Bab 163 Ketenangan
Meskipun demikian, sudah banyak orang yang mulai memperhatikan Lu Runjun.
Menurunkan pandangannya untuk menghindari tatapan-tatapan tersebut, Lu Runjun melirik ke arah belakangnya. Ekspresi Huanyan sedikit berubah, lalu ia perlahan-lahan mundur.
Pangeran Kedua merasa cukup menikmati tontonan itu, barulah ia bersuara, "Sudahlah, merundung seorang gadis kecil, apa kau tidak merasa malu?"
Ia berkata kepada Xiao Mo, yang bisa dianggap sebagai tindakan menengahi untuk menyelamatkan Lu Runjun.
Xiao Mo sama sekali tidak peduli, ia mencebikkan bibirnya lalu mengangkat cangkir anggur untuk bersulang kepadanya.
"Aku sungguh terkejut Tuan Muda bisa datang!" ucapnya kepada sosok yang tampak acuh tak acuh itu.
Pei Jinyan ikut mengangkat cangkir di tangannya. "Hanya sedang senggang dan tidak ada pekerjaan, jadi aku datang untuk ikut meramaikan suasana."
"Oh, semoga saja keramaian hari ini bisa membuat Tuan Muda puas," kata Pangeran Kedua dengan tatapan penuh arti.
Alis Pei Jinyan sedikit berkerut, merasa samar-samar waspada terhadap ucapannya itu.
Karena jarak yang agak jauh, Lu Runjun tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Terlebih lagi, ada orang-orang yang mengawasinya, jadi ia hanya menunduk dan berbicara dengan Nona Xu Kelima.
"Tadi aku hampir jantungan. Sejak kapan kau begitu akrab dengan Pangeran Chun?" tanya Xu Kelima sambil mengelus dadanya.
"Aku tidak akrab dengannya," kata Lu Runjun sambil menggertakkan gigi, "Dia itu hanya seorang bajingan, tidak perlu dihiraukan."
Xu Kelima tertegun sejenak, lalu dengan diam-diam mengangkat cangkirnya dan menyesap anggur.
Ia tidak mendengar apa-apa!
Ia sama sekali tidak berani memprovokasi Tuan Muda yang selalu bertindak sesuka hati itu.
Namun, ucapan tersebut tidak butuh waktu lama untuk sampai ke telinga Xiao Mo. Saat itu, ia sedang menelan seteguk anggur, dan begitu mendengar kata-kata tersebut, ia tersenyum tipis sambil melirik ke arah Lu Runjun.
Tatapan itu begitu lembut bagaikan air, hingga berhasil menggetarkan hati banyak gadis muda di sana.
Menyadari tatapan yang tertuju padanya, Lu Runjun segera memasang kewaspadaan, takut pria itu akan melontarkan perkataan aneh lagi.
"Jangan keterlaluan," Pei Jinyan mengingatkan pada waktu yang tepat. Xiao Mo mengangkat alisnya dan meliriknya dengan sinis, "Yo, merasa kasihan?"
Ekspresi Pei Jinyan tetap tenang. "Jika kau terus berbicara, aku tidak menjamin akan melemparmu keluar."
"Jangan lupa siapa yang membawamu masuk."
"Tanpa bantuanmu pun mereka tidak akan berani menghalangiku."
"Kau..."
Xiao Mo dibuat kesal setengah mati, sehingga ia kembali mendelik ke arah Lu Runjun. Demi gadis itu, pria di sisinya ini benar-benar lebih mementingkan wanita daripada sahabat, sungguh menyayat hatinya!
Lu Runjun merasa kebingungan. Dirinya yang peka tentu saja menyadari tatapan pria itu, tetapi ia tidak terlalu ambil pusing dan hanya melirik ke arah Yinhuahua.
Meskipun ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan wanita itu, orang ini benar-benar harus diwaspadai.
"Aneh, kenapa aku merasa agak pusing ya!" seru Xu Kelima tiba-tiba.
