Bab Seratus Empat Puluh Enam: Tidak Layak Menyatukan Dunia
Tuan Zuo?
Dan kenal dengan Cao Cao?
Di dalam benak Cao Yi langsung muncul sosok figur terkenal dari akhir era Han, Zuo Ci, yang sama seperti Yu Ji yang ia temui sebelumnya, juga merupakan seorang dewa dari ujung Dinasti Han.
Di dalam karya aslinya, dibandingkan dengan Dewa Nanhua yang hanya muncul secara tidak langsung sebanyak satu kali dan Yu Ji yang melintas bagaikan meteor, Zuo Ci sering sekali muncul. Siapa sangka ia akan turun tangan untuk menghentikan Cao Cao menyatukan dunia.
"Beberapa tahun lalu, engkau hanyalah seorang pertapa biasa. Beberapa tahun kemudian, hanya dengan sedikit kemampuan engkau mampu menganggap lima ribu pasukan elit dan puluhan jenderal agung milikku bagaikan tiada arti. Pertemuan dan nasib Tuan Zuo sungguh membuat orang tua ini merasa tertinggal jauh."
Suara Cao Cao kembali terdengar.
Ada sedikit rasa iri di dalam suara tersebut.
Meskipun ia memiliki kekuasaan yang mengguncang dunia, ia tetaplah seorang manusia biasa, yang cepat atau lambat akan berubah menjadi seonggok tulang kering.
Tetapi Zuo Ci tidak demikian. Dengan merebut keajaiban ciptaan langit dan bumi, bukan hal yang tidak mungkin baginya untuk kelak menjadi seorang abadi yang menikmati umur panjang.
Zuo Ci tidak menanggapi ucapan Cao Cao. Dengan tatapan tajam, ia memandang ke arah Cao Yi dan berkata, "Metode memanggil angin dan mendatangkan hujan, orang tua ini hanya pernah melihatnya di dalam kitab-kitab peninggalan para pertapa zaman purba. Tingkat kultivasimu bahkan masih lebih rendah dariku, namun engkau mampu melakukannya. Sungguh sukar di Nalar."
"Senior sendiri dua kali meminjam angin timur, itu pun bukan hal yang sederhana."
Cao Yi membalas dengan senyuman.
Zuo Ci mendengus pelan dari hidungnya: "Orang tua ini sekadar meminjam angin timur, bagaimana mungkin bisa dibandingkan denganmu yang langsung mengubah kekuatan langit dan bumi."
Malam itu, ia sedang merapal mantra agar angin kencang membantu memperbesar kobaran api, ketika tiba-tiba guntur menyambar, hujan turun dengan derasnya, dan angin badai bertiup tanpa henti.
Ia sempat mengira telah membuat murka para dewa, dan merasa sangat gelisah setelah pergi. Keesokan harinya, ia menangkap seorang prajurit Cao untuk diinterogasi, barulah ia tahu bahwa malam itu telah datang seorang pertapa misterius.
Cao Yi tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
Zuo Ci berkata lagi: "Barusan di Changbanpo, teknik elemen tanah milik orang tua ini yang telah dikultivasikan selama bertahun-tahun, berhasil dipatahkan oleh teknik elemen kayu milikmu yang masih berada di tingkat permulaan. Meskipun unsur kayu secara alami menaklukkan unsur tanah, di usiamu yang masih muda ini, mampu memiliki pencapaian elemen kayu setinggi itu, sungguh pemuda yang patut disegani."
"Mengendalikan orang-orangan tanah dari jarak beberapa li, bagi seorang sesepuh memiliki ketahanan fisik seperti itu juga merupakan hal yang luar biasa."
Cao Yi membalas.
Melihat keduanya terus berbicara tanpa henti, Zhang Fei di Jembatan Dangyang mengeluarkan dengusan dingin!
Seolah baru menyadari kehadiran Zhang Fei, Zuo Ci berkata dengan suara lantang: "Jika Jenderal Zhang mempercayai orang tua ini, serahkan tempat ini kepada orang tua ini. Pergilah dengan tenang ke selatan bersama Liu Yuzhou."
