Bab 55 Mau ikut bersamaku kembali ke Istana Timur?
Segera hendak meninggalkan makam kekaisaran, Cui Suihuan berencana pergi ke balai pengobatan untuk mengambil beberapa jenis tumbuhan obat.
Secara resmi, kini ia telah berstatus sebagai selir putra mahkota.
Sang Ma tidak berani membiarkannya pergi sendirian lagi. Cui Suihuan berpikir bahwa membawa serta seseorang di sisinya akan menghindari berbagai masalah yang kerap timbul, sehingga keduanya pergi bersama ke balai pengobatan.
Orang-orang lain di balai pengobatan kini menaruh sedikit rasa hormat kepadanya, hanya Kong Qing yang enggan memedulikannya.
Cui Suihuan kembali mencari beberapa tumbuhan obat berhawa dingin dari balai pengobatan, lalu mengelompokkan tanaman-tanaman yang sifat obatnya tidak saling bertentangan.
Ia samar-samar teringat malam itu, hidungnya sempat berdarah, penglihatannya kabur, dan tampaknya pendengaran serta penciumannya pun tidak lagi tajam.
Khasiat tumbuhan obat ini mungkin berkaitan dengan panca indra.
Cui Suihuan memegang dua tangkai tumbuhan obat sambil membandingkannya dengan buku medis, tampak sedikit bimbang.
"Tumbuhan obat di tangan tangan kirimu bernama Hati Maple. Kamu harus sangat berhati-hati saat mengonsumsinya, jika tidak, obat itu akan untuk sementara waktu menutup panca indramu. Tumbuhan obat di tangan kananmu hanyalah obat pereda nyeri biasa, tetapi sangat mudah membuat kecanduan."
Orang yang berbicara adalah Kong Qing.
"Terima kasih, Kong Qing," ucap Cui Suihuan dengan senyuman manis, lalu mengemas dan menggolongkan tumbuhan obat tersebut, memberi tanda, dan menyimpannya di dalam peti kayu.
Kong Qing sedikit mengernyit, melirik ke arah peti kayu milik Cui Suihuan yang seluruhnya berisi berbagai macam tumbuhan obat berhawa dingin.
"Apa kamu tahu bahwa terlalu banyak mengonsumsi tumbuhan obat ini sangat tidak baik bagi tubuh seorang wanita? Kudengar sebentar lagi kamu akan menjadi selir, untuk apa kamu secara terang-terangan mengambil tumbuhan obat ini!" Semakin dikatakan, Kong Qing semakin merasa geram!
Ia memang sejak awal tidak menyukai Cui Suihuan, dan menganggapnya hanya menggunakan kedok ilmu kedokteran untuk menyamar demi memikat putra mahkota.
Sekarang setelah ia berhasil, mengapa ia masih mengambil begitu banyak tumbuhan obat yang berbahaya bagi wanita? Apa niat tersembunyi di baliknya?
Cui Suihuan mengerjap, merasa bingung mengapa Kong Qing begitu marah. "Kamu sendiri bilang aku melakukannya secara terang-terangan, jadi aku tentu saja tidak berniat mencelakai orang."
Kong Qing dibuat tertekat oleh perkataan Cui Suihuan. "Lalu untuk apa kamu mengambil tumbuhan obat berhawa dingin ini?"
"Aku sedang meneliti tumbuhan obat. Ada beberapa tanaman yang harus dicoba dikonsumsi terlebih dahulu baru kita bisa tahu seperti apa efeknya. Karena tumbuhan obat ini tidak baik bagi wanita, kupikir sangat sedikit wanita yang mau mencobanya, jadi aku ingin mencobanya sendiri."
Ini adalah alasan yang dipikirkan oleh Cui Suihuan, terdengar masuk akal, dan pada dasarnya memang merupakan sebuah kejujuran karena ia memang meminumnya.
Oleh karena itu, Cui Suihuan mengatakannya dengan sangat tenang.
Kong Qing mencibir, "Bicaranya begitu bagus, siapa yang tahu apakah kamu benar-benar meminumnya?"
Cui Suihuan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari balik jubahnya, membukanya, lalu membacakan, "Bunga putih kecil yang disebut Teratai Dingin itu, setelah dihaluskan menjadi serbuk, berubah menjadi bubuk berwarna kuning dengan rasa yang agak manis. Jika dikonsumsi terlalu banyak akan menyebabkan tubuh menggigil, dan sangat mujarab untuk menurunkan suhu tubuh."
