Bab 9: Turnamen Seni Bela Diri Terbesar di Huainan, Dimulai!
Perasaan Zhou Yu sangat tajam. Ia merasa kakaknya, Sun Ce, ingin mengatakan sesuatu padanya, namun tampak sungkan untuk mengatakannya secara langsung.
Maka Zhou Yu pun bertanya dengan lugas kepada Sun Ce, "Kakak Bofu, soal meminjam pasukan ini... adakah yang bisa kubantu? Jika ada sesuatu, katakanlah saja terus terang, Kakak."
Sun Ce menghela napas dan menanggapinya dengan wajah muram, "Memang benar, tidak ada satu hal pun yang bisa kusembunyikan darimu, Gongjin. Yuan Yao entah dari mana mendengar kabar tentangmu, tahu bahwa kau adalah saudara seperjuanganku. Ia pun meminta agar aku membawamu ke Shouchun sebagai sandera, barulah ia bersedia meminjamkan pasukan. Namun, hubungan persaudaraan kita begitu erat, mana mungkin aku tega melakukan hal sekeji itu? Yuan Yao benar-benar membuatku serba salah!"
Zhou Yu mendengar itu lalu tertawa nyaring, "Apa sulitnya? Jika Yuan Yao ingin aku ke Shouchun, aku akan pergi. Tak perlu khawatir, Kakak. Shouchun bukanlah sarang naga atau gua harimau, mengapa aku tidak bisa pergi ke sana? Pamanku, Zhou Shang, adalah gubernur Danyang dan termasuk pejabat penting di bawah Yuan Shu. Baik secara pribadi maupun jabatan, Yuan Shu dan anaknya akan memperlakukanku dengan hormat."
"Kini Jiangdong tengah kacau, Liu Yao memang gubernur Yangzhou, tapi ia orang yang lemah. Ini adalah kesempatan emas bagimu untuk berjaya di Jiangdong, jangan sampai terlambat! Setelah kakak berhasil menaklukkan Jiangdong, aku pasti bisa mencari jalan keluar sendiri."
Kesediaan Zhou Yu menjadi sandera di Shouchun membuat hati Sun Ce menjadi tenang. Sun Ce pun membungkuk pada Zhou Yu, "Semuanya bisa terlaksana berkat jasamu, Gongjin! Kakak sungguh berterima kasih padamu!"
Sun Ce yang memang sudah tak sabar mengerahkan pasukan ke Jiangdong, segera berangkat bersama Zhou Yu ke Shouchun. Sementara itu, dalam beberapa hari ini Yuan Yao juga telah menuntaskan persiapan, dan menyelenggarakan Turnamen Bela Diri Terbesar Huainan di kota Shouchun.
Pesta besar ini sudah lama digembar-gemborkan, membuat para pendekar Huainan menantikan dengan penuh semangat. Bahkan banyak kalangan pejabat tinggi, keluarga terpandang, hingga rakyat biasa pun ingin menyaksikan keramaian ini.
Yuan Yao membangun panggung duel di tengah keramaian pusat kota Shouchun, megah dan luas. Area di sekitar panggung cukup menampung puluhan ribu orang.
Bagi para pejabat dan bangsawan yang datang menonton, tentu saja tidak bisa bercampur dengan rakyat biasa. Yuan Yao menyewa semua restoran di sekitar panggung, dan mengubah teras-terasnya menjadi tempat duduk eksklusif untuk menonton pertandingan. Siapa pun yang sanggup membayar, bisa duduk di sana tanpa perlu berdesakan dengan rakyat.
Bisa duduk santai di teras dengan pemandangan terbaik, sambil minum anggur dan menonton turnamen, bukankah itu kenikmatan tersendiri? Tentu saja, harga yang harus dibayar tidaklah murah. Yuan Yao langsung mengadakan lelang terbuka, siapa membayar tertinggi, dia yang dapat tempat. Meski demikian, lebih dari seratus kursi teras tetap ludes diperebutkan para pejabat dan bangsawan muda.
Hanya dari pelelangan tempat duduk eksklusif ini saja, Yuan Yao sudah mengantongi lebih dari sepuluh juta uang. Dari modal tiga puluh juta untuk menggelar turnamen, bahkan sebelum acara dimulai, ia sudah balik modal setengahnya.
Tentu saja, posisi terbaik yang menghadap panggung tetap milik Yuan Yao sendiri dan tidak dijual. Saat ini, Yuan Yao duduk santai di teras lantai dua Restoran Taifu, di depannya terhidang aneka makanan lezat di atas meja panjang.
Sekretaris utamanya, Yan Xiang, beserta kedua adik perempuannya, Yuan Wan dan Yuan Miao, duduk di sisi kiri dan kanannya, sementara kepala pelayan Yuan Zhong berdiri melayani di dekat mereka.
Yuan Yao mengangkat cangkirnya dan tersenyum pada Yan Xiang, "Tuan Zhongyu, persiapan turnamen berjalan sangat baik. Banyak pendekar yang datang bertanding, semangat mereka luar biasa. Semua ini berkat kerja kerasmu dan Zishan!"
