Bab 14: Ciuman

Begitu Banyak Kebanggaan Menghirup cahaya mentari 4204kata 2026-03-05 04:33:37

Awalnya kukira setelah mendapat persetujuan dari Jiang Jingyan, aku bisa pulang tidur nyenyak setelah berenang dan beristirahat sejenak. Tak kusangka kalimat selanjutnya darinya adalah, “Kalau begitu, dua hari ini setiap malam kau lembur saja. Oh ya, Erwu hari ini belum makan.”

Erwu adalah anjingnya yang berbulu cokelat, gemuk sampai matanya dan hidungnya sulit dibedakan, bulunya pun begitu panjang hingga bisa menyapu lantai. Kenapa namanya Erwu? Dulu kukira itu plesetan dari “cintai aku, cintai aku”. Jiang Jingyan bilang bukan, tapi dari “bodoh, bodoh”.

Nama asli Erwu pun ia sudah lupa. Sejak tahun lalu, setelah aku pertama kali membelikan makanan anjing dan memberinya makan, keesokan harinya Jiang Jingyan langsung menamainya “Erwu”.

“Asisten Lin, kemarilah, bawa Erwu jalan-jalan ke taman.”

“Asisten Lin, pergi ke supermarket beli makanan anjing untuk Erwu.”

“Asisten Lin, Erwu sudah berhari-hari belum mandi.”

“Asisten Lin, Erwu, Erwu, Erwu...”

Pernah suatu masa, bahkan dalam mimpiku pun aku sibuk mengurus kotoran Erwu.

“Manajer Umum.”

Jiang Jingyan keluar dari ruang ganti. Aku mengulurkan jas abu-abu gelap padanya, ia menerima dan memakainya, lalu kembali pada sikap acuh dan angkuhnya seperti biasa, berkata datar, “Ayo.”

Ia berjalan di depan, aku mengikuti di belakang.

Pukul tujuh malam nanti ada jamuan makan. Sekarang baru pukul lima sore, kami harus cepat kembali ke kantor untuk bersiap.

“Manajer Umum, perlu saya hubungi Manajer Humas untuk menemani Anda?” tanyaku saat di mobil.

“Tak perlu.” Ia bersandar, memejamkan mata dan berkata pelan, “Orang-orang yang akan ditemui malam ini berkuasa dan sangat menjaga gengsi. Aku harus membuka pembicaraan lebih dulu dengan ramah. Urusan selanjutnya baru diserahkan ke bagian humas dan penjualan. Nanti kau dan Xiao Wang tunggu saja di bawah, tak perlu ikut naik.”

“Baik.”

Pukul tujuh malam, hampir bersamaan Jiang Jingyan tiba di depan hotel bersama para tamu undangan. Ia tak memintaku mendampinginya, melainkan Xiao Wang yang maju menemani. Jiang Jingyan tersenyum dan bersalaman satu per satu dengan mereka.

Aku duduk di mobil, menempelkan kepala ke kaca, mengamati ke luar. Sekelompok pria rapi berpenampilan berbeda-beda, namun Jiang Jingyan tetap menonjol dengan postur tinggi, tampan, dan berwibawa.

Mereka bercanda, mengobrol sebentar di depan pintu hotel, saling mempersilakan lalu masuk bersama ke dalam. Xiao Wang dan para asisten lain mengikuti. Tak lama Xiao Wang kembali.

“Asisten Lin, kau lihat tadi? Orang-orang itu kaya atau berkuasa, wajar saja Manajer Umum kita harus datang sendiri,” kata Xiao Wang sambil membuka pintu mobil, terdengar iri dan kagum. “Sekali makan, mungkin bisa menghabiskan biaya hidup setahun keluargaku.”

Aku tersenyum, “Tak bisa membandingkan hidup orang lain, masing-masing ada suka dan duka.”

“Asisten Lin betul-betul berpikiran luas,” balas Xiao Wang sambil tersenyum.