Kong Qing melirik buku catatan kecil miliknya yang penuh dengan tulisan yang padat.
Apa yang dikatakan Cui Suihuan memang benar. Kong Qing, yang juga merupakan seorang yang terobsesi dengan ilmu kedokteran, tidak dapat menahan diri untuk bertanya, "Memakan terlalu banyak akan menyebabkan tubuh menggigil? Untuk apa memakannya begitu banyak?"
Cui Suihuan menelan ludah, ragu-ragu sejenak, lalu berkata, "Shennong mencicipi berbagai macam tumbuhan obat, tentu tidak cukup hanya dengan mencicipinya sekilas saja. Kita harus melihat efek apa yang dihasilkan oleh takaran obat yang berbeda-beda."
Kong Qing mengangkat alisnya. "Ada benarnya juga, namun aku tetap menyarankanmu untuk berhati-hati. Ada peraturan di istana bahwa obat di balai pengobatan hanya boleh direbus setelah didiagnosis dan diresepkan oleh tabib wanita, tidak boleh meracik sendiri secara pribadi. Jika kamu membawa begitu banyak tumbuhan obat kembali ke istana, dan semuanya bersifat sangat dingin, kamu tidak akan bisa membela diri jika terjadi sesuatu."
Kong Qing awalnya bermaksud memperingatkannya, tanpa diduga justru malah memberikan pengingat bagi Cui Suihuan.
Karena ia sering merebus obat untuk putra mahkota dan kebutuhan obat di Istana Timur cukup banyak, ia hanya perlu pergi ke balai pengobatan untuk mengambil tumbuhan obat, sehingga ia justru tidak tahu bahwa dirinya tidak boleh mengambil obat sendiri.
Suasana di makam kekaisaran ini sepi penduduk, sehingga tidak banyak aturan yang mengikat.
Jika begitu keadaannya, lebih baik ia mengambil lebih banyak lagi. Mengenai apakah ia akan mendatangkan masalah di masa depan, ia sudah tidak sanggup memikirkan hal sebanyak itu.
Memikirkan hal tersebut, Cui Suihuan kembali mengambil berbagai macam tumbuhan obat. Meskipun setiap jenis tidak diambil terlalu banyak, tetapi variasinya sangat beragam.
"Terima kasih atas peringatan Kakak Kong Qing."
Kong Qing mendengus dingin, "Siapa yang memperingatkanmu! Aku hanya takut sesuatu terjadi pada putra mahkota."
Melihat rona merah tipis di pipi Kong Qing, Cui Suihuan menduga bahwa wanita itu mungkin menaruh hati pada sang putra mahkota. Di makam kekaisaran ini, jangankan setahun, setengah tahun pun belum tentu ada orang yang datang berkunjung. Kong Qing pasti merasa sangat kesepian hidup seorang diri di sini.
Maka ia pun bertanya, "Kakak Kong Qing, apakah kamu mau ikut kembali denganku ke Istana Timur?"
Kong Qing tertegun, lalu menunjuk dirinya sendiri. "Aku, ikut kembali bersamamu ke Istana Timur?"
Ia kembali mengerutkan kening dan bertanya, "Apakah kamu ingin aku membantumu melakukan hal-hal kotor? Mimpi!"
Sepasang mata indah Cui Suihuan dipenuhi dengan ketidakpahaman. "Mengapa mengajakmu ke Istana Timur berarti menyuruhmu melakukan hal-hal kotor?"
"Kamu!" Kong Qing merasa gadis muda ini sama sekali tidak polos, lidahnya sangat tajam dan pandai berbicara.
Alasan Cui Suihuan ingin mengajak Kong Qing ke Istana Timur sebenarnya sangat sederhana, yaitu agar ia bisa lebih banyak bertanya mengenai masalah tumbuhan obat kepada Kong Qing.
Bagaimanapun, ia sudah sedikit akrab dengan Kong Qing, dan ia bisa melihat bahwa di dalam hati Kong Qing hanya ada ilmu kedokteran, sementara hal-hal lain sama sekali tidak dihiraukan.
Namun, jika Kong Qing menolak, ya sudah. Ia bisa mempelajarinya sendiri secara perlahan.
