Bab Sembilan, Kakak, Mau Pacaran Online?
"Maaf, aku tidak terbiasa menambah orang asing."
Dengan nada datar, Lu Li menjawab singkat lalu berbalik pergi.
Xu Wanrou masih ingin mencoba bertahan, tapi siapa sangka pria di depannya itu dalam beberapa langkah saja sudah menghilang ditelan keramaian.
"Wah, ternyata si penyiar ditolak mentah-mentah."
"Pengen banget lihat muka malu-malu si penyiar sekarang."
"Jangan-jangan waktu siaran dia pakai filter kecantikan level dewa, aslinya jelek banget? Kalau nggak, masak si kakak itu nggak lihat sama sekali dan langsung kabur?"
"Hehe, kakak itu memang punya modal buat begitu."
Berbagai komentar sarkastik di ruang siaran tidak dihiraukan Xu Wanrou. Ia menarik Xiao Wu dan berlari menuju parkiran bawah tanah.
"Wanrou Jie, audisi belum selesai. Kita nggak siaran lagi?"
Dengan cekatan mematikan siaran, Xu Wanrou menjawab sambil berlari,
"Hari ini cukup, kita pulang dan mulai mengedit video. Aku punya firasat, peserta tadi dan lagu itu pasti bakal meledak."
"Kita harus cepat-cepat unggah videonya, jangan sampai didahului orang lain. Di lokasi tadi juga banyak penyiar lain yang siaran, lho."
———
Lu Li kembali ke rumah pamannya dengan santai. Pada saat yang sama, di platform Douyin, berbagai video tentang dirinya bermunculan layaknya jamur di musim hujan.
Judul-judulnya pun sama-sama bombastis dan menarik perhatian.
"[Di lokasi audisi nasional gaya tradisional Kota Xi, muncul sosok misterius tingkat dewa, juri langsung bersimpuh memanggil ayah!]"
"[Menghebohkan, sebuah lagu membuat jutaan penonton di tempat menangis!]"
"[Porselen Biru Putih! Aku rela menyebutnya sebagai lagu gaya tradisional terkuat!]"
.......
"Kak, habis dari mana? Kok dandan rapi banget?"
Begitu tiba di rumah, Lu Xiaoning entah muncul dari mana. Ia berdiri sambil bertolak pinggang menatap Lu Li dari atas sampai bawah.
"Kak, jangan-jangan hari ini kamu pergi kencan, ya?"
"Aku laporin ke mama, lho."
Lu Li, dengan malas, meremas ekor kuda sepupunya itu lalu bertanya,
"Ngaco aja kamu. Tadi keluar bentar, bibi mana?"
"Mama ke rumah nenek, katanya hari ini kita pesan makanan sendiri."
"Ya sudah, kamu pesan aja apa. Aku mau mandi dulu."
Setelah berkata demikian, Lu Li membawa baju ganti masuk ke kamar mandi. Sementara Lu Xiaoning duduk di sofa, tampak bingung.
Hingga Lu Li selesai mandi dan keluar, ia melihat Xiaoning masih sibuk menelusuri aplikasi makanan.
"Belum tahu mau makan apa?"
Lu Li memasukkan baju kotor ke mesin cuci lalu duduk di samping Xiaoning.
"Kak, kamu aja yang pesan."
Dengan bibir manyun, Xiaoning melemparkan ponsel ke Lu Li.
Urusan makan memang paling sulit adalah memutuskan mau makan apa. Terlebih bagi Xiaoning yang punya masalah besar dalam memilih, pesan makanan online itu seperti siksaan.
Sudah menelusuri ratusan restoran, tetap saja tidak menemukan yang membuatnya yakin, "ini dia!"
Lu Li sudah paham betul sifat sepupunya itu. Ia pun asal pilih satu restoran, lalu mengembalikan ponsel ke Xiaoning.
Setelah makan siang, Lu Li tak mau menyia-nyiakan waktu libur. Saat Xiaoning tidur siang, ia pun keluar rumah menuju Warnet Tenglong.
Hari ini ia punya waktu luang, tentu saja harus dimanfaatkan untuk menulis sebanyak mungkin. Kalau tidak, tiap hari sepulang sekolah langsung ke warnet juga bukan solusi.
Sekarang audisinya sudah selesai, apakah ia bisa menjadi juara audisi gaya tradisional Kota Xi baru akan diketahui setelah seluruh peserta selesai diseleksi.
Setidaknya masih ada waktu seminggu lagi. Walaupun ia menang, hadiah pun baru akan diterima seminggu kemudian, jadi Lu Li hanya bisa menunggu dengan sabar.
Setelah seharian di Warnet Tenglong, berhasil menulis lima puluh ribu kata, barulah Lu Li menyudahi tugas hari itu.
