Bab 10: Jika Harus Menyalahkan, Salahkan Dirimu yang Tak Seharusnya Kembali!
Meskipun musim panas telah tiba, air di kolam itu masih terasa dingin menusuk tulang.
Qiao Luoyao tidak bisa berenang, tetapi ia sangat mengenal kolam ini; ia tahu bagian mana yang dangkal dan bagian mana yang dalam.
"Yunqing, jangan takut, Kakak datang!"
Ia berteriak, namun tubuhnya tidak bergerak untuk menolong. Kedua lengannya hanya mengayuh air agar tetap seimbang, sementara kakinya berpijak kuat di dasar kolam. Ia menatap dingin ke arah sosok di dalam air yang terus meronta, sesekali muncul ke permukaan sebelum kembali tenggelam.
Entah karena sudah terlalu banyak menelan air atau sebab lain, Qiao Yunqing bahkan tidak mampu meneriakkan kata "tolong". Ia hanya bisa mengeluarkan suara-suara lirih tanpa arti, layaknya anak hewan yang sedang sekarat.
Mata Qiao Luoyao menyipit, secercah kepuasan akan balas dendam akhirnya muncul di hatinya.
Belum cukup, tunggu sebentar lagi...
Aku harus menyelamatkannya tepat saat nyawanya berada di ujung tanduk. Dengan begitu, kelak ia akan lebih memercayaiku dan patuh hanya padaku.
"Ugh... ugh..."
Sosok yang meronta di dalam air itu seolah melihat Qiao Luoyao dan mengulurkan tangannya.
"Bertahanlah sebentar lagi, Kakak segera datang."
Ia merasa waktunya sudah tepat, namun ia tetap bergerak mendekat dengan sengaja melambat-lambatkan diri. Namun, orang di dalam air itu meronta terlalu kuat. Cipratan air yang ditimbulkan mengenai wajahnya hingga ia sulit membuka mata, bahkan gelombang air itu membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.
"Yunqing, tenanglah sedikit."
Hati Qiao Luoyao tiba-tiba diliputi rasa panik, dan sosok itu kembali tenggelam.
Sudah waktunya, ia harus menyelamatkannya sekarang.
Ia menarik napas dalam-dalam dan menyelam ke dalam air. Tangannya meraba-raba ke segala arah, namun selalu meleset dari pakaian orang itu. Tiba-tiba, sepasang tangan mencengkeram pinggangnya dengan erat. Qiao Luoyao terkejut, belum sempat ia bereaksi, ia sudah ditarik ke bagian air yang lebih dalam.
"Ugh... ugh..."
Qiao Luoyao menutup mulutnya, berusaha sekuat tenaga menendang Qiao Yunqing yang melilitnya seperti hantu air. Jika terus begini, ia pun bisa ikut tenggelam. Strategi yang ia jalankan ini awalnya memang sebuah perjudian yang berbahaya.
"To-tolong!"
Didorong oleh hasrat untuk bertahan hidup, Qiao Luoyao akhirnya berhasil melepaskan diri. Saat ia memiliki kesempatan untuk muncul ke permukaan dan bernapas, ia menyadari bahwa bala bantuan yang dipanggil oleh Luoluo belum juga tiba.
Di mana Luoluo? Apa yang sedang ia lakukan?
Qiao Luoyao panik luar biasa. Tiba-tiba, pergelangan kakinya dicengkeram dari dalam air, membuatnya kembali terseret tenggelam. Namun kali ini, ia berhasil melepaskan diri dengan sangat mudah. Ia tahu, Qiao Yunqing sudah tidak mampu bertahan lagi.
Dalam rencananya, Qiao Yunqing seharusnya diselamatkan olehnya agar gadis itu menjadi penurut. Qiao Luoyao mengulurkan tangan ke arahnya, namun sebuah pikiran melintas di benaknya.
Bagaimana jika...
Bagaimana jika membiarkan Qiao Yunqing tenggelam saja?
