Bab 71 Siapa Orang Gemuk Itu?
Setelah memasuki istana, Yan Bai mendapati jumlah pejabat di sini jauh lebih banyak daripada di luar, antreannya pun amat panjang. Ia benar-benar heran dari mana datangnya begitu banyak pejabat. Setelah mengamati sebentar, ia melihat pelayan istana bermata sipit sedang memanggil orang masuk ke aula untuk menghadap kaisar. Yan Bai pun mengerti, pasti Li Er sedang memanggil para pejabat untuk berbincang dari hati ke hati.
Memikirkan soal naiknya Li Er ke tahta, Yan Bai merasa dugaannya hampir pasti benar. Maklum, setiap pemimpin baru pasti ingin mengambil hati para bawahan, dan mengundang pejabat untuk berbicara tentu saja salah satu langkah terbaik. Sedikit ancaman ditambah janji manis—jika tak mau mengikuti, silakan angkat kaki.
Yan Bai malas mengantre. Karena di kantor hari ini tak ada urusan penting, ia pun berjalan santai sendirian menuju Balairung Linde.
Belum juga masuk ke halaman kecil milik Li Chengqian, Yan Bai sudah mendengar suara lantang Li Chengqian sedang melantunkan Kitab Lunyu. Suaranya penuh irama, terdengar amat menarik. Yan Bai menunggu hingga lantunan itu reda, barulah ia mengetuk pintu halaman kecil itu.
Yang membukakan pintu adalah pelayan istana Xiao Cao. Begitu melihat Yan Bai, ia tersenyum dan membuka pintu lebar-lebar, lalu berseru, "Yang Mulia, Yang Mulia, Kepala Wilayah Yan datang menjenguk!"
Halaman kecil yang semula sunyi mendadak jadi riuh. Yan Bai mendengar beberapa suara asing—ada suara anak-anak, juga suara perempuan.
Baru saja melangkahkan kaki ke dalam, Yan Bai langsung menyesal dan ingin memotong kakinya sendiri yang sudah terlanjur masuk. Di ujung tangga tepat berhadapan dengan pintu, seorang wanita berbusana istana berdiri tersenyum manis menatapnya.
Melihat wajah tegas dan cantik wanita itu, serta sorot mata yang sangat mirip dengan Zhangsun Wuji, Yan Bai langsung paham bahwa perempuan cantik ini pastilah Permaisuri Zhangsun.
Yan Bai menggigit bibir, melangkah cepat ke dalam, lalu dari kejauhan memberi hormat, "Saya, Kepala Wilayah Wannian, Yan Bai, memberi hormat kepada Yang Mulia Permaisuri."
Permaisuri Zhangsun menampilkan senyum tipis di wajahnya, meneliti Yan Bai sejenak, lalu berkata lembut, "Aku sudah sering mendengar tentangmu. Akhirnya hari ini bisa bertemu langsung. Kemarilah, mari bicara. Liu Ye, tolong ambilkan alas duduk untuk Kepala Wilayah Yan!"
Yan Bai segera membalas, "Hamba merasa takut dan gelisah. Hari ini datang tanpa pemberitahuan, sungguh tak tahu kalau Yang Mulia Permaisuri ada di sini. Mohon ampun jika hamba lancang." Entah kenapa, setiap menatap mata Permaisuri Zhangsun yang dalam, Yan Bai selalu merasa tak tenang, sehingga ia duduk dengan sangat sopan, bahkan tak berani mengangkat kepala.
Permaisuri tak segera bicara. Melihat sikap Yan Bai yang sungguh-sungguh, ia tersenyum lembut, "Kau ingin segera pergi dari sini, bukan?"
Yan Bai merasa pahit. Sudah menundukkan kepala pun, pikirannya tetap bisa terbaca. Ia pun jujur, "Memang ada sedikit keinginan begitu."
"Kau takut padaku?"
"Bukan takut, hanya saja agak gugup!"
"Gugup kenapa?"
Yan Bai menggertakkan gigi, "Entah kenapa, tiba-tiba merasa minder, gugup tak jelas..."
Permaisuri diam saja, tapi pelayan di belakangnya tak tahan tertawa, sampai-sampai napasnya memburu menahan tawa. Yan Bai ingin sekali melirik, apakah pelayan itu cantik, tapi ia tak berani bergerak, hanya duduk kaku seperti patung prajurit tanah liat.
"Aku dengar waktu di balairung kemarin kau menantang Feng Pushou untuk bertaruh soal penggeledahan rumah, berani sekali. Coba ceritakan, dari mana kau dapat keberanian sebesar itu?"