Aku hanya tersenyum tanpa menanggapi. Bukan aku berpikiran luas, tapi dalam masyarakat, setiap orang berada di tingkat yang berbeda. Kalau sudah di tingkat ini, maka jalani saja hidup di sini sebaik mungkin. Terlalu sering melihat ke atas leher akan pegal, terlalu sering menunduk kepala bisa pusing. Menatap lurus ke depan, itu cukup. Mungkin inilah yang selalu dipesankan ayahku tentang sikap realistis.

Aku mengobrol santai bersama Xiao Wang di mobil, di tanganku ada dua ponsel milik Jiang Jingyan, satu pribadi dan satu untuk urusan kerja. Saat bosan bicara, aku pun bersandar dan bermain ponsel.

“Asisten Lin, kau mau makan sesuatu? Di depan ada warung mie, katanya mie goreng sapi di sana enak. Bagaimana kalau kau pergi duluan?” saran Xiao Wang. Baru teringat kami belum sempat makan karena terlalu sibuk. Jiang Jingyan tidak suka ruangan, kantor, atau mobilnya berbau aneh, jadi aku dan Xiao Wang harus bergantian jika ingin pergi makan. Aku melihat jam, sudah hampir pukul sepuluh. Memang mulai lapar.

Baru akan bicara, tiba-tiba ponsel pribadi Jiang Jingyan berdering. Nomor kakek Jiang. Begitu kuangkat, suara cemas beliau langsung terdengar, “Jingyan, Jingtong dia...”

“Kakek Jiang, saya Lin Ge,” aku buru-buru memperkenalkan diri sebelum ia melanjutkan. “Manajer Umum sedang makan dengan tamu.”

“Suruh dia angkat telepon! Cepat!” Bahkan lewat telepon, aku bisa merasakan kecemasan beliau yang luar biasa. Sangat jarang beliau seperti ini. “Cepat!”

Aku pun panik, merasa seolah ada urusan hidup dan mati. Cepat-cepat kubuka pintu mobil dan bergegas masuk ke hotel, sambil berkata, “Kakek Jiang, mohon jangan cemas, saya segera memanggil Manajer Umum.”

Aku berjalan cepat menaiki tangga. Kebetulan ada pelayan yang mengantar makanan, aku mengikutinya masuk, menunduk sopan minta maaf di hadapan meja makan, “Maaf, mohon izin mengganggu sebentar.” Lalu, mengabaikan ekspresi masam Jiang Jingyan begitu melihatku, aku berkata pelan, “Kakek ada urusan mendesak.” Aku menyerahkan ponsel yang belum kumatikan.

Jiang Jingyan menatapku sejenak dengan pandangan rumit. Kemudian ia tersenyum hangat pada tamu-tamunya, “Maaf, saya permisi sebentar, nanti saya akan menebus tiga gelas.” Ia mengambil telepon, aku segera mengingatkan, “Katanya tentang Jingtong...”

Ekspresinya seketika berubah, ia langsung berdiri dan melangkah cepat keluar. Aku menunduk pada para tamu yang kaya dan berkuasa itu, sambil tersenyum minta maaf, “Mohon maaf atas gangguannya, silakan lanjutkan.” Lalu berbalik hendak pergi.

“Tunggu sebentar, Asisten Lin, ya?” tiba-tiba seseorang memanggil.

Aku terpaksa menghentikan langkah, berbalik sambil tersenyum, “Selamat malam, saya Lin Ge.”

Usia mereka rata-rata sebaya atau sedikit lebih muda dari ayahku. Sudah beberapa putaran minum, wajah mereka memerah dan bibir tampak berminyak, pemandangan yang agak tidak sedap. Tapi karena sudah dipanggil, aku tidak bisa begitu saja pergi.

“Baru lulus kuliah?” tanya salah satu.

“Ya, tahun lalu,” jawabku jujur, berharap setelah ini aku bisa pergi.

Seorang pria berwajah bulat dengan dagu ganda menatap sekeliling sambil tersenyum, “Manajer Umum Jiang memang istimewa, ya? Pilihannya tajam, asisten di sisinya semuanya segar dan cerdas.” Ia mengangkat gelas, “Mari! Walau berjodoh di perantauan, aku ingin bersulang dengan Asisten Lin!”

