Bab Sembilan Puluh: Cara Li Mingchao
Zhou Renkun terpaku sejenak, jelas ia tak menyangka bahwa Li Mingchao ternyata memilih untuk menolak.
Baginya, Li Mingchao kini sudah terjebak dalam situasi mati, dan secara logika mustahil untuk keluar dari masalah itu. Bagaimanapun, Li Mingchao hanyalah orang biasa, sama sekali tidak punya latar belakang atau jaringan pergaulan, satu-satunya harapan hanyalah meminta bantuannya. Kalau tidak minta tolong padanya, apa lagi solusi yang bisa diambil?
Ini adalah cara yang sah, kau takkan bisa menemukan celah kotor.
Bagaimana kau akan menyelesaikannya?
Apakah Li Mingchao ini hanya pura-pura tegar padahal sebenarnya tidak mampu, atau memang ia benar-benar punya jalan keluar?
Di seberang telepon, Zhou Renkun menyipitkan mata, namun ia tetap tersenyum, "Kalau begitu, Paman Kun akan menantikan pertunjukan menarik darimu. Aku juga ingin tahu cara apa yang akan kau ambil, Li Mingchao."
"Kalau memang benar-benar tidak bisa, jangan memaksakan diri. Paman Kun tetap di belakangmu, nanti aku akan membantumu menyelesaikannya."
Mendengar kata-kata itu, Li Mingchao mengangguk, lalu berbincang sebentar dengan santai sebelum menutup telepon.
Usai menelepon, raut wajah Li Mingchao tetap tenang, seolah-olah sama sekali tidak sedang menghadapi masalah besar.
"Gunung runtuh di depan mata, tapi wajah tetap tak berubah." Itu adalah prinsip yang selalu dipegang Li Mingchao.
Ia adalah tulang punggung Pabrik Arak Desa Keluarga Yang. Kalau ia saja panik, bagaimana bisa mengharapkan orang lain tetap tenang? Maka, walau hatinya resah, ia tak mungkin memperlihatkannya di depan orang lain.
Sementara itu, di sisi lain.
Wenbo yang berdiri di hadapannya tampak gelisah.
Ia jelas mendengar percakapan antara Li Mingchao dan Zhou Renkun. Ia benar-benar tak habis pikir, sebab menurutnya, Pabrik Arak Desa Keluarga Yang kini sudah berada di ujung tanduk. Di saat Zhou Renkun bersedia membantu, kenapa Li Mingchao justru menolaknya?
Wajahnya cemas dan pucat, begitu Li Mingchao menutup telepon, ia buru-buru bersuara, "Kakak Chao, kenapa kau menolak? Sekarang bukan waktunya pura-pura kuat."
Li Mingchao tersenyum mendengar itu.
Ya, ia tersenyum.
Melihat ketakutan di wajah Wenbo, ia mempersilakan Wenbo duduk, lalu berkata sambil tersenyum, "Jangan pernah panik. Ingat, di hadapan situasi sesulit apa pun, kalau kau sudah panik, maka kau benar-benar kalah."
"Tak ada jalan buntu di dunia ini, hanya saja kita belum menemukan jalan keluarnya."
"Soal kenapa aku menolak bantuan Zhou Renkun, hanya satu hal yang perlu kau tahu: di dunia ini tak ada teman sejati, tak ada pula musuh sejati, yang ada hanya kepentingan abadi."
"Kenapa Zhou Renkun mau membantuku?"
"Jika ia benar-benar ingin membantu, ia tak perlu meneleponku dulu, langsung bantu saja. Apakah aku tidak akan berterima kasih padanya nanti?"
"Ingat baik-baik, setiap 'bantuan' itu pasti sudah diam-diam dipasang harga."
"Kalau kali ini Zhou Renkun membantuku, maka ke depannya aku pasti akan jadi bawahannya, atau jika suatu saat ia memintaku melakukan sesuatu, aku takkan bisa menolaknya."
Wenbo tertegun.
Meski cukup cerdik, pada dasarnya ia tetap orang kecil.
Itulah sebabnya, wawasannya memang masih terbatas.
Tapi ia juga bukan bodoh. Setelah mendengar penjelasan Li Mingchao, ia langsung menyadari semuanya.
Tentu saja!
Hubungan Zhou Renkun dan Li Mingchao hanyalah kerja sama biasa, dia bukan ayahmu, kenapa harus begitu baik membantumu?