Yan Bai menghela napas, "Dia menuduhku mencelakai rekan sendiri, padahal aku hanya menghukum mati satu orang, tak bisa disebut kejam. Orang itu memang terlalu tamak, bahkan memfitnah orang di kantor, menyebabkan banyak korban. Dia bilang aku korup, padahal tiga kakakku semua pejabat, para ipar memperlakukanku seperti anak sendiri, tiap pulang ke rumah di atas ranjang selalu ada sekantong uang.
Uang pemberian ipar saja tak habis-habis, aku juga tak punya hobi aneh, buat apa aku korup? Dia bilang aku menyalahgunakan wewenang, padahal aku paling taat aturan. Semua yang kulakukan ada bukti dan saksi. Karena aku merasa tak bersalah, tentu saja aku berani bertaruh. Toh aku bersih."
Permaisuri Zhangsun tersenyum tipis mendengar jawabannya, "Istri Feng kemarin datang padaku, mengadu bahwa rumahnya sekarang bau busuk, para pelayan tiap hari merintih, anak sulung Feng Yandao bahkan ingin menyerangmu. Kepala Wilayah Yan, caramu terlalu keras. Bukankah hanya soal kerja bakti saluran air, apa harus sampai seperti itu?"
Yan Bai tak bisa menebak maksud permaisuri, setelah berpikir sejenak, ia menjawab, "Hamba memang bodoh!"
Permaisuri Zhangsun menghela napas lembut, "Bukan bodoh, kau hanya pura-pura bodoh. Aku sudah memenuhi permintaan keluarga Feng, urusan kau mau dengar atau tidak bukan lagi urusanku. Lagi pula, aku dengar Feng Yandao bukan tipe yang mudah diajak damai. Dua harimau bertarung pasti ada yang terluka. Kalian sama-sama muda, untuk apa saling keras?"
Yan Bai menegakkan kepala, "Tombak kudaku memang cuma setengah, tapi aku selalu membawanya. Kalau Feng Yandao datang, akan kupatahkan kakinya." Lalu ia merasa terlalu percaya diri, "Atau malah aku yang dipatahkan kakinya!"
Pelayan perempuan tak tahan lagi, menengadah ke langit, menggigit bibir menahan tawa. Bagaimana mungkin ia bisa sekaligus berani dan penakut seperti ini?
Permaisuri tersenyum maklum, "Bagus, bagus, keluarga Yan akhirnya melahirkan anak muda berani. Tinggal caranya saja yang perlu dilihat! Hari ini kau ke sini mau menemui Qian Er, ya? Sebentar lagi dia keluar. Omonganku tadi jangan terlalu dipikirkan, aku hanya terpaksa. Selama Baginda tidak menyalahkanmu, aku juga tak bisa menyalahkanmu. Mungkin sekarang pelajaran dengan Guru Li sudah selesai, aku akan menemui Guru Li sebentar, sebentar lagi Chengqian keluar!"
Setelah berkata demikian, Permaisuri bersama pelayannya masuk ke dalam. Yan Bai sempat melirik pelayan itu dan agak kecewa—tidak cantik, tapi juga tidak jelek. Tapi anak gempal yang digandeng Permaisuri justru tampak lucu, matanya besar dan bulat, sangat mirip Li Chengqian. Saat berjalan pergi, anak itu terus menoleh ke arah Yan Bai.
Yan Bai pun membuat wajah lucu kepadanya.
Anak gempal itu tersenyum geli, mulutnya terbuka lebar.
Itu Li Tai?
Yan Bai mengesampingkan pertanyaan itu, lalu memikirkan kata-kata Permaisuri tadi. Semakin dipikir, semakin tak mengerti apa maksudnya. Ah, orang-orang besar memang suka bicara berputar-putar, tak mau terus terang, akhirnya bikin orang gelisah sendiri.
Berkat kedatangan Yan Bai, Li Chengqian mendapat jeda sejenak. Ia menghampiri Yan Bai, melihat Yan Bai duduk kaku, ia pun menyenggolnya, "Kenapa, sekali bertemu ibuku saja kau sudah ketakutan begitu?"
"Ada makanan tidak? Aku lapar!"
Li Chengqian melambaikan tangan, Xiao Cao segera berlari keluar dan tak lama kemudian kembali membawa sekotak kue. Yan Bai mencicipi, karya koki istana memang luar biasa, kue ini lebih lembut dari yang dijual di luar, tidak seret di tenggorokan, manisnya pas, dan ada aroma bunga yang samar.
"Kemarin waktu istri Feng mengadu pada ibuku, aku juga ada di sana. Ia terus menangis, suaranya keras, tapi diam-diam aku melihat tak ada air mata sedikit pun. Setelah itu mereka minum arak bersama, lalu ayahku datang, dan istri Feng pun pergi. Lalu ibuku menceritakan semua keluhan keluarga Feng pada ayah, tapi ayah tak berkata apa-apa."
"Eh, arak berasmu enak juga, lebih lezat daripada punyanya Baolin. Ada lagi tidak? Nanti mau kubawa pulang."
Yan Bai senang mendapati di sini ada arak beras, warnanya putih susu dan ada rasa buah serta aroma susu samar, terasa nikmat. Karena ini arak yang biasa diminum Li Chengqian, Yan Bai yakin kadar alkoholnya tidak tinggi, jadi ia pun menenggak satu kendi penuh.
"Ada, tapi wadahnya besar, susah dibawa!"
"Tidak masalah, aku ke istana tadi naik kereta kuda!"
"Kereta kuda?"
"Iya, sungguhan!"
Li Chengqian sampai kehabisan kata. Setelah berpikir lama, ia tetap tak mengerti apa faedahnya membawa kereta kuda ke istana. Xiao Cao keluar sebentar, lalu kembali melapor, "Yang Mulia, ada tiga kereta kuda di luar!"
Li Chengqian menatap Yan Bai dengan tak percaya, "Jadi benar kau masuk istana bawa kereta kuda!"
Setelah melihat Yan Bai menghabiskan kue, Li Chengqian berkata, "Kemarin pelajaran tidak selesai, hari ini Guru Li langsung memanggil ibuku. Ngomong-ngomong, kau di luar istana apa juga tiap hari belajar seperti aku, lalu masih harus kerja di kantor?"
Melihat wajah penuh harap Li Chengqian, Yan Bai menggeleng, "Siapa bilang? Aku seharian di kantor, mana sempat belajar. Sungguh, kerja itu lebih berat daripada belajar. Eh, Guru Li yang kau sebut itu siapa?"
Li Chengqian menatap Yan Bai, merasa ia tak sedang bercanda, lalu menghela napas, "Guru Li Wenji, Guru Li!"
Yan Bai berpikir sejenak, tak teringat siapa, lalu menduga mungkin itu nama panggilan seseorang, ia pun bertanya, "Nama lengkap, sebutkan nama lengkap tanpa gelar."
"Li Gang!"
Waduh, pembunuh putra mahkota!
Melihat ekspresi terkejut Yan Bai, Li Chengqian penasaran, "Kenapa, Guru Li tidak baik?"
"Bagus, ilmunya untuk diri sendiri, kau belajar sampai sejauh mana itu urusanmu sendiri, bukan soal gurumu baik atau tidak. Lagi pula, sebentar lagi kau jadi putra mahkota, guru yang diberikan Baginda pasti yang terbaik!" Setelah berpikir, Yan Bai merasa Li Chengqian cukup menyenangkan, lalu menambahkan,
"Saat belajar, kau harus banyak berpikir, kadang perkataan guru belum tentu benar. Seperti ayahku pernah bilang, praktik adalah satu-satunya standar untuk menguji kebenaran. Jalan hidup tiap orang berbeda, bagaimana melangkah harus kau tentukan sendiri, bukan menunggu orang lain memberi tahu!"
Li Chengqian merenung, "Tapi Guru Li pernah bilang aku akan jadi seperti ayahku, ia selalu mengajari bagaimana caranya belajar dan bertindak supaya jadi seperti itu. Tapi aku tak mengerti, aku juga tak tahu harus bagaimana. Kepalaku kosong rasanya!"
"Kepala kosong itu wajar! Siapa pun pasti kosong!"
"Maksudmu?"
"Guru Li memberimu prinsip-prinsip yang ia tahu dan alami sendiri. Tapi Guru Li sendiri belum pernah jadi putra mahkota. Sekarang kau yang jadi putra mahkota, jadi perkataannya hanya bisa jadi acuan, bukan pedoman mutlak. Mengerti?"
"Sepertinya aku mulai paham!"
"Misalnya kita makan makanan yang sama, aku bilang enak, kau tak bisa ikut-ikutan bilang enak sebelum mencoba sendiri. Apakah enak atau tidak harus kau buktikan sendiri, bukan sekadar ikut kata orang.
Setiap orang punya selera berbeda. Begitu juga dengan prinsip yang diajarkan guru, kau harus punya penilaian sendiri."
"Tergantung orangnya?"
"Bisa dibilang begitu!" Yan Bai merasa kurang yakin, lalu berpesan, "Ingat, hari ini aku tidak mengatakan apa-apa, kau juga tidak dengar apa-apa!"
Li Chengqian tersenyum, "Aku tahu, rahasia, ini rahasia kan!"
"Benar, benar! Eh, ibumu datang, cepat, jangan bicara macam-macam, ingat, jangan!"
"Ibuku?"
"Ibumu, Permaisuri!"
Li Chengqian menggaruk kepala, "Kenapa aku merasa kau berkata kasar?"
"Eh, anak gempal tadi siapa?"
"Bukan anak gempal, itu adikku, Li Tai!"