Bab Delapan Puluh Tujuh: Masalah di Pabrik Minuman Keras
Setelah berbincang cukup lama, Zhou Renkun semakin merasa puas terhadap Li Mingchao. Bagaimanapun juga, ia memiliki kemampuan, strategi, dan juga pandai dalam bergaul, tipe orang seperti inilah yang cocok dijadikan teman sejati untuk jangka panjang. Dengan demikian, usaha mereka pun tampaknya akan bisa berjalan lama. Sungguh menyenangkan.
Berkat percakapan itu, Zhou Renkun pun semakin tertarik untuk berinvestasi pada pabrik minuman keras hasil kerja sama mereka. Beberapa hari berikutnya, Li Mingchao menemani Zhou Renkun melakukan inspeksi langsung ke dua pabrik minuman keras miliknya, bahkan memperkenalkannya pada para petinggi pabrik minuman keras Yangjiagou. Setelah itu, Zhou Renkun langsung menyetujui investasi tersebut dan bersama Li Mingchao pergi ke bank untuk memperoleh pinjaman.
Seluruh urusan selanjutnya, mulai dari renovasi pabrik hingga pelatihan karyawan, diserahkan sepenuhnya kepada Wen Bo. Tujuan akhirnya hanya satu: sesegera mungkin memulai produksi. Ketika semuanya sudah berjalan sesuai rencana dan produksi mulai ditingkatkan, iklan di stasiun televisi ibukota juga mulai ditayangkan secara resmi.
Efek dari iklan seperti ini sangat besar bagi produk yang dipromosikan. Mungkin tidak akan langsung membuat orang ingin membeli, namun penayangan iklan yang konsisten akan membuat semua orang mengenal minuman keras ini. Begitu mereka melihatnya di toko, mereka pun akan merasa yakin untuk membeli.
Apalagi bagi masyarakat saat itu, hanya perusahaan resmi dan terpercaya yang berani memasang iklan di televisi ibukota. Ditambah lagi, televisi ibukota merupakan simbol kepercayaan pemerintah bagi semua orang. Produk yang diiklankan di sana sudah pasti bukan barang palsu.
Karena efek inilah, penjualan semua produk minuman keras dari pabrik Yangjiagou melonjak drastis. Namun, masalah muncul karena hanya ada dua pabrik yang memproduksi minuman keras ini, sehingga pasokan tidak mampu memenuhi permintaan yang sangat besar. Banyak wilayah bahkan kesulitan mendapatkan suplai.
Dalam waktu singkat, para distributor di seluruh penjuru negeri ramai-ramai menghubungi pabrik. Namun, para penanggung jawab pabrik pun merasa tak berdaya. Bagaimanapun juga, kapasitas produksi mereka terbatas, bahkan jika semua distributor datang langsung, mereka tetap tidak akan bisa mendapatkan barang dalam jumlah banyak.
Dalam situasi seperti ini, Wen Bo tidak punya pilihan lain selain menemui Li Mingchao.
“Kak Mingchao, situasinya sekarang memang gawat. Pesanan kita sangat banyak, tapi produksi terlalu sedikit, tak mungkin bisa memenuhi permintaan pasar sebesar ini. Kita harus segera mencari solusi, kalau tidak, pasar yang sudah susah payah kita bangun akan direbut pabrik lain. Kalau benar-benar terjadi, semua modal yang kita tanamkan akan sia-sia.”
Wen Bo memang sangat cemas. Tidak mudah bagi pabrik mereka sampai di titik ini, sudah terlalu banyak yang dikorbankan. Kalau hanya karena masalah sepele seperti ini lalu pasar direbut oleh pabrik lain, itu akan sangat memukul dirinya.
Namun, mau bagaimana lagi. Saat ini hanya dua pabrik Yangjiagou yang bisa beroperasi normal. Meskipun pabrik-pabrik lain sedang dalam tahap perbaikan, jelas tidak mungkin bisa langsung berproduksi dalam waktu singkat.
Ia benar-benar tidak punya solusi lain, sehingga akhirnya menyerahkan masalah ini kepada Li Mingchao.
Sementara itu, Li Mingchao yang mendengar penjelasan Wen Bo, langsung terdiam dan mengernyitkan dahinya. Ia tenggelam dalam pikirannya.
