Bab 19: Dengan Kekuatan Keluarga Yuan, Untuk Apa Menggandeng Keluarga Besar Lain?
“Anakku ingin melatih pasukan, bukankah cukup mendirikan sebuah kemah latihan di luar kota? Mengapa bisa tak ada lahan?”
“Ibu, anak ingin melatih pasukan elit yang tiada tanding di dunia. Pasukan seperti ini sangat ketat dalam urusan logistik, perlakuan, perlengkapan, dan latihan. Anak ingin mencari sebuah perkebunan besar, agar para jenderal dan prajurit bisa makan dan tinggal bersama, sehingga pasukan baru ini dapat terbentuk. Namun, perkebunan di sekitar Shouchun terlalu mahal, anak pun tak punya cukup uang...”
Mendengar itu, Nyonya Feng langsung tertawa, “Ternyata anakku berputar-putar hanya ingin meminta perkebunan pada ibu. Hal kecil begini, Yao, katakan saja. Keluarga Yuan kita memiliki lebih dari seratus perkebunan di Runan, dan ada tujuh belas di sekitar kota Shouchun, utamanya untuk para pengurus dan petani muda kuat.”
“Karena kau butuh, Ibu serahkan dua perkebunan di pinggiran kota Shouchun kepadamu. Termasuk para pemuda kuat di dalamnya, semuanya untukmu.”
Sungguh ibu kandung yang murah hati, tanpa ragu langsung memberikan dua perkebunan pada dirinya. Yuan Yao tak bisa menahan diri untuk bertanya, “Ibu, jika kau memberiku dua perkebunan, apakah ayah akan setuju?”
Nyonya Feng tersenyum, “Hal sekecil ini, ibu bisa putuskan sendiri. Nanti kalau bertemu ayahmu, ibu akan memberitahu dia. Kau gunakan saja perkebunan itu dengan tenang.”
Para keluarga besar di akhir Dinasti Han memang sudah terbiasa menguasai tanah dan menyembunyikan jumlah penduduk. Keluarga Yuan sebagai yang terkemuka, jumlah penduduk yang disembunyikan jauh lebih banyak. Setiap perkebunan rata-rata memiliki dua sampai tiga ribu pemuda kuat. Seratus perkebunan lebih berarti dua puluh atau tiga puluh ribu orang. Tak heran Yuan Shao dan Yuan Shu bisa menghimpun puluhan ribu pasukan tanpa kesulitan, mengungguli para raja kecil lainnya.
Mendapatkan dua perkebunan dan empat sampai lima ribu pemuda kuat dari ibu tanpa susah payah, tentu membuat Yuan Yao senang. Namun, kekuatan keluarga besar ini juga membuatnya tercengang. Selain keluarga Yuan, keluarga terhormat lainnya pun melakukan hal yang sama: menyembunyikan tanah dan penduduk. Walaupun mereka tak punya seratus perkebunan, setidaknya ada sepuluh atau lebih, bukan? Walaupun tak punya dua puluh atau tiga puluh ribu orang, setidaknya bisa sembunyikan dua atau tiga ribu orang, bukan?
Jika seluruh keluarga besar di berbagai daerah digabungkan, betapa besarnya kekuatan itu? Tak heran pada kehidupan sebelumnya, dinasti Wei dan Jin akhirnya dikuasai para keluarga terhormat. Menghadapi monster sebesar itu, bahkan kerajaan yang telah menyatukan seluruh negeri pun tak mampu bertahan.
Yuan Yao memang bercita-cita menyatukan negeri, meraih kejayaan tiada tara, dan menciptakan masa keemasan yang belum pernah ada. Namun, jika tak mampu mengendalikan para keluarga besar ini, semuanya hanyalah angan kosong. Sekalipun berhasil menyatukan negeri, itu hanya akan menjadi keuntungan bagi orang lain.
Namun Yuan Yao hanya merasa terkejut dan waspada pada kekuatan para keluarga besar, tidak gentar. Sebagai orang yang memiliki pandangan jauh ke depan, Yuan Yao punya banyak cara untuk menghadapi mereka.
Dalam hatinya, Yuan Yao berkata, ‘Tidak apa-apa, pelan-pelan saja. Aku bukan keluarga Cao, bukan pula keluarga Sima. Asal diberi kesempatan, keluarga besar mana pun tak akan mampu melawanku.’
Setelah mencapai tujuannya dan hendak pamit pada ibunya, tiba-tiba terdengar suara adiknya, Yuan Miao, dari belakang. “Ibu, ada yang mem-bully aku!”
Yuan Yao berbalik, melihat Yuan Miao yang cemberut dan berkata, “Siapa yang berani mengganggu adikku? Biar aku yang mengurusnya!”
“Itu ayah dan Huang Yi!” ujar Yuan Miao penuh keluhan. “Hari ini ayah memanggilku, lalu di hadapan Huang Yi, ayah bilang akan menjodohkan aku dengannya!”
