Bab Seratus Empat Belas: Pindah Jurusan
Ketika Lin Qianjun sedang melapor kepada kepala biro, Lü Qiujian juga tiba di kantor rektor bersama Profesor Zhang. Begitu melihat mereka masuk, sang rektor bangkit dari balik meja kerjanya, lalu menarik mereka untuk duduk di sofa. Setelah sekretaris menghidangkan teh, ia menatap Lü Qiujian dan berkata, “Aduh, tadinya aku sudah berencana merekrutmu untuk tetap mengajar di kampus begitu kau lulus, sambil meraih gelar doktor dan melakukan penelitian! Siapa sangka Princeton malah memberimu hadiah sebesar ini. Dengan gelar doktor dari Princeton, kau sepenuhnya memenuhi syarat untuk mengajar di sini!”
Profesor Zhang juga sangat gembira. Bahkan jika sekarang Lü Qiujian hendak mengambil gelar doktor di kampus ini, akan sulit menemukan pembimbing untuknya! Siapa yang berani menerima dirinya sebagai mahasiswa? Kalau sampai tersebar, bukankah orang-orang akan menertawakannya sampai mati—tidak bercermin dulu, memangnya kau pantas menerima calon peraih Medali Fields sebagai mahasiswa?
Kini, dengan gelar doktor dari Princeton, latar belakang pendidikannya tidak lagi menjadi penghalang bagi Lü Qiujian untuk mengajar di kampus. Bukankah universitas-universitas dalam negeri selalu menyambut dengan tangan terbuka para doktor yang pulang dari perguruan tinggi ternama di luar negeri?
“Doktor pada usia dua puluh tahun! Sungguh luar biasa! Saat berusia sepertimu, aku masih menempuh pendidikan sarjana!” puji sang rektor penuh kagum. Ia pun teringat, berapa usianya ketika dahulu memperoleh gelar doktor?
“Gelar ini diberikan secara khusus, jadi tidak bisa dianggap sebagai gelar doktor resmi,” kata Lü Qiujian merendah. “Lagipula, banyak orang yang meraih gelar doktor pada usia seperti saya. Tao Zhexuan juga kurang lebih memperoleh gelar doktornya dari Princeton pada usia ini. Bedanya, gelar miliknya benar-benar diraih melalui studi formal!”
“Tao Zhexuan baru meraih gelar doktor pada usia dua puluh satu tahun, lebih tua darimu setahun lebih!” Profesor Zhang cukup memahami sosok jenius muda itu. “Selain itu, ia sudah mengikuti kuliah di universitas sejak usia empat belas tahun, meraih gelar sarjana pada usia enam belas tahun, gelar magister pada usia tujuh belas tahun, lalu baru memperoleh gelar doktor pada usia dua puluh satu tahun. Artinya, ia tetap menjalani masa studi selama empat tahun!”
“Kalau Universitas Jingcheng bisa mengangkat Tao Zhexuan sebagai profesor tetap pada usia dua puluh empat tahun, tentu kita juga bisa membuat pengecualian untukmu! Hmm, sebenarnya ini pun tidak bisa disebut pengecualian. Berdasarkan peraturan perekrutan saat ini, seorang doktor yang pulang dari perguruan tinggi kelas dunia seperti Princeton memang wajar diangkat sebagai profesor!” Sang rektor menatap Lü Qiujian dengan penuh harap. “Bagaimana, Lü? Asalkan kau bersedia tetap mengajar di sini, urusan kartu keluarga, rumah, jabatan akademik, kelompok penelitian, dana riset—semuanya sudah kusiapkan untukmu!”
Jika Universitas Jingcheng ingin menjadi perguruan tinggi kelas dunia, mereka tentu membutuhkan ilmuwan kelas dunia. Pada usia semuda itu, Lü Qiujian sudah mencapai prestasi sedemikian besar. Jika ia berhasil dipertahankan di Universitas Jingcheng, berapa banyak penghargaan yang dapat ia sumbangkan kepada kampus? Berapa banyak perhatian yang akan ia tarik? Membayangkannya saja sudah membuat sang rektor bersemangat.
“Terima kasih atas perhatian dan kebaikan Rektor!” Syarat-syarat yang ditawarkan itu sungguh sangat menggiurkan, tetapi Lü Qiujian memang tidak mungkin tinggal. “Namun, saya merasa kemampuan saya sekarang masih belum cukup. Setelah lulus, saya ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Nanti, setelah menyelesaikan studi, barulah kita membicarakannya lagi.”
“Kau sudah memperoleh gelar doktor. Baik keberhasilanmu memecahkan Konjektur Poincare maupun makalah-makalahmu yang dimuat dalam Annals of Mathematics dan situs ar sudah cukup membuktikan bahwa kemampuan akademikmu telah mencapai taraf kelas satu! Kau masih ingin menimba ilmu di mana lagi?” Profesor Zhang mulai cemas. Jika kali ini Lü Qiujian kembali pergi ke luar negeri, apakah ia masih akan kembali ke Universitas Jingcheng?
“Kalau melanjutkan studi, saya mungkin tidak akan memilih matematika lagi. Saya berencana berganti bidang,” ujar Lü Qiujian, mengungkapkan rencananya. “Saya ingin pindah ke jurusan fisika.”