Di dunia ini, kalau benar-benar orang terlalu baik, takkan mungkin bisa menjalankan bisnis sebesar Zhou Renkun.
Sebelum ini, bantuan kecil untuk Li Mingchao hanyalah bagian dari investasi, pada dasarnya juga sebuah bisnis.
Masalah sebesar sekarang, bisa dibayangkan, untuk menyelesaikannya, Zhou Renkun pasti harus mengorbankan banyak hal.
Dalam kondisi seperti ini, apa alasan ia harus melakukannya?
Meski sebelumnya ia sangat panik, setelah mendengar penjelasan Li Mingchao, terutama melihat ketenangan di wajahnya, hatinya yang gelisah mulai tenang.
Wenbo menarik napas dalam-dalam, lalu berkata pelan, "Baik, Kak Chao, aku mengerti."
"Soal ini, kita selesaikan sendiri."
Li Mingchao mengangguk, lalu tak lagi memperdulikan Wenbo dan mulai berpikir dengan saksama.
Masalah ini besar dan cukup mendesak, ia harus segera menemukan solusi.
Pengetahuan dari masa depan mulai berputar dalam pikirannya. Sekitar dua puluh menit berlalu, tiba-tiba matanya berbinar, lalu berkata pelan, "Aku sudah menemukan caranya, masih dengan memanfaatkan opini publik."
"Kita sebarkan masalah ini, kendati harus mengorbankan sesuatu, tapi dari sudut pandang berbeda."
"Kabari semua distributor di seluruh negeri, bahwa pabrik arak kita ke depannya akan sulit memenuhi suplai, karena akhir-akhir ini di Kabupaten Shan sedang ada pemeriksaan besar-besaran."
"Jadi pabrik kita setiap hari harus menghadapi pemeriksaan berulang kali, para pekerja bahkan tak bisa benar-benar bekerja, jadi produksi minuman otomatis tak terjamin."
"Selain itu, tegaskan bahwa pabrik kita adalah perusahaan legal, jadi harus patuh tanpa syarat, meski nanti tak memproduksi sebotol pun, kita harus tetap bekerja sama dengan semua instansi. Karena itu, mohon pengertian seluruh konsumen di tanah air."
"Buat opini publik sebesar-besarnya, biarkan masalah ini jadi perbincangan nasional, syukur-syukur bisa menarik perhatian stasiun televisi ibu kota."
"Selain itu, katakan bahwa kita bersedia menerima wawancara."
Sret!
Mendengar ucapan itu, Wenbo tak bisa menahan napas.
Ia benar-benar tak menyangka, masalah serumit ini ternyata masih bisa diputarbalikkan dan diatasi dengan cara di luar nalar seperti itu.
Namun Wenbo harus mengakui, cara ini memang bisa berhasil.
Karena apa yang dilakukan Cui He ini memang legal, tapi jelas menyalahi aturan.
Selama hanya diketahui segelintir orang, takkan jadi masalah, tak ada yang bisa mencari-cari kesalahan.
Tapi jika dibahas secara nasional, jelas akan menimbulkan masalah.
Mengapa hanya pabrik arak Desa Keluarga Yang saja yang diperiksa, kenapa tidak pabrik lain?
Apakah ada masalah di pabrik arak Desa Keluarga Yang sebelumnya?
Kalau ada, tunjukkan buktinya!
Apalagi langkahmu sekarang sudah menghalangi kegiatan normal pabrik.
Pabrik arak Desa Keluarga Yang sudah terkenal di seluruh negeri, banyak orang senang membicarakannya, bahkan banyak yang mencari nafkah dari pabrik itu.
Produksinya memang rendah, sekarang dengan masalah ini, produksi makin turun.
Apa mereka tidak mau mencari uang lagi?
Dalam kondisi seperti ini, dengan sedikit penggiringan opini, meski zaman belum serba internet, pasti akan menimbulkan kontroversi besar.
Saat itu, Cui He dan orang-orangnya pasti akan terekspos ke seluruh negeri, tinggal lihat apa yang akan mereka lakukan.
"Baik, Kak Chao, aku mengerti."
Kini Wenbo tampak bersemangat, bahkan tak bisa menahan diri untuk berkata, "Serahkan padaku, dalam waktu paling lama satu minggu, aku pastikan masalah ini jadi buah bibir di seluruh negeri!"