Bab Lima, Surat Peringatan dari Pengacara (Mohon Dukungan Suara)
Belum sempat Lu Li menjawab, suara lembut bibi sudah terdengar dari dalam rumah, “A Li, sudah pulang ya? Cepat sini makan.”
Di meja makan.
Jiang Hongxiu memandang Lu Li dengan wajah penuh kasih sayang saat ia menunduk menyuap nasi, sesekali mengambil beberapa potong daging dan meletakkannya di mangkuknya.
“A Li, makan daging yang banyak, sebentar lagi ujian masuk universitas, tekanan belajar juga berat, jangan sampai terlalu sibuk belajar sampai tubuhmu tumbang.”
Lu Li mengangkat kepala, dalam sekejap, sosok wanita paruh baya di hadapannya yang sudah mulai berkerut di ujung matanya itu semakin menyerupai ibunya dalam ingatannya.
“Aku tahu, Bibi.”
Suara Lu Li terdengar sedikit serak, ia sangat menikmati suasana hangat seperti ini, sesuatu yang tak pernah ia rasakan dalam kehidupan masa lalunya yang penuh kekacauan.
“Om belum pulang ya?” tanyanya kemudian.
“Itu orang, tiap hari jarang di rumah, katanya ikut bos ke proyek entah di mana, entah dapat berapa duit.” Jiang Hongxiu tertawa kecil, lalu berteriak ke halaman, “Masih ngapain di luar? Cepat cuci tangan dan masuk kamar buat tugasmu.”
“Iya, Ma, bawel amat sih.”
“Dasar anak ini.”
————————
Bulan bulat tergantung di langit yang temaram.
Cahaya rembulan yang sejuk merambat pelan melalui jendela, menyusup masuk ke kamar tidur.
Di bawah cahaya lampu meja yang terang, Lu Li tekun menulis dengan semangat.
Dengan catatan pelajaran milik ketua kelas, ia memang sangat terbantu untuk mengulang dan merangkum pelajaran SMA.
Melihat kemajuan saat ini, mungkin ia tidak butuh lima puluh hari, bahkan dalam dua minggu saja ia bisa menguasai lagi semua materi SMA.
Harus diakui, keuntungan setelah menyeberang ke kehidupan baru ini sangat besar, setidaknya kemampuan mengingat luar biasa seperti ini tidak dimiliki orang kebanyakan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar dibuka pelan.
Tanpa menoleh, dari suara langkah kaki saja Lu Li sudah tahu siapa yang datang.
Baru ia berpikir begitu, sepasang lengan putih halus sudah melingkari lehernya.
Detik berikutnya, tubuh hangat sudah menempel di punggungnya.
Lu Li terkejut, tangan yang memegang pensil pun membeku di udara.
“Kak, beneran lagi belajar ya?”
“Jangan-jangan besok matahari terbit dari barat nih?”
“Nih, Mama suruh aku bawain semangka buat Kakak.”
Lu Xiao Ning baru saja selesai mandi, rambut panjangnya masih basah dan agak berantakan, ia mengenakan kaos longgar yang menampakkan setengah betisnya yang halus dan putih. Kulitnya memang sudah putih dan halus, kini setelah mandi makin tampak segar dan bercahaya.
Sehelai rambut hitam jatuh di ujung hidung Lu Li, membawa aroma lembap, bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepala Lu Xiao Ning, menggelitik dan membuat geli.
Lu Li menghirup aroma harum khas gadis remaja, mengambil semangka dan bertanya santai.
“Kamu sudah selesai tugasnya?”
Dengan sandal rumah yang berbunyi piapiapia, Lu Xiao Ning berjalan mengelilingi kamar lalu menjawab dengan nada tak peduli, “Tugas segitu mah aku udah selesaikan di sekolah.”
Setelah bicara, ia menendang sandal dan melompat ke ranjang, memukul-mukul boneka di kepala ranjang lalu merebahkan diri dengan santai.
“Hei, rambutmu belum kering, jangan basahi bantalku.”
Begitu Lu Li bicara, Lu Xiao Ning malah mengambil bantal dan menggosok-gosokkan ke rambutnya dengan sengaja, sambil melirik Lu Li dengan senyum penuh kemenangan.
Ya sudahlah.
Lu Li pun lanjut membaca catatan.
Saat sudah benar-benar tenggelam dalam belajar, ia sering lupa waktu.
Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, Lu Li akhirnya menuntaskan catatan terakhir.
Ia meregangkan tubuh, lalu berdiri. Saat menoleh, ia melihat Lu Xiao Ning sudah tertidur di ranjangnya.
Betis putihnya memeluk boneka setinggi badan, tubuhnya meringkuk seperti kucing kecil yang malas.
Lu Li menggeleng dan tersenyum, lalu memeluk Lu Xiao Ning dengan gaya putri menuju kamar adiknya.
Di ruang tamu, Jiang Hongxiu sedang merapikan benang dan jarum di meja, mendengar suara, ia hanya melirik sekilas lalu kembali ke pekerjaannya.
Tampaknya sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu.
Setelah mengantar Lu Xiao Ning ke kamarnya, Lu Li kembali ke ruang tamu dan berkata pada Jiang Hongxiu.
“Bibi, hari sudah malam, Bibi juga istirahatlah lebih awal.”
“Baik, baik, A Li sudah besar sekarang, sudah bisa perhatian pada orang lain.”
Jiang Hongxiu tersenyum penuh kasih, memandang Lu Li yang masuk ke kamar.
Ia bisa merasakan dengan jelas, keponakannya yang satu ini seperti tiba-tiba menjadi lebih dewasa dalam semalam.
—————
“Ketua kelas, catatannya sudah selesai kubaca, aku kembalikan sekarang.”
Sebelum pelajaran pagi dimulai, Lu Li mengembalikan beberapa buku catatan kepada Qin Youshui.
Ekspresi Qin Youshui tampak terkejut, bahkan ada sedikit rasa kecewa yang tak bisa ia jelaskan.
Semalam saja sudah bisa menyelesaikan semua?
Atau dia cuma hangat-hangat tahi ayam, cuma mau cari perhatian di depan dirinya?
Qin Youshui hanya mengangguk pelan dan menerima catatannya, tanpa minat untuk bicara lebih jauh.
Lu Li pun tak ambil pusing, ia kembali ke tempat duduknya.
Saat itu Wang Xuan masuk ke kelas dengan lingkaran hitam di bawah mata.
“Kamu begadang semalam? Kok matamu kayak panda gitu?”
Lu Li bertanya penasaran.
“Aduh, jangan tanya deh~”
Sambil meletakkan tas di meja, Wang Xuan menarik kursi dan bersandar sambil mengeluh.
“Semalam aku baca novel, akhirnya semalaman gak bisa tidur, kepikiran terus ceritanya, kayak ada kucing garuk-garuk di hati.”
Lu Li tahu betul hobi sahabatnya ini, selain malas belajar, Wang Xuan benar-benar gila main game dan baca novel.
“Novel apa?”
“Nih, ini dia.”
Wang Xuan menyodorkan ponsel, di layarnya terpampang novel ‘Catatan Petualangan Makam’ yang sedang Lu Li tulis.
“Menurutmu penulis ini kenapa sih, suka banget bikin cerita gantung.”
“Walaupun sekali update dua puluh ribu kata itu seru, tapi penulis sialan ini selalu berhenti di bagian paling penting, bukannya nyebelin?”
Lu Li mengambil ponsel, menggulir beberapa kali.
Sekarang di laman utama situs Sastra Awal, ada beberapa buku yang sedang direkomendasikan, salah satunya adalah Catatan Petualangan Makam.
Asal masuk ke situs itu, langsung terlihat sampul besar Catatan Petualangan Makam yang penuh misteri dan membuat penasaran, pembaca mana pun pasti tergoda untuk membukanya.
Rekomendasi utama seperti itu bisa membuat buku langsung populer dalam semalam.
Kolom komentar pun penuh dengan “umpatan” untuk penulis Catatan Petualangan Makam.
“Ada yang tahu alamat rumah penulis?”
“Sepuluh jam sudah berlalu, penulis belum update juga?”
“Eh, menurut kalian novel ini kayak pengalaman pribadi penulis gak sih?”
Komentar itu langsung berada di urutan teratas, di bawahnya banyak yang mendukung.
“Menurutku sih iya.”
“Aku curiga penulis ini keturunan prajurit penggali makam zaman dulu.”
“Kamu masih polos, urusan di sini rumit, hapus aja komentarmu, biar aku yang jawab.”
“Peringatan dari pengacara!”
Benar saja, dunia ini pun penuh dengan candaan dan olok-olok pada ‘Tiga Paman’.
Bel berbunyi tepat waktu, Pak Liu masuk kelas dengan setumpuk soal di bawah ketiaknya.
“Hari ini kita lanjut mengerjakan soal ujian masuk universitas tahun lalu.”
“Petugas belajar, tolong bagikan soalnya.”