yang satunya lagi dari Universitas Bersatu Barat Daya, bukan orang dari Universitas Ibukota!" jelas mahasiswa yang tampaknya cukup mengikuti berita.
"Aduh, tahun lalu sudah diambil orang Shuimu, tahun ini tidak ada dari kampus kita, bikin kesal saja!" Persaingan antara Universitas Shuimu dan Universitas Ibukota memang tidak pernah berhenti.
"Ah, santai saja, dua tahun lalu bukankah dua penerima penghargaan berasal dari kampus kita? Lagipula, Akademisi Liu juga dosen paruh waktu di sini!" kata seorang mahasiswa lain dengan nada tak ambil pusing.
"Udahlah, kalian nggak lihat itu mobil Harian Pemuda? Coba pikir, kandidat yang kalian sebut itu semua sudah sepuh. Kira-kira kalau mereka yang mendapat penghargaan, Harian Pemuda bakal datang? Pasti ada hasil penelitian seorang doktor muda yang menggegerkan!" ujar mahasiswa lain yang tampak menilai rendah kemampuan analisa teman-temannya, namun tetap dengan nada iri.
Saat para mahasiswa muda itu sibuk menebak-nebak, para jurnalis dari berbagai media juga telah berkumpul di ruang rapat kampus. Kepala bagian humas universitas menyambut mereka satu per satu. Rektor Universitas Ibukota yang memiliki kedudukan setara pejabat eselon dua, setara dengan direktur utama stasiun televisi nasional, tetap duduk dengan tenang di dalam ruangan, tidak keluar menyambut. Profesor Zhang juga dipanggil untuk menemaninya duduk.
Keduanya sedang khusyuk membaca sebuah majalah. Profesor Zhang sambil menunjuk pada makalah karya Lü Qiujian, menjelaskan dengan suara pelan kepada rektor tentang posisi penting dugaan Poincare dalam matematika serta makna besar makalah tersebut.
Sembari mendengarkan penjelasan Profesor Zhang, rektor membaca makalah itu. Tidak heran kalau majalah itu sangat bergengsi, kertasnya bagus, tintanya istimewa, nama Universitas Ibukota dalam bahasa Inggris pun tampak menonjol. Membacanya menimbulkan rasa bangga yang tulus. Anak ini memang hebat, meski sudah berkiprah di luar negeri, ia tak melupakan almamater. Nanti saat ia kembali, harus diberi pujian yang layak! Dalam hati, rektor memberikan pujian setinggi-tingginya untuk Lü Qiujian.
"Pak Rektor, para wartawan sudah lengkap. Apakah acara bisa kita mulai sekarang?" tanya Kepala Bagian Humas, Pak Zhang, dengan senyum ramah. Ini kesempatan emas bagi departemennya untuk unjuk gigi.
Melihat mikrofon dengan logo media nasional di tangan para jurnalis, rektor mengangguk puas, lalu dengan berat hati meletakkan majalah, merapikan jasnya, dan berkata, "Kalau begitu, mari kita mulai!"
"Rekan-rekan media, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir di Universitas Ibukota. Saya, atas nama universitas, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya!" Ucapan pembuka Pak Zhang disambut tepuk tangan para jurnalis yang, di bawah reputasi emas universitas, meredakan sedikit sikap arogan mereka. Mereka bertanya-tanya, berita besar apa yang akan disampaikan universitas kali ini.
Untungnya, mereka tidak perlu menunggu lama. Setelah beberapa kata pembuka, Pak Zhang segera mengumumkan alasan utama undangan kali ini. "Kami mengundang Anda hari ini untuk menyampaikan sebuah kabar gembira. Selanjutnya, kami persilakan Rektor kami naik ke panggung untuk mengumumkannya!"
Urusan tampil di depan tetap harus rektor yang pegang. Para jurnalis tersenyum maklum, namun dalam hati mereka tahu, jika sampai pejabat setingkat eselon dua yang mengumumkan langsung, pasti beritanya besar. Mereka pun bersiap menyalakan alat perekam dan membuka buku catatan.
"Di bawah kepemimpinan yang bijak, dengan panduan pemikiran yang benar, Universitas Ibukota dalam beberapa tahun terakhir telah mencapai..." Rektor masih memulai dengan serangkaian bahasa resmi, tetapi sebagai lembaga pendidikan, ia tak berpanjang kata. Setelah lima menit, ia masuk pada inti pengumuman. "Mahasiswa tingkat tiga dari Jurusan Matematika, Lü Qiujian, baru saja berhasil memecahkan salah satu dari tujuh masalah besar matematika abad ke-21, yaitu dugaan Poincare. Temuan ini mengguncang dunia matematika dan membawa kehormatan besar bagi Universitas Ibukota maupun ilmu pengetahuan di negeri kita..."
