Bab 84: Ancaman
Keesokan harinya, saat Lu Ranjun pergi ke Aula Ronghui, Lu Yanshu juga sedang di sana. Keduanya saling memberi salam, lalu Lu Yanshu duduk di samping.
Terdengar suara Nyonya Tua berkata, “Tuan Cheng sekarang usianya sudah lanjut, tidak mudah menerima murid baru. Jika kamu sudah diterima sebagai muridnya, kamu harus belajar sungguh-sungguh dan melayani beliau dengan baik kelak.”
Lu Yanshu menganggukkan kepala seraya menangkupkan tangan, “Baik, cucu akan mematuhi nasihat nenek.”
“Jika ada yang kamu perlukan, bilanglah pada bibimu, sekalian saja bawa semua yang dibutuhkan.”
“Terima kasih, Nenek. Segala yang perlu sudah kubawa, untuk saat ini tidak ada yang kurang.”
“Kalau begitu, pergilah!” ujar Nyonya Tua dengan suara datar.
Lu Yanshu lalu memberi hormat, dan setelah menoleh singkat ke arah Lu Ranjun, ia pun pergi.
Setelah ia pergi, Lu Ranjun bertanya, “Nenek, ke mana sebenarnya Kakak Kedua akan pergi?”
Nyonya Tua mengangkat cangkir tehnya, menyesap perlahan. “Ke Akademi Qingshan,” ujarnya, kali ini ia menjelaskan, “Nenek sudah menulis surat kepada Kepala Akademi Cheng, memintanya menerima Kakak Kedua-mu sebagai murid.”
Lu Ranjun terkejut, “Tuan Cheng dari Akademi Qingshan tampaknya sangat dihormati...”
Nyonya Tua menoleh sekilas, mengangguk pelan.
Lu Ranjun merasa agak menyesal, tak disangka setelah menyingkirkannya dari Guozijian, kini ia malah mendapat kesempatan masuk ke Akademi Qingshan.
Ini tidak baik. Jika kelak ia berhasil, memperoleh kedudukan dan kekuasaan, dengan wataknya yang penuh ambisi dan tak pernah melupakan dendam, pasti suatu saat ia akan membalaskan perlakuan ayahnya.
Memikirkan itu, Lu Ranjun memandang Nyonya Tua, dalam hati menghela napas.
Sungguh, kali ini ia diberi soal sulit.
Jika gagal, bisa-bisa memalukan Nyonya Tua. Namun jika dibiarkan, orang itu tetap mengintai dengan penuh kewaspadaan.
“Sudah, jangan mengeluh di hadapanku,” ujar Nyonya Tua setelah meliriknya, “Pergilah ke kamar barat!”
Lu Ranjun bangkit perlahan, memberi salam, “Baik, Nenek.”
Setelah keluar, ia akhirnya tak tahan dan menyuruh seseorang mencari tahu.
Mendengar laporan Dongli, Lu Ranjun mengangguk paham, “Pantas saja Bibi Kedua sudah lama tidak datang ke Aula Ronghui, rupanya diusir keluar oleh Nenek.”
Pasti telah kehilangan banyak muka.
Namun demi anaknya, sepertinya semua itu dianggap pantas.
Sudut bibir Lu Ranjun tersungging senyum mengejek, lalu ia pun tak berkata lagi.
Saat makan siang, Lu Zhenyuan juga pulang. Melihatnya, Nyonya Tua agak terkejut, “Kenapa pulang jam segini? Sudah makan?”
Lu Zhenyuan menggeleng, “Pulang sebentar untuk mengambil sesuatu, nanti harus pergi lagi.”
Mendengar itu, Nyonya Tua segera memerintahkan menambah satu set alat makan, sedangkan Lu Ranjun dengan sigap mengambilkan sup untuknya.
Meski makan agak cepat, Lu Zhenyuan tetap menunjukkan kesopanan dan ketenangan seperti biasanya. Melihatnya, Lu Ranjun tiba-tiba teringat peribahasa tentang kemuliaan yang alami.
Dengan penampilan ayahnya, ia memang bisa disebut manusia unggul.
Selesai makan lebih cepat, Lu Zhenyuan pun pergi tanpa meminta mereka mengantarkannya.
Melihat itu, Nyonya Tua merasa agak pilu dan menyelesaikan makan dengan cepat.
Di kamar utama, ia memandang Lu Ranjun yang sedang mengipasinya, lalu berkata, “Pamanmu hampir sepanjang tahun sibuk di kantor pemerintahan, ayahmu dulu juga begitu. Tapi sejak ibumu tiada, ia sepenuhnya mencurahkan diri pada urusan istana. Aku sendiri tidak suka keramaian, jadi rumah ini semakin sunyi saja.”
Lu Ranjun tersenyum menahan diri, “Setiap hari aku akan datang menemani Nenek, juga melayani di samping Nenek sebagai pengganti ayah.”
Nyonya Tua tersenyum tipis, lalu bertanya, “Beberapa waktu lalu buku catatan yang kuberikan padamu, sudah selesai diurus?”
