Bab 38: Kenangan yang Tak Terlupakan
Xia Zhu mengantar pengantin pria kembali ke kediaman keluarga Du. Pria itu sudah minum terlalu banyak dan langsung jatuh tertidur di atas ranjang begitu tiba di rumah.
Du Jingwen sibuk ke sana kemari menyiapkan sup pereda mabuk untuknya. Du Cunjiang tidak bisa menahan diri untuk berkeluh kesah, "Aku tidak pernah melihatmu memasakkan sup pereda mabuk untukku."
"Kau punya istri sendiri, untuk apa aku harus memasakkan sup untukmu?"
Du Cunjiang terdiam, lalu duduk di sofa dengan pura-pura marah, "Dasar anak yang melupakan ayah setelah punya suami."
Du Jingwen tidak memedulikannya, ia tetap fokus merawat pengantin prianya di sisi ranjang. Xia Meijuan mencoba menengahi, "Sudahlah, jangan ikut campur. Ini bukan saatnya kau bersikap kekanak-kanakan. Mereka pasangan yang sedang dimabuk cinta, kenapa kau sebagai ayah justru merasa keberatan?"
Xia Zhu duduk di sofa, mendengarkan perdebatan mereka dengan tenang, sementara pikirannya tertuju pada pesan dari Wang Zichuan. Sejak mereka berpisah dua hari lalu, pria itu tidak memberikan kabar apa pun. Baru sesaat sebelum tiba di rumah, sebuah pesan mendadak masuk.
Pria itu bertanya—Apakah malam ini ada waktu luang? Aku ingin mengajakmu makan malam.
Dia menambahkan—Bagaimana kalau di restoran Thailand yang dulu paling kau sukai?
Dia mengirim serentetan pesan, yang tak lain adalah penjelasan bahwa dua hari ini ia sibuk mengurus pekerjaan. Setelah ragu sejenak, Xia Zhu membalas—Baiklah.
Usai keluar dari aplikasi pesan, ia membuka ruang obrolan dengan Ji Fusheng, lalu memberitahunya—Malam ini aku ada acara, pergilah makan bersama teman-temanmu, aku yang akan mentraktir.
Setelah itu, Xia Zhu mengirimkan sejumlah uang padanya. Ia mengira Ji Fusheng akan kembali bertele-tele dan menolak uang itu, namun dalam waktu kurang dari dua detik, Ji Fusheng langsung menerimanya. Di luar dugaan namun juga sudah ia perkirakan, Xia Zhu merasakan kelegaan yang tidak bisa dijelaskan.
Tak lama, muncul pesan dari Ji Fusheng—Terima kasih.
Malam harinya, Xia Zhu bergegas pergi memenuhi janji. Restoran itu tidak jauh dari hotel tempatnya menginap, jadi ia memilih berjalan kaki, mencoba menenangkan debaran di hatinya selama perjalanan. Sejak menyetujui ajakan Wang Zichuan sore tadi, ia kembali ke hotel, membongkar seluruh isi koper untuk mencari gaun dan perhiasan terbaik, lalu menghabiskan waktu lama untuk merias diri dengan sempurna. Karena ia hanya membawa sepatu olahraga ke Kota Mu, ia bahkan sengaja keluar untuk membeli sepasang sepatu hak tinggi demi melengkapi penampilannya hari ini.
Saat Xia Zhu tiba di restoran, Wang Zichuan sedang duduk di dekat jendela sambil memegang ponsel. Cahaya lampu restoran yang lembut menyinari wajahnya yang tampan, membuatnya tampak begitu memikat. Melihat kehadirannya, Wang Zichuan berdiri dan melambai dengan senyuman. Ia memuji, "Kau terlihat sangat cantik hari ini."
Xia Zhu menjawab dengan datar, "Jangan salah paham, ini karena ada janji lain tadi siang."
Baru saja duduk, pelayan langsung menyajikan beberapa hidangan. Wang Zichuan berkata, "Ini semua makanan kesukaanmu."
Melihat hidangan di atas meja, kilasan kegembiraan muncul di wajah Xia Zhu. Ia mencoba memancing, "Kau ternyata masih ingat."
Wang Zichuan mengupas udang untuknya, "Sudah bertahun-tahun kita saling mengenal, mana mungkin aku tidak tahu apa yang kau sukai?"
Sebenarnya, restoran Thailand di Kota Mu tidak seotentik yang ada di Kota Li, namun lidah Xia Zhu justru lebih bisa menerima cita rasa di sini. Ia menatap pria di hadapannya dan bertanya, "Apa yang ingin kau katakan padaku?"
Wang Zichuan meletakkan semangkuk udang yang sudah dikupas di depannya, "Aku ingin minta maaf padamu."
"Oh?"
Ia menjelaskan, "Dulu aku salah. Sendirian di Jerman tanpa sanak saudara, ditambah tekanan akademik yang besar, membuat watak dan emosiku jadi buruk. Itulah yang membuatmu merasa tidak aman dan akhirnya kita sering bertengkar."
Xia Zhu mengambil seekor udang dan memakannya, mendengarkan penjelasannya dengan tenang. Wang Zichuan menuangkan setengah gelas anggur merah dan meminumnya sekaligus. Ia membuka mulutnya berulang kali sebelum akhirnya memberanikan diri untuk berkata, "Mari kita berbaikan."
