Bab 141: Pertumbuhan
Setelah pertengahan musim gugur berlalu, perjalanan ke Kuil Mata Air Suci pun diajukan oleh Nyonya Kedua.
Setelah dibicarakan, mereka yang akan pergi kali ini adalah Lu Wanqing, Lu Ranjun, dan Lu Ming.
Lu Man, yang hari pernikahannya sudah dekat, tinggal di rumah untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Lu Hongwen dan Su Heng tidak merasa tenang membiarkan mereka pergi sendiri, sehingga tentu saja mereka juga meminta untuk ikut.
Nyonya Kedua tidak mencegahnya. Belakangan ini, ia jauh lebih pendiam daripada sebelumnya. Ia tidak lagi ribut tanpa alasan, sehingga telinga semua orang pun terasa jauh lebih tenteram.
Pada hari keberangkatan, Lu Ranjun menemui Nyonya Tua seorang diri di Balai Ronghui.
“Apakah semuanya sudah diatur dengan baik?” Nyonya Tua bersandar di dipan, matanya sedikit menyipit, seolah-olah sedang menikmati hari-hari senggangnya.
Lu Ranjun mengangguk. “Sudah, Nenek.”
“Ingat, daripada duduk menunggu kematian, lebih baik menyerang lebih dahulu!” Nyonya Tua membuka kelopak matanya. “Bagiku, berkurangnya satu atau dua orang dari keluarga Lu tidak membawa pengaruh apa-apa.”
Punggung Lu Ranjun mendadak terasa dingin. Ia menjawab lirih, “Baik...”
“Pergilah!”
Setelah meninggalkan Balai Ronghui, Lu Ranjun menoleh ke belakang dan memandangnya sejenak sebelum diam-diam meninggalkan halaman.
Di depan gerbang kediaman, beberapa kereta kuda telah berhenti. Dari kereta paling depan, Nyonya Kedua menyibakkan tirai dan berkata, “Ranjun, hari sudah siang. Cepat naik!”
Lu Ranjun membungkuk hormat kepadanya, lalu naik ke kereta di tengah bersama Lu Wanqing.
Di dalam kereta, Lu Wanqing memainkan rambut di dadanya dengan bosan. Ia melirik Lu Ranjun dan berkata, “Lu Ming, si jalang kecil itu, sepertinya sudah banyak berubah. Kau menyadarinya?”
“Oh?” Lu Ranjun mengangkat alis. “Bagaimana kau bisa tahu?”
“Tadi, ketika keluar dari kediaman, aku tak tahan untuk menyindirnya beberapa kali. Siapa sangka, ia sama sekali tidak membalas sepatah kata pun.”
Mengingat hal itu, wajah Lu Wanqing tampak kesal. “Sikapnya itu seolah-olah membuatku terlihat sangat kejam.”
Lu Ranjun mengangguk. “Kalau kau sudah menyadarinya, mulai sekarang jangan terlalu sering mendekatinya. Jangan sampai kau terjebak dalam rencananya, mencemarkan nama baikmu sendiri, lalu menjadi batu pijakannya.”
Setelah mendengar perkataan itu, Lu Wanqing menepuk meja kecil di hadapannya. “Pantas saja si jalang kecil itu tiba-tiba berubah! Rupanya dia ingin memanfaatkanku.”
“Belum tentu bisa disebut memanfaatkan. Asalkan kau tidak mengusiknya.” Terlebih lagi, Lu Ranjun dapat merasakan bahwa Lu Ming benar-benar sedang berubah.
Tampaknya, perjuangan di ambang kematian yang telah ia alami memang membuatnya tumbuh cukup pesat.
Namun, sekuat apa pun ia berkembang, pada akhirnya ia tetap akan dihancurkan!
Memikirkan hal itu, seberkas cahaya dingin melintas di mata Lu Ranjun, lenyap sekejap sebelum sempat ditangkap siapa pun.
Menjelang tengah hari, rombongan tiba di Kuil Mata Air Suci. Kepala biara yang baru ditunjuk menyambut mereka secara langsung. Setelah dibagi ke beberapa halaman, masing-masing pun beristirahat.
Lu Ranjun dan Lu Wanqing tinggal bersama di satu halaman, lalu memilih kamar sayap di sisi timur dan barat.
Mereka akan tinggal di sana selama beberapa hari, sehingga semua barang yang diperlukan harus dibawa dan ditata dengan baik.
Setelah sibuk cukup lama, Lu Wanqing merebahkan diri di dipan bata berpemanas di kamar Lu Ranjun dan mengeluh, “Semua ini gara-gara si jalang kecil itu. Aku sampai harus datang kemari untuk berdoa. Papan ranjangnya keras sekali. Kalau tidur di sini beberapa hari, tubuhku pasti kaku semua.”
Lu Ranjun tertawa geli. Sambil menunduk memandangi benda di tangannya, ia berkata, “Tidak separah itu. Bukankah kita membawa selimut? Tambahkan beberapa lapis sebagai alas, pasti akan lebih nyaman.”
Melihat Lu Ranjun sedang membaca sesuatu, Lu Wanqing bertanya dengan rasa ingin tahu, “Apa yang sedang kau lihat?”
“Daftar barang. Aku harus tahu dengan jelas apa saja yang kita bawa.” Lu Ranjun berkata demikian sambil menutup lembaran di tangannya dan menyerahkannya kepada Dongli.
“Sebentar lagi aku hendak pergi ke aula depan untuk menunaikan nazar. Kau mau ikut?”
“Sudahlah. Aku agak lelah dan ingin tidur siang.”
“Baiklah.”