Di meja makan seperti ini, alasan apapun bisa dipakai untuk memaksa minum. Tidak minum? Berarti tidak menghargai! Meremehkan! Tapi kalau minum, kuatkah aku? Terpaksa kuterima saja!

“Jarang-jarang Pak Liu menawarkan minum, Asisten Lin tak minum, tak sopan dong?”

“Tangan Pak Liu pegang gelas sampai pegal, lho.”

“...”

Saat aku ragu, beberapa orang sudah mulai bersorak.

Aku hanya orang kecil, mana berani menolak atau membiarkan beliau yang menawari minum. Dengan terpaksa kuangkat gelas arak putih yang sudah diisi penuh, “Pak Liu, sungguh tidak pantas bila Anda yang menawari saya, itu membuat saya malu. Seharusnya saya yang menawari Anda.” Setelah bersulang, kutenggak habis dalam sekali minum, perutku terasa panas.

Di saat itu, aku benar-benar merasakan bahwa orang yang sudah berpengalaman memang lebih lihai. Dengan berbagai alasan, aku dipaksa menenggak enam gelas arak putih, padahal belum makan malam. Kepalaku mulai pusing. Saat menunduk, aku melihat bayangan gelap di pintu, bayangan itu berhenti sejenak, lalu pintu terbuka.

Aku belum sempat bereaksi, seseorang masuk dan tanpa ampun melemparkan sesuatu yang lunak padaku. Aku tertegun.

Terdengar suara Jiang Jingyan membentak, “Lihat apa yang kau lakukan!”

Suasana seketika hening.

“Sebagai asisten, selain jago pacaran, apa lagi yang bisa kau lakukan?! Apa maksudmu ini?!” Ia menunjuk boneka kain di lantai, penuh hiasan batu imitasi dan mutiara palsu. Terlihat sangat kekanak-kanakan.

Aku menatapnya, tak mengerti. Ia menatapku dengan marah.

Para tamu segera bertanya, “Manajer Jiang, ada apa ini? Bagaimanapun Asisten Lin perempuan, tak baik dimarahi begitu. Lihat, hampir menangis dia.” Seorang pria botak berlagak peduli.

“Kalian lihat, hanya karena benda remeh ini aku harus keluar menerima telepon. Katanya dari kakek, ternyata...,” Jiang Jingyan menggerutu marah, “Katanya ini hadiah Hari Kasih Sayang—biru, hitam, hijau—katanya untukku. Sebagai asisten, urusan perempuan-perempuan di sekitarku saja tak bisa diurus. Apa yang bisa kau lakukan?! Nanti kalau aku menikah, perempuan ini pasti akan bikin keributan!”

Perkataan itu seperti mewakili isi hati para pria di meja makan. Asisten atau sekretaris yang tidak bisa mengatur hubungan antara kekasih, simpanan, dan istri atasan memang patut ditegur. Mereka yang tadi membelaku kini malah setuju dengan Jiang Jingyan.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi hardikan Jiang Jingyan melukai perasaanku. Aku menunduk, menatap lantai, hatiku terasa pilu.

Seseorang menengahi, “Manajer Jiang, jangan marah, tegur saja secukupnya.”

Yang lain menimpali, “Betul. Lain kali hati-hati. Kalau sudah ada istri sah, bisa runyam. Anggap saja ini pelajaran.”

Seseorang menarik Jiang Jingyan untuk duduk kembali.

“Masih berdiri di situ?! Bawa keluar benda itu! Cepat buang, aku tak ingin melihatnya!” serunya dengan nada tajam.

Aku membungkuk mengambil boneka kain itu, membuka pintu.

Di belakang, suara pria-pria terdengar menggoda.

“Ini bukti pesona Manajer Jiang, mainan kecil begini pasti buatan gadis muda. Siapa tahu...,” salah satu dari mereka tertawa, nadanya menggoda.

“Benar, generasi muda sekarang mana bisa menolak pesona Manajer Jiang. Kita mah cuma bisa iri.”

“Ha ha ha...”

Entah arak jenis apa tadi, efeknya benar-benar dahsyat. Begitu keluar hotel, langkahku sudah limbung, jalanan terasa miring, perut seperti terbakar. Di tangga, aku hampir terjatuh.

