Bab 49: Formasi Pelindung Gunung
Pendeta Qimen memandang ke arah Gerbang Bulan Sabit di Pegunungan Zhongtiao. Formasi pelindung gerbang gunung itu memang tidak begitu megah, namun meski ia telah menembus tahap Inti Emas, hatinya tetap bergelora oleh kegembiraan. Ini adalah impian yang ia kejar selama ratusan tahun, dan kini perlahan menjadi kenyataan. Tempat berkah, sebuah dunia kecil—jika berhasil direbut, Sekte Xuandu yang dulu tak dikenal, akan berubah menjadi sekte ternama dan kuat di Dunia Langit Biru. Sementara dirinya, akan dikenang sepanjang sejarah sekte sebagai leluhur agung, menjadi legenda yang diceritakan turun-temurun.
Demi hari ini, ia telah mengorbankan banyak hal yang tak terbayangkan oleh orang lain, melewati segala kesulitan. Kini, saatnya telah tiba. Melalui tekanan yang terus-menerus, berbagai percobaan, serta informasi dari jalur rahasia, ia yakin benar bahwa tetua Inti Emas dari Gerbang Bulan Sabit telah mati dan lenyap. Tanpa seorang pun ahli Inti Emas sebagai penopang, Gerbang Bulan Sabit tak ubahnya daging empuk yang siap ia gigit dengan rakus.
Kesempatan yang diberikan langit, jika tidak diambil, hanya akan mendatangkan penyesalan. Sebidang tanah berkah dengan kualitas baik, dunia kecil yang didapat secara kebetulan, namun orang-orang bodoh dari Gerbang Bulan Sabit sama sekali tak tahu memanfaatkannya. Mereka layak menerima nasib malang, benar-benar seperti kayu lapuk yang tak bisa diukir.
Peluang selalu mendekat pada mereka yang bersungguh hati. Ia berani mengambil langkah lebih cepat dari kekuatan lain, sesuatu yang membutuhkan nyali luar biasa. Lucu rasanya melihat sekte-sekte lain yang selalu ragu, ingin orang lain menjadi pion, enggan menanggung kerugian. Mereka tak tahu, minat Pendeta Qimen bukan hanya pada tanah berkah itu, melainkan juga dunia kecil yang langka dan jarang diketahui.
“Saudara Qimen, menurut pengamatanku, formasi besar Gerbang Bulan Sabit tampak rapat dan penuh misteri. Apakah sektemu punya cara untuk mengatasinya?” tanya seorang pendeta pendek gemuk dengan wajah penuh kecemasan. Ia adalah tetua dari Sekte Seribu Bangau, salah satu sekte kecil di sekitar situ. Awalnya sekte itu sekutu Gerbang Bulan Sabit, entah mengapa kini justru bersekutu dengan Xuandu.
Pendeta Qimen mencibir dalam hati. Sekte kecil seperti itu berpikiran sempit, ingin mendapat keuntungan tanpa menanggung risiko. Kalau bukan karena khawatir waktu makin lama makin banyak halangan, ia tak sudi bekerja sama. Namun di permukaan, ia tersenyum lebar dan berkata, “Formasi pelindung Gerbang Bulan Sabit memang terkenal di seantero Negeri Zhou. Tapi Xuandu pun punya cara luar biasa untuk memecahkannya. Saudara tidak perlu cemas, juga tidak perlu turun tangan. Saksikan saja besok bagaimana kami bertindak...”
Kata-katanya terdengar santai, tapi sesungguhnya ia tidak pernah meremehkan kekuatan formasi itu. Namun, sekuat apa pun formasi, setelah dipelajari selama puluhan tahun, ia sudah memahami sebagian besarnya. Belum lagi ia punya siasat lain sebagai cadangan.
“Betapa indah pemandangan abadi ini. Entah setelah besok, masihkah tersisa keindahannya? Dulu aku kenal juga dengan Fang Xuan, tapi kini mau tak mau kami harus saling berhadapan. Sungguh sayang...” Seorang pendeta tinggi kurus menghela napas. Ia juga seorang tetua sekte kecil di sekitar Negeri Zhou yang diajak Xuandu untuk berbagi untung dan rugi.
Pendeta Qimen merasa muak. Satu lagi orang munafik, ingin untung tapi juga mau menjaga nama baik. Kalau bukan karena Xuandu perlu sekutu untuk menciptakan kekuatan besar, ia tak sudi bergaul dengan sekte seperti itu. “Saudara, jangan berlagak. Dunia para cultivator memang begini, yang lemah jadi mangsa yang kuat, itu sudah hukum alam. Kalau suatu hari sekte kita melemah, apa kita bisa berharap belas kasihan dari orang lain?”
Mereka pun berbincang sejenak. Setelah rencananya matang, Pendeta Qimen memanggil salah satu tetua kepercayaannya, “Sampaikan perintahku. Besok, saat mentari baru saja terbit, kita akan menyerang. Semua posisi sudah diatur, pastikan bekerja sama dengan baik, jangan sampai ada yang lalai. Kalau sampai terjadi kesalahan, jangan salahkan aku bila bertindak keras!”
“Siap menjalankan perintah Guru Agung...” para tetua menjawab serempak.
