Bab 43: Menguak Kebenaran
Meng Shifang tak kuasa mendengus dingin di dalam hati. Rupanya, yang dimaksud Kaisar dengan keputusannya sendiri adalah mengumpulkan sekelompok orang untuk menguji obat.
Sebab di dalam lubuk hati Sang Kaisar, nyawa orang-orang ini sama sekali tidak ada artinya.
Pil obat buatan Meng Shifang pun turut diserahkan kepada kasim.
Beberapa kultivator yang belum berhasil meracik pil obat diseret keluar oleh para pengawal kekaisaran yang bertubuh tegap. Tidak ada yang tahu apa nasib yang akan menanti mereka.
Sementara itu, para kultivator yang berhasil meracik pil tidak bisa langsung pergi begitu saja. Mereka harus tetap tinggal di istana untuk menunggu reaksi dari orang-orang yang dijadikan kelinci percobaan tersebut.
Meng Shifang dan yang lainnya dikembalikan ke halaman tempat mereka menginap.
Jika situasi ini berlangsung lama, siapa pun pasti akan merasa enggan, terlebuh lagi Meng Shifang dibawa ke tempat ini secara paksa.
Tak lama kemudian, Kaisar untuk kedua kalinya memanggil para kultivator tersebut menghadap.
Saat hendak pergi kali ini, Meng Shifang mendapati banyak pengawal kekaisaran berjaga di luar Aula Weiyang. Ia memiliki firasat buruk bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.
Sang Kaisar masih duduk di singgasana megah di tengah aula, hanya saja kali ini sebuah paravaran dipasang di hadapannya sehingga sosoknya tidak terlihat jelas. Orang-orang hanya bisa menebak dari suaranya bahwa sosok di balik paravaran itu adalah Sang Kaisar.
Begitu mereka masuk, pintu besar aula langsung ditutup rapat-rapat.
Ni Yingqiu dan Yuan Liang berdiri di sisi ruangan, sementara sang kasim justru berdiri di tempat yang lebih tinggi dengan suara melengking dan nyaring, "Kondisi kesehatan Yang Mulia hari ini sedang kurang baik, sehingga beliau tidak dapat menemui kalian secara langsung."
Dari balik paravaran, Kaisar terbatuk-batuk beberapa kali lalu berkata, "Kalian semua telah bekerja keras. Semangkuk sup ginseng yang khusus kuutus untuk dikirimkan kepada kalian kemarin, apakah sudah kalian minum?"
"Itu adalah Cacing Gu Kembar yang secara khusus kusuruh dicari oleh Guru Spiritual untuk kalian. Jika aku meminum pil racikan kalian dan sesuatu yang buruk terjadi padanku, kalian tidak akan bisa melarikan diri seorang pun!" Suara Kaisar terdengar kejam dan dingin, disusul dengan tawa berderai setelah ia selesai berbicara.
Para kultivator kontan terperanjat pucat pasi. Mereka buru-buru melihat ke pergelangan tangan masing-masing, dan benar saja, sebuah pola laba-laba hitam telah muncul di sana.
Di saat para kultivator saling berpandangan dengan cemas, seseorang tiba-tiba memegangi perutnya dan menjerit nyaring.
Kerumunan kultivator sontak membubarkan diri. Terlihat orang itu kesakitan hingga sekujur tubuhnya dibanjiri keringat dingin, meringkuk di lantai sambil mendekap perutnya.
Melihat hal itu, Kaisar kembali tertawa dengan menyeramkan, "Sudah bereaksi! Sudah bereaksi!"
Begitu satu orang jatuh, yang kedua dan ketiga langsung menyusul. Para kultivator berjatuhan satu per satu. Di dalam Aula Weiyang, suara ratapan kesakitan langsung membahana dari segala penjuru.
Melihat pemandangan tersebut, Meng Shifang ikut-ikutan berbaring di lantai menirukan yang lain.
"Guru!" seru Zhao Xingchen cemas saat melihat Meng Shifang terkapar di lantai.
Hua Yi turut memapah Meng Shifang dan bertanya dengan berbisik, "Kapan kau meminum sup ginseng itu? Bukankah sudah kutumpahkan? Apakah kau merayap di lantai dan menjilatnya?"
Meng Shifang melirik Hua Yi dengan kesal, "Tutup mulutmu, aku hanya berpura-pura!"
"Guru, Guru, Anda tidak apa-apa!" Melihat itu, Hua Yi buru-buru berteriak, seolah hendak meratapi kematian Meng Shifang.
Meng Shifang memasang ekspresi jijik, berbaring dalam pelukan Zhao Xingchen sambil menjalankan aktingnya dengan penuh tanggung jawab.
Mendengar ratapan itu, tawa Sang Kaisar terdengar semakin gembira. Semakin menderita orang-orang ini, semakin ia merasa senang dan terhibur.
Setelah puas tertawa, ia memberi isyarat dengan pandangan matanya kepada Guru Spiritual.
Yuan Liang pun melangkah maju dan berkata, "Cacing Gu Kembar ini akan kambuh setiap setengah bulan sekali. Saat kambuh, rasanya akan sangat menyiksa hingga membuat kalian ingin mati. Setiap setengah bulan, kalian bisa datang ke tempatku untuk mengambil satu butir penawar."
Usai berkata demikian, ia melambaikan tangan. Para pelayan istana segera maju membawa nampan berisi obat dan menghampiri para kultivator satu per satu.
