Bab Delapan, Bahasa Tiongkok
Cahaya bulan menggantung di ujung ranting willow. Di luar jendela, permukaan Danau Xin Ya berkilauan diterpa cahaya, angin malam yang lembut menyelinap masuk ke ruang tamu, membawa sedikit hawa dingin. Tiga orang, Zhang Jingyi dan kawan-kawan, sedang bersemangat menampilkan tarian mereka.
Karena kelompok vokal perempuan sudah dipastikan akan dibentuk, Lu Li tentu harus benar-benar memahami bakat para anggotanya. Tiga perempuan cantik menari penuh pesona di hadapannya, boleh dibilang ini merupakan sebuah keuntungan kecil yang tak bisa dianggap remeh.
Namun, Lu Li tetap saja merasa tidak puas.
“Xiyun, kau sedang menari atau memamerkan bokongmu yang besar?”
“Kau kira sedang menggoda penonton di siaran langsung supaya mereka mengirim hadiah?”
Chen Xiyun menutupi bokongnya dengan satu tangan, wajahnya memerah karena malu, sementara Dong Xin di sampingnya malah tertawa terbahak-bahak di saat yang kurang tepat.
“Dong Xin, aku tidak sedang menegurmu, kan? Usia kamu tiga belas tahun? Mengembungkan pipi dan berpura-pura imut, memang seperti itukah caramu?”
“Jingyi…”
“Aku, aku tidak tertawa kok.”
Melihat pembicaraan mengarah kepadanya, Zhang Jingyi buru-buru menyangkal.
“Aku tidak bilang kamu tertawa, maksudku auramu masih kurang dingin. Menjadi karakter wanita dingin yang anggun itu bukan berarti cukup dengan memasang wajah datar saja.”
Di awal pembentukan girl group, menjelang dimulainya final besar Gaya Nusantara, Lu Li memang harus melatih mereka secara intensif.
(Mungkin ada yang berpikiran aneh di sini.)
Konsep karakter mereka sebelumnya sangat buruk. Dengan kondisi seperti ini, meski diberikan lagu yang bagus, di atas panggung mereka pasti akan jadi bahan celaan.
Karena ada tiga orang, tentu mustahil mereka menampilkan karakter yang seragam.
Chen Xiyun paling mahir menari, cocok dijadikan penari utama, namun perempuan ini sering kali malah bergaya genit seperti saat siaran langsung.
Dong Xin mengambil jalur imut, menjadi maskot, tapi keimutannya terbatas pada mengembungkan pipi saja.
Zhang Jingyi tipe perempuan dingin dan anggun, namun wajah datarnya malah membuatnya tampak seperti tanpa ekspresi.
Lu Li pun mengusap keningnya, mematikan musik, dan larut dalam pikiran. Sementara itu, ketiganya berdiri di samping dengan gugup, sadar betul penampilan tadi belum bisa memuaskan Lu Li.
Kini mereka sudah tahu identitas Lu Li, dan juga tahu bahwa dia akan membawa mereka tampil sebagai bintang tamu di panggung Gaya Nusantara.
Tiga orang ini sama sekali tak pernah bermimpi akan mendapat kesempatan semacam ini, jadi mereka sudah berusaha menampilkan yang terbaik, meski tampaknya justru berantakan.
Tak lama kemudian, Lu Li berdiri dan berjalan mendekati Chen Xiyun.
“Xiyun, menarilah mengelilingiku, tapi tubuhmu tidak boleh menyentuhku. Namun, orang lain harus bisa melihat bentuk tubuhmu, gerakanmu, harus memberi kesan anggun dan menggoda, tapi tidak norak.”
“Bisa?”
“Aku... aku akan coba!”
Chen Xiyun menarik napas dalam-dalam, lalu musik pun kembali mengalun.
Sepuluh menit berlalu.
“Berhenti!”
“Sampai di sini dulu.”
Hasilnya memang agak lebih baik, tapi tubuh Lu Li justru mulai menunjukkan reaksi sedikit. Mau bagaimana lagi, tengah malam begini, wangi harum di udara, seorang perempuan, apalagi yang cukup cantik, menari di sekelilingmu; kilauan cahaya, lekuk tubuh, kulit halus sedekat itu—Lu Li bukanlah seorang suci, jadi wajar saja bila ada reaksi.
Zhang Jingyi dan kedua temannya juga sadar akan kondisi Lu Li, ingin tertawa namun menahan diri, pipi mereka memerah, pandangan sesekali mencuri-curi melihat ke arahnya.
“Mau tertawa, ya tertawalah. Apa yang perlu ditahan?”