Melihat itu, Wen Bo pun hanya duduk diam menunggu Li Mingchao berpikir. Setelah sekitar sepuluh menit, Li Mingchao akhirnya berkata, “Aku butuh kamu untuk merekrut sekelompok orang, lalu suruh mereka berakting di seluruh negeri. Buat sebagian dari mereka berperan sebagai penimbun minuman keras, sementara yang lain berlomba-lomba menawar dan membeli, semakin tinggi harganya semakin baik.”
“Selain itu, coba dekati beberapa koran dan stasiun TV di berbagai daerah, minta mereka memberitakan tentang ini. Intinya, beritakan bahwa minuman keras dari pabrik kita sangat laris hingga banyak orang menimbun dan kemudian dijual kembali dengan harga tinggi, namun tetap saja diserbu konsumen.”
“Aku ingin semua orang percaya, minuman keras kita bukan hanya enak, tapi juga bisa jadi ladang uang. Siapa saja yang bisa membeli sebotol, kalau dijual lagi beberapa waktu kemudian pasti untung.”
“Sederhananya, aku ingin minuman keras kita jadi seperti barang antik. Kita juga bisa sekalian meluncurkan edisi khusus seperti seri dua belas shio. Tahun ini shio apa, kemasannya pakai gambar shio itu. Jumlah produksinya harus sangat terbatas, hanya edisi spesial yang bisa punya nilai investasi.”
“Selain itu, kita juga bisa buat edisi khusus untuk hari-hari besar, seperti Hari Tentara, Hari Nasional, Imlek dan sebagainya... Masih banyak kemungkinan lain, kamu bisa pikirkan lagi. Tapi ingat, jangan terburu-buru, jangan langsung keluarkan semuanya sekaligus.”
“Penjualan minuman keras biasa tetap jalan, tapi yang edisi khusus harus dibuat punya nilai koleksi.”
Hanya dengan sedikit berpikir, Li Mingchao langsung teringat fenomena di masa depan di mana orang-orang menimbun Maotai untuk mencari untung, bahkan sepatu bermerek pun bisa dijual kembali dengan harga berkali-kali lipat. Sepatu yang harga aslinya hanya enam atau tujuh ratus, jika sudah sulit ditemukan di toko resmi, di pasar barang bekas bisa melonjak sampai ribuan.
Orang yang mencari untung dari minuman keras seperti Maotai jumlahnya sangat banyak. Kalau orang lain bisa melakukannya, kenapa dirinya tidak? Apalagi sekarang masih era 90-an, meski gejalanya sudah mulai terlihat, tapi belum ada yang punya pola pikir bisnis seperti ini. Kalau ia yang memulai, tentu saja ia jadi pelopor.
Cara ini bukan hanya bisa mengatasi masalah stok yang terbatas, tapi juga bisa membangun citra merek yang kuat untuk minuman keras Yangjiagou. Kalau sudah begitu, mencari untung akan jauh lebih mudah.
Mendengar penjelasan itu, Wen Bo benar-benar tercengang. Tak pernah ia bayangkan, masalah kekurangan stok yang seharusnya jadi kelemahan, bisa diubah jadi kelebihan oleh Li Mingchao.
Wen Bo tidak bodoh, ia langsung sadar, bosnya sedang memainkan psikologi manusia. Semua orang punya kecenderungan ikut-ikutan. Kalau semua orang menganggap sesuatu itu bagus, meskipun belum pernah mencoba, mereka akan yakin itu barang bagus.
Dari sudut pandang ini, produksi yang terbatas justru menjadi nilai tambah. Wen Bo hanya bisa berdecak kagum.
Kini, ia melihat Li Mingchao seakan-akan seorang dewa. Masalah besar yang di tangannya terasa sangat rumit, di tangan Li Mingchao bisa diselesaikan dengan begitu mudah.
Luar biasa!
Akhirnya Wen Bo benar-benar paham, kenapa Li Mingchao jadi atasan, sementara dirinya hanya anak buah. Ia bisa mendapatkan beberapa pabrik tanpa modal, dan sangat lihai dalam menerapkan strategi bisnis.