Zuo Ci yang begitu terkenal tentu saja dipercayai oleh Zhang Fei. Ia menangkupkan tangan sebagai tanda terima kasih, memacu kudanya menuruni Jembatan Dangyang, dan dalam sekejap menghilang di dalam hutan.
Dengan demikian, di antara Cao Yi dan Zuo Ci, selain Sungai Juzhang yang mengalir deras, kini hanya tersisa Jembatan Dangyang yang kesepian.
Setelah saling berhadap-hadapan sejenak, Cao Yi bertanya, "Mengapa Senior bersikeras ingin menghalangi Perdana Menteri Cao menyatukan dunia?"
Zuo Ci melirik Cao Cao dengan dingin dan berkata, "Membantai kota, menggali makam, orang dengan perbuatan seperti itu tidak layak menyatukan dunia."
Alasan itu lagi!
Duh, apa yang dilakukan Cao Cao sudah keterlaluan, bahkan para praktisi pertapaan pun tidak sanggup lagi melihatnya.
Batin Cao Yi mendesah.
Zuo Ci tampaknya juga tidak ingin mendesak terlalu ketat, lalu berkata: "Orang tua ini mengalah satu langkah, bertaruh dan bertarung melawanmu dalam sistem tiga kali pertandingan dua kemenangan. Jika kau menang, orang tua ini tidak akan lagi mencoba membunuh Cao Cao. Jika orang tua ini yang menang, kalian tidak boleh lagi mengejar Liu Yuzhou. Tiga bulan kemudian, kita tentukan kemenangan di Chibi."
Hal ini bukanlah sesuatu yang bisa iautuskan sendiri.
Cao Yi menoleh ke arah Cao Cao.
Cao Cao mengerutkan kening dan berpikir sejenak, menatap Zuo Ci di seberang sungai, lalu berkata dengan suara berat, "Lalu bagaimana caranya agar orang tua ini bisa mempercayaimu?"
Zuo Ci tersenyum dingin dan berkata, "Orang tua ini merasa tidak pernah mengingkari janji kepada siapapun, sebaliknya engkau, Cao Cao, sudah berapa kali tidak menepati janji."
Tampaknya sudah terbiasa mendengarkan kata-kata seperti itu, ekspresi Cao Cao sama sekali tidak berubah. Berpikir sejenak, ia mengangguk dan berkata: "Orang tua ini menyetujui pertarungan taruhan ini."
Melihat Cao Cao menyetujui.
Cao Yi bertanya: "Pertandingan pertama menguji apa?"
Zuo Ci mengetuk pelan guqin yang sedang dipeluknya, lalu berkata: "Alat musik."
Alat musik!
Lagu Canghai Chaosheng yang telah diasah sekian lama akhirnya bisa digunakan juga.
Cao Yi mengangguk: "Baik."
Zuo Ci bersila, meletakkan guqin secara melintang di atas pahanya, dan sepasang tangan yang sudah tua menyapu senar dengan lembut.
Catatan nada bagaikan tetesan air mata air berderai keluar, bagaikan rintik hujan menimpa daun talas, terdengar tanpa suara dari kejauhan, namun saat didengarkan dengan tenang seolah masih berada di tepi telinga.
Melihat hal tersebut, Cao Yi membuka tutup Labu Ungu Emas, pura-pura memasukkan tangannya ke dalam lengan baju, lalu meraba sebuah seruling panjang.
Seruling panjang ini adalah hasil karyanya sendiri ketika berada di lembah Kota Xiangyang, menggunakan metode pembuatan seruling yang ia pelajari dari seseorang di sepanjang perjalanan ke selatan.
Dibandingkan dengan seruling-seruling indah yang dibawa dari zaman modern, bentuknya sangat jauh tertinggal.
Menegakkan seruling di dekat bibirnya dan meniupnya dengan lembut, suara seruling yang hening dan jernih pun mengalema, tipis dan lembut, bagaikan kabut tipis yang melayang di pagi hari, seolah hembusan angin saja sudah mampu memotongnya.