Setelah mengatur waktu unggahan, ia membuka halaman belakang Novel Catatan Makam. Jumlah koleksi sudah mencapai 56.560.
Sebagai pendatang baru, buku pertamanya, dan baru beberapa puluh ribu kata, koleksi sudah menembus lima puluh ribu—bahkan penulis veteran pun jarang bisa mendapat hasil seperti ini.
Jelas, setelah melewati ujian pasar, Catatan Makam benar-benar meledak.
Peringkat bagus berbanding lurus dengan rekomendasi. Begitu performanya bagus, eksposurnya pun meningkat, pembaca baru terus berdatangan.
Pemimpin redaksi di Situs Novel Awal juga bukan orang bodoh. Melihat karya yang berpotensi fenomenal, ia pun tak pelit memberi berbagai rekomendasi.
Para pembaca yang memberi hadiah semakin banyak, total sudah hampir lima puluh ribu, namun yang bisa diterima Lu Li hanya setengahnya.
Kolom komentar dipenuhi pujian. Sebagian besar mendesak penulis agar segera membuka akses berbayar. Sudah jadi tradisi, begitu berbayar, pasti update besar-besaran.
Menghadapi penulis yang bisa update dua puluh ribu kata per hari, pembaca pun merasa sungkan untuk menuntut update lebih cepat.
Sudah update dua puluh ribu per hari, begitu berbayar paling tidak harus update dua ratus ribu kata, kan?
Tapi menunggu update itu benar-benar menyiksa!!!
Ketika Lu Li asyik membaca komentar, ia sama sekali tak tahu, platform Douyin dan Weibo sedang terbakar gara-gara lagunya Porselen Biru Putih.
Di puncak trending Weibo, kata "Porselen Biru Putih" bertengger dengan label "meledak" besar-besaran.
Di Douyin pun, trending dipenuhi kata-kata seperti Porselen Biru Putih, Gaya Tradisional, Topeng, dan lain-lain.
"Siapa sebenarnya sosok misterius ini?"
"Dengerin lagu ini rasanya nikmat banget!"
"Habis denger lagu ini, lagu lain jadi nggak masuk lagi gimana dong?!"
"Liriknya indah sekali, tiap kata seperti lukisan, dan nama kakak ini, Di Ujung Cahaya Lampu, benar-benar puitis."
"Mama, aku jatuh cinta!"
Lu Li memang sudah menduga lagu Porselen Biru Putih akan meledak, tapi tak pernah terpikir ledakannya secepat ini.
Baru siang audisi selesai, sorenya sudah mengguncang seluruh platform hiburan.
Gaya tradisional memang sedang jadi tren besar. Porselen Biru Putih muncul bak roket, langsung melesat naik.
Nama akun Weibo yang dibuat Lu Li beberapa hari lalu, Di Ujung Cahaya Lampu, pun melesat jumlah pengikutnya.
Sebagai pebisnis kawakan di kehidupan sebelumnya, mana mungkin ia membiarkan celah ini tidak dimanfaatkan?
Saat itu juga, di kolom komentar Catatan Makam muncul komentar baru.
"Eh, nama penulisnya Di Ujung Cahaya Lampu, jangan-jangan sama dengan kakak bertopeng yang viral di Weibo hari ini?"
Lu Li tidak memperhatikan komentar itu. Saat ini ia sedang berdiskusi dengan editor Biru tentang waktu rilis berbayar.
Penulis lain biasanya butuh waktu satu atau dua bulan untuk rilis berbayar, tapi dengan update dua puluh ribu kata per hari, waktu Lu Li bisa jauh lebih singkat.
Meski menunda sedikit, data mungkin lebih bagus, tapi jelas Lu Li tak mau menunggu terlalu lama.
Setelah memastikan rilis berbayar tanggal tujuh Juni, Lu Li pun bersiap pulang dari warnet.
Saat hendak keluar dari QQ, ikon burung penguin itu berkedip dua kali.
Sebuah avatar kartun mengirim permintaan pertemanan, lengkap dengan pesan,
"Malam panjang, tak bisa tidur, kakak mau pacaran online nggak?"
Hah?
Jangan-jangan dunia ini juga ada penipu teh?
Sambil mengeluh dalam hati, Lu Li langsung menolak permintaan itu.
Dalam perjalanan pulang, ponselnya berbunyi lagi.
Masih avatar kartun yang sama.
"Kakak, aku cantik dan suaraku manis, yakin nggak mau pacaran online sama aku?"
Apa-apaan ini?
Sekarang penjual teh setega ini ya?
Tolak lagi!
Sampai di rumah, ponselnya berdering lagi.
"Kumohon, ayo pacaran online sama aku!"
(Sehari-hari berbagai permohonan)