Bab 23: Mata Pun Bisa Berbohong
Kembali ke departemen desain, Xia Zhu langsung menuju kantor Hasan.
Hasan sedang bersandar di kursi sambil bermain gim ponsel. Saat momen menegangkan, ia mendongak dan melihat Xia Zhu dengan wajah dingin dan tatapan penuh aura membunuh. Hasan seperti tikus yang bertemu kucing, ia panik dan ingin bersembunyi, tetapi tidak ada tempat untuk bersembunyi di kantor itu.
Xia Zhu sengaja tidak menutup pintu kantor. Ia meletakkan kedua tangannya di depan meja kerja, membungkukkan badan, dan berbisik dengan marah, "Hasan, ini yang terakhir kalinya. Jika kau memanfaatkanku lagi dan mendorongku untuk menjadi kambing hitam, aku pasti akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, mencungkil tulangmu, dan mengaduk isi otakmu."
Tengkuk Hasan terasa dingin, ponsel di tangannya jatuh ke lantai. Ia menelan ludah dan mengangguk.
"Semua potongan biaya dan kompensasi untuk klien, potong dari bagianmu."
Tangan Hasan gemetar saat ia mengambil dompet dari laci, mengeluarkan kartu Visa, dan menyerahkannya dengan kedua tangan. "Ratu, mohon jangan campakkan aku. Aku bersedia memberikan upeti kepadamu tepat waktu dan di tempat yang ditentukan."
Xia Zhu melirik kartu bank itu dan mengambilnya. "Jika kau tidak bekerja dengan serius lagi, aku akan menguras kartumu sampai habis dan menjual rumahmu."
Ponsel yang terbalik di lantai mengeluarkan suara "kalah", memecah suasana dingin di antara mereka berdua.
Hasan sedikit memiringkan tubuhnya, melirik ke arah pintu karena takut staf di luar akan melihat dirinya yang merendahkan diri memohon kepada Xia Zhu. Tangan kirinya memegangi dada, sementara tangan kanannya terangkat. "Aku bersumpah, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."
"Tidak nyambung."
Xia Zhu mengambil kartu bank itu dan berjalan pergi dengan angkuh menuju kantornya sendiri. Ia memasukkan kartu bank ke dalam dompetnya, namun kejengkelan di hatinya terhadap Hasan belum juga sirna.
Ia duduk di meja kerja, merapikan daftar pekerjaan yang harus dilakukan, lalu mengurutkannya berdasarkan prioritas.
Sun Yue masuk dengan mendorong manekin. Di lengannya tersampir setelan jas setengah jadi berwarna abu-abu tua.
Xia Zhu melirik sekilas sambil terus mengetik jadwal kerja di papan tik komputer, lalu bertanya, "Bagaimana hasilnya?"
Sun Yue memakaikan bahan setengah jadi itu ke manekin. Ia terbata-bata cukup lama tanpa bisa memberikan deskripsi yang jelas. "Kak, apakah bagian bahunya terlalu lebar? Rasanya kurang pas."
Xia Zhu mendongak. Jari telunjuk Sun Yue menunjuk ke garis jahitan bahu kiri, di mana beberapa jarum pentul terpasang sebagai penanda jahitan. Seluruh setelan jas itu belum dijahit, baru berupa potongan kain.
Potongan kain tersebut telah dijahit secara kasar oleh Sun Yue agar bisa terlihat bentuknya secara umum.
"Abaikan itu dulu." Xia Zhu menjauhkan tangannya dari papan tik, mencari sketsa di antara tumpukan kartu warna kain dan draf di mejanya. "Model ini perlu diubah bagian sakunya. Siapkan semua bahan pelengkapnya, lalu kirimkan ke pabrik garmen."
Sun Yue menerima sketsa itu. "Bukankah model ini sudah diminta untuk dibuat sampelnya sejak minggu lalu?"
"Sudah dihentikan. Cari waktu hari ini untuk mengirimnya."
Sun Yue mengangguk. "Baik."
***
Xia Zhu tiba-tiba merasa sakit kepala. Kurang tidur membuat migrainnya kambuh lagi. Ia memijat pelipisnya dan berkata kepada Sun Yue, "Tolong belikan aku kopi."
"Americano dingin?"
"Ya."
Dari sudut matanya, ia melihat Sun Yue keluar kantor dan menutup pintu. Suara percakapan rekan kerja di luar dan langkah kaki yang lalu lalang seketika teredam. Telinganya akhirnya menjadi tenang, dan kejengkelan di hati Xia Zhu sedikit mereda. Ia memusatkan perhatian pada pekerjaannya, menyelesaikan satu per satu sesuai dengan daftar yang telah dibuat.
Ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk, tetapi Xia Zhu tidak menghiraukannya.
Bunyi pesan kedua, ketiga, keempat...
Pesan masuk bertubi-tubi.
Bibir Xia Zhu mengerucut, alisnya mengernyit seketika. Matanya menunjukkan rasa cemas dan tidak sabar yang jelas. Kesepuluh jarinya menggantung di atas papan tik, lalu ia menoleh menatap layar ponsel yang menyala.
Pesan terbaru dikirim oleh Wang Ziyun satu menit yang lalu.
Xia Zhu mengambil ponselnya untuk memeriksa. Wang Ziyun mengirim banyak pesan, tetapi pandangan Xia Zhu hanya tertuju pada pesan terakhir—Bosmu itu kapitalis sekali ya, suruh saja kau tinggal di kantor sekalian. Kau tidak sedang bekerja terus tanpa istirahat, kan?