Ia menatapnya dengan binar harapan di matanya. Xia Zhu terkekeh pelan, tidak memberikan jawaban secara langsung. Wang Zichuan mulai bercerita tentang kehidupannya seorang diri di Jerman selama bertahun-tahun, lalu menghela napas, "Sayangnya kau tidak menyukai Jerman. Jika dulu kau bersedia menemaniku ke sana, mungkin saat ini kita sudah menikah."
"Meskipun aku menyukaimu, kau tahu sendiri, aku tidak akan memaksakan diri melakukan hal yang tidak kusukai hanya demi dirimu."
Wang Zichuan kembali meminum segelas besar anggur merah, lalu mengangguk, "Justru karena itulah, selama bertahun-tahun ini aku tidak bisa melupakanmu."
Xia Zhu tidak mendongak, matanya tertuju pada makanan di piring, mendengar pria itu mengutarakan kerinduan dan perasaannya. Hati yang tadinya membeku kini perlahan mencair oleh setiap kata penuh rindu yang diucapkan pria itu.
Setelah beberapa gelas anggur, pipi Wang Zichuan mulai memerah. Suaranya terdengar sangat lembut, persis seperti saat mereka baru mulai menjalin hubungan dulu. Matanya penuh dengan kelembutan dan rasa berat hati untuk berpisah, menunjukkan betapa ia selalu memikirkan dan mengutamakan Xia Zhu.
Malam telah larut, suasana menjadi tenang. Mereka berjalan keluar dari restoran, menyusuri jalanan dengan langkah perlahan. Wang Zichuan sesekali menoleh ke arah Xia Zhu. Angin malam berembus pelan, membawa hawa dingin. Wang Zichuan melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahu Xia Zhu. Saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan, Wang Zichuan secara alami menggenggam telapak tangannya, mengusapnya lembut, "Kenapa tanganmu sedingin ini? Apakah tangan dan kakimu selalu terasa dingin saat musim dingin?"
"Hmm."
Kemudian, ia menautkan jemarinya dengan jemari Xia Zhu. Wajah Xia Zhu memancarkan senyum manis, ia berusaha menahan gejolak di hatinya agar tidak terlihat jelas.
Wang Zichuan mengantarnya sampai di depan pintu kamar hotel. Xia Zhu mengeluarkan kartu kunci untuk membuka pintu, namun pria itu terus menggenggam tangannya seolah enggan melepaskan. Keduanya berdiri berhadapan tanpa sepatah kata pun. Setiap adegan, setiap momen, terasa persis sama seperti masa lalu yang pernah mereka lalui bersama.
Xia Zhu memegang gagang pintu dan membuka suara lebih dulu, ia berpura-pura dingin, "Kembalilah, besok kau harus bekerja."
Pria itu melirik jam tangannya, tetap menggenggam tangan Xia Zhu dengan berat hati, "Masih terlalu dini, aku ingin bersamamu sedikit lebih lama."
"Sudah malam. Kau minum banyak sekali malam ini. Sekarang kau sudah menjadi dokter resmi, harus istirahat yang cukup agar besok bisa bekerja dengan semangat." Xia Zhu menatap dasi pria itu yang sedikit miring, lalu mengangkat tangan untuk merapikannya.
Tak disangka, Wang Zichuan menunduk, bibirnya mendekat ke wajah Xia Zhu dengan kelembutan dan rasa sayang yang tak terlukiskan, matanya penuh dengan kasih dan cinta. Hati Xia Zhu berdebar kencang. Ia membiarkan ciuman Wang Zichuan mendarat di keningnya, pangkal hidungnya, hingga akhirnya berhenti di bibirnya.
Seiring ciuman yang semakin dalam, tangan Wang Zichuan perlahan melingkari pinggang Xia Zhu. Tubuh mereka saling merapat, hingga mereka bisa merasakan detak jantung dan napas satu sama lain. Pada saat itu, waktu seolah berhenti. Dunia di sekitar mereka memudar, hanya menyisakan mereka berdua yang tenggelam dalam momen hangat dan romantis ini, saling memiliki dan memabukkan diri.
Wang Zichuan mengangkat tubuhnya, melangkah masuk ke dalam kamar, dan menendang pintu hingga tertutup. Arus emosi yang kuat membuat mereka tak kuasa menahan diri hingga perlahan jatuh ke atas ranjang yang empuk. Seprai menyapu kulit mereka, memberikan sensasi dingin yang nyaman. Mereka berpelukan dan berciuman erat, menuangkan rasa rindu dan perasaan selama tiga tahun terakhir ke dalam momen ini.
Intens, penuh gairah, dan tanpa keraguan.
Xia Zhu berbaring di ranjang, merasakan tatapan hangat dan mendesak dari Wang Zichuan. Pria itu berbisik di telinganya, "Aku sungguh sangat merindukanmu. Jangan marah lagi padaku, ya? Aku tahu aku salah. Aku tidak ingin berpisah darimu, jangan mengusirku lagi, ya?"
Suaranya rendah dan tulus, sarat dengan kesedihan dan keterikatan yang mendalam. Xia Zhu menangkup wajahnya, bertanya dengan sungguh-sungguh, "Apakah kau mencintaiku?"
Wang Zichuan membelai rambut Xia Zhu dengan lembut, "Cinta."
Cahaya bulan menembus tirai tipis, menyinari wajah Wang Zichuan. Dalam kegelapan itu, Xia Zhu diam-diam mendengarkan ungkapan cintanya, dan sebuah aliran hangat membuncah di dalam hatinya. Keduanya tenggelam dalam kemesraan, hingga sebuah dering ponsel memecah ritme mereka.