Bab 9 Memasuki Jurang Kegelapan Remang
Fuze hanya bisa terpaku melihat Arya memuntahkan sebuah botol kecil berwarna hitam dari mulutnya. Menurut ular itu, itulah botol yang berisi ramuan. Botol berwarna hitam pekat itu masih basah oleh liur ular.
Fuze pasrah memungut botol itu, lalu mengeluarkan saputangan persegi untuk mengelap liur yang menetes. Namun, ketika mengelap, tatapannya mendadak kosong.
“Dari mana kau dapat botol ini?!”
Arya memiringkan kepalanya, “Bukankah tadi sudah kubilang? Aku dapatkan dari pertarungan melawan hantu macan tutul.”
“Pikiranmu benar-benar agak lambat, ya…” Tentu saja, kalimat ini hanya ia gumamkan pelan.
Mata pemuda itu yang hitam kelam kini menatap botol di tangannya tanpa berkedip, bahkan sesekali ia meraba dan membelainya.
Arya mulai gelisah, padahal ia memang sudah gelisah dari tadi.
“Kau ngapain sih! Cepat teteskan itu di lingkaran sihir, lalu kita pergi ke Jurang Arwah! Kalau kau santai, aku yang stres!” Ular itu menjulurkan lidahnya berkali-kali, tubuhnya juga melilit tak menentu.
Dalam benak Fuze saat itu hanya terngiang satu kalimat: Botol ini milik Kakek!
Tulisan “Fu” dengan gaya dan totem yang sama, posisi lambang yang serupa, bentuk botol yang mirip... Jadi, Kakek pernah ke sini? Apakah Kakek sengaja meninggalkan botol ini, ataukah ia tidak sengaja menjatuhkannya, atau bahkan dicuri?
Jika yang pertama, berarti Kakek diam-diam membimbingnya menuju Jurang Arwah? Jika yang kedua, dalam ingatannya yang terbatas, Kakek adalah orang yang sangat hati-hati, sepertinya tak mungkin ia teledor. Kalau yang terakhir, hmm, sepertinya ia harus menemui hantu macan tutul sialan itu suatu saat nanti.
Sadar dari lamunannya, ia membuka tutup botol, meneteskan satu tetes ramuan pada lingkaran sihir di bawah kakinya.
Sekejap, cahaya merah yang aneh dan menyilaukan meledak, membuat Fuze spontan menutupi matanya. Tak lama, ia merasa pijakannya goyah. Begitu membuka mata, ia telah berada di tempat lain.
Arya berseru keras, “Sudah sampai! Tubuh Aki ada di sini! Aku bisa merasakannya! Manusia, cepat bantu aku mencarinya! Itu janji yang pernah kau ucapkan, tidak boleh ingkar!”
Kapan ia pernah berjanji? Ia sama sekali tidak ingat.
Ya sudahlah, toh nanti ia juga harus ke hantu macan tutul, jadi butuh ular ini sebagai pemandu. Bantu saja kali ini. Siapa tahu, ada harta lain di sana.
Seolah ingin membenarkan dugaan Fuze, benda yang tergantung di pinggangnya, Yu Guan, tiba-tiba bergetar dua kali. Ia menepuk Yu Guan, menyuruhnya tenang. Tampaknya temannya itu juga mulai tidak sabar.
Fuze berkata, “Ular kecil, aku ini punya nama, namaku Linchuan.”
Arya menjawab, “Aku juga punya nama, aku Arya!”
Fuze tertawa, “Baiklah, Saudara Arya, kau tadi bilang bisa merasakan keberadaan tubuhnya, kan? Ayo, tunjukkan jalannya.”
Arya mengarahkan ekornya ke depan kiri, “Di arah itu. Aku bisa merasakan, selain tubuh Aki, ada benda lain juga... Linchuan, kau takut?”
Fuze menanggapinya dengan santai, “Takut? Haha, aku, manusia hidup, sudah bertahun-tahun berjalan di dunia arwah, bahkan belum tahu cara menulis kata takut.”
Ya, kecuali sedikit takut pada Pengawas.
Lagi pula, ia memang mengenal banyak aksara, tetapi jarang menulis, kecuali untuk membuat jimat. Selain itu, mungkin ia tak pernah menulis kata takut. Tak masalah.
Sepanjang perjalanan, Fuze terus memperhatikan keadaan sekitar. Sebenarnya, sejak menginjakkan kaki di tempat itu, ia sudah waspada. Tempat mereka berdiri tadi sangat tersembunyi, lingkaran sihir disamarkan di tepi rawa, ditopang oleh tanaman rambat dunia arwah yang sangat kuat, supaya lingkaran itu tidak tenggelam ke dalam rawa. Keluar dari rawa, mereka memasuki hutan lebat dan baru satu jam kemudian berhasil keluar.
Di sepanjang perjalanan, mereka cukup sering bertemu dengan tanaman seperti Rumput Arwah dan Pohon Pemakan Tulang, sehingga selalu ada tempat bersembunyi.
Namun, anehnya, mereka hampir tak menemukan satu pun bayangan hantu, bahkan makhluk roh tingkat rendah pun tak ada. Ini tidak wajar. Biasanya, seburuk apa pun tempatnya, hantu tetap butuh energi dunia manusia. Tapi roh binatang tingkat rendah tak butuh itu, dan lingkungan di sini cukup ideal untuk mereka. Kenapa jadi sangat sunyi?
Jangan-jangan, benar-benar ada sesuatu yang berbahaya di sini?
Mereka terus mencari jalur yang banyak tempat sembunyi, sesekali berhenti untuk merasakan suasana sekitar, tapi tetap saja sepi.
Arya tahu Jurang Arwah sangat berbahaya, namun makin mendekati sumber aura itu, kegelisahan dalam hatinya semakin besar. Apalagi, aura Aki makin lama makin melemah, pertanda buruk.
Tak lama kemudian, mereka mulai mendengar suara air, terkadang jelas, terkadang samar.
Fuze mengernyit, “Suara apa itu?”
Arya menjawab, “Bukan suara air mengalir? Ada suara lain?”
Fuze bertanya heran, “Air? Mengalir?”
Arya tak mengerti, “Iya, yang kudengar cuma suara air. Tak ada yang aneh. Jangan-jangan kau belum pernah dengar suara air?”
Ucapan Arya ini tanpa sadar justru menjawab persoalannya. Air mengalir memang tidak terlalu umum di dunia arwah, tapi tetap ada, biasanya dari Sungai Lupa. Namun, air Sungai Lupa tidak bersuara.
Dalam ingatannya, Fuze hampir sudah keliling dunia arwah, atau minimal tahu dari cerita. Ini pertama kalinya ia mendengar suara air mengalir di sini.
“Serius, tak ada suara lain? Katanya ular bisa merasakan getaran dari tanah, kau yakin tak mendengar suara aneh?”
Arya pun menempelkan tubuhnya ke tanah, mendengarkan lekat-lekat.
“Tidak ada. Walau ekorku tak sempurna, dalam hal lain aku hebat kok. Misalnya, penciumanku. Di dunia arwah, berapa banyak hantu yang bisa membedakan bau seperti aku... eh, eh, tunggu! Ada suara langkah! Semakin dekat! Li... Linchuan! Bagaimana ini?!”
Fuze tengah bersandar di batang Pohon Pemakan Tulang untuk beristirahat. Pohon ini hanya memangsa jiwa hantu, bagi makhluk hidup seperti Fuze, paling-paling hanya kehilangan sedikit energi kehidupan. Bisa bertahan di dunia arwah, kehilangan begitu sedikit energi bukan masalah.
Mendengar ucapan Arya, Fuze hampir saja tergelincir jatuh.
Sungguh, ia hanya asal bicara, ternyata benar ada suara? Dan itu manusia? Sejak kapan ia jadi tukang sial begini?
Siapa gerangan orang itu? Apakah Kakeknya yang sudah lama tak ditemuinya?
“Siapa orangnya? Seberapa jauh?”
Arya hanya membalas dengan tatapan datar, kalau saja ular bisa memutar bola mata.
“Mana kutahu, yang jelas langkahnya mantap, sepertinya orang sepertimu. Tapi yang kutahu pasti, dia tak membawa aura Aki.”
Orang seperti dia? Selama bertahun-tahun di dunia arwah, Fuze belum pernah bertemu manusia seperti dirinya. Yang pernah ia temui, biasanya orang licik atau mereka yang datang berkelompok, entah anggota perkumpulan rahasia atau murid sekte, pokoknya pasti rombongan.
Orang sendirian? Pernah, tapi biasanya tak lama juga sudah mati, bahkan arwahnya pun tak tersisa. Soalnya mereka membawa barang bagus, siapa yang tidak tergiur?
Sedangkan Fuze, pertama, ia tak punya apa-apa, kedua, tempat yang ia datangi selalu sepi dan tak menarik bagi para pemburu. Jarang sekali berpapasan dengan kelompok besar.
Fuze buru-buru bertanya, “Jadi benar itu satu orang?”
Arya mengangguk.
Fuze langsung berdiri, baru ingin bertanya ke mana arah orang itu, tiba-tiba tanah di bawah kakinya bergetar, membuatnya jatuh lagi.
Fuze mengumpat, “Sialan, apa lagi ini!”
Saat ia bicara, beberapa akar merambat keluar dari tanah, melilit tubuh Fuze dan Arya. Fuze berusaha menghunus Yu Guan, tetapi tangannya sudah terjerat di antara akar. Tak lama, akar-akar itu mengeras seperti kayu, membuat tangannya terkunci. Ia mencoba meronta, tapi akar itu sudah sekeras batu.
Tak hanya tangan, kaki dan tubuhnya pun mulai terjerat. Kalau saja Fuze bisa melihat dirinya sendiri, pasti ia akan menjerit, “Hantu!”
Saat itu, entah dari mana, muncul empat roh binatang tingkat tinggi. Mulut mereka terbuka, melolong ke arah Fuze. Suara mereka dalam dan serak, membuat tubuh jadi lemas, bahkan Arya yang hanya roh pun ikut terpengaruh.
Awalnya Fuze tidak tahu seberapa kuat mereka, tapi setelah itu ia sadar, dirinya tidak akan menang.
Apa yang terjadi ini? Tadi semuanya baik-baik saja, tidak pernah sial begini. Sejak kapan nasibnya begitu buruk?
Rasanya sejak bertemu Pengawas...
Mengingat Pengawas, Fuze nyaris merintih. Semoga kali ini ia tidak terlalu menderita...
Roh binatang itu sepertinya hanya ingin memastikan apakah akar sudah cukup kuat menahan mereka. Setelah melihat Fuze dan Arya tidak berdaya, mereka hanya berputar-putar, seperti menunggu seseorang datang.
Jangan-jangan suara langkah tadi adalah tuan mereka?
Andai saja tak terikat sekuat itu, Fuze ingin mencubit pahanya sendiri—apa benar ia tidak sedang bermimpi? Bagaimana bisa ia begitu mudah masuk perangkap, bahkan tanpa perlawanan.
Pelan-pelan ia memanggil Yu Guan, tapi temannya itu seperti sedang melamun, tak menanggapi. Fuze pun menutup mata, hatinya nyaris menangis. Sudah hampir mati, temannya malah bengong. Benar-benar sial.
Entah setelah mati nanti, ia bisa punya tubuh roh atau tidak.
Kalau iya, mungkin ia akan tetap menekuni profesi lamanya.
Ranting yang sudah mengeras itu, setelah lolongan roh binatang, mulai mengeluarkan racun. Arya yang di sampingnya menjerit kesakitan.
Habis sudah, ternyata hantu pun tak bisa selamat.
Dalam kantong serba guna miliknya, Fuze masih menyimpan seluruh harta benda. Ia berpikir, kalaupun harus mati, setidaknya harus melawan dulu. Mati tanpa perlawanan sungguh memalukan.
Sayang ia tak bisa bergerak.
Sayang Yu Guan tak peduli padanya.
Saat itu, Linchuan, yang terkenal di Jalan Timur Kota Arwah, hatinya dipenuhi kepedihan, nyaris seperti arwah penasaran yang mati tak wajar.
Namun, barangkali memang ada orang yang bernasib kuat, dan Fuze adalah salah satunya.
Terdengar suara benturan nyaring di telinganya, ikatan di tubuhnya tiba-tiba mengendur. Mata Linchuan sudah sulit terbuka, tapi ia tahu, hidupnya diselamatkan seseorang. Ia juga samar mendengar jeritan kesakitan roh-roh binatang itu.
Setidaknya, untuk saat ini, nyawanya selamat.
Setelah itu, Fuze pun jatuh pingsan...