Bab 60: Rumor tentang Tuan Muda Pertama Ji
Seminggu kemudian, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ji Fusheng mendatangi ketua tim untuk membicarakan kepulangannya ke kampung halaman. Ia duduk di hadapan sang ketua tim dan berkata, "Aku punya cara untuk mendapatkan dana pembangunan museum, tapi aku butuh cuti panjang agar bisa pulang membantunya memanen gandum."
"Siapa?"
"Kakekku."
"Kakekmu adalah..."
Ji Fusheng menggosok hidungnya. "Beliau hanyalah orang tua yang suka bertani dan berkebun, tapi punya sedikit uang. Aku bisa membujiknya untuk menyumbangkan dana pembangunan museum itu, asalkan aku harus kembali membantunya memanen gandum."
"Kujinkan, cuti ini pasti kujinkan. Pulanglah selama yang kau butuhkan." Ketua tim berdiri, kursi yang bergeser di atas lantai menghasilkan suara decitan yang bising. Sambil memegang dahinya, ia berpikir, "Tanaman apa yang disukai kakekmu? Haruskah kita bawakan beberapa bibit hasil budidaya pusat kita?"
"Apakah kau sendirian bisa memanen gandum itu? Perlukah mengajak beberapa orang lagi?"
"Bicaralah yang baik dengan kakekmu, kebijakan apa pun yang beliau ajukan akan kita longgarkan."
Segalanya berjalan lebih mudah dari perkiraan Ji Fusheng. Tampaknya ketua tim itu belum mulai mencari investor secara resmi selama seminggu terakhir. Menghadapi kakek hartawan Ji Fusheng yang sudah siap sedia, ketua tim itu justru ingin jalan pintas agar tidak repot.
Hanya dengan beberapa patah kata, urusan itu pun beres.
Malam itu juga, Ji Fusheng membawa Xiao Hei ke pusat konservasi untuk dititipkan, lengkap dengan makanan anjing dan camilannya. Ia lalu pergi ke ruang budidaya untuk mengambil sepotong tanaman *Hoya kanyakumariana* yang baru dibudidayakan tahun lalu, bersiap membawanya kembali ke Micheng untuk dijadikan bahan tawar-menawar dengan Ji Zhenli.
Ia memesan penerbangan paling malam, yaitu pukul 23.35 tengah malam.
Ji Fusheng mencegat sebuah taksi di depan gerbang pusat konservasi. Kali ini ia pun tidak membawa bagasi apa pun, hanya ponsel dan kartu identitasnya. Setibanya di dalam mobil, ia mengeluarkan ponselnya dan dengan bosan menggulir linimasa media sosial teman-temannya.
Ujung jarinya dengan cepat menyaring informasi yang berguna, tetapi semua itu tidak jauh berbeda dari biasanya: foto-foto swafoto seksi dari teman-teman perempuannya, serta pameran mobil mewah dari teman-teman laki-lakinya—begitu monoton dan hambar seperti dulu.
Saat ia bersiap untuk keluar dari aplikasi, linimasa tersebut memperbarui dirinya secara otomatis, dan secara tak terduga ia menemukan sebuah foto.
Foto itu diunggah oleh Wang Ziyun dua menit lalu, memperlihatkan kebersamaan Wang Ziyun, Xia Zhu, dan Wang Zichuan. Takarirnya bertuliskan: Tiga pendekar bersatu kembali.
Ji Fusheng sedikit mengerutkan kening. Latar belakang foto itu adalah dapur di rumah Xia Zhu.
Setelah berpikir sejenak, ia mematikan ponselnya.
Menatap pohon-pohon pinggir jalan yang semakin menjauh di luar jendela, ia membatin, "Masalah ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Semua orang sudah dewasa, dia bisa memutuskan sendiri. Terlebih lagi, bisa jadi dia memang menginginkan hal itu. Bagaimana jika ternyata dia dan Wang Zichuan adalah orang yang sama?"
Ia menggigit ujung jarinya, mengunyah kuku-kukunya.
Berpikir lagi, ia tetap mengambil ponselnya dan membuka ruang obrolan dengan Xia Zhu. Dua jarinya dengan cepat mengetik di atas papan tik: Butuh bantuan?
Setelah ragu-ragu sangat lama, ia tetap tidak menekan tombol kirim. Ia menghapus kata-kata itu dan bergumam pada dirinya sendiri, "Untuk apa aku begitu peduli padanya? Apa urusannya denganku? Dia sudah menerima lamaran orang lain, untuk apa aku sebagai orang luar ikut campur? Dia sendiri bilang kita hanya teman biasa, dan teman biasa tidak boleh menunjukkan kepedulian yang melewati batas."
