Bab 38: Bajingan
Para pelayan perempuan segera meringkuk ketakutan, lalu bergegas membersihkan kekacauan di lantai dan mundur keluar. Lu Ming menoleh, raut wajahnya sedikit muram, "Bukankah Nenek bilang urusan ini pasti beres? Sekarang lihatlah, malah dia yang membalik keadaan, bahkan para pelayan di paviliunku pun dijual."
Nenek Jiang menepuk tangannya, "Nona, ini memang kesalahan hamba, Nona Empat itu terlalu licik, sengaja memasang perangkap untuk Anda. Mana ada sedikit pun niat menganggap Anda sebagai adik? Jelas-jelas memusuhi Anda!"
"Apa?" Mata Lu Ming membelalak, "Aku saja tidak menganggap dia musuh sudah bagus, malah dipasang perangkap, orangku pun dijual. Tidak bisa, besok aku harus mengadu pada Nenek Agung!"
Mendengar itu, Nenek Jiang buru-buru berkata, "Nona, jangan, jangan sekali-kali!"
"Kenapa?" Lu Ming mengangkat alis, mulai tampak kesal.
Nenek Jiang berkata, "Coba pikir, Nona. Dengan watak Nenek Agung, setiap kali pasti memihak keluarga Besar dan Keluarga Ketiga. Kalau Anda mengadu, bisa-bisa malah mereka yang memutarbalikkan fakta dan Anda malah makin dibenci Nenek Agung."
Lu Ming berpikir sejenak, lalu manyun.
"Kalau hati Nenek Agung memang berat sebelah, untuk apa Anda mencari masalah sendiri lagi?"
"Jadi menurutmu, harus membiarkan dia begitu saja?" Ucapnya dengan kesal, teringat siang tadi saat segerombolan pelayan kasar menerobos ke paviliunnya dan menyeret orangnya pergi, benar-benar tidak menganggapnya ada. "Hmph, aku tidak akan terima begitu saja!"
Nenek Jiang menyipitkan mata kecilnya, "Nona, masih banyak cara untuk membalas, bahkan lebih banyak lagi cara yang tak perlu mengusik Nenek Agung. Asal Nona mau, hamba rela melakukan apa pun, sekalipun harus melewati api dan pedang."
Mendengar itu, hati Lu Ming seketika terasa hangat, tersentuh ia berkata, "Memang hanya Nenek yang benar-benar peduli padaku."
Bahkan ibunya sendiri pun tak pernah seperti ini, setiap hari hanya sibuk mengurus kakaknya.
Nenek Jiang mendengar itu, tersenyum puas, "Nona ini hamba besarkan sejak kecil, tentu saja rasa sayangnya melebihi anak kandung sendiri."
Lu Ming mengangguk, ia memang percaya itu. Karena kejadian hari itu, malamnya ia pun hilang selera makan.
Entah karena gelisah, tubuhnya terasa gatal-gatal, ia pun sengaja mandi sebelum tidur.
Malam itu, rasa gatal makin menjadi-jadi, tanpa sadar ia menggaruk-garuk cukup lama. Esok paginya, saat pelayan masuk hendak menyiapkan air cuci muka, mereka sampai menjatuhkan baskom karena kaget.
Tak sempat berpikir panjang, Chun Mei, pelayan pribadi Lu Ming, segera mengusir yang lain, satu orang dipanggil untuk memanggil tabib, satu lagi melapor pada Nyonya Kedua.
Lu Ming sendiri hanya bisa terpaku, di depan cermin tembaga, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tak percaya, "Bagaimana mungkin, kenapa bisa begini..."
Bagaimana bisa ia jadi seperti ini?
Chun Mei ingin mendekat tapi ragu, akhirnya hanya berdiri beberapa langkah jauhnya, menenangkan, "Jangan takut, Nona. Tabib sebentar lagi datang, Anda pasti akan baik-baik saja."
"Diam kau!" Lu Ming tiba-tiba berbalik, "Cepat panggil Nenek Jiang ke sini!"
Pada saat bersamaan, Nenek Jiang memang sudah datang lebih dulu. Begitu masuk kamar, ia langsung melihat Lu Ming dengan wajah penuh ruam merah, tertegun, "Nona semalam makan atau pakai apa saja?"
Lu Ming menggeleng, air matanya langsung menetes, "Nenek, aku gatal sekali, apa yang harus kulakukan..."
Tangannya tanpa sadar mulai menggaruk-garuk lengan.
Nenek Jiang menenangkan diri, setelah memperhatikan ruam di wajah Lu Ming, ia sudah punya dugaan. Ia pun menoleh pada Chun Mei, "Coba periksa semua makanan dan minuman yang Nona konsumsi kemarin, laporkan padaku."