“Ada tiga hal yang harus kalian perhatikan. Pertama, awasi pelarian di sekitar. Aku yakin Gerbang Bulan Sabit pasti punya rencana menyelamatkan murid-murid terpilih untuk bangkit kembali. Meski kita sudah pasang formasi pengawas, tetap saja bisa ada yang lolos. Maka, penjagaan berlapis tidak boleh lengah, jangan biarkan satu pun cultivator atau alat sihir lolos...”
“Kedua, untuk orang biasa, baik yang di Kota Mulut Lembah maupun di dalam Gerbang Bulan Sabit, jangan bunuh mereka selama tidak membawa barang terlarang. Biarkan mereka keluar masuk. Jika ada yang membangkang, cukup ditahan. Ingat, kekuatan Gerbang Bulan Sabit sudah lemah. Banyak yang mengincar, bukan hanya kita. Setahuku, ada dua atau tiga sekte besar lain yang juga menginginkan ini, hanya saja mereka kalah cepat. Jadi, jangan beri mereka alasan untuk turun tangan...”
“Adapun yang lain,” sorot mata Pendeta Qimen berubah kejam, “semua cultivator di atas tahap Penguatan Pondasi boleh dibunuh. Di bawah itu, lihat situasi. Kalau tidak melawan dan mau bekerja sama, baru boleh dibiarkan hidup...”
——————
Li Ji duduk bersila di kamarnya, hatinya kalut. Semua persiapan sudah dilakukan, kini tinggal menunggu. Kamarnya kosong melompong, ia tak punya banyak barang untuk dibawa. Empat bulan bergabung dengan sekte, tak banyak harta yang didapat selain belasan batu spiritual tingkat rendah hasil kerja serabutan untuk sekte. Karena ancaman Xuandu, para murid dengan sedikit kemampuan tempur mendapat banyak pasokan pil dan simbol sihir dari sekte, tapi itu tidak berlaku bagi murid tercatat seperti dirinya. Bagi para petinggi, mereka dianggap tak punya nilai tempur. Meski kemampuan bertarung Li Ji dalam jarak dekat cukup mengesankan, siapa di antara para cultivator yang mau memandang keahlian bela diri biasa?
Namun, ia tak pernah merasa empat bulannya di Gerbang Bulan Sabit sia-sia. Segala yang didapat ia simpan dalam benak—itulah harta yang tak ternilai. Di tempat inilah ia berkesempatan memahami seluruh pengetahuan dasar dunia kultivasi, bisa menemukan jalannya sendiri, tidak hidup dalam bayang-bayang, tidak sekadar mengikuti arus.
Ke mana masa depan akan membawanya, ia sudah punya arah. Tapi itu semua harus menunggu hingga ia berhasil meloloskan diri dari penjara bernama Gerbang Bulan Sabit.
Pada suatu pagi di akhir musim dingin tahun 236 Kalender Langit Biru, ketika matahari baru mengintip di ufuk timur, serangan Xuandu terhadap tanah berkah Pegunungan Zhongtiao pun dimulai. Serangan itu berlangsung dari segala arah. Pendeta Qimen membagi para ahli sekte dan sekutu dari sekte lain menjadi sembilan kelompok, menyerang formasi pelindung Gerbang Bulan Sabit serempak. Dalam sekejap, suara ledakan menggelegar, tanah bergetar, formasi pelindung sekte bagaikan batu karang yang diterpa badai ganas, cahayanya bergelombang hebat.
Menyerang formasi pelindung bukan perkara mudah dalam dunia kultivasi. Dalam perebutan kekuasaan, para cultivator biasanya lebih suka menyerang tiba-tiba, menekan dengan kekuatan, atau menghasut pengkhianatan dari dalam. Namun, Pendeta Qimen tak bisa memilih cara itu. Semua tindakannya sebelum ini hanyalah untuk menguji apakah tetua Inti Emas Gerbang Bulan Sabit masih hidup. Setelah yakin, Gerbang Bulan Sabit pasti sudah bersiap, sehingga pertempuran kali ini pasti akan berlangsung sengit dan berdarah.
Strategi serangan Xuandu sudah dipikirkan masak-masak. Sejak puluhan tahun lalu, Pendeta Qimen telah meneliti dan menganalisis formasi besar Gerbang Bulan Sabit. Sembilan arah penyerangan, tiap arah dipimpin oleh beberapa cultivator tahap Gerakan Hati dan Penyatuan, didukung oleh lebih banyak lagi cultivator tahap Penguatan Pondasi dan Pembukaan Cahaya. Mereka bergantian melancarkan serangan dengan perangkat formasi kecil yang telah dipersiapkan. Tujuannya, mencari celah dalam formasi pelindung sekte. Tak ada formasi yang benar-benar sempurna. Sekuat apa pun formasi, para pengendali formasi tetap punya kelemahan; mereka perlu istirahat dan mengisi ulang tenaga. Itulah kesempatan Xuandu. Dan akhirnya, Pendeta Qimen sendiri sebagai satu-satunya ahli Inti Emas di lokasi, akan melancarkan serangan pamungkas—menjadi batang jerami terakhir yang mematahkan punggung unta.