Bukankah dengan begitu dirinya akan kembali menjadi satu-satunya putri sah di kediaman Tuan Qiao? Tidak akan ada lagi orang di dunia ini yang bisa merebut kedudukannya atau membagi kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya!
Saat sosok di air itu hampir menyentuh tangan Qiao Luoyao, ia tiba-tiba menarik tangannya kembali.
Dia... dia meronta terlalu kuat, aku sama sekali tidak bisa menyelamatkannya...
Ia menghibur dirinya sendiri, mencoba menutupi niat jahat di dalam hatinya. Lebih baik biarkan saja dia tenggelam. Nanti aku akan katakan bahwa aku sudah berusaha namun tidak berdaya, lalu berakting seolah merasa bersalah. Mungkin dengan begitu, aku justru bisa mendapatkan reputasi sebagai orang yang berniat menolong.
Ia memutuskan rencananya dalam sekejap.
"Cepat! Nona-nona jatuh ke kolam di depan sana!"
Suara Luoluo terdengar, diikuti suara langkah kaki yang terburu-buru. Qiao Luoyao berenang menuju permukaan, berniat melepaskan diri dari Qiao Yunqing, namun tak disangka orang itu memiliki hasrat hidup yang sangat kuat hingga terus menarik ujung pakaiannya dan ikut terbawa ke permukaan.
"Ah! Nona Besar ada di sana!"
Qiao Luoyao melirik bala bantuan yang datang, lalu menatap kembali ke dalam air. Hatinya mengeras. Ia justru mencengkeram rambut orang itu dan menekannya sekuat tenaga ke dalam air, sementara wajahnya dipasang seolah-olah sedang berjuang keras untuk menutupi perlawanan Qiao Yunqing.
Maafkan aku, Qiao Yunqing. Jika ingin menyalahkan seseorang, salahkanlah dirimu sendiri karena telah kembali!
"Nona Besar, Nona Kedua, bertahanlah!"
Para pelayan melompat ke dalam air untuk menolong. Qiao Luoyao melepaskan tangannya, dan Qiao Yunqing tenggelam ke dasar kolam tanpa gerakan lagi...
Berhasil, aku berhasil...
Pikirannya kosong. Setelah dibawa ke tepi kolam, ia bahkan tidak menyadari saat Luoluo menyampirkan pakaian ke tubuhnya.
"Nona Besar? Nona Besar!"
Luoluo ketakutan setengah mati melihat wajah Qiao Luoyao yang pucat pasi. Ia terus menggosok lengan majikannya agar tubuh yang dingin itu kembali hangat.
"Yunqing... Yunqing..."
Rasa panik karena telah mencelakai orang lain dan euforia karena rencananya berhasil bercampur aduk di hati Qiao Luoyao. Ia jatuh terduduk di tanah, tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya yang menangis sekaligus tertawa. Ia hanya ingat bahwa ia harus terus berakting, harus menunjukkan kasih sayang seorang kakak dan memastikan semua orang tahu bahwa ia sudah berusaha menolong namun tak berdaya!
"Kakak, apakah Anda memanggilku?"
Tiba-tiba, suara yang familiar terdengar dari atas kepalanya. Ujung gaun bermotif daun teratai berwarna biru air muncul di pandangan Qiao Luoyao.
Apa?
Kepalanya terasa berdenyut keras. Ia mendongak. Qiao Yunqing membungkuk sedikit, wajahnya yang cantik miring dengan tatapan mata yang polos.
Qiao... Qiao Yunqing? Bukankah seharusnya dia...
Jantung Qiao Luoyao seolah berhenti berdetak. Seperti melihat hantu, ia segera menoleh ke arah orang yang baru saja ditarik dari dalam air. Di antara helai rambut yang tersingkap, terlihat wajah yang pucat keabu-abuan. Wajah itu membuat Qiao Luoyao merasa familiar sekaligus hancur.
"Qing... Qingzhi..."
Ia berucap dengan tatapan kosong, tubuhnya lemas tak berdaya. Ia telah menyusun rencana yang begitu mengerikan, namun hasilnya justru meleset.