Setelah makan, Lu Ranjun membawa kitab-kitab suci yang disalinnya beberapa hari sebelumnya, lalu pergi ke aula depan bersama Dongli dan Nanyou.
Ia tidak berbohong. Kali ini ia memang datang untuk menunaikan nazar demi Dongli.
Ketika melihat bahwa kitab-kitab suci yang dipersembahkan kepada Bodhisattwa itu disalin sendiri oleh Lu Ranjun, hati Dongli terasa hangat dan ia sangat tersentuh.
Kebaikan macam apa yang telah dilakukannya hingga bisa mendapatkan majikan yang memperlakukannya sebaik ini?
Setelah menunaikan nazar, Lu Ranjun tidak segera kembali ke halaman kediaman mereka. Ia malah menuju pintu belakang sebuah aula samping. Di sana, seorang lelaki berpakaian seperti rakyat biasa sedang menunggunya.
Melihat kedatangannya, lelaki itu memberi hormat. “Salam untuk Nona Keempat.”
Lu Ranjun mengenalinya. Setelah berlatih selama beberapa waktu, lelaki itu tampak jauh lebih cekatan daripada sebelumnya. Ia bertanya, “Apakah orang-orang dari keluarga Yin sudah tiba?”
“Menjawab Nona Keempat, mereka sudah tiba. Mereka tinggal di halaman kecil pertama di sebelah selatan kediaman biara.”
Lu Ranjun menyipitkan mata. Ketika keluar tadi, ia telah mengamati keadaan sekitar. Keluarga Lu menempati kediaman biara di sisi timur. Artinya, tempat keluarga Yin tidak terlalu jauh.
“Siapa saja yang datang?” tanyanya.
Zhuzi berpikir sejenak. “Hanya seorang nyonya dan putrinya.”
Lu Ranjun mengangguk. “Terus awasi mereka. Sekecil apa pun masalahnya, laporkan kepadaku.”
“Baik!”
Setelah lelaki itu berbalik pergi, Lu Ranjun memberi perintah, “Nanyou, nanti pergilah melihat apakah semua orang sudah diatur dengan baik. Pastikan halaman ini dijaga ketat, begitu juga halaman Kakak Sulung dan Kakak Sepupu.”
Nanyou menerima perintah itu. “Hamba akan segera pergi.”
Dua hari berlalu, dan segala sesuatu tampak berjalan seperti biasa.
Nyonya Kedua benar-benar mengundang orang untuk mengadakan upacara doa bagi keluarga Lu. Setiap hari, Lu Wanqing dan yang lainnya juga mengikuti pembacaan kitab serta doa selama beberapa waktu.
Selain itu, semua kabar yang diterima Lu Ranjun menunjukkan bahwa keadaan tetap normal.
Namun, kalau sudah datang kemari dan tidak melakukan apa-apa, itu sama sekali bukan gaya Yin Fanghua.
Benar saja, pada hari ketiga, Lu Ming mulai selalu bersama Yin Fanghua. Kecuali pada saat-saat yang diperlukan, keduanya dapat dikatakan tak pernah berpisah.
Lu Ranjun duduk di dipan bata besar di dalam kamarnya. Alas di bawahnya menggunakan bantalan yang biasa dipakainya di kediaman keluarga Lu, sementara di atas meja rendah terdapat perangkat teh berlapis glasir merah muda kesukaannya.
Kini, dari mangkuk teh itu mengepul uap putih tipis yang berpilin-pilin.
“Menurut kalian, bagaimana kalau putri keluarga Yin mati di sini?”
Jari-jarinya perlahan mengusap tepi mangkuk teh, sementara ia mengucapkan kalimat itu dengan nada ringan.
Nanyou meliriknya, lalu menggelengkan kepala.
“Menurut hamba, bertindak di tempat ini terlalu mencolok. Saat itu, kita mungkin juga akan terseret masalah,” ujar Dongli setelah berpikir.
Lu Ranjun mengangguk dan menghela napas.
Apa boleh buat? Ia benar-benar tak mampu menahan keinginan untuk bertindak.
Mungkin inilah yang disebut musuh bebuyutan.
Ia berpikir, pihak lain barangkali merasakan hal yang sama. Begitu mendapat kesempatan, tentu mereka tidak akan membiarkannya lolos.
Lu Ranjun memejamkan mata. Ketika membukanya kembali, ia telah mengambil keputusan.
“Sampaikan perintahku. Begitu ada kesempatan, singkirkan dia. Ingat, lakukan dengan bersih.”
Dongli terkejut dan berkata dengan cemas, “Nona, ini adalah Kuil Mata Air Suci. Jika Yin Fanghua meninggal di sini, tentu Pengadilan Agung akan turun tangan. Pada saat itu...”
“Kalau begitu, alihkan saja bencananya kepada orang lain,” ujar Lu Ranjun. “Sekarang sudah ada orang yang bisa dijadikan kambing hitam. Mengapa tidak memanfaatkannya?”
Nanyou tidak terlalu berkeberatan. Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah mengikuti perintah nona mereka.
Dongli pun berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
Di tempat lain, Yin Fanghua dan Lu Ming duduk di ruang meditasi. Mereka memandang orang di hadapan mereka dengan tatapan penuh iba.
“Ck, ck. Baru beberapa hari. Kalau bukan karena melihatnya dengan mata kepala sendiri, aku sungguh tidak percaya kau bisa dibuat tak berdaya oleh Lu Ranjun.”
Tatapan Lu Ming tetap tak berubah. Ia hanya menundukkan kepala.
“Kenapa? Kau yang memintaku datang kemari, tetapi sekarang malah menjadi bisu?” Tatapan Yin Fanghua tiba-tiba berubah tajam.