Namun, suara lain justru bergeming di dalam benaknya. "Bagaimana jika bajingan itu mengganggunya lagi? Dia pasti tidak pernah menceritakan hal semacam ini kepada pacar asingnya, lagipula ini bukanlah hal yang membanggakan."
"Tidak, untuk apa aku pergi? Jika dia diganggu oleh bajingan itu, dia bisa berteriak minta tolong atau menelepon polisi, pria itu pasti tidak akan berani berbuat macam-macam padanya, kan?" Ji Fusheng bergumam pelan. "Orang-orang yang pernah saling mencintai tidak mungkin berujung pada pembunuhan berencana, bukan? Lagi pula, Wang Zichuan akan segera menikahi putri direktur Rumah Sakit Micheng, ayahnya telah mengatur masa depan yang cerah untuknya, dia tidak mungkin sebodoh itu, kan?"
Sopir taksi itu melirik dari waktu ke waktu ke arah spion tengah, mengamati Ji Fusheng di kursi belakang yang sedang menggigit jari sambil berbicara sendiri. Sopir itu menelan ludah, lalu mengamati kembali rute jalan yang baru saja mereka lewati dari pusat konservasi. Tempat itu terlalu terpencil, membuatnya merasa agak gugup.
Setelah bergelut dengan pikirannya selama lima menit, Ji Fusheng akhirnya meminta sopir untuk berputar balik. Mobil berbelok di persimpangan dan kembali menyusuri jalan semula menuju pusat konservasi. Xiao Hei sedang asyik menangkap serangga terbang di ruang penelitian dan tampak terkejut melihat Ji Fusheng kembali.
Ji Fusheng membawa serta Xiao Hei, tak lupa membawakan makanan anjing dan camilannya, lalu menaiki taksi menuju Paviliun Lanting.
Karena wajahnya sudah tidak asing lagi, petugas keamanan di gerbang utama kompleks perumahan kali ini tidak menghentikannya, terlebih rambut putihnya terlalu mencolok.
Ji Fusheng memegang tali kekang Xiao Hei keluar dari lift dan melihat sepasang suami istri yang tinggal tepat di depan apartemen Xia Zhu sedang berdiri di ambang pintu, menatap pintu tetangga mereka dengan bingung.
Sang wanita berkata, "Apakah mereka sedang bertengkar?"
Sang pria menjawab, "Aku tidak dengar jelas, tadi hanya dengar suara gelas pecah, mungkin tidak sengaja tersenggol?"
Sang wanita menimpali, "Sepertinya bukan begitu. Tadi waktu kamu sedang mandi, aku sudah mendengar suara barang-barang dibanting. Ada juga suara pria yang sangat marah. Aku ingat tetangga kita itu tinggal sendiri, tidak pernah kulihat dia membawa pria ke rumah. Bahkan kalaupun dia membawa teman, tidak pernah ada kejadian seperti ini..."
Sang pria berkata, "Apa kamu salah dengar?"
"Tidak mungkin, pendengaranku tajam."
Xiao Hei dengan antusias berlari ke dekat pintu dan menggonggong dua kali. Sang wanita bertanya kepada Ji Fusheng, "Kamu... di dalam..."
Ji Fusheng menjawab, "Aku temannya."
Dengan wajah cemas, wanita itu berdiri di dekat pintu sambil mengamati.
Ji Fusheng mengetuk pintu.
Suara Xia Zhu terdengar dari dalam, "Siapa?"
"Aku."
Begitu Xia Zhu membuka pintu, Xiao Hei dengan tidak sabar hendak menerobos masuk. Ji Fusheng melongok ke dalam dan melihat sepasang sepatu kulit tertata rapi di teras masuk.
"Kamu tidak apa-apa?" Wanita itu menjulurkan kepalanya untuk melihat ke dalam.
Xia Zhu menggelengkan kepala. "Maaf, aku sedang beres-beres dan tidak sengaja menjatuhkan beberapa gelas."
Wanita itu berucap "oh" lalu berkata pelan, "Syukurlah kalau tidak apa-apa. Kalau butuh bantuan, kalian bisa datang kepada kami."
"Terima kasih."
Pasangan suami istri itu berjalan kembali ke dalam rumah mereka dan menutup pintu.
"Kenapa kamu datang?"
Ji Fusheng mendorongnya pelan, lalu menuntun Xiao Hei masuk. Ia melihat Wang Zichuan duduk di sofa dengan wajah memerah, sementara bau alkohol memenuhi udara. Kedua pria dewasa itu saling berpandangan, arus permusuhan tersembunyi bergejolak di antara mereka.
Di lantai ruang tamu terdapat genangan noda anggur merah bercampur pecahan kaca. Wang Ziyun tidak terlihat di mana pun, hanya ada Wang Zichuan dan Xia Zhu di dalam rumah, dan raut wajah keduanya sama-sama tampak aneh.