Para kultivator yang sudah tak tahan menahan sakit itu langsung mengambil pil tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.
Melihat orang pertama yang meminumnya lekas pulih, yang lain pun turut mengikuti dan menelan pil penawar itu.
Sementara itu, Meng Shifang menyembunyikan pil tersebut ke dalam lengan bajunya.
"Kalian para kultivator tidak perlu khawatir!" Kaisar tiba-tiba angkat bicara. "Selama kalian tidak berbuat macam-macam, aku tidak akan mengurangi satu butir pun pil yang seharusnya menjadi hak kalian. Mengingat kalian bekerja di istana, tentu saja kalian harus mematuhi aturan istana!"
"Aturan istana?" Meng Shifang tiba-tiba bersuara. "Aturan istana yang seperti apa? Apakah aturan di mana kami telah bekerja keras meracik pil untuk Kaisar selama sebulan penuh namun masih harus diracuni Gu, atau aturan di mana kami harus ikut mati dikuburkan bersama!"
"Lancang!" Masalah ini dibongkar dan diangkat secara terang-terangan oleh Meng Shifang, membuat Kaisar merasa harga dirinya jatuh. "Jangan lupa, kalian telah menelan Cacing Gu Kembar. Tanpa penawar dariku, kalian hanya akan menemui jalan buntu!"
"Jalan buntu?" Meng Shifang mengalirkan energi sejati di dalam tubuhnya, menghancurkan paravaran yang menghalangi sosok Kaisar.
Wajah Sang Kaisar kontan tersingkap di hadapan semua orang.
Banyak kultivator yang langsung menarik napas dingin begitu melihatnya.
Terlihat wajah Sang Kaisar dipenuhi dengan lebam mayat berwarna hitam keunguan, bahkan ada bagian daging di dagunya yang sudah membusuk.
Yang lebih mengerikan lagi, begitu paravaran itu hancur, aroma bau bangkai langsung tercium menyengat.
Kaisar tampak kebingungan dan buru-buru menutupi wajahnya dengan lengan jubahnya yang lebar.
"Untuk apa takut pada jalan buntu? Lagipula aku telah hidup selama ribuan tahun, segala hal yang seharusnya dilihat dan dinikmati sudah pernah kualami, tetapi Kaisar tentu berbeda!" Meng Shifang menatapnya dingin. "Jika aku tidak salah ingat, usia Kaisar seharusnya baru menginjak tiga puluh lima tahun, bagaimana bisa wajahnya sudah penuh dengan lebam mayat? Benar kan—Li Shifu!"
"Lancang! Beraninya kau menyebut nama leluhur secara langsung?" Sang kasim mendahului Kaisar dan membentak lebih dulu.
Meng Shifang terkekeh dingin. "Leluhur? Seharusnya kau tanyakan siapa nama sebenarnya dari orang yang berdiri di sebelahmu ini!"
"Kurang ajar, usir dia keluar dan jebloskan ke penjara bawah tanah!" seru Kaisar sambil menunjuk ke arah Meng Shifang.
Mendengar teriakan Kaisar, para pengawal kekaisaran di luar mendobrak pintu dan mengepung Meng Shifang rapat-rapat.
Meng Shifang memunculkan pedang panjang di tangannya. Seiring dengan aliran kekuatan spiritual, pedang itu memancarkan kilau dingin yang tajam.
"Kaisar begitu murka, jangan-jangan ucapanku tepat sasaran? Seorang kaisar dari dinasti sebelumnya yang menduduki tubuh cucu buyutnya sendiri, demi memohon umur panjang, tega merogoh kocek dalam-dalam untuk meminta para kultivator meracik pil, dan sekarang bahkan ingin semua orang mati mendampinginya!" Meng Shifang menuding Kaisar dengan pedangnya seraya berkata satu per satu dengan jelas, "Kau adalah penguasa sebuah negeri, namun melakukan perbuatan semacam ini. Masih pantaskah kau menerima cinta kasih dari rakyatmu, dan pantaskah para pangeran serta cucu kerajaan memuja papan rohmu di kuil leluhur? Kau sudah bukan manusia lagi, kau adalah siluman!"
Mendengar kata "siluman", Kaisar tampak terpukul oleh sesuatu. Ia menyapu bersih semua benda di atas meja dengan kibasan tangannya dan menunjuk Meng Shifang sambil memaki murka, "Omong kosong, bicara sembarangan, cepat tangkap dia!"
Raga yang saat ini diduduki oleh Li Shifu terus-menerus melakukan perlawanan sengit di dalam. Begitu ia berhasil sepenuhnya menguasai tubuh tersebut, proses pembusukan justru terjadi akibat kematian raga aslinya, itulah sebabnya ia begitu mendambakan pil keabadian.
Ia harus mencari cara untuk mempertahankan daging ini, sebab raga inilah yang paling nyaman digunakannya selama bertahun-tahun belakangan.
Para pengawal kekaisaran itu serempak mencabut pedang dan menyerang Meng Shifang yang berada di tengah.
Namun bagaimana mungkin orang-orang ini menjadi tandingan Meng Shifang? Hanya dengan sekali ayunan pedang dari Meng Shifang, mereka langsung terpental jauh ke belakang.
Meng Shifang mendorong Hua Yi dan Zhao Xingchen ke arah Ni Yingqiu, lalu dengan ujung kaki berpijak ringan, ia melesat terbang menuju hadapan Kaisar.