"Bagaimana bisa Nona Besar dan pelayan pribadinya terjatuh ke dalam kolam secara bersamaan?"
Di belakang Qiao Yunqing berdiri Nyonya Liu, yang juga tampak gemetar melihat situasi di hadapannya. Saat itu, seorang pelayan melaporkan, "Nyonya Liu, Qingzhi telah tiada."
Begitu kata-kata itu terucap, semua orang yang hadir tertegun.
Nyonya Liu terhuyung, namun Qiao Yunqing segera menopangnya.
Mengapa Qingzhi bisa mati?
Tapi di kehidupan sebelumnya...
Kabar kematian Qingzhi membuat Qiao Yunqing terkejut dan heran. Ia melirik sekilas ke arah Qingzhi, dan benar saja, gadis itu sudah tidak bernapas. Padahal di kehidupan sebelumnya, setelah ia didorong ke dalam air, Qiao Luoyao lah yang menyelamatkannya. Justru karena tindakan Qiao Luoyao yang mempertaruhkan nyawa itulah ia menjadi sangat memercayai dan dekat dengan kakaknya.
Namun di kehidupan ini, Qingzhi menggantikannya jatuh ke air, dan akhirnya justru berubah.
Kalau begitu...
Qiao Yunqing menatap Qiao Luoyao yang basah kuyup. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, dan matanya enggan menatap ke arah Qingzhi. Pada titik ini, apa lagi yang tidak dimengerti oleh Qiao Yunqing?
Ia memejamkan mata, kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan. Ternyata di kehidupan sebelumnya, Qiao Luoyao sudah berniat membunuhnya sejak lama. Hanya saja, karena penyelamatan di kehidupan sebelumnya datang lebih cepat, Qiao Luoyao tidak memiliki kesempatan untuk beraksi dan justru menjadikannya sebuah kisah kepahlawanan.
Ternyata, kepercayaan yang ia berikan sejak awal adalah sebuah kesalahan yang terbungkus racun!
"Kakak, kaulah yang membunuh Qingzhi."
Qiao Yunqing melangkah maju, mengucapkan setiap kata dengan penekanan. Mata jernihnya memancarkan kemarahan dan tuntutan, seolah-olah ia sedang menagih keadilan untuk dirinya di kehidupan yang lalu.
"Ti... tidak..."
Qiao Luoyao ketakutan melihat tatapan itu. Perasaan bersalah dan takut menyelimutinya rapat-rapat.
"A-aku ingin menyelamatkannya, hanya saja... dia meronta terlalu kuat, jadi... karena itulah..."
Ia berusaha membela diri, namun ia melihat tatapan orang-orang di sekitarnya mulai dipenuhi kecurigaan. Saat mereka tiba, banyak yang melihat ada dua sosok yang meronta di dalam air, namun setelah mereka masuk ke kolam, salah satu sosok itu tiba-tiba diam. Tidak ada yang berani bicara, tidak ada yang berani berkomentar.
Qiao Luoyao menatapnya dengan dingin, sementara Qiao Luoyao sendiri tak lagi bisa berkutik di bawah tatapan itu.
"Ada apa ini? Bagaimana bisa Yaoyao-ku jatuh ke dalam kolam?"
Kabar jatuhnya seseorang di Taman Jing mengejutkan Nyonya Tua di kediaman itu. Begitu mendengar bahwa salah satu orang yang jatuh adalah cucu kesayangannya, Nyonya He segera datang membawa para pelayan dan pengasuh.
Nenek!
Qiao Luoyao merasa seolah menemukan penyelamat. Hatinya tergerak, ia segera memejamkan mata dan jatuh pingsan di pelukan Luoluo.
Luoluo berteriak panik, "Nona Besar! Nona Besar!"
"Aduh, cucu kesayanganku!"
Begitu Nyonya He melihat Qiao Luoyao yang pingsan di antara kerumunan, hatinya terasa sangat sakit.
"Apa yang kalian lakukan berdiri diam saja? Cepat bawa Nona Besar kembali ke kamarnya dan panggil tabib untuk memeriksanya!"