Dua puluh sembilan, masalah besar.
Waktu perlahan berlalu. Seiring menyempitnya zona racun di dalam peta, jumlah musuh yang tersisa pun kian berkurang. Sebaliknya, jumlah kill Hancock meningkat dengan pesat. Meski ini adalah pertandingan tingkat tinggi, ia justru menjadikannya seperti sedang membantai pemain pemula.
Setelah mengamati cukup lama, Xue Cheng mulai menyadari bahwa kemampuan bermain game Hancock sebenarnya tidak terlalu istimewa. Kesadaran, teknik, dan taktiknya mungkin bahkan tidak lebih baik dari dirinya sendiri. Namun, ia berhasil menutupi kekurangan tersebut dengan refleks yang luar biasa cepat. Setiap kali berhadapan dengan musuh, ia selalu mampu bereaksi secepat kilat dan menghabisi lawannya terlebih dahulu.
"Dalam seni bela diri, segala teknik bisa dipatahkan, kecuali kecepatan. Siapa sangka prinsip ini berlaku juga dalam dunia game?" gumam Xue Cheng takjub saat melihat karakter yang dikendalikan Hancock mengangkat trofi sebagai tanda kemenangan terakhir.
"Komandan, bagaimana menurutmu?" Hancock menoleh ke arah Xue Cheng. Meski wajahnya tampak tenang, matanya menyiratkan rasa bangga yang tak bisa disembunyikan.
"Luar biasa," puji Xue Cheng sambil mengacungkan jempol. Kemampuan Hancock mungkin sudah setara dengan pemain profesional; sesuatu yang hanya bisa ia kagumi.
"Sayangnya di sini hanya ada satu komputer," ujar Hancock dengan nada menyesal. "Kalau ada dua, aku bisa bertarung di sisimu, Komandan."
Xue Cheng tersenyum dan hendak menghiburnya, namun tiba-tiba Hancock mengeluarkan ponsel. Jari-jarinya bergerak lincah di atas layar sambil bergumam, "Oh iya, lebih baik aku beli satu laptop lagi saja."
Xue Cheng tersentak. Dengan rasa penasaran, ia menjulurkan kepala dari balik bahu Hancock dan melihat sang gadis sedang memasukkan sebuah laptop ke dalam keranjang belanja daring, siap melakukan pembayaran. Sekilas ia melihat bahwa laptop tersebut adalah model yang juga ada di dunianya—tipe yang terkenal mahal namun memiliki spesifikasi rendah.
"Tunggu dulu!" Xue Cheng menjulurkan tangan dari bawah ketiak Hancock, berusaha merebut ponsel itu.
Namun, ponsel itu tidak bergeming. Hancock menoleh ke samping dan menatap Xue Cheng dengan bingung. "Komandan?"
Xue Cheng bertanya, "Hancock, bukankah kau sudah punya komputer?"
Hancock mengangguk. Keahliannya saat ini adalah hasil dari akumulasi waktu yang panjang, tentu saja ia memiliki komputernya sendiri.
Xue Cheng berkata dengan pasrah, "Kalau sudah punya, untuk apa membuang-buang uang membeli yang baru?"
"Tentu saja supaya aku bisa bermain bersama Komandan," jawab Hancock dengan ekspresi seolah itu adalah hal yang sangat wajar.
Xue Cheng menggerutu, "Kalau begitu, aku tinggal mendaftar akun, dan saat kau kembali ke kamarmu, kita bisa bermain bersama. Kenapa harus beli laptop baru? Memangnya komputermu sudah rusak?"
Hancock menggeleng. "Itu model terbaru tahun ini, tapi aku ingin bermain di kamar Komandan."
Hanya karena alasan itu? Seberapa kaya sebenarnya dirimu! Xue Cheng terdiam tak bisa berkata-kata, sementara Hancock terus mendesaknya, "Komandan, lepaskan! Semakin cepat dipesan, semakin cepat barangnya sampai. Area di sekitar pangkalan kita adalah zona militer terlarang, kurir sangat sulit untuk masuk."
Xue Cheng menggelengkan kepala, tetap bersikeras untuk tidak melepaskan ponsel itu. Keduanya pun terlibat tarik-menarik, tidak ada yang mau mengalah, hingga suasana menjadi kaku.
Tepat pada saat itu, pintu kamar Xue Cheng tiba-tiba terbuka. Seorang gadis berambut panjang warna merah muda yang mengenakan baju tidur menerobos masuk dengan penuh amarah. Sebelum melihat orang di dalamnya, ia sudah mulai melayangkan protes, "Siapa yang tadi memakai akunku? Gara-gara itu aku... eh?"