Itu juga merupakan langkah yang harus ditempuh demi menyelesaikan rencananya. Matematika adalah dasar bagi semua disiplin ilmu, tetapi bagaimanapun juga, dasar tetaplah dasar. Untuk menerapkannya, seseorang tetap membutuhkan fisika, kimia, dan bidang-bidang lainnya. Ada ungkapan yang berbunyi: matematika menyalakan lentera fisika; fisika menerangi jalan bagi kimia; kimia menjadi jalan menuju lubang biologi; dan biologi adalah lubang yang mengubur para mahasiswa sains. Walaupun ungkapan itu agak berlebihan, setidaknya ia menggambarkan hubungan antara berbagai disiplin ilmu sains.
“Berganti jurusan?!” Seruan itu seolah menghantam Profesor Zhang tepat di kepala. Ia tidak kuasa melontarkan pertanyaan bertubi-tubi, “Penelitian matematikamu sudah berjalan begitu baik, mengapa harus pindah bidang? Kalau kau memang berbakat dalam matematika, seharusnya kau menghargai bakat itu dan menekuninya dengan baik. Kalau berganti bidang, belum tentu kau bisa mencapai prestasi seperti sekarang!”
“Saya merasa penelitian saya saat ini sudah mencapai titik jenuh, jadi saya ingin mencoba bidang lain!” Lü Qiujian mengeluarkan alasan yang telah dipikirkannya. “Lagipula, hubungan antara matematika dan fisika sangat erat. Misalnya Profesor Edward Witten yang saya kenal di Princeton. Beliau memang peraih Medali Fields, tetapi arah penelitian utamanya tetap berada di bidang fisika. Saya sudah meminta surat rekomendasi dari beliau dan Profesor Freeman Dyson. Mereka juga mendorong saya untuk berkembang ke arah itu!”
Sudut mata Profesor Zhang berkedut-kedut mendengar ucapan tersebut. Kau baru berusia dua puluh tahun dan sudah mengatakan penelitianmu mencapai titik jenuh! Lalu, kami semua ini harus dianggap apa?
Mendengar itu, sang rektor berkata, “Bagaimana kalau begini? Setelah kau lulus… ah, tidak, mulai semester depan, setelah seminar selesai, kau bisa terus meneliti matematika sambil mengikuti para profesor di kampus ini untuk mempelajari fisika!”
Setelah berkata demikian, sang rektor menegakkan tubuhnya. “Hehe, bukan bermaksud membanggakan diri, tetapi departemen fisika kampus kita merupakan salah satu yang terbaik di seluruh negeri, bahkan mampu menempati dua puluh besar dunia! Jauh lebih unggul daripada Universitas Shuimu! Selama kau bersedia tetap mengajar di sini setelah lulus, aku bisa meminta seorang akademisi untuk membimbingmu secara khusus!”
Di dalam negeri, mungkin hanya beberapa perguruan tinggi terkemuka seperti Universitas Jingcheng, Universitas Shuimu, dan Universitas Sains dan Teknologi Huazhong yang mampu menawarkan syarat semacam itu. Di kampus-kampus lain, seorang akademisi sudah dipuja seperti dewa pelindung; siapa yang berani merepotkannya hanya untuk perkara kecil? Namun, kalau mereka memiliki mahasiswa seperti Lü Qiujian, barangkali sang akademisi pun akan dengan senang hati membimbingnya.
“Mulai semester depan, saya ingin mempersiapkan seminar itu sebaik mungkin, lalu merapikan beberapa gagasan saya dalam matematika. Untuk sementara, pengetahuan dasar fisika akan saya pelajari sendiri,” ujar Lü Qiujian. Departemen fisika Universitas Jingcheng memang hebat, tetapi tetap memiliki kesenjangan tertentu dibandingkan Eropa dan Amerika. Terlebih lagi, sesuai dengan rencananya, setelah mulai melakukan penelitian fisika, ia akan membutuhkan sebuah perangkat raksasa—dan benda itu berada di Eropa.
“Untuk pilihan universitas, saya lebih condong ke Eropa. Saya sangat tertarik pada beberapa peralatan dan sejumlah ilmuwan besar di sana,” kata Lü Qiujian dengan nada meminta maaf. “Karena itu, untuk sementara saya hanya bisa menolak tawaran baik dari Rektor. Namun, semester depan saya akan berusaha menerbitkan sebanyak mungkin makalah.”
“Selain itu, dalam dua atau tiga tahun saya akan kembali dari Eropa. Saat itu, bukan tidak mungkin kita dapat bekerja sama dengan almamater. Ke mana pun saya pergi, saya akan selalu ingat bahwa saya adalah mahasiswa yang dibina oleh Universitas Jingcheng!”
Lü Qiujian berdiri, lalu membungkuk dengan sangat hormat kepada sang rektor dan Profesor Zhang.
Keduanya saling berpandangan dan menghela napas kecewa. Tampaknya rencana untuk mempertahankan Lü Qiujian di kampus segera setelah ia lulus telah gagal. Mereka hanya bisa berharap ia mengingat kata-katanya hari ini dan tidak melupakan almamaternya setelah kembali ke tanah air.
“Baiklah, kalau begitu. Kita akhiri pembicaraan ini sampai di sini, lalu kita bahas lagi urusan seminar dan konferensi pers,” ujar sang rektor sambil menghela napas.