Bab Dua Puluh Lima: Keajaiban yang Misterius
Qiao menutup matanya dan berkata, “Ada!”
“Benarkah!” Mata Lin Xiaotang langsung berbinar.
Qiao perlahan membuka matanya, wajahnya berubah serius, “Sebulan lagi, aku akan pergi dari sini untuk sementara waktu. Saat itu, aku akan meninggalkan empat buku teknik pertempuran untuk kalian berempat. Ini adalah teknik yang kususun dari ingatanku setelah mengamati kalian dan menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Awalnya, aku hanya berniat memberimu satu buku, tapi melihat betapa pedulinya kau pada tiga orang itu, aku sekalian memberimu hadiah besar: khusus untuk mereka bertiga, aku juga menyiapkan satu teknik pertempuran yang cocok dengan kemampuan mereka.”
Mendengar itu, hati Lin Xiaotang sedikit tenang. Asal-usul Qiao selama ini menjadi misteri di benaknya, tapi karena Qiao tak pernah bicara, Lin Xiaotang pun tak ingin bertanya. Selama ini, Qiao selalu berperan sebagai mentornya, dan Lin Xiaotang sama sekali tak meragukan kemampuannya.
Lin Xiaotang pernah menebak tingkat kekuatan Qiao, dan kira-kira, setidaknya dia adalah ahli tingkat jiwa. Satu-satunya hal aneh baginya adalah energi yang dipancarkan Qiao, bukan berasal dari energi Tao maupun energi bela diri, melainkan tampaknya merupakan energi yang lazim di Benua Mingxi—yaitu energi pertempuran.
Qiao melanjutkan, “Asalkan Xiao Lan berlatih teknik pertempuran yang kutinggalkan dengan baik, tak lama lagi ia bisa mengeluarkan racun dari tubuhnya sendiri.”
“Terima kasih, Qiao, kau memang sahabatku sejati!” kata Lin Xiaotang dengan santai.
Qiao tiba-tiba mengernyitkan dahi, “Tang Lin, aku ini bukan sahabatmu. Selama beberapa bulan ini, bukankah sudah waktunya kau memanggilku guru?”
Eh... Lin Xiaotang menatap Qiao yang tiba-tiba serius dengan heran, lalu tertawa sambil melambaikan tangan, “Hahaha, begitu juga kau harus memanggilku guru! Beberapa bulan ini aku juga sering mengajarimu soal obat-obatan.”
Terhadap sifat Lin Xiaotang yang selalu santai, Qiao hanya bisa pasrah, lalu berkata datar, “Sebulan lagi, buku teknik pertempuran yang kutinggalkan untukmu adalah jurus terkuat yang bisa kuingat saat ini. Tidak ada gerakan, hanya metode mempercepat peningkatan energi. Aku samar-samar ingat, ini salah satu teknik dalam terkuat yang pernah kumiliki, hanya saja aku lupa nama aslinya. Aku beri kau waktu tiga tahun, kau harus melatih energi hingga mencapai angka 100.”
Untuk pertama kalinya melihat Qiao sebegitu serius, Lin Xiaotang sedikit ragu, lalu bertanya, “Jika tidak bisa mencapai itu, apa yang terjadi?”
Wajah Qiao tiba-tiba menampilkan senyum aneh, “Kalau tidak, kau akan mati.”
“Apa!” Lin Xiaotang memandang Qiao dengan kaget, lalu tertawa, “Jangan bercanda, bos, selera humormu benar-benar payah.”
Qiao sedikit menggerakkan alis, matanya memancarkan keraguan, seolah sedang mencemaskan sesuatu, “Tak percaya? Coba lihat telapak kakimu.”
Lin Xiaotang berhenti tertawa, dengan curiga ia melepas kaus kakinya, dan saat melihat telapak kakinya, ia terperanjat. Seluruh telapak kakinya berwarna biru tua, apa artinya ini?
Melihat ekspresi Lin Xiaotang, Qiao tampak puas. Hanya dengan begini, hatinya akan benar-benar tergugah. “Masih ingat yang pernah kukatakan? Cairan esensi yang meresap ke dalam tubuhmu juga melarutkan sebagian energiku, walaupun hanya sekitar dua puluh persen dari puncak kekuatanku, tapi bagimu itu sudah sangat besar. Seperspuluh saja sudah cukup membuat tubuhmu meledak. Sejak detik pertama energi itu masuk ke tubuhmu, aku tidak pernah berhenti menekannya dengan kekuatan jiwaku sampai akhirnya bisa benar-benar tersegel. Saat ini, semuanya tersegel di kedua kakimu. Jangan khawatir, selama tiga tahun ke depan tidak akan ada pengaruh apa pun kecuali perubahan warna di telapak kaki. Tapi setelah itu, segel akan lenyap, dan energi besar itu akan mengamuk tak terkendali. Jika kau tak punya kekuatan cukup untuk mengendalikannya dan mengeluarkannya, kau akan menggelembung seperti balon yang terus dipompa sampai akhirnya meledak.”
Lin Xiaotang merasa seolah baru saja tertimpa batu besar dari langit, tertegun lama. Bencana mendadak ini benar-benar keterlaluan, tapi mau tak mau ia harus mempercayainya.
“Mengapa tak bilang dari awal?” Lin Xiaotang mengeluh pilu.
Qiao tersenyum aneh sambil menjawab pelan, “Kalau kubilang sejak awal, kau pasti ketakutan dan tak akan tenang membantuku mencari tubuh. Hahaha...”