Hati Lu Runjun bergetar, ia menoleh kepadanya. "Ada apa?"
Xu Kelima menggelengkan kepala. "Sepertinya aku terlalu banyak minum arak, padahal biasanya aku jarang menyentuhnya."
Wajahnya tampak sedikit kemerahan, namun tatapannya masih cukup jernih.
Lu Runjun mengeratkan bibirnya. "Jika merasa tidak enak badan, katakan padaku, aku akan mengantarmu pulang."
Xu Kelima merasa sangat berterima kasih, ia pun mengangguk setuju dan tidak sungkan lagi kepadanya.
Lu Runjun menatap cangkir anggur di hadapannya; meskipun tidak beracun, ia tetap tidak menyentuhnya, bahkan hidangan yang ia santap pun hanyalah beberapa buah pelengkap.
Alunan musik berhenti, atas perintah Pangeran Kedua, tidak lama kemudian terdengar suara gemerincing lonceng, disusul oleh dua pria bertubuh kekar yang membawa seekor harimau besar.
Suara jeritan kaget langsung memenuhi ruangan, terutama dari para gadis di kelompok mereka.
Xu Kelima yang ketakutan langsung mencengkeram lengan Lu Runjun erat-erat. "K-Kenapa ada makhluk seperti ini?"
Ekspresi Lu Runjun tetap tenang, meskipun alisnya sedikit berkerut. Ia ingat bahwa Pangeran Kedua memang memelihara seekor harimau besar, yang merupakan hadiah dari sang Kaisar.
Kemungkinan besar itulah harimau yang ada di hadapan mereka saat ini.
Entah mengapa, firasat buruk menyelimuti hatinya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Pei Jinyan dan melihat pria itu mengangguk kecil, barulah ia merasa sedikit lega.
Mendengar suara langkah kaki harimau yang berat, Lu Runjun berkata, "Ini sepertinya hanya pertunjukan akrobatik untuk hiburan, jangan takut."
Xu Kelima mengerjap-ngerjap, menganggukkan kepala namun tidak berani melihat ke arah sana.
Di dalam mulut harimau yang menguap lebar itu, taring-taring yang tajam tampak mengerikan, seolah-olah pada detik berikutnya makhluk itu akan menerkam dan merobek leher seseorang.
Bukan hanya Xu Kelima yang ketakutan; para gadis lainnya juga tidak jauh berbeda, hanya segelintir saja yang masih bisa menjaga ekspresi tetap tenang.
Tidak jauh dari sana, Yinhuahua menopang dagunya dengan satu tangan sambil memandang Lu Runjun. Melihat ketenangan dan ketegaran gadis itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, lalu ia mengangkat cangkirnya ke arah Lu Runjun dan meneguk anggurnya.
Lu Runjun tersenyum tipis tanpa membalas gestur tersebut.
Yinhuahua tertawa kecil. Benar dugaannya, orang yang bisa menarik perhatiannya tidak akan mudah panik hanya karena hal sepele seperti ini.
Hanya saja, ia penasaran apakah gadis itu masih bisa tetap setenang ini pada saat-saat berikutnya.
Di kursi utama, Istri Pangeran Kedua menoleh ke samping dan bertanya dengan lembut, "Apakah Yang Mulia ingin menghindar sebentar?"
"Tidak perlu," jawabnya dengan mata berbinar-binar menyapu seluruh ruangan. "Aku sangat ingin melihat bagaimana kelanjutan pertunjukan ini."
Sambil berkata demikian, pandangannya beralih sejenak kepada Xiao Mo dan Pei Jinyan.
Tujuan kedatangan kedua orang ini belum jelas, sudah sepantasnya ia mengamati mereka.
Di tengah arena, harimau besar itu melompati lingkaran api atas instruksi sang pawang, lalu berdiri dengan kedua kaki belakangnya.
