Bab Sembilan Puluh: Rahasia Terbongkar
"Apa maksudmu?" Nada suara Zhao Buxiang mulai terdengar panik.
Chu Yang menatap Zhao Buxiang dengan pandangan mengejek, lalu perlahan berkata, "Zhao Buxiang, nama aslimu Zhao Liuguang, mantan manajer umum Grup