Bab 105: Tersiksa

Beruntunglah aku karena bertemu denganmu. Mu Xi 2364kata 2026-03-31 23:39:18

Di dalam aula, di tengah riuh tawa, Lu Ranjun kembali dipaksa meminum dua cangkir arak bening. Berbeda dengan arak buah yang biasa ia minum, ini adalah arak yang sesungguhnya.

Setelah menenggak beberapa cangkir, kepalanya mulai terasa pening.

Nona Muda Kedua Xu melihat pipi Lu Ranjun yang memerah merona dengan tatapan mata yang mulai sayu, ia tertawa dan berkata, "Coba lihat, seandainya aku seorang pria, aku pasti sudah menggendong Nona Muda Jun pulang ke rumah."

"Lain kali biarkan Tuan Muda Sun yang menggendongmu pulang," sahut Lu Wanqing dengan wajah yang juga sedikit kemerahan karena pengaruh alkohol. Ia mendekati Lu Ranjun, "Adikku ini tidak kuat minum, kalian jangan terus memaksanya."

"Ini kan terakhir kalinya aku berada di rumah," ujar Nona Muda Kedua Xu. "Jarang sekali suasana semeriah ini, sesekali bersenang-senang tidak apa-apa, kan?"

Melihat wajah cantik temannya yang merona, Lu Wanqing pun merasa tak tega untuk menegurnya.

"Sudahlah, cepat kau minta pelayan menyiapkan tempat agar kami bisa beristirahat." Ia bersama Dongli memapah Lu Ranjun yang tampak limbung.

Saat itu, sudah banyak gadis yang meninggalkan aula; ada yang pergi beristirahat di paviliun depan, ada pula yang menuju kamar di bagian belakang.

Nona Muda Kedua Xu berpikir sejenak lalu berkata, "Pergilah beristirahat ke kamarku saja. Namun, masih ada tamu lain yang harus kuurus, biar pelayan yang mengantar kalian ke sana."

Lu Wanqing tentu tidak keberatan. Dengan dipandu pelayan, ia pergi meninggalkan aula bersama Lu Ranjun.

Melewati lorong menuju bagian belakang, Lu Ranjun merasa semakin tidak nyaman. Ia menarik tangan Dongli, "Aku... aku merasa tidak enak badan..."

Dongli menjadi panik, "Nona Muda Ketiga, Nona Muda saya merasa kurang sehat. Bagaimana kalau kita duduk sebentar di paviliun itu sebelum melanjutkan perjalanan?"

Mendengar hal itu, Lu Wanqing menoleh dan berkata, "Baiklah..."

Sambil memijat pelipisnya yang pening, ia sempat menggerutu dalam hati tentang Nona Muda Kedua Xu yang tega membuat mereka mabuk seperti ini.

Sesampainya di paviliun, Dongli mendudukkan Lu Ranjun di bangku kayu, membiarkannya bersandar pada pilar. Ia kemudian bertanya kepada pelayan di sampingnya, "Kakak, bolehkah aku minta tolong untuk membawakan sup penetral alkohol?"

Kedua pelayan yang mengantar mereka mengangguk, dan salah satu dari mereka segera pergi.

"Nona Muda saya hari ini memang sangat bahagia, sehingga membuat Nona Muda Keempat minum terlalu banyak. Tapi, kadar alkoholnya tidak tinggi, sebentar lagi juga akan hilang. Mohon Nona Muda jangan memasukkannya ke dalam hati," ucap pelayan itu sambil membungkuk sopan.

Lu Wanqing mendengus, "Kalau bukan karena melihat dia sangat bahagia, lihat saja apa yang akan kulakukan padanya."

Pelayan itu tertawa, tahu betul bagaimana hubungan akrab antara majikannya dan Lu Wanqing. Ia pun melontarkan beberapa gurauan yang membuat rasa kesal di hati Lu Wanqing perlahan sirna.

Melihat Lu Ranjun yang sedang