Yan Xiang pun mengangkat cangkirnya dan membalas, "Membantu Tuan Muda merekrut talenta hebat juga demi kejayaan tuan besar kita. Itu memang tugasku. Turnamen akan segera dimulai, hari ini Tuan Muda pasti bisa mendapatkan orang-orang terbaik."
Ketika mereka berbincang, Bu Zhi alias Bu Zishan naik ke panggung dan berseru lantang, "Semua pasti sudah tahu, turnamen bela diri ini diselenggarakan oleh Tuan Muda Yuan Yao. Tujuannya untuk memilih pendekar terbaik, agar menjadi jenderal hebat bagi Huainan!"
"Pendekar yang menjadi juara utama, tidak hanya berkesempatan menjadi jenderal, tapi juga akan menerima hadiah istimewa dari Tuan Muda!"
"Kalian semua pendekar, pasti sudah paham aturan pertandingannya, jadi tak perlu banyak penjelasan. Saya umumkan, babak pertama resmi dimulai!"
Sistem pertandingan ini dirancang langsung oleh Yuan Yao, dan aturannya pun sederhana dan lugas. Karena jumlah peserta mencapai lebih dari empat ratus orang, babak pertama dilakukan dengan pertarungan kelompok.
Dua puluh orang membentuk satu grup untuk naik ke panggung dan bertarung serempak. Demi meminimalkan korban, babak pertama tidak memperbolehkan senjata tajam, hanya pertarungan tangan kosong. Siapa yang menyerah, kehilangan kemampuan bertarung, atau terlempar keluar panggung, dinyatakan kalah. Dalam setiap grup, hanya tiga orang yang lolos ke babak berikutnya.
Meski seleksi ini mengandung unsur keberuntungan, sejatinya yang terkuat tetap akan menonjol.
Dua puluh pendekar dari grup pertama segera naik ke panggung dan pertarungan pun berlangsung sengit. Setiap peserta berjuang mati-matian demi masa depan mereka. Pertarungan cepat memanas hingga mencapai titik puncak.
Berkali-kali pendekar terlempar keluar panggung, atau jatuh dan tak sanggup bangkit lagi. Rakyat yang menonton, belum pernah melihat pertarungan sehebat ini. Semangat mereka pun bangkit, bersorak-sorai memberikan dukungan. Bahkan para bangsawan muda yang duduk di kursi eksklusif merasa uang yang mereka keluarkan sangat layak.
Yuan Yao mengamati satu per satu para pendekar di atas panggung, mencoba melihat apakah ada yang cocok untuk dibina.
Di seberang, di salah satu teras, Huang Yi mengangkat cangkir anggurnya dan tersenyum penuh basa-basi ke arah Yuan Yao. Yuan Yao sekadar mengangguk padanya.
Adik perempuannya, Yuan Miao, tampak tidak senang dan berkata, "Kakak, Huang Yi itu sungguh menyebalkan. Setiap kali aku keluar, dia pasti mendekatiku. Kudengar Ayah malah ingin menjadikannya menantu dan menikahkanku dengannya. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan Ayah!"
Yuan Yao tiba-tiba teringat, dalam sejarah, Huang Yi memang menjadi menantu Yuan Shu. Apakah yang dinikahinya itu Yuan Miao, adiknya sendiri?
Huang Yi memang tampan, pandai menjilat dan mencari muka. Yuan Yao sangat memandang rendah orang seperti itu. Tapi ayahnya, Yuan Shu, justru suka menilai orang dari penampilan dan senang dipuji. Tak heran ia sangat memercayai Huang Yi, bahkan berencana menjadikannya menantu.
"Kau tidak mau menikah dengan Huang Yi?" tanya Yuan Yao pada adiknya.
"Tidak mau sama sekali!" jawab Yuan Miao tegas. "Melihatnya saja aku sudah muak! Lebih baik mati daripada menikah dengannya! Yuan Wan, bagaimana kalau kau saja yang menikah dengannya?"
Yuan Wan yang lembut hatinya pun tak sampai hati menolak, lalu berkata, "Kalau kau tidak mau, aku rela menanggung penderitaan itu untukmu."
"Ucapan apa itu, Yuan Wan?" Yuan Yao tak senang mendengarnya. "Di Huainan, kita adalah tuan rumah dan Huang Yi hanyalah bawahan. Mana mungkin seorang bawahan memaksa tuannya? Selama kalian tidak mau menikah dengannya, siapa pun tak bisa memaksa. Bahkan Ayah pun tidak! Masalah ini, biar aku yang bicarakan dengan Ayah!"
Mendengar itu, Yuan Miao langsung tersenyum lebar dan mengangkat cangkirnya pada Yuan Yao, "Kakak, aku tahu kaulah yang paling sayang pada kami! Ini, kucapkan terima kasih padamu!"
"Anak perempuan tidak boleh minum anggur," kata Yuan Yao sambil meraih cangkir adiknya dan menuangkan air madu sebagai gantinya, lalu kembali memusatkan perhatian pada pertandingan.
Dua grup sudah bertanding di atas panggung, namun belum juga muncul satu pendekar yang benar-benar luar biasa.