Nyonya Feng memegang tangan Yuan Miao dan berkata, “Laki-laki dewasa harus menikah, perempuan dewasa harus bersuami. Ayahmu memilihkan jodoh juga demi kebaikanmu.”
“Huang Yi itu anak yang pernah ibu temui, wajahnya tampan dan pintar. Dari segi keluarga, Huang juga keluarga terhormat di Shouchun. Ibu rasa, dia pantas untukmu.”
Mendengar ibunya juga berkata demikian, Yuan Miao hampir gila. Ia menutupi kepalanya, menggeleng penuh kesakitan, “Tidak mau! Aku tidak mau menikah! Sekalipun aku seumur hidup tak menikah, aku tidak mau jadi istri Huang Yi!”
Melihat ibunya dan adiknya, Yuan Yao menggeleng dalam hati. Ibunya memang anggun dan penuh kebajikan, namun penglihatannya benar-benar kurang baik. Siapa Huang Yi itu? Hanya seorang penjilat, licik, dan perusak negara. Bahkan Yuan Miao yang masih kecil pun tahu kalau dia bukan orang baik, mengapa ibu dan ayah tak menyadarinya?
Yuan Yao telah berjanji pada adiknya, tak akan membiarkan siapa pun memaksanya. Yuan Yao segera berkata pada Yuan Miao, “Miao, jangan khawatir. Mas yang akan urus semua. Sekarang juga aku akan temui ayah, dan suruh dia membatalkan perjodohan ini.”
Mendengar Yuan Yao berkata demikian, mata Yuan Miao langsung berbinar-binar. “Mas, hanya kau yang paling perhatian padaku! Tapi kalau ayah tidak setuju bagaimana?”
“Selama ada kakakmu, ayah pun harus setuju!” Yuan Yao tetap menunjukkan sikap tegas menghadapi ayahnya, lalu berkata pada Yuan Miao, “Begini, kau tinggal di rumah kakak selama beberapa hari dulu. Para pelayan di halamanmu sudah diatur oleh Guru Bujie. Setelah kakak menyelesaikan urusan dengan ayah dan Huang Yi, baru kau kembali ke rumah.”
“Baik, aku nurut saja sama kakak!” Dengan Yuan Yao yang membelanya, Yuan Miao bahagia seperti burung pipit kecil, melompat-lompat keluar dari aula utama.
Nyonya Feng menghela napas dan berkata pada Yuan Yao, “Yao, apa yang kau lakukan ini tidak berlebihan? Keluarga Huang adalah keluarga besar di Shouchun, keluarga kita juga perlu dukungan para keluarga terhormat. Lagi pula Miao memang sudah cukup umur untuk menikah.”
Yuan Yao tersenyum, “Ibu, keluarga kita adalah penguasa Huainan, keluarga terbesar di seluruh negeri. Dengan kekuatan keluarga kita, tak perlu merangkul keluarga besar lainnya. Jika mereka patuh, tak masalah, kalau tidak, anakmu punya seratus cara untuk mengatasinya.”
“Miao adalah adik kandungku, kalau pun ingin menikah, harus dengan orang yang dicintainya, bukan sekadar perjodohan politik.”
Selesai bicara, Yuan Yao berpamitan pada ibunya. Setelah ia pergi, Nyonya Feng termenung. Putra kesayangannya kini tampak berbeda, semakin bijaksana dan tegas. Mungkin sifat seperti inilah yang membuatnya bisa bertahan di masa penuh kekacauan.
Nyonya Feng berbisik pada dirinya sendiri, “Yao, kau sepertinya sudah dewasa. Apa pun yang ingin kau lakukan, ibu pasti mendukungmu.”
Setelah meninggalkan ibunya, Yuan Yao langsung menuju ruang kerja ayahnya, Yuan Shu. Saat itu Yuan Shu sedang duduk di ruang kerja, memeluk segel kerajaan dan menatapnya tanpa berkedip, seperti orang kesurupan.
Melihat Yuan Yao masuk, Yuan Shu mengangkat kepala dan tersenyum, “Yao, kau datang. Coba lihat, ayah memegang segel kerajaan ini, apakah tampak seperti seorang kaisar?”
Yuan Yao dalam hati mencemooh, ‘Ayah hanya memeluk segel saja sudah bermimpi jadi kaisar, tak tahu bagaimana akhirnya nanti.’ Ia ingin menasihati ayahnya, tapi setelah dipikir-pikir, jika ia terus-menerus menyepelekan impian ayahnya, hanya akan membuat Yuan Shu kesal. Meski tidak sampai mengusirnya seperti Yan Xiang, tetap saja akan mengganggu rencananya.
Maka Yuan Yao tersenyum pada Yuan Shu dan berkata, “Ayah memang sangat berwibawa. Di seluruh negeri ini, siapa lagi yang bisa menandingi ayah?”
“Hahaha... Betul kata anakku!” Mendengar pujian Yuan Yao, Yuan Shu tertawa puas dan berkata, “Kemarin Huang Yi juga memuji ayah punya aura kaisar, bahkan membujuk ayah untuk naik takhta.”