Lu Runjun turut memperhatikan, sampai akhirnya Huanyan berlari cepat kembali dan membisikkan beberapa patah kata di telinganya.
Mendengar hal itu, ia tersenyum tipis sambil melirik Yinhuahua. Meskipun wajahnya tampak tenang, gelombang amarah bergemuruh di dalam dadanya.
Ada puluhan orang yang hadir di tempat ini, termasuk para wanita lemah yang tidak memiliki daya untuk melawan. Begitu kekacauan terjadi, berapa banyak nyawa yang akan menjadi korban?
Dan semua ini terjadi hanya karena keegoisan semata.
Sungguh keparat!
"Nona, apa yang harus kita lakukan?" tanya Huanyan dengan suara rendah.
Lu Runjun menghela napas pelan. "Sampaikan masalah ini kepada Tuan Muda, ia akan mengaturnya."
Huanyan mengiyakan, lalu mundur secara diam-diam.
Karena harimau tersebut sangat penurut, dan pertunjukan semacam itu terasa lebih segar dibandingkan tarian yang biasa mereka saksikan, orang-orang perlahan-lahan mulai merasa tenang kembali.
Di sisi seberang, Peng Xirui terus mengamati semua itu dengan datar sejak awal, seolah-olah segala peristiwa di tempat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya, meskipun tatapannya yang sesekali melirik ke arah harimau sempat menyiratkan secercah emosi.
*Bruk.*
Harimau besar itu mendarat setelah melompati lingkaran api yang diangkat tinggi-tinggi. Suara hantaman yang berat itu terasa seperti menginjak langsung di lubuk hati, disusul oleh auman harimau yang membuat hembusan anginnya terasa begitu menyesakkan dan menggelisahkan.
Lu Runjun langsung menyadari kejanggalan tersebut. Setelah mendarat, harimau itu tidak melompat kembali seperti sebelumnya, melainkan menatap lekat ke arah Lu Runjun dan mengeluarkan auman sekali lagi.
Tangannya meraba bagian betisnya, Lu Runjun menatap tajam mata sang harimau, sementara penglihatan tepi-nya mengawasi Xu Kelima. "Jangan bergerak."
Xu Kelima langsung menghentikan niatnya untuk mundur dan duduk terpaku di tempatnya.
"Ada apa ini?" seseorang bertanya dengan nada bingung sambil mengalihkan pandangan ke arah Lu Runjun.
Pangwan pun membunyikan loncengnya dan mengayunkan lingkaran api, namun harimau itu sudah tidak lagi mengindahkannya dan melangkah maju selangkah demi selangkah menuju arah Lu Runjun.
Di barisan depan, Pei Jinyan menatap tajam binatang buas itu, bahkan Xiao Mo yang tadi masih tertawa-tawa kini telah mengubah ekspresinya menjadi serius. "Gawat, harimau itu telah diberi obat."
Begitu kata-kata itu terucap, harimau tersebut memamerkan taringnya sambil mengaum, melengkungkan punggungnya, lalu menerkam ke arah Lu Runjun dan Xu Kelima.
Dalam sepersekian detik yang sangat gentar, Lu Runjun mendorong Xu Kelima menjauh sementara dirinya sendiri berguling ke sisi yang lain.
Jeritan histeris bersahut-sahutan. Di tengah kepanikan tersebut, orang-orang kocar-kacir melarikan diri ke segala penjuru.
Harimau itu tidak mengejar mereka, melainkan hanya menatap Lu Runjun dan Xu Kelima di sisi seberang, seolah sedang menimbang-nimbang mangsa mana yang harus diserang terlebih dahulu.
"Mohon Pangeran Kedua untuk menyingkir..." ucap seorang pelayan istana dengan keringat bercucuran di keningnya, berdiri menghalangi di depan Xiao Heng.
Namun, Xiao Heng justru mendorong pelayan itu ke samping. "Ini adalah pertunjukan yang bagus, bagaimana mungkin aku bisa melewatkannya!"