Bab 5: Pengetahuan Adalah Kekuatan
Begitu keluar dari Kantor Kota, beberapa preman bayaran sudah mengikutinya dari belakang. Orang-orang ini adalah warga miskin di kota yang memanfaatkan nama besar pejabat untuk mendapatkan sedikit uang makan dan jajan.
Jangan anggap remeh hal semacam ini. Di Cixi, tak banyak yang berani berjalan gagah di jalanan dengan lengan tergulung. Pikirkan saja Li Ji yang asli, saat pertama kali datang tahun lalu, ia tak paham seluk-beluk dunia, juga tak punya keahlian bela diri, namun tetap bersikap sombong dan merasa diri tinggi. Akhirnya, belum sebulan ia sudah dipukul dengan batu bata hitam, dan malah menguntungkan Wei Guoguang.
Setahun terakhir, Li Ji yang baru telah berbuat beberapa hal luar biasa: enam bulan lalu menangkap sendiri perampok lintas batas Si Pisau Bunga, tiga bulan lalu memimpin penduduk desa melawan gerombolan perampok Gunung Zuotou dan membunuh sembilan belas perampok, ditambah lagi aksinya kemarin saat berebut air dengan Desa Wanghou yang begitu mengesankan. Barulah posisinya benar-benar pantas disebut pengawas keliling. Tentu saja, ia juga dikenal dermawan dan banyak berteman, hal yang sudah jadi kebiasaan baginya.
Keluar dari kantor dan berjalan ke utara, tak jauh ada sebuah gang bunga. Beberapa rumah bordil di Cixi, yang sebagian besar pintunya setengah tertutup, berjejer di sini. Ketika mereka berjalan santai melewati tempat itu, tiba-tiba dari atas ada seember air bekas cucian kaki terlempar turun. Untungnya Li Ji gesit melompat menghindar, meski celananya tetap saja basah sedikit.
“Kalian ini, para penjual tubuh, matanya kelewat tinggi, ya! Hampir saja air itu kena muka kami!”
Belum sempat Li Ji bicara, beberapa preman bawahan sudah lebih dulu memaki ke arah jendela. Pelaku di lantai atas sudah menutup jendela rapat dan diam saja. Para preman itu langsung menggulung lengan baju, hendak naik untuk mencari gara-gara—ini adalah pekerjaan favorit mereka. Selain bisa makan enak, siapa tahu dapat untung lain. Namun Li Ji segera memberi tanda agar mereka berhenti, membuat para preman itu makin gatal ingin bertindak.
Bukan berarti Li Ji orang baik yang tak punya amarah. Ia tahu benar duduk perkaranya; air itu kemungkinan besar memang diarahkan padanya, bahkan ia bisa menebak siapa pelakunya—Si Mungil dari Rumah Bunga Wewangian.
Itu adalah masalah lama yang diwariskan si pemilik tubuh sebelumnya. Saat baru datang di Cixi, sebelum sempat menata hidup, ia malah berhubungan dengan Si Mungil, seorang perempuan penghibur. Keduanya sempat sangat akrab, layaknya pasangan kekasih yang lengket bagai gula dan madu.
Li Ji yang sekarang pernah juga melihat sendiri siapa Si Mungil itu. Gadis belia, usianya tak lebih dari belasan, tubuh pendek dan kurus, bedak di wajahnya tebal melebihi sol sepatu. Meski masih ada sedikit kecantikan, namun penampilan kekanak-kanakannya sama sekali tak membangkitkan minat di hati Li Ji.
Di dunia ini, kurus dianggap cantik, makin kurus makin baik. Tapi bagi Li Ji, ia lebih suka perempuan yang montok. Setidaknya, menurutnya, dada dan pinggul berisi jauh lebih nyaman daripada tubuh yang tinggal tulang belaka! Jadi bukan soal ia sok suci, memang benar-benar tidak tertarik, apalagi di dunia tempat segala macam penyakit bisa menular begitu saja.
Karena itu, ia mulai menjaga jarak. Tapi bagi Si Mungil, ceritanya lain. Ia selalu menangis dan mengadu ke mana-mana, menuduh Li Ji sudah lupa diri dan melupakan masa lalu. Jadilah Li Ji seperti menelan empedu, pahit tapi tak bisa berkata apa-apa. Sama-sama orang malang, perempuan lemah, masa iya harus dipukul? Tak ada pilihan lain, selain menahan diri dan tak mencari masalah.
Tak jauh setelah keluar dari gang bunga, terdapat sebuah rumah besar dengan pohon tua yang sangat gagah di depannya. Dari dalam rumah terdengar suara anak-anak membaca dengan nyaring. Para preman kenal betul kebiasaan pengawas keliling mereka, jadi mereka pun bubar dengan sendirinya. Li Ji membenahi pakaian, lalu masuk diam-diam lewat pintu samping. Ia memang ke sana untuk membaca, tentu saja bukan bersama anak-anak.