Kekacauan pikiran akibat pekerjaan membuat Xia Zhu tidak bisa menahan amarahnya. Ia tidak ingin tahu apa lagi yang dikatakan Wang Ziyun kepadanya, ia membalas pesan itu—Mulai sekarang jangan bawa pria ke rumahku lagi. Ini peringatan terakhir.
Xia Zhu keluar dari halaman obrolan dan melihat pesan serta panggilan tak terjawab dari Xia Meijuan.
Setelah dibuka, Xia Meijuan berkata—Pamanmu menelepon pagi-pagi sekali, katanya anggrek yang dirawat nenekmu sudah hidup kembali, dan nenekmu juga sudah mau makan dengan baik. Sepertinya obat yang diberikan temanmu sangat manjur. Jangan lupa sampaikan terima kasihku kepada temanmu.
Jari Xia Zhu bergerak lincah di layar, membalas—Baik.
Sebagai orang yang menepati janji, Xia Zhu mencari nama Ji Fusheng di daftar kontaknya dan mengirim pesan—Anggreknya sudah hidup, terima kasih.
Ji Fusheng membalas seketika—Makan besar ditambah satu porsi lagi, sama-sama.
Tak lama kemudian, ia menerima pesan lagi dari Wang Ziyun. Di halaman notifikasi, Xia Zhu melihat penjelasan Wang Ziyun—Semalam aku mabuk, aku tidak ingat...
Xia Zhu tidak berminat untuk mengetahui apa yang terjadi pada Wang Ziyun semalam. Ia hanya peduli bahwa batas kesabarannya telah diinjak-injak, dan kejengkelan yang menumpuk di lubuk hatinya meledak saat ini juga.
Hubungan antara Xia Zhu dan Wang Ziyun bukan sekadar tetangga, orang tua mereka pun berteman baik. Keduanya bersekolah di sekolah yang sama sejak SD, SMP, hingga kuliah. Bahkan setelah lulus kuliah, mereka memilih untuk tetap tinggal dan bekerja di Kota Li, tidak pernah terpisahkan.
Keduanya ibarat McDonald's yang selalu ada di dekat KFC.
Meskipun persahabatan mereka sedekat saudara, Xia Zhu sering merasa terganggu dengan gaya kerja Wang Ziyun yang hanya semangat di awal dan tidak logis. Wang Ziyun adalah putri dari keluarga kaya yang dimanja sejak kecil, tentu ia tidak tahu apa itu mengalah dan bersabar. Ia hanya akan bertindak sesuka hati, apa pun yang diinginkannya harus didapatkan.
Sementara Xia Zhu yang tumbuh di keluarga orang tua tunggal, tentu tidak memiliki rasa percaya diri untuk bersaing dengan pihak lain. Bahkan jika Wang Ziyun berulang kali membawa pria asing ke rumahnya untuk bermalam, yang bisa dilakukan Xia Zhu hanyalah bersabar.
Saat ini, Xia Zhu sendiri tidak tahu mengapa ia tidak ingin bersabar lagi. Ia seperti tabung gas yang bocor, sedikit demi sedikit mengeluarkan amarahnya. Seandainya pihak lain memantik api, itu pasti akan menjadi ledakan besar.
Pesan dari Wang Ziyun terus berdatangan. Selain penjelasan basa-basi itu, tidak terlihat sedikit pun rasa malu darinya. Xia Zhu membungkam ponselnya dan melemparkannya ke dalam laci.
Menjelang siang, kepala Xia Zhu terasa semakin sakit, matanya terasa berat dan hampir tertutup dengan sendirinya.
Sun Yue datang membawakan segelas Americano dingin yang terasa sejuk di tangan. Ia memasang sedotan dengan perhatian. "Kak, apakah ini terlalu dingin? Hari ini di luar cukup dingin, apakah perlu aku ganti dengan yang hangat?"
"Tidak perlu, terima kasih." Xia Zhu menerima kopi itu dan meminumnya dalam jumlah besar.
Sensasi dingin menjalar dari ujung lidah hingga turun ke tenggorokan, kemudian seluruh rongga dadanya terasa dingin, dan suhu tubuhnya ikut menurun.
Sun Yue berdiri di sampingnya dan bertanya dengan ragu, "Kak, kenapa saat rapat tadi kau tidak bilang kepada bos bahwa pesanan yang salah itu bukan masalahmu?"
Xia Zhu memegang gunting untuk memotong sampel kain dan menempelkannya pada sketsa. Ia berkata dengan acuh tak acuh, "Siapa pun yang dijadikan kambing hitam itu sama saja. Selalu harus ada seseorang yang berdiri atau didorong keluar. Terkadang benar atau salah tidak penting, yang penting adalah apakah masalahnya ada jalan keluarnya."
"Itu terlalu menyesakkan."
Xia Zhu tersenyum tipis. "Saat aku baru lulus, aku juga berpikir begitu."
Sun Yue merasa tidak adil untuk Xia Zhu. "Meskipun Hasan adalah atasan, tapi mendorong orang yang disukainya untuk menjadi tumbal itu terlalu jahat."
Xia Zhu bertanya, "Dari mana kau tahu dia menyukaiku?"
"Semua orang bilang begitu." Suara Sun Yue naik turun. "Lagi pula, biasanya kalian terlihat cukup mesra."
Xia Zhu menguap dan menggaruk lehernya. "Saat air jernih ada ikannya, ikannya pun belum tentu mudah ditangkap."
"Apa maksudnya?"
"Mata pun bisa berbohong."
Hukum bertahan hidup orang dewasa adalah kemunafikan, menyembunyikan ketajaman, dan berpura-pura.
Satu-satunya yang tidak ada adalah ketulusan dan kebenaran.