“Aku juga manusia biasa, punya reaksi itu wajar. Kalau tidak bereaksi, berarti Xiyun memang tidak menarik atau aku yang bermasalah.”
Lu Li bercanda, membuat ruang tamu seketika dipenuhi tawa riang.
Meski agak memalukan, tapi suasana jadi cair dan tidak lagi kaku seperti sebelumnya.
Zhang Jingyi dan kedua temannya pun merasa Lu Li jauh lebih ramah dari yang mereka kira. Sebelumnya, sikapnya yang dingin sempat membuat mereka takut.
Setelah tawa reda, Lu Li meminta Xiyun untuk berlatih sendiri di sudut ruangan, lalu memanggil Zhang Jingyi dan Dong Xin mendekat.
Kini lagu untuk mereka sudah dipilih. Xiyun sebagai penari utama, sedangkan vokal utama dipercayakan pada Zhang Jingyi dan Dong Xin, dengan Zhang Jingyi sebagai pemimpin. Tiga-tiganya juga punya bagian menari dan bernyanyi bersama.
Lagu yang dipilih adalah lagu legendaris dari dunia sebelumnya—lagu milik S.H.E.
Hanya saja judulnya tidak lagi "Bahasa Tionghoa", tapi diganti menjadi "Lagu Nusantara".
Bicara soal girl group, di dunia sebelumnya rasanya tak ada yang lebih terkenal dari S.H.E. Grup ini sudah tak bisa digambarkan dengan kata-kata populer semata. Selain "Bahasa Tionghoa", lagu hit mereka “Super Star” dengan lirik "kaulah listrik, kaulah cahaya, kaulah satu-satunya legenda" benar-benar mendominasi dunia musik saat itu.
Lagu “Bahasa Tionghoa” sendiri sangat populer. Hampir semua orang di dunia sebelumnya pasti hafal lagu ini.
Bahkan jika tidak hafal seluruh liriknya, begitu bagian “Seluruh dunia kini bicara bahasa Tionghoa, kata-kata Kong Hu Cu makin mendunia” terdengar, sebagian besar orang pasti bisa ikut menyanyi.
Menjadikan lagu ini sebagai lagu penampilan di Gaya Nusantara benar-benar sangat tepat menurut Lu Li. Asal tiga perempuan ini tidak terlalu bodoh, dengan dukungan lagu ini, dalam waktu singkat mereka pasti akan jadi viral di internet. Setelah itu, giliran Lu Li menjalankan serangkaian rencananya.
Tak berharap mereka bisa setenar S.H.E di dunia sebelumnya, setidaknya mereka harus bisa benar-benar mendapatkan pijakan di dunia hiburan. Saat itu, barulah arus keuntungan bisa terus mengalir.
Hanya saja waktunya sangat mepet. Sudah hampir tengah malam, Lu Li pun tak berani lengah sedikit pun.
Apalagi Zhang Jingyi dan kawan-kawan. Kesempatan emas sudah di depan mata, begadang semalam suntuk demi latihan menyanyi dan menari, itu bukan masalah.
Ketika Chen Xiyun dan dua temannya sibuk berlatih, Lu Li juga tak berdiam diri. Sambil memesan banyak makanan, ia juga sempat mengobrol santai dengan Qin Youshui.
Gadis itu sempat membalas pesan, katanya baru saja mandi sehingga agak telat membalas.
Lu Li tentu saja tidak mempermasalahkan. Setelah saling mengucapkan selamat malam, ia kembali melatih ketiga perempuan itu.
Sembari melatih, Lu Li juga memikirkan nama yang cocok untuk girl group mereka. Nama itu adalah wajah kelompok, terlalu rumit tidak baik, terlalu sederhana juga kurang berkesan.
Setelah berpikir lama, Lu Li belum menemukan ide. Saat mereka istirahat dan mengisi energi, ia pun melemparkan pertanyaan itu, siapa tahu mereka punya ide.
“Menurut kalian, nama apa yang cocok untuk girl group kalian?”
Nama?
Begitu mendengar ini, Dong Xin langsung bersemangat.
“Bagaimana kalau namanya Gadis Energi?”
“Heh.”
Lu Li menatapnya jengkel.
“Kenapa tidak sekalian saja namanya Prajurit Sailor Moon?”
“Eh, itu juga bagus, ya.”
“Sudahlah, makan saja sana!”
Kena semprot, Dong Xin tak ambil pusing, malah tertawa polos sambil terus mengunyah, membuat pipinya yang chubby terlihat makin bulat.
Sementara Chen Xiyun dan Zhang Jingyi tampak berpikir serius, jelas mereka juga merasa nama Prajurit Sailor Moon dan Gadis Energi terlalu tidak cocok untuk mereka.