Kong Qing diam-diam merasa tergugah. Ia pernah mendengar bahwa di istana kekaisaran terdapat banyak buku medis, tetapi tentu saja ia tidak mungkin menjadi pelayan rendahan bagi Cui Suihuan.
Meskipun Dinasti Da Sheng telah mengembangkan sistem tabib wanita, pada kenyataannya status seorang tabib wanita masih sangat rendah. Banyak orang memelihara tabib wanita dengan tujuan untuk mengobati istri dan putri mereka, tetapi orang-orang ini tidak ingin orang luar tahu bahwa istri dan putri mereka sedang sakit.
Oleh karena itu, banyak tabib wanita yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pelayan budak.
Terlebih lagi, hal-hal seperti ilmu kedokteran dan tumbuhan obat juga bersifat pribadi, bahkan ada sebagian orang yang memelihara tabib wanita justru untuk meracuni dan mencelakai orang lain.
Itulah sebabnya pikiran pertama Kong Qing adalah bahwa Cui Suihuan memintanya pergi ke Istana Timur untuk melakukan niat jahat.
Kong Qing berpikir, jika Cui Suihuan berjanji untuk tidak berbuat jahat dan tidak menjadikannya pelayan, ia akan setuju pergi ke Istana Timur.
Tanpa diduga, Cui Suihuan justru menjawab, "Kalau begitu, jika kamu tidak mau pergi, lupakan saja."
Kong Qing membuka mulutnya, tetapi ia tidak mampu mengucapkan kata-kata permohonan, sehingga ia hanya bisa berbalik dan pergi.
Hanya menyisakan Cui Suihuan yang sedang memilah-milah tumbuhan obat.
Begitu keluar dari balai pengobatan, Kong Qing langsung berbalik menuju kamar asramanya. Sebenarnya, melihat sikap Cui Suihuan, gadis itu sama sekali tidak tampak seperti orang jahat, hanya saja terlihat tidak berguna.
Hanya bermodal wajah yang cantik dan pandai menyenangkan orang lain.
Baru saja ia melangkah masuk ke dalam kamar, ia melihat seorang pelayan senior yang tampak tidak asing, tetapi bukan berasal dari orang-orang di makam kekaisaran. "Kamu... siapa?"
Pelayan senior itu tersenyum dan berkata, "Maaf telah mengganggu Tabib Wanita Kong Qing. Hamba adalah orang kepercayaan dari Junzhu Changle."
"Junzhu Changle?" Kong Qing merasa sedikit terkejut, lalu teringat bahwa ia memang pernah melihat wanita ini di sisi sang junzhu. "Ada urusan apa pelayan senior mencari saya?"
Pelayan senior ini memiliki wajah yang tampak ramah dan lembut, sama sekali berbeda dengan Pelayan Senior Miaoqi, memberikan kesan seperti seorang nenek yang penuh kasih di dalam rumah.
Ia tersenyum ramah. "Junzhu kita ingin merekrut tabib wanita untuk menjadi tabib pribadi di kediaman. Masalah sakit kepala junzhu sebelumnya juga ditangani oleh tabib wanita, dan junzhu merasa sangat cocok dengan Anda."
Kong Qing mengerutkan kening. "Junzhu terlalu memuji, itu hanyalah tugas yang memang sudah semestinya saya emban, lagipula bukan hanya saya seorang diri yang mengobatinya..."
"Junzhu sangat menyukai ketulusan tabib wanita. Sebenarnya, ada satu hal lagi yang ingin dimohonkan..." Pelayan senior itu maju setengah langkah dan berbisik pelan di telinga Kong Qing.
Semakin lama mendengarkan, kening Kong Qing semakin mengerut erat.
......
Tidak sampai dua atau tiga hari kemudian, putra mahkota dan rombongannya telah selesai mengemas barang bawaan dan bersiap untuk berangkat kembali ke istana kekaisaran.
Sebuah kelompok telah lebih dulu kembali untuk membersihkan Istana Timur, sementara orang-orang dan barang bawaan yang tersisa tidak terlalu banyak, hanya menyisakan para pengawal untuk mengawal perjalanan.
Tepat saat Cui Suihuan hendak naik ke kereta kuda, Kong Qing muncul dengan membawa bungkusan di punggungnya. "Nona Muda, saya ingin bertanya apakah saya masih bisa ikut pergi ke Istana Timur bersama Anda?"