Bukan karena kemesraan, bukan pula karena kekerasan.
Melainkan sebuah perasaan yang ajaib dan janggal.
Xiao Hei terus-menerus menggonggong ke arah Wang Zichuan. Ji Fusheng mendesis "s噓" (shh) kepadanya, lalu berkata dengan nada lembut, "Tenanglah, sekarang sudah malam."
"Tuan Muda Ji, untuk apa kamu datang?" tanya Wang Zichuan.
"Hanya lewat, kehausan, ingin meminjam segelas air." Ji Fusheng menyerahkan camilan dan makanan anjing yang dibawanya kepada Xia Zhu sambil berkata, "Aku ada urusan dan harus meninggalkan Licheng untuk sementara waktu, tolong bantu urus Xiao Hei selama beberapa hari."
Xia Zhu meletakkan makanan anjing itu di atas meja makan, lalu mengambil sapu untuk membersihkan pecahan kaca di lantai.
Wang Zichuan mencibir, "Mau pergi mengurus siapa lagi kali ini? Kudengar dari keluarga besar hanya tinggal sisa garis keturunanmu seorang diri. Kelihatannya tidak bergerak, tapi sebenarnya sudah memegang kendali penuh. Tuan Muda Ji, tahukah kamu berapa banyak orang yang menginginkan nyawamu?"
"Nyawa murahan ini tidak ada harganya. Sebaliknya, kamu, yang susah payah bisa sampai di titik ini, harus memanfaatkan masa depan yang cerah ini dengan baik. Sekali salah melangkah, tidak akan ada obat penyesalan. Hati-hatilah dalam bertindak, Tuan Muda Wang." Ji Fusheng menuntun Xiao Hei masuk ke dapur, membuka kulkas untuk mengambil sebotol air, dan meneguknya dalam-dalam guna meredam kepanikan di dalam hatinya. Setelah lantai selesai dibersihkan oleh Xia Zhu, barulah ia melepaskan tali kekang Xiao Hei dan membiarkannya berkeliaran di dalam rumah.
Anjing itu sepertinya tidak bersahabat dengan Wang Zichuan, ia terus memamerkan giginya setiap kali melihat pria itu.
Ji Fusheng berjalan kembali ke ruang tamu, menarik sebuah kursi lalu duduk, dan bertanya, "Apakah aku mengganggu kalian berdua?" Ia menoleh ke arah Xia Zhu dan melanjutkan, "Di mana tunanganmu itu? Begitu terbuka rupanya hubungan kalian? Dia tega membiarkanmu berduaan di satu ruangan dengan mantan kekasih?"
Xia Zhu memindai Ji Fusheng dengan tatapan penuh kebingungan, alisnya bergetar tipis, tampak benar-benar tidak paham.
Wang Zichuan menatap Ji Fusheng dengan tatapan serupa. Setelah menarik napas panjang, ia berkata, "Aku selalu mendengar bahwa Tuan Muda Ji ini sangat misterius, selera pertemanannya juga aneh, bahkan punya kebiasaan khusus senang bermain dengan para waria. Tapi begitu melihatnya hari ini, bukankah dia sama saja seperti orang biasa? Punya dua mata, satu hidung, dan satu mulut."
"Sepertinya kamu masih harus berusaha lebih keras lagi. Perlukah aku mengenalkan wanita yang lebih baik daripada putri direktur rumah sakit itu kepadamu? Dengan posisimu sekarang, kamu hanya bisa mengandalkan desas-desus untuk mengetahui kabar tentang Tuan Muda Ji."
Berhenti sejenak, Wang Zichuan melancarkan serangan lanjutan, "Kudengar kamu juga sangat suka merebut daging dari mangkuk orang lain. Hobi yang benar-benar banyak ya."
Ji Fusheng mengangguk. "Makanan di mangkuk orang lain memang terasa lebih harum, bukankah kamu sangat memahami hal itu?"
Kata-kata mereka menyiratkan makna terselubung, saling menyindir satu sama lain.
Xia Zhu mendesah berat, berdiri di tengah-tengah kedua pria itu, lalu berkata kepada Ji Fusheng, "Jika tidak ada urusan penting, pulanglah dulu. Aku masih banyak hal yang harus diurus dan tidak punya waktu untuk melayani tamu."
Ji Fusheng dapat menangkap ketidaksabaran di wajah Xia Zhu. Ia menduga dirinyalah yang telah kegeeran, dan tiba-tiba ia merasa sangat menyesal karena telah datang ke tempat ini. Ia berdiri dan berpesan, "Tolong jaga Xiao Hei baik-baik."