Dipisahkan oleh aliran sungai, seorang Taois modern dan seorang pertapa kuno, satu guqin dan satu seruling, bagaikan Bo Ya dan Zi Qi. Namun kenyataannya, ini adalah awal dari sebuah pertarungan besar.
Di seberang sungai, Zuo Ci menutup matanya rapat-rapat dengan ekspresi tenang. Untaian demi untaian energi spiritual yang melimpah dialirkan dari ujung jarinya ke dalam guqin.
Seketika itu juga, sebilah bilah angin yang mengandung kekuatan luar biasa melompat keluar dari guqin, bagaikan naga dan harimau, membawa suara jeritan tajam, menerkam ke arah Cao Yi yang terhalang oleh aliran sungai. Angin kencang yang dibawanya mengaduk-aduk riak air sungai hingga bergelombang.
Di tepi sungai, Cao Yi yang jubahnya berkibar-kibar, meniupkan lagu Canghai Chaosheng, yang juga memicu perubahan aneh.
Sungai yang awalnya mengalir deras, seolah dipukul oleh tangan tak kasat mata dari langit, menggulungkan ombak keruh setinggi beberapa meter. Orang yang tidak tahu akan mengira mereka sedang menghadapi badai topang.
Sungai tersebut sebenarnya tidak begitu lebar, namun dalam sekejap mata, keduanya saling bertabrakan, meledakkan cipratan ombak yang jauh lebih tinggi.
Dalam sekejap, kedua tepi sungai bagaikan baru saja diguyur hujan lebat, air hujan turun dengan derasnya dari langit.
Selain Zuo Ci dan Cao Yi, semua orang basah kuyup oleh air sungai.
Pertarungan penjajakan ini berakhir tanpa pemenang.
Zuo Ci sedikit mengerutkan keningnya, lalu kembali memetik guqin.
Kali ini, yang keluar bukanlah bilah angin, melainkan pedang panjang yang hampir berwujud nyata, panjangnya lebih dari tiga kaki, dengan bilah pedang yang memantulkan cahaya dingin yang mencengangkan di bawah terik matahari sore.
Cao Yi terus meniupkan lagu Canghai Chaosheng. Berbeda dengan pembentukan wujud suara ala Zuo Ci, lagu Canghai Chaosheng lebih mengandalkan serangan mental.
Suara seruling yang panjang dan sayup-sayup mengalun, membuat Zuo Ci terpengaruh. Ia melihat lautan luas, melihat sehelai perahu kecil yang terombang-ambing di tengah laut, dan melihat Cao Yi yang berdiri tegak melawan angin di atas perahu.
Entah bagaimana, dirinya sendiri kini berada di atas sebuah batu karang yang basah.
Semuanya tampak begitu nyata.
"Tempat apa ini?"
Sesaat kemudian, Zuo Ci bertanya.
Tidak ada seorang pun yang menjawab, yang ada hanya suara seruling bambu yang berdengung mengelilingi tempat itu.
Entah sudah berapa lama berlalu, sebilah pedang panjang merobek seluruh dunia tersebut. Lautan lenyap, perahu kecil lenyap, dan Cao Yi yang berada di atasnya pun lenyap.
Segalanya kembali normal!
Pedang yang ia lepaskan tadi, kini sedang melesat tepat ke arah titik di antara kedua alis Cao Yi.
Melihat pemandangan ini, ia sama sekali tidak merasa heran. Pemuda ini memang memiliki celah tingkat kekuatan darinya, dan tadi di Changbanpo juga telah banyak mengonsumsi energi spiritual.
Namun sesaat kemudian, sebuah pemandangan aneh terjadi.
Pedang miliknya tiba-tiba menghilang begitu saja di hadapan Cao Yi.
"Ini?"
Zuo Ci memperlihatkan ekspresi terkejut.
Di seberang sungai, Cao Yi berkata dengan ekspresi tenang: "Pertandingan pertama seri."
Sambil mengangguk, Zuo Ci mengamati tubuh Cao Yi, dan tatapannya akhirnya berhenti pada labu yang ada di pinggang Cao Yi.