Tirpitz mengucek matanya. Ia melihat Xue Cheng dan Hancock membelakangi dirinya, duduk di kursi gaming. Dari sudut pandangnya, ia tidak bisa melihat posisi pasti mereka, hanya melihat lengan Xue Cheng yang seolah melingkar dari bawah ketiak Hancock. Saat mendengar suaranya, keduanya menoleh secara bersamaan. Wajah mereka yang memerah karena tarik-menarik tadi membuat pemandangan itu tampak sangat ambigu di mata Tirpitz.
"Eh..." Xue Cheng menatap gadis yang menerobos masuk itu. Ia tidak mendengar jelas protesnya tadi, sehingga tidak bisa menebak identitasnya. Hancock memiringkan kepala dan bertanya, "Tirpitz? Kenapa kau ke sini?"
"Cekrek!" Secara naluriah, Tirpitz mengeluarkan ponselnya dan memotret mereka berdua di atas kursi, lalu terkikik geli sambil mendekap ponselnya.
Melihat hal itu, Xue Cheng belum bereaksi apa-apa, namun Hancock justru panik. Ia tidak memedulikan ponsel di tangan Xue Cheng lagi, melompat dari kursi, dan menerjang Tirpitz. "Tirpitz! Cepat hapus fotonya!"
"Wuaa!" Tirpitz dengan kikuk menghindari terjangan Hancock. Karena pintu berada di arah Hancock, ia tidak mungkin bisa melarikan diri. Akhirnya, ia berlari ke arah Xue Cheng dan menggunakan kursi komputer sebagai tameng untuk berputar-putar menghindari kejaran Hancock.
"Kenapa gugup sekali?" Tirpitz berkelit sambil tertawa cekikikan. "Itu cuma foto, apa masalahnya?"
"..." Wajah Hancock menegang. Ia bukan orang yang pandai berkata-kata, jadi ia tidak berniat mendebat Tirpitz. Namun, foto itu sama sekali tidak boleh berada di tangan Tirpitz.
Bukan karena ia malu jika foto mesranya dengan Komandan tersebar—Hancock adalah kapal pernikahan Xue Cheng—tetapi ada alasan lain yang membuatnya takut.
Tirpitz si gadis penyendiri ini bukanlah tipe orang yang tidak produktif. Ia mahir menggambar dan memiliki imajinasi yang luar biasa liar. Ia adalah tulang punggung industri bawah tanah di pangkalan tersebut. Bahkan Hancock sendiri mengoleksi beberapa karya manga yang dibuatnya.
Namun, meskipun ia diam-diam menikmati karya-karya itu, bukan berarti Hancock ingin menjadi pemeran utama di dalamnya. Mengingat senyum Tirpitz saat melihat foto tadi, Hancock langsung menebak niat jahatnya.
Setelah cukup lama berkejaran, Hancock akhirnya menang. Karena terlalu sering mendekam di kamar untuk bermain game dan menggambar, kemampuan fisik Tirpitz jelas telah menurun. Setelah beberapa putaran, lengannya berhasil ditangkap oleh Hancock, lalu ia dibanting dengan bantingan bahu yang indah ke atas tempat tidur Xue Cheng. Ponselnya pun berhasil direbut.
Tirpitz terengah-engah. Tanpa kekuatan persenjataan kapal, ia hanyalah seorang gadis biasa yang jarang berolahraga. Aktivitas mendadak itu membuatnya kewalahan, dan bantingan tadi membuatnya pening. Untungnya, kasur yang empuk mencegahnya terluka.
Meski begitu, Tirpitz masih tertawa terengah-engah. Ia menatap Hancock yang sedang berusaha menghapus foto di ponselnya, lalu berkata terbata-bata, "Ti-tidak berguna. Meskipun kau menghapus foto itu, aku sudah punya cadangan otomatis. Lagipula... coba kau lihat grup besar pangkalan sekarang."
Hancock terpaku. Ia melihat layar ponsel di tangannya. Antarmukanya kini sedang terbuka pada grup pangkalan. Foto yang tadi diambil Tirpitz telah terunggah di sana. Setelah keheningan singkat, rentetan tanda tanya mulai membanjiri layar, banyak orang mulai menandai Tirpitz, dan pada saat yang bersamaan, ponsel Hancock mulai berbunyi terus-menerus karena notifikasi yang masuk bertubi-tubi.