Di Cixi, ada tiga tempat yang terkenal kaya akan buku: rumah Tuan Qiang, kediaman keluarga Wang yang terkaya, dan Balai Kebajikan yang kini berdiri di hadapannya. Buku di dunia ini sangatlah berharga; orang kebanyakan sibuk bekerja, mana sempat dan mampu membeli buku.
Dari ketiga tempat itu, rumah Tuan Qiang memang punya banyak koleksi, tapi isinya kebanyakan buku pelajaran ujian negara, tak banyak guna. Keluarga Wang tak mungkin bisa ia dekati, dan ia pun tak sudi merendah. Hanya Balai Kebajikan yang tersisa. Pemiliknya, Tuan Zhu, terkenal tegas, berwibawa, dan sangat berilmu, serta punya nama baik di Cixi.
Demi bisa membaca di Balai Kebajikan, Li Ji dulu benar-benar berusaha keras. Keluarga Zhu tak kekurangan uang, jadi Li Ji mengambil alih semua pekerjaan fisik di balai itu: mengangkat air, membelah kayu, bersih-bersih, mengganti genteng—semua ia lakukan selama sebulan penuh. Barulah Tuan Zhu mengizinkannya membaca selama dua jam setiap hari. Tapi hanya membaca, bukan menjadi murid. Menurut Tuan Zhu, Li Ji terlalu kasar dan bodoh, tak layak diajar.
Namun Li Ji membaca apa saja, kecuali buku ujian. Ia paling suka membaca segala hal tentang geografi, adat istiadat, biografi tokoh, dan sejarah. Kata Tuan Zhu, ia tolol yang selain buku serius, semuanya dilalap. Tuan Zhu memang tak paham—bagi Li Ji, justru buku-buku itulah jendela terbaik untuk mengenal dunia ini.
Lewat setengah tahun membaca dan menggabungkan dengan ingatannya sendiri, Li Ji pun mendapat gambaran besar tentang dunia ini.
Benua ini bernama Han Zhou Utara, satu dari tujuh benua di dunia. Han Zhou Utara terbagi dua oleh Pegunungan Besar Yunhan, membelah benua menjadi wilayah utara dan selatan. Di utara ada empat puluh tiga negara, di selatan lima puluh delapan negara.
Cixi berada di Negeri Nanli, salah satu dari lima puluh delapan negara selatan. Lewat banyak membaca, Li Ji tahu banyak hal, namun juga timbul banyak pertanyaan. Misalnya...
Pergantian dinasti di benua ini sangat stabil. Dalam sejarah dunia asal Li Ji, satu dinasti bertahan beberapa ratus tahun sudah luar biasa. Di sini, dinasti seribu tahun lebih adalah hal biasa, bahkan ada yang bertahan hingga tiga ribu tahun—sungguh luar biasa.
Perang antarnegara sangat jarang. Di satu benua ada ratusan negara, tapi semuanya rukun. Apa mereka semua penganut perdamaian?
Kehidupan rakyat cukup stabil. Mungkin tak bisa dibilang makmur, tetapi setidaknya belum pernah mendengar ada orang mati kelaparan. Bagaimana mereka mengatur semua ini? Ke mana para pejabat korup? Pedagang licik? Penguasa tanah? Para pemberontak yang berniat merebut tahta? Para jagoan yang berkata, “Kenapa bangsawan harus dari keturunan tertentu?”
Mungkin pemahaman Li Ji masih terbatas, buku saja tetap tak cukup. Ia belum pernah benar-benar menjelajahi dunia ini, namun banyak hal membuatnya bingung, seolah ada sesuatu yang sangat penting terlewatkan...
Dua jam berlalu di lautan buku, siang itu ia makan seadanya, lalu langsung menuju tujuan berikutnya—Toko Obat Qian, toko obat terbesar di Cixi.
Ia ke sana bukan untuk membeli obat, melainkan untuk belajar letak titik-titik akupuntur manusia dari tabib kepala toko. Jika pagi adalah belajar sastra, maka siang belajar bela diri. Toko Obat Qian punya tabib terbaik di Cixi, konon pulang kampung setelah berjaya di dua kota besar, dan kemampuan mengajar titik akupuntur tak perlu diragukan.
Sehari penuh, hidup Li Ji terasa sangat bermakna. Bukan seperti lelah di kehidupan sebelumnya yang selalu dikejar kendaraan dan rumah. Rasa penuh ini membuatnya merasa setiap hari ada kemajuan. Pedangnya semakin cepat, tenaganya semakin kuat, pemahamannya tentang dunia dan tubuh semakin dalam. Ia tengah bersiap, bersiap untuk suatu hari nanti menjelajah dunia ini tanpa rasa takut.