Chun Mei mengangguk, membungkuk dan segera keluar.
Tak lama, Nyonya Kedua pun datang. Begitu melihat kondisi Lu Ming, ia pun terkejut, "Ada apa ini, kenapa tumbuh begini?" tanyanya pada Nenek Jiang.
"Mungkin karena makan sesuatu yang tidak seharusnya, Nyonya tak perlu khawatir, tabib akan segera datang." Ia memapah Lu Ming duduk, menahan tangannya agar tidak menggaruk.
Wajah Lu Ming penuh linangan air mata, kini ia tak peduli lagi akan kemarahannya selama ini, langsung berkata, "Ibu, tolong aku, aku tak mau seperti ini, pasti Lu Nianjun yang melakukannya padaku..."
"Nona..." Nenek Jiang buru-buru mencegah, "Jangan menangis, Nenek akan selalu di sisimu, semua akan baik-baik saja!"
Ny. Qu mengerutkan kening, ia jelas mendengar ucapan barusan, "Nenek Jiang, maksud Ming apa, apa hubungannya dengan Si Empat itu?"
Nenek Jiang terkejut, matanya melirik, langsung berlutut, "Kalau Nyonya hendak menghukum, hukum saja hamba, ini bukan urusan..."
Ny. Qu membelalak, "Sebenarnya ada apa, cepat katakan!"
Mungkinkah anak perempuannya yang bandel ini berbuat ulah lagi?
Nenek Jiang pun menceritakan kejadian itu setengah menutupi, setengah menjelaskan. Setelah selesai, Ny. Qu nyaris menampar Lu Ming, untung Nenek Jiang sigap menghalangi.
Suara tamparan itu membuat Lu Ming menatap ibunya, air mata masih membekas di wajah, "Kalau mau memukul, pukul saja aku. Lagipula kau tak pernah menganggapku sebagai anakmu."
Ny. Qu marah besar, "Anak kurang ajar, apa-apaan ucapanmu itu?"
"Nona..." Nenek Jiang melindungi Lu Ming, berlutut menghadap Ny. Qu, "Kalau hendak menghukum, hukum saja hamba. Hamba yang tidak menjaga Nona dengan benar, ini semua salah hamba. Nona masih kecil, belum mengerti apa-apa!"
"Cukup, diam kau," nyonya itu menunjuk, "Dia saja tidak tahu mana yang benar, masa kau juga membiarkannya. Kini saatnya kita justru harus merapat dengan Keluarga Ketiga, kalian malah cari musuh dengan mereka!"
"Kau memang hanya peduli pada kakak, semuanya selalu demi dia, pernahkah kau memikirkan aku? Bahkan saat aku dihina, diperlakukan semena-mena, aku harus diam saja dan menahan semuanya?" Mata Lu Ming memerah, "Aku ini anakmu atau bukan?"
Ny. Qu terdiam, kepalanya berdenyut, "Kau... kau benar-benar..."
Melihat keadaan memburuk, seorang pelayan segera maju menopang Ny. Qu, "Nyonya..." Ia membantunya duduk, lalu menoleh pada Lu Ming, "Nona, Nyonya benar-benar mencintai Anda. Begitu dengar Anda sakit, langsung ke sini. Mengapa Anda tega menyakiti hati Nyonya?"
Setelah meluapkan amarah, Lu Ming mulai merasa bersalah melihat Ny. Qu yang kini bersandar lemah di pelukan pelayan. Ia menunduk, tak berani berkata lagi.
Tidak lama kemudian, tabib perempuan akhirnya tiba. Sekilas saja ia sudah tahu penyebab penyakitnya, lalu memberikan resep, "Beberapa hari ke depan, Nona sebaiknya banyak istirahat, sering-seringlah lap tubuh dengan air hangat, makan makanan yang ringan. Jangan gelisah, tetaplah tenang, kalau tidak, penyakitnya bisa makin parah, bukan sekadar ruam merah begini."
Mendengar itu, Lu Ming langsung menangis lagi. Melihatnya, sekalipun masih kesal, Ny. Qu pun tak tega.
Bagaimanapun, ia tetap anak kandungnya, rasa sayang tetap lebih besar. Ia bertanya, "Terima kasih, Tabib. Lalu, kapan ruam ini akan hilang?"
Tabib perempuan memeriksa Lu Ming, lalu berkata, "Kalau pemulihan berjalan baik, paling cepat sepuluh hari, paling lama sebulan."
Selamat pagi, novel baru ini sangat butuh dukungan kalian, semoga kalian selalu bersama saya.