Lu Ranjun merasa, di kehidupan sebelumnya pasti matanya buta sehingga jatuh cinta pada pria yang tak pernah memandangnya dengan benar. Maka di kehidupan ini, ia memutuskan untuk menghalangi jalan kariernya dan menghentikan semua peluangnya. Namun seseorang berkata kepadanya, dendam tak akan berakhir jika terus dibalas, kalau sudah memulai, sekalian saja musnahkan sampai ke akar-akarnya!
Musim panas tengah berlangsung, udara terasa sangat panas. Di dalam penjara, aroma busuk memenuhi setiap sudut, terutama di sel paling ujung. Saat musim panas tiba, bau itu begitu menyengat hingga membuat orang ingin memuntahkan segala yang ada di perutnya.
Di deretan sel sempit, Lu Ran Jun terbaring di sudut dinding. Tak ada bagian tubuhnya yang utuh; pakaian narapidana yang berlumuran darah melekat pada dagingnya, hingga tak bisa dikenali warna aslinya. Lebih parah lagi, kedua kakinya telah membusuk, tak lagi berbentuk. Sebagian bau menyengat itu berasal dari tubuhnya.
Suara rantai besi terdengar; satu lagi mayat dari sel sebelah dibawa pergi. Saat melewati selnya, sebuah lengan yang sudah berubah bentuk terjatuh dari tikar jerami. Lu Ran Jun hanya melirik, lalu memalingkan wajah dengan dingin.
Setiap hari, selalu ada orang yang dibawa pergi dari sini. Sedikit, satu dua orang; banyak, lima enam orang. Bahkan, ada yang baru ditemukan setelah beberapa hari meninggal. Narapidana seperti mereka, tak banyak yang mampu bertahan melewati dua musim tersulit dalam setahun, apalagi tak ada yang peduli. Mati justru lebih mudah.
Seperti Lu Ran Jun, ia hanya menunggu saat matanya tertutup, lalu seperti orang yang barusan, tubuhnya digulung tikar dan diangkat keluar. Hanya saja, entah kapan giliran itu tiba. Melihat keadaannya, mungkin tak lama lagi.
Di luar jendela kecil, hujan mulai turun, rintik-rintik. Lu Ran Jun menengadah, mendapati secuil langit yang suram. Ia sudah lupa berapa hari berlalu sejak ia dilempar ke sini. Namun, sepertinya ia tak akan