Sementara itu, Pak Zhang sudah membagikan salinan majalah sains internasional yang memuat makalah Lü Qiujian pada para jurnalis. Bahkan, ia sengaja membukakan halaman makalah itu, khawatir ada jurnalis yang kurang lancar berbahasa Inggris.
Para jurnalis yang diundang Pak Zhang umumnya memang sudah memahami dunia sains, tahu betul betapa prestisiusnya majalah itu. Namun, dugaan Poincare terlalu teknis. Begitu rektor selesai bicara, jurnalis dari stasiun televisi nasional segera berdiri bertanya, "Pak Rektor, bisakah Anda menjelaskan makna dari terpecahkannya masalah ini?"
"Pertanyaan teknis sebaiknya dijawab oleh ahlinya. Silakan kepada Ketua Jurusan Matematika, Profesor Zhang, untuk memberikan penjelasan!" Rektor tersenyum, mempersilakan Profesor Zhang maju ke podium.
"Semua pasti pernah mendengar tentang Pak Chen Jingrun dan dugaan Goldbach, bukan?" Profesor Zhang tidak langsung membahas dugaan Poincare, melainkan, sesuai naskah yang diberikan Asisten Liu, ia mulai dengan kisah matematikawan lain.
Pendekatan ini memang sangat efektif. Berkat publikasi besar pada masanya, Pak Chen Jingrun adalah salah satu matematikawan paling terkenal di negeri ini, dan dugaan Goldbach adalah masalah matematika yang paling dikenal masyarakat luas. Sampai kini, Jurusan Matematika Universitas Ibukota masih sering menerima surat dari ilmuwan amatir yang mengaku telah memecahkan dugaan Goldbach.
Para jurnalis pun semakin bersemangat. Mereka mulai menyadari betapa pentingnya hasil yang baru diumumkan. Jurnalis dari stasiun televisi nasional kembali bertanya, "Maksud Anda, prestasi yang diraih oleh saudara Lü kini setara dengan apa yang dicapai Pak Chen Jingrun dahulu?"
"Barangkali masih ada perbedaan," jawab Profesor Zhang sambil menggeleng. "Beberapa bulan lalu, Dewan Penasihat Ilmiah dari Institut Matematika Clay telah memilih tujuh 'Problema Hadiah Milenium', di antaranya masalah NP lengkap, dugaan Hodge, dugaan Poincare, dugaan Riemann, teori Yang–Mills, persamaan Navier–Stokes, dan dugaan Birch–Swinnerton-Dyer. Ketujuh masalah ini merupakan arah penelitian terpenting dan paling mendesak di dunia matematika. Di antara masalah tersebut, dugaan Riemann dan dugaan Goldbach sama-sama masuk kategori teori bilangan. Namun, mengapa dugaan Riemann masuk, sedangkan dugaan Goldbach tidak? Sebab, satu sisi, dugaan Riemann mencakup bidang matematika yang lebih luas daripada dugaan Goldbach. Dari sisi lain, jika dugaan Riemann yang diperluas benar, maka dugaan Goldbach lemah berlaku untuk bilangan ganjil yang cukup besar."
Profesor Zhang berhenti sejenak, memberi waktu jurnalis mencerna penjelasannya, lalu melanjutkan, "Jadi, dalam arti tertentu bisa dikatakan bahwa dugaan Riemann lebih penting daripada dugaan Goldbach. Maka dugaan Poincare, yang setara tingkatnya dengan dugaan Riemann, juga lebih penting dari dugaan Goldbach. Selain itu, Pak Chen tidak sepenuhnya memecahkan dugaan Goldbach, sedangkan Lü Qiujian telah memecahkan dugaan Poincare secara tuntas."
Akhirnya Profesor Zhang tersenyum pada para jurnalis, menarik napas dalam-dalam, dan berkata, "Jadi, bisa kita simpulkan, hasil yang dicapai Lü Qiujian dampaknya bahkan lebih besar lagi dibandingkan pencapaian Pak Chen Jingrun di masanya!"
Mohon dukungan suara, bab berikutnya akan hadir pukul sembilan malam.