Ketika alam semesta baru terbentuk setelah berlalunya masa yang tiada berujung, sebuah pohon sakral menjulang dari kegelapan, menopang langit dan memisahkan antara bumi dan angkasa. Pada tak terhitung banyaknya cabang pohon ini, tumbuh dunia-dunia tanpa batas. Jika dihitung satu per satu, ada seratus delapan ribu alam semesta. Di bawah pohon sakral ini terbentang daratan luas nan agung, sementara di atasnya terhampar negeri para dewa di langit. Generasi makhluk hidup berikutnya menyebut pohon pembuka langit dan bumi ini sebagai Pohon Penembus Langit, atau dikenal juga sebagai Pohon Agung Para Dewa!
Negeri Rui, di wilayah Prefektur Pingyang.
Di bawah naungan malam, kediaman keluarga Xu tetap terang benderang oleh cahaya lampu. Keluarga Xu merupakan salah satu keluarga terhormat yang paling berpengaruh di Prefektur Pingyang. Tiga generasi leluhurnya telah mengabdi di istana sebagai jenderal militer. Pada masa kejayaannya, salah satu leluhurnya pernah menduduki jabatan tinggi setara pejabat tingkat tiga, berjasa besar di medan perang, memperoleh kenaikan pangkat dan gelar kebangsawanan yang dianugerahkan langsung oleh kaisar: Marquis Jinyi.
Meskipun Xu Yi, kepala keluarga saat ini, tidak lagi memiliki kekuasaan sebesar Marquis Jinyi di masa lalu, namun di Prefektur Pingyang, ia tetap menjadi tokoh yang amat berpengaruh.
Saat ini, kepala keluarga Xu yang cukup dengan menghentakkan kakinya saja dapat membuat Prefektur Pingyang berguncang, tampak mondar-mandir dengan cemas di luar kediaman, pandangannya sesekali tertuju ke pintu yang terkunci rapat, alisnya berkerut dalam-dalam.
Ia adalah pria paruh baya yang sangat gagah, tubuhnya tegap, dengan alis tegas dan mata tajam. Dapat dibayangkan betapa tampannya ia di masa mudanya. Terlepas dari penampilan, posisinya yang sudah lama berada di puncak membuat kewibawaannya terasa kuat, bahkan tanpa perlu berusaha menonjolkannya.
Tiba-tiba, saat Xu Yi sedang gelisah dan kehilangan konsentrasi, dua anak laki-laki yang lincah entah dari mana muncul, diam-diam berjalan melewati Xu Yi yang sedang melamun, lalu merapatkan telinga ke daun pintu, seolah ingin mendengar sesuatu dari dalam.
Kedua bocah