Bab Sembilan Belas: Percakapan
Halaman (1/3)
“Biarkan aku memikirkannya baik-baik.”
Shen Nianshu duduk di sisi jendela, kedua tangannya bersilang di depan dada, sementara tatapannya yang dalam menatap langit malam di luar. Bintang-bintang berkelap-kelip.
Ia mengelus perutnya yang masih rata dengan lembut. Beragam perasaan yang rumit bergolak di dalam hatinya.
Api dendam berkobar dalam dirinya. Namun, kehadiran kehidupan kecil ini benar-benar membuat Shen Nianshu tidak tahu harus berbuat apa. Ia memejamkan mata. Di dalam rahimnya sedang tumbuh sebuah kehidupan baru, dan hal itu membuatnya dilanda kebingungan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan getaran samar kehidupan kecil di dalam kandungannya.
Hati Shen Nianshu dipenuhi pertentangan. Ia teringat pada pria yang dahulu mendatangkan penderitaan tanpa akhir baginya, sekaligus teringat akan kehangatan dan harapan yang dibawa kehidupan kecil ini.
Jari-jarinya mengusap kaca jendela perlahan, meninggalkan guratan-guratan tipis, seolah mencerminkan pergulatan dan kegelisahan di dalam hatinya.
Ia tidak tahu apakah kedatangan kehidupan kecil ini merupakan berkah atau bencana. Ia juga tidak tahu bagaimana harus menghadapi masa depan yang belum dikenalnya.
Namun, ia tahu bahwa ia tidak boleh membiarkan kehidupan kecil yang tak berdosa ini menanggung kebencian dan penderitaannya.
Ia harus menentukan pilihan—memilih jalan yang benar agar kehidupan kecil ini dapat tumbuh dengan sehat dan bahagia.
Shen Nianshu berdiri, berniat keluar berjalan-jalan seorang diri.
Ia menyusuri jalan yang sunyi sendirian. Malam pekat seperti tinta, hanya dihiasi beberapa cahaya lampu yang tersebar di tengah kegelapan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Suasana hatinya sama berat dan membingungkannya seperti malam itu.
Ia berusaha menata pikirannya, tetapi langkahnya justru terasa semakin berat, seakan-akan ditarik oleh kekuatan tak kasatmata hingga terus berjalan semakin jauh.
Pepohonan di kedua sisi jalan bergoyang tertiup angin, mengeluarkan suara gemerisik, seolah sedang menceritakan sesuatu.
Tiba-tiba, hembusan angin dingin menerpa hingga Shen Nianshu menggigil. Ia mendongak dan melihat bahwa lampu di depan ternyata masih menyala.
“Sudah sampai di depan pintu, masa tidak mau masuk dan duduk sebentar?”
Suara yang muncul tiba-tiba itu membuat Shen Nianshu terkejut. Ia segera berbalik dan mendapati seorang perempuan berdiri di sana, dengan senyum misterius tersungging di wajahnya.
Jantung Shen Nianshu seketika berdegup lebih cepat. Ia menatap perempuan itu dengan waspada.
Pupil matanya sedikit menyempit. Ia tidak menyangka akan bertemu perempuan itu di tempat seperti ini.
Cahaya lampu menorehkan bayangan belang-belang di wajah perempuan tersebut, membuatnya tampak semakin misterius dan sulit ditebak. Shen Nianshu mengepalkan kedua tangannya, berusaha keras mempertahankan ketenangannya.
“Kau hebat juga. Di tempat seperti ini, kau masih bisa tetap ceria setiap hari.”
Perempuan itu tersenyum, tetapi suaranya mengandung sedikit nada provokasi.
Shen Nianshu sedikit mengernyit. Ia tidak menyukai perasaan dipancing seperti itu. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan emosinya.
“Aku hanya keluar untuk berjalan-jalan,” ujar Shen Nianshu datar, berusaha tetap bersikap sopan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya mengamati Shen Nianshu dengan tatapan menilai.
“Kau bahkan tidak penasaran siapa aku, tetapi berani masuk begitu saja?”
Hati Shen Nianshu mendadak kacau. Tentu saja ia penasaran siapa perempuan itu, tetapi ia tidak berani menunjukkan kegelisahannya sembarangan.
Mengenai apakah perempuan itu benar-benar orang yang ia pikirkan, Shen Nianshu juga belum dapat memastikannya.
Perempuan itu terkekeh pelan. Tatapannya menyusuri wajah Shen Nianshu, seolah sedang mencari sesuatu.
Kemudian ia berkata perlahan dengan suara rendah dan memikat, “Shen Nianshu, apa kau benar-benar mengira masih bisa keluar dari sini?”
Hati Shen Nianshu seketika menegang. Ia menatap perempuan itu lekat-lekat, berusaha membaca sesuatu dari sorot matanya.
“Apakah kau Liu Ruyan?”
“Ha ha ha ha ha ha, sungguh tidak kusangka…”
Halaman (3/3)