“Asisten Lin.” Seseorang menahan tubuhku.

Aku menengadah, “Xiao Wang, ya.” Bicaraku saja sudah pelo. “Bukannya kau di seberang jalan?” Aku mengangkat tangan, menunjuk sembarangan.

“Aduh, kenapa cuma sebentar saja kau sudah mabuk? Tadi Manajer Umum SMS, kukira bercanda. Cepat, masuk mobil, istirahat dulu, aku belikan air minum.”

Xiao Wang membantuku masuk ke mobil, aku langsung bersandar di pintu.

Tak tahu berapa lama kemudian. Samar-samar kudengar, “Kenapa tak antar dia pulang?”

“Aku tak tahu ia tinggal di blok berapa di Apartemen Buruh.”

“...”

Apa yang dibicarakan setelah itu aku tak jelas, kesadaranku semakin menghilang dalam gelap.

Ada rasa sejuk menyapu dahiku, lalu rambut di keningku disibakkan ke samping. Perlahan kubuka mata. Xin Hao...

Kupikir aku pasti bermimpi lagi, kalau tidak, tak mungkin aku sudah di atas ranjang, dan Xin Hao berjongkok di sampingku, menatapku dengan mata penuh kasih sayang, membelai rambutku.

“Xin Hao...” Begitu kusebut namanya, mataku terasa panas, air mata hendak mengalir.

“Xin Hao.” Kau kembali mencariku, ya? Aku menggenggam tangannya erat, terisak, “Xin Hao.”

“Lin Ge.” Alisnya tiba-tiba berkerut. Suaranya dingin, wajahnya tak senang. “Aku...”

“Xin Hao.” Aku meraih keningnya, ingin meluruskan kerutan itu, berbisik, “Jangan mengerutkan dahi, jangan bersedih. Aku akan selalu di sisimu. Menemanimu, masa depan akan indah, kita berusaha bersama, hidup pasti membaik. Masalah ayahku sudah berlalu.”

Ia tak lagi menolak, membiarkan jariku mengusap dahinya.

Saat itu, rasanya seperti kembali ke masa ketika Xin Hao sangat mencintaiku. Aku tersenyum, air mata pun mengalir. Aku bingung, tak bisa membedakan mana mimpi mana nyata, mana kini mana yang lalu. Spontan, keluh kesahku kutumpahkan padanya.

“Xin Hao, Jiang Jingyan sialan itu hari ini memarahiku lagi! Padahal jelas-jelas telepon dari kakeknya, dia malah bilang aku dikejar perempuan.

Di kantor, semua orang libur dua hari, hanya aku yang harus masuk kerja tiap hari, delapan belas jam sehari melihat wajah masamnya.

Aku harus siapkan data, mengetik, menggandakan dokumen, naik turun lantai, membuat kopi, memberi makan anjing, menjemput di bandara, menemani bertemu klien, menyampaikan perintah, mengatur pekerjaan... Bahkan aku pernah mencuci bajunya... Semua kulakukan!

Teman-teman sekantor bahkan tak suka padaku, di belakang mereka menggunjingku, katanya aku tidur dengan Jiang Jingyan. Mereka mengejek aku tak punya kemampuan, cuma jago di ranjang. Tak ada yang melihat usahaku. Lin Lin mau kembali, aku pasti dipecat. Hari ini dia memarahiku lagi! Dasar bajingan!” Aku mengadu padanya, patah-patah.

Ia berjongkok di samping tempat tidur, menatapku dalam diam, mendengarkan dengan sabar. Ia berkata, “Betul, Jiang Jingyan memang bajingan.”

“Xin Hao... aku sangat merindukanmu.” Aku meraba hidungnya, sepertinya lebih mancung dari dulu, tapi tetap hangat. “Xin...”

Baru saja ingin memanggil namanya lagi, bibir dingin membungkam suaraku, kedua tangannya memegang kepalaku, mencium dengan keras, bahkan menggigit bibirku hingga aku mengaduh kesakitan. Ia baru melunak, menggigit lembut, membuatku bergetar, seperti tersengat listrik, terpaku lalu membalas penuh gairah. Dalam hati aku memanggil, “Xin Hao...”