“Sudah, Nenek. Semuanya sudah selesai kuhitung.”
“Oh?” Nyonya Tua mengangkat alis, “Kamu bisa menghitung pembukuan?”
“Bisa sedikit, dulu sering bermain di rumah Bibi dan bersama Kakak Ketiga juga pernah melihat-lihat.”
Nyonya Tua mengangguk pelan, “Memang anak yang cerdas.”
Entah itu pujian untuknya atau untuk Lu Wanqing.
Saat Nyonya Tua beristirahat, Lu Ranjun baru pelan-pelan meninggalkan kamar utama dan keluar dari Aula Ronghui.
Di jalan batu biru, Lu Ming berjalan dari arah depan, didampingi pelayan yang berhati-hati memayunginya. Saat melihat Lu Ranjun, ia tersenyum cerah.
“Benar-benar kebetulan, Kakak Keempat,” ujarnya sambil melirik ke arah pintu tempat Lu Ranjun keluar, “Adik benar-benar iri pada Kakak, setiap hari bisa menemani Nenek. Pasti semua keuntungan bisa Kakak dapatkan, ya!”
Dongli melirik tuannya, namun tetap diam.
“Orang biasa hanya melihat untung rugi,” jawab Lu Ranjun datar, tak ingin berpanjang kata, lalu hendak pergi.
Namun Lu Ming menghadang, menutup jalan. “Kakak Keempat buru-buru sekali, berbicara sedikit dengan adik saja tidak sempat?”
“Panas begini, kalau kamu ingin menunggu di sini silakan saja, aku permisi dulu.”
“Lu Ranjun, apa yang sebenarnya kamu sombongkan?” Lu Ming menampakkan wajah dingin, menatapnya sinis, “Jangan kira aku tidak tahu niatmu mendekati Nenek. Sebenarnya, kamu juga tak lebih hebat.”
Lu Ranjun mengangkat alis, menoleh padanya, nada main-main, “Kalau begitu, Coba sebutkan, niat apa yang kumiliki menurutmu?”
Lu Ming mencibir, “Kamu kira tak ada yang tahu soal kamu menyimpan lukisan seorang pria diam-diam?” Ia mendekat, menatap tajam, “Kuperingatkan, aku bukan hanya tahu soal itu, aku juga tahu siapa pria dalam lukisan itu.”
Lu Ranjun sedikit menoleh, “Kamu tahu?”
“Tentu saja, hanya saja sayang, hati orang itu sama sekali tidak tertarik padamu.”
Lu Ming tampak sangat puas, bahkan raut wajahnya lebih ceria dari biasanya.
Lu Ranjun mendengar ucapannya, dalam hati menimbang-nimbang, sepertinya ia salah paham dan mengira aku menyukai Han Lin?
“Setelah bicara panjang lebar, apa sebenarnya maksudmu, Adik Kelima?”
“Sangat sederhana,” Lu Ming menyilangkan tangan di belakang, “Karena hari ini aku sedang senang, tampar saja pipimu sendiri dua kali, maka aku tidak akan menyebarkan masalah ini. Kalau tidak, sebentar lagi seluruh keluarga akan tahu aibmu.”
“Kamu kira aku akan takut? Atau menurutmu hal sepele begini bisa mengancamku?”
Menampar diri sendiri, benar-benar berani bicara, semakin lama semakin berani saja!
“Kamu tidak takut, tapi kalau Kakak Ketiga tahu soal ini, bagaimana menurutmu?” Lu Ming tersenyum manis, “Wah, hubungan kakak-adik, apa bisa lebih penting dari urusan pernikahan sendiri?”
Lu Ranjun menurunkan pandangan, menatapnya tanpa bicara, dan di bawah senyum lawannya, sorot matanya semakin dingin.
Seolah merasakan hawa dingin itu, hati Lu Ming mulai berdebar, tapi wajahnya tetap tegar, “Jadi bagaimana, kamu mau atau tidak? Aku tidak sabar menunggu.”
“Mau? Mau apa, menampar diri sendiri?”
Melihat Lu Ranjun mendekat, Lu Ming tanpa sadar mundur selangkah, tapi Lu Ranjun tetap maju.
“Kamu mau apa?” tanya Lu Ming waspada.
“Mau apa?” Lu Ranjun melirik pelayan yang juga memperhatikannya dengan cemas, lalu tersenyum tipis, “Tadi malam, aku bermimpi seseorang. Ia bilang kematiannya sangat tidak adil, dan meminta aku membalaskan dendamnya!”
Mata Lu Ming langsung membelalak.
“Mau tebak, siapa orang itu?” lanjut Lu Ranjun.
“Kamu... kamu mau bilang apa?”
“Tidak mengerti pun tak apa, toh, cepat atau lambat, ia akan datang menuntut balas!”
Begitu kata-kata itu terucap, tubuh Lu Ming bergetar, ia pun reflek menoleh ke sekeliling.
Padahal hari itu musim panas yang terik, tetapi kenapa tiba-tiba terasa dingin?