Mendengar itu, Lin Xiaotang langsung murka, “Setan sialan, berani-beraninya mempermainkanku! Akan kutebas kau!”
Sekilas cahaya perak melesat, Lin Xiaotang menembakkan jarum perak. Sejak inti tubuhnya terbentuk, kekuatannya berlipat ganda. Jarum itu meluncur secepat kilat ke arah wajah Qiao.
Qiao hanya tersenyum tipis, berdiri tanpa bergerak. Ia hanya meniup pelan, dan jarum itu langsung kehilangan daya dorong lalu jatuh ke tanah.
Perbedaan kekuatan mereka benar-benar mencolok!
Sebenarnya Lin Xiaotang hanya ingin menghajar Qiao, tak benar-benar bermaksud mencelakainya. Merasa dipermainkan tentu membuatnya kesal dan bertindak gegabah. Namun begitu menyadari perbedaan kekuatan yang mencolok, Lin Xiaotang segera sadar, ia merasa Qiao sengaja berkata seperti itu. Jelas, dengan kemampuan Qiao, tak mungkin ia butuh tipu muslihat untuk memanfaatkannya.
“Tang Lin, kau marah? Ingin memukulku?” Qiao terdiam sejenak, lalu menggeleng, “Kuberi kau pedang besar dan aku berdiri diam, kau pun tak akan bisa melukaiku sedikit pun. Tang Lin, ingatlah, tanpa kekuatan mutlak, jangan pernah memperlihatkan emosi di depan musuh, sekalipun musuh itu tampaknya tak berbahaya, seperti aku sekarang. Kau harus belajar menyembunyikan diri, jangan pernah membuka kelemahan. Sehebat apa pun seseorang, jika ia selalu terbuka, tetap saja hanya kelas rendah.”
Lin Xiaotang terdiam, ia seakan mulai memahami maksud Qiao. Orang itu memang selalu membimbingnya, mendorong agar ia berlatih lebih keras.
Apa pun yang dilakukan atau diucapkan Qiao, pada akhirnya selalu bermuara pada satu hal—keinginannya yang mendesak agar Lin Xiaotang tumbuh.
Lebih dari setengah bulan kemudian, Qiao benar-benar pergi.
Sesuai ucapannya, ia meninggalkan empat teknik pertempuran, semuanya merupakan teknik tingkat tinggi yang menekankan pembinaan hati. Sebelum pergi, ia hanya berpesan pada Lin Xiaotang, tiga tahun lagi saat energi pertempuran yang tersegel mulai membanjir, saat itulah ia akan kembali.
Lin Xiaotang tidak menanyakan ke mana Qiao pergi, karena bertanya pun tak guna. Dari detik kemunculannya, Qiao memang dipenuhi misteri, benar-benar orang asing yang misterius, bahkan seolah mampu menciptakan teknik pertempuran begitu saja.
Lin Xiaotang tahu, teknik pertempuran itu memang berasal dari Benua Mingxi, dan hampir tidak dikenal di Negara Xuanyuan. Qiao kemungkinan besar berasal dari Benua Mingxi.
Namun siapa pun dan seberapa misteriusnya orang itu, dalam hal mengajarkan ilmu, ia sama sekali tidak pelit. Keempat teknik pertempuran yang ditinggalkan semuanya adalah kitab langka tingkat tinggi.
A Meng mendapat teknik yang bernama Baja Gila, termasuk kitab tingkat tinggi kelas manusia. Lao Bazi mendapat teknik bernama Tikaman Bayangan, kitab tingkat awal kelas hati. Sedangkan Xiao Lan mendapat kitab bernama Menari di Angin, juga tingkat awal kelas hati.
Meskipun disebut kitab teknik pertempuran, sebenarnya hanya berupa beberapa lembar kulit binatang tipis yang bertuliskan huruf dan gambar sederhana. Namun setelah pengalaman sebelumnya, Lin Xiaotang sama sekali tidak meragukan kekuatan tulisan dan gambar di kulit-kulit itu.
Lin Xiaotang sendiri memperoleh satu teknik tanpa keterangan tingkatannya, tak ada jurus luar, hanya metode pembinaan batin, bernama—Pengolahan Pertarungan.
A Meng dan Lao Bazi sebenarnya hanyalah orang biasa. Karena miskin sejak kecil, dan kedua orang tua mereka telah lama tiada, mereka tidak pernah mengikuti tes kelahiran, apalagi mendapat bimbingan. Lin Xiaotang sempat khawatir apakah mereka mampu melatih apa yang ada di tangan mereka.
Tapi segera kekhawatiran itu sirna, karena Qiao sudah memikirkan hal itu. Dalam masing-masing teknik pertempuran, ia menambahkan metode pembinaan dasar yang sangat baik untuk latihan awal.
Setelah mendapatkan teknik itu, Lao Bazi langsung berlatih seperti orang gila, sepenuhnya tenggelam dalam dunianya sendiri. Seandainya tak ada kesempatan memperoleh kitab ini, Lin Xiaotang takkan pernah tahu ternyata orang itu seorang maniak bela diri.
A Meng adalah anak yang jujur, tapi ia memang bertulang besi. Baru lima belas tahun, tinggi badannya sudah lebih dari satu meter delapan puluh, beratnya lebih dari sembilan puluh kilogram, makan pun luar biasa banyak. Baja Gila benar-benar seperti diciptakan khusus untuknya.