Bab 155 Bersama Kakak Ipar
Melihat telapak tangan Chu Yang yang berhenti, Hu Mei Yue mengembuskan napas panjang dengan penuh kelegaan, sementara hatinya dipenuhi rasa terima kasih yang mendalam kepada putri sulungnya.
Hu Mei Yue menoleh tanpa menarik perhatian. Ketika melihat putri bungsunya sedang melahap sarapan hingga matanya menyipit karena kenikmatan, dia hampir muntah darah karena kesal. Dia hanya bisa terus mengomel dalam hati kepada Su Xue Ya: "Bagus sekali, anak kecil yang tidak tahu balas budi! Ibumu ini hampir saja menjadi korban orang, tapi kau masih punya selera menikmati sarapan?"
Pada saat itu, Hu Mei Yue merasa bahwa membesarkan putri bungsunya adalah sebuah sia-sia belaka. Tampaknya di masa depan, dia hanya bisa menggantungkan seluruh harapannya pada putri sulungnya!
Konon hati ibu dan anak selalu terhubung. Su Xue Ya sepertinya merasakan sesuatu pada saat itu, lalu dengan penasaran ia menoleh ke arah sang ibu di ranjang rumah sakit. Melihat ibunya masih tidur pulas, Su Xue Ya mengembuskan napas lega yang panjang, lalu melanjutkan kegiatannya melahap makanan dengan lahap.
Di sisi lain, Su Xue Ruou sudah berjalan ke sisi ranjang rumah sakit, lalu menatap Chu Yang dan bertanya sekali lagi, "Apakah Ibu sudah sadar?"
Melihat putrinya ada di hadapannya, hati Hu Mei Yue merasa sedikit lebih tenang. Ia lalu pura-pura memegang kepalanya dan terbangun dengan dramatis.
"Aduh, kepalaku sakit sekali," rintih Hu Mei Yue dengan keluhan yang dibuat-buat.
Mendengar itu, ekspresi khawatir langsung terpancar di wajah Su Xue Rou, lalu ia berkata dengan cemas, "Ibu, tidak apa-apa? Tunggu sebentar, aku akan panggilkan dokter untuk Ibu."
Melihat putrinya hendak bangkit, Hu Mei Yue dengan sigap meraih tangan Su Xue Rou dan berkata, "Tunggu sebentar, Xue Rou, Ibu sudah tidak apa-apa sekarang."
Hu Mei Yue saat ini sangat takut Chu Yang akan membalas dendam secara diam-diam, jadi mana mungkin ia membiarkan putrinya pergi darinya?
"Ibu, Ibu benar-benar tidak apa-apa?" Su Xue Rou bertanya lagi dengan penuh kekhawatiran.
Hu Mei Yue menggelengkan kepalanya berkali-kali, sementara pandangannya melirik ke arah Chu Yang dengan rasa ngeri.
Setelah saling bertatapan dengan Hu Mei Yue, Chu Yang langsung mengerti apa yang ada di dalam benaknya. Wajar saja, pemandangan semalam tentu saja mustahil bisa diterima oleh orang biasa!
Memikirkan hal ini, Chu Yang mendesah pelan, lalu berkata, "Kalau sudah sadar, silakan makan dulu." Setelah itu, ia berbalik dan pergi.
Hu Mei Yue menyaksikan Chu Yang berjalan keluar bangsal, lalu mengembuskan napas panjang. Benar dugaannya, pria bernama Chu Yang ini terlalu berbahaya. Ia tidak boleh membiarkan putrinya terus bersama pria itu. Namun, jika ia bertindak sendiri secara diam-diam, seandainya Chu Yang mengetahuinya, apakah pria itu akan mengerahkan orang untuk menghajarnya?
***
Chu Yang berdiri di koridor. Setelah menunggu sampai semua orang selesai menikmati sarapan, barulah ia melangkah kembali masuk ke dalam bangsal. Begitu melihatnya, Hu Mei Yue kembali menegang kaku karena gugup, persis seperti sebelumnya.
"Ayo, akuantar kalian pulang," ucap Chu Yang. Kemarin ia sudah bertanya kepada dokter, Hu Mei Yue tidak mengalami masalah serius dan bisa langsung pulang setelah sadar. Hanya saja, orang tua Wu Yue Yue kemungkinan masih harus dirawat inap untuk observasi selama beberapa hari.
Ibu Wu Yue Yue, yang sangat pelit dan menyayangkan uang, sebenarnya ingin ikut pulang bersama rombongan Chu Yang. Namun, berkat bujukan dari Su Xue Rou bersaudari, ia akhirnya mengurungkan niat tersebut.
Sebelum berangkat, Chu Yang mentransfer uang beberapa ratus yuan kepada Wu Yue Yue. Bukan karena Chu Yang pelit, melainkan karena gadis kecil itu hanya mau menerima jumlah segitu. Mengenai biaya rumah sakit dan lain-lain, semuanya sudah dibayar di muka oleh Su Xue Rou, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi.
Setibanya di area parkir, Chu Yang membuka pintu mobilnya sendiri, lalu berkata kepada Hu Mei Yue, "Silakan naik!"
Mendengar itu, hati Hu Mei Yue bergetar hebat. Dengan gugup ia berkata, "A-aku naik mobil Xue Rou saja."
Su Xue Rou melirik ibunya, lalu berkata tanpa berdaya, "Ibu, aku harus segera kembali ke kantor. Ibu naik mobil Chu Yang saja."
Begitu mendengarnya, Hu Mei Yue langsung meledak amarahnya. Dengan geram ia berkata kepada Su Xue Rou, "Kau anak durhaka! Apa susahnya kalau kau mengantar ibumu pulang dulu?"
