Bab 5: Perubahan yang Menentukan
Cahaya pertama pagi menembus ke dalam perkemahan, membalut segalanya dengan kilau keemasan. Ketika Yan Bai terbangun, suasana perkemahan sudah tak seramai biasanya. Ia bangkit dengan panik, baru menyadari bahwa semua orang dan kuda perang telah pergi. Bergegas ia melangkah menuju tenda perawatan, dan setelah melihat para korban luka masih ada, entah mengapa Yan Bai merasa napasnya jadi lebih lega.
Saat itu, Da Niu masuk terpincang-pincang sambil membawa sekeranjang besar bunga melati dan daun dandelion.
"Ke mana semua orang?" tanya Yan Bai.
Da Niu meletakkan dua jenis ramuan itu di samping, menepuk-nepuk tangannya. "Semuanya sudah pergi berperang. Suku Turk itu sudah dekat di tepi Sungai Jing. Kali ini Panglima Wei sendiri yang memimpin pasukan depan, tiga ribu prajurit berkuda dengan perlengkapan ringan. Tidak ada yang akan dibiarkan hidup dari anjing-anjing Turk itu! Kali ini, mereka harus tahu artinya pergi tanpa kembali..." Da Niu memaki-maki dengan mata merah, menahan amarah.
"Ya ampun!" Yan Bai menepuk pahanya. "Kenapa kau tidak membangunkan aku saat pasukan berangkat!"
Sebenarnya ia ingin sekali melihat kemegahan pasukan berangkat perang, tapi karena kebablasan tidur dan tak ada yang membangunkannya, kesempatan langka itu pun lewat begitu saja.
Da Niu melirik padanya, mengira Yan Bai kecewa tak diajak ke medan perang, lalu bergumam pelan, "Aku tadinya mau memanggilmu, tapi Letnan bilang kau keras kepala, dan kalau tahu ada kesempatan berperang pasti kau ngotot untuk ikut. Tapi nanti malah harus ada yang melindungimu di medan perang, membawa anjing saja lebih berguna... Jadi kami tidak memanggilmu."
Mendengar itu, Yan Bai seperti balon kempis, matanya melirik sekeliling dengan rasa penasaran. "Di mana Tabib He?"
Tanpa menoleh, Da Niu menjawab, "Dia juga ikut ke medan perang!"
"Dia bisa berangkat?"
Da Niu mengangkat kepala. "Tentu saja dia tak mau. Kau tidak lihat sendiri betapa sengsaranya dia waktu itu. Tapi Panglima bilang, semua yang masih utuh, tangan kaki lengkap, harus berangkat. Yang bisa membunuh musuh, bunuhlah musuh; yang tak bisa, setidaknya ikut menggetarkan lawan!"
"Lalu, bagaimana dengan para korban luka ini?"
Da Niu menatap Yan Bai sambil tersenyum. "Waktu itu Tabib He juga menanyakan hal yang sama, tapi perintah militer sudah turun, tak bisa diganggu gugat. Letnan lalu merekomendasikanmu pada Panglima, jadi sekarang semua korban luka diserahkan padamu!"
Yan Bai terkejut bukan main, suaranya berubah jadi nyaring seperti ayam jantan, "Apa aku sanggup?"
"Kenapa tidak?" Da Niu menepuk pahanya. "Lihat kakiku ini, sudah jauh lebih baik. Dulu digerakkan saja takut, sekarang meski terseret-seret, masih bisa jalan beberapa langkah.
Kau saja bisa menyembuhkan aku, apalagi dengan seratus lebih saudara yang lain, kenapa tidak bisa?" Nada suara Da Niu makin keras, sampai membuat telinga bergetar.
Yan Bai sendiri tak pernah merasa punya kemampuan seperti itu. Semua kemampuannya selama ini hanya hasil percobaan pada kulit babi dan tikus putih. Menjahit luka Da Niu kemarin pun ada unsur nekad dan pertaruhan, benar-benar pengalaman pertama dalam hidupnya.
Kini, membayangkan harus mengoperasi lebih dari seratus orang, benar-benar membuatnya gentar. Tidak ada sistem medis yang lengkap, tidak ada dokter yang bisa menyesuaikan obat dengan penyakit. Sekarang, seorang spesialis bedah harus menanggung semuanya sendirian.
Yan Bai tak berani menjawab. Ini menyangkut nyawa manusia. Kalau karena pamer kemampuan, ia malah membuat orang yang seharusnya bisa hidup jadi kehilangan nyawa, seumur hidup pun kenangan itu tak akan terlupakan, dan nurani takkan pernah tenang.
Da Niu menanti jawaban Yan Bai dengan penuh harap. Ia yakin Yan Bai pasti bisa lebih baik dari Tabib He. Tapi yang didapat hanyalah gelengan kepala tegas dari Yan Bai.
"Mengapa? Sesama saudara di perkemahan, masa kau tega membiarkan kami mati perlahan-lahan?" Da Niu tak mengerti, bahkan sedikit marah, mengira Yan Bai sedang keras kepala atau meremehkan para prajurit rakyat yang kurang berpendidikan itu.
Lagi pula, sedikit banyak Da Niu tahu latar belakang Yan Bai, lahir dari keluarga berada, sejak kecil hidup serba mewah, dimanja orang tua, jelas berbeda jauh dari dirinya yang petani jelata.
Yan Bai tersenyum pahit, "Jangan tertawa, aku sendiri hanya setengah matang. Aku takut bukannya menyelamatkan kalian, malah mencelakai."
Mendengar itu, Da Niu merasa mengerti kegelisahan Yan Bai, takut kalau-kalau orang yang diobati mati, ia takkan lepas dari tanggung jawab. Maka ia menepuk dadanya keras-keras, "Yan Bai, kau lakukan saja yang terbaik! Kalau sembuh itu karena keahlianmu, kalau tidak sembuh berarti memang nasib kami tak panjang. Lakukan saja, aku Da Niu berani menjamin di sini, siapa pun yang nanti menjelek-jelekkan namamu, bahkan setelah mati pun akan kutarik dia dari kuburan untuk dihancurkan tulangnya! Benar, saudara-saudara?"
Terdengar suara riuh dari kerumunan di belakang tenda.
"Ayo, Yan Bai, cepatlah! Aku sudah menunggu semalaman!"
"Iya, iya, tolong jahitkan juga. Pantatku sobek kena tebasan musuh Turk..."
"Memangnya cuma kau? Punggungku juga robek. Asal dijahit duluan, aku langsung bisa bertarung lagi!"
"Aku dulu, aku dulu..."
Yan Bai menengadah, melihat semua orang berebut giliran, ia tersenyum lembut. "Tak pernah terlintas dalam hidupku, suatu hari aku akan merasa sepenting ini bagi begitu banyak saudara. Hidupku selama ini seperti berjalan dalam kabut, tanpa cita-cita besar. Hari ini, berkat kepercayaan kalian semua, aku akan mencoba sekuat tenaga."
"Jadi kau setuju, Yan Bai?" Da Niu tertawa bahagia, meski pincang tetap memaksa hendak bersujud.
Yan Bai buru-buru menahan, "Da Niu, jangan lakukan itu! Kalian saja tidak takut kubantu mengobati, masak aku malah harus menerima sujudmu? Kau lebih tua, aku masih muda. Kalau sampai Tuhan melihat, pasti aku disambar petir!"
Dengan gurauan itu, suasana pun mencair, Yan Bai mulai memeriksa kondisi luka satu per satu dengan saksama.
Da Niu bertumpu pada tongkat, melompat-lompat mengikuti Yan Bai dari belakang. "Sebenarnya, waktu baru dibawa ke sini ada lebih dari tiga ratus orang. Setengah hari saja sudah setengahnya meninggal. Yang tersisa ini memang kuat bertahan, kata Panglima, mereka ini nyawanya keras, tak terkena luka vital. Kalau kena, pasti sudah habis kehabisan darah..."
Sambil Yan Bai memeriksa, Da Niu terus menjelaskan. Tak lama kemudian, Yan Bai sudah memiliki gambaran jelas tentang semua luka yang ada.
Sebagian besar luka akibat tebasan pedang dan panah, lukanya sederhana dan mudah ditangani, meski ada juga yang rumit dan di luar kemampuannya.
Ada satu saudara yang kakinya remuk diinjak kuda hingga bengkok membentuk angka tujuh, ada yang pergelangan tangannya putus, dan ada pula yang kepalanya berlubang bekas hantaman, namun ajaibnya masih sadar penuh, hanya saja setiap kali menengadahkan kepala langsung muntah hebat.