"Ibu, aku akan segera terlambat. Sama saja kan kalau Ibu diantar pulang oleh Chu Yang?" Su Xue Rou menatap ibunya dengan tatapan tanpa kata, sementara matanya dipenuhi rasa frustrasi.
"Kapan lagi seorang direktur sepertimu pergi ke kantor?" Hu Mei Yue sama sekali tidak berani menaiki mobil Chu Yang. Sambil berkata demikian, ia langsung membuka pintu dan duduk di kursi penumpang depan mobil Su Xue Rou.
Su Xue Rou memijat pelipisnya karena jengkel. Ibunya sudah telanjur duduk di dalam, tentu saja ia tidak mungkin tega menarik atau mengusirnya keluar. Mau tidak mau, ia dengan perasaan kesal masuk ke kursi pengemudi.
Sudut bibir Hu Mei Yue menyunggingkan senyuman penuh kemenangan. Ia kemudian menoleh kepada Su Xue Ya dan berseru, "Mau lihat apa lagi? Cepat naik ke mobil!"
Su Xue Ya menatap ibunya dengan bingung, lalu beralih memandang Chu Yang yang tampak begitu tenang. Pada akhirnya, Su Xue Ya berjalan mendekat, merangkul lengan Chu Yang, dan berkata, "Aku mau pergi bersama Kakak Ipar."
Memang benar, semalam ada satu momen di mana Su Xue Ya sempat merasa ketakutan setengah mati oleh Chu Yang. Namun sesudahnya, ia justru merasa menyesal. Ia tahu persis bahwa Kakak Ipar sangat baik kepadanya, tetapi ia malah menunjukkan reaksi ketakutan kepada pria itu. Oleh karena itu, hatinya dipenuhi rasa bersalah.
Sepanjang malam itu, Su Xue Ya telah merenung dan berpikir jernih. Sekalipun Chu Yang memiliki sisi lain yang tidak ia ketahui, ia tetap sangat menyukai Kakak Iparnya ini. Karena itulah, ia tidak akan pernah menjauh atau meninggalkan Kakak Iparnya.
***
Merasakan kehangatan yang merambat dari lengannya, gelombang keharuan menyelimuti hati Chu Yang. Semalam, ia menyaksikan sendiri rasa takut yang melanda Su Xue Rou bersaudari. Karena itu, ia bahkan sudah bersiap mental untuk dijauhi oleh mereka berdua. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa adik ipar kecil ini masih bersedia mendekat dan bermanja-manja dengannya!
Melihat keintiman antara Su Xue Ya dan Chu Yang, Hu Mei Yue hampir pingsan karena marah. Putri bungsunya ini benar-benar tidak tahu cara membuat orang tenang! Semalam bukan berarti anak itu tidak melihat betapa kejam dan mengerikannya tindakan Chu Yang, tetapi mengapa sekarang ia masih berani mendekati sosok yang begitu berbahaya?
"Kemari kau, duduk di sini!" Hu Mei Yue berseru dengan wajah muram. Ia harus membuat putri bungsunya sadar dan kembali ke jalan yang benar.
Su Xue Ya mengerucutkan bibirnya, menatap sang ibu dengan ketidakpuasan, lalu berkata, "Aku tidak mau tahu, aku mau pergi bersama Kakak Ipar!"
"Kau..." Hu Mei Yue kehabisan kata-kata karena geram. Orang bilang anak perempuan yang sudah menikah ibarat air yang tumpah, tetapi dalam kasusnya, ia baru menikahkan satu anak perempuan namun rasanya seperti menumpahkan dua baskom air sekaligus...
Melihat kedua orang itu nyaris meledak dalam perdebatan, Su Xue Rou menggelengkan kepalanya tanpa daya. Ia lalu berkata kepada Chu Yang, "Aku antar Ibu pulang dulu, kalian cepat susul ya!"
"Baik," jawab Chu Yang mengangguk. Ia kemudian mengelus lembut rambut indah di puncak kepala Su Xue Ya, dan berkata kepada gadis kecil yang sedang cemberut itu, "Ayo berangkat!"
Meskipun masih memasang wajah cemberut, Su Xue Ya tetap menurut dan masuk ke dalam mobil.
Sambil menatap Su Xue Rou yang berwajah tenang, Hu Mei Yue bertanya, "Bagaimana bisa kau begitu tenang membiarkan adikmu pergi bersama Chu Yang?"
"Chu Yang?" Su Xue Rou bertanya dengan nada bingung. "Ada apa dengan Chu Yang?"
Hu Mei Yue menatap sulungnya dengan jengkel, lalu berseru dengan nada penuh amarah, "Ada apa dengan Chu Yang? Masih tanya ada apa dengannya? Semalam dia mematahkan tangan orang lain secara langsung! Lagipula, dari gayanya, dia jelas-jelas adalah bos dari para preman jalanan itu. Kau masih tanya ada apa dengannya?"
Su Xue Rou terdiam sesaat, tenggelam dalam pemikirannya. Namun pada akhirnya, ia tetap memilih membela Chu Yang: "Chu Yang memukul orang kan karena mereka lebih dulu melecehkan dan mengganggu Adik Yue Yue. Ibu kan ada di tempat kejadian waktu itu. Ibu sangat tahu betapa menjijikannya niat yang mereka rencanakan terhadap Adik Yue Yue!"
Hu Mei Yue menghela napas panjang, lalu berkata, "Ibu tentu saja tahu, sampah-sampah masyarakat itu memang pantas mati. Tapi seharusnya kita membiarkan polisi yang menghukum mereka! Apa yang dilakukan Chu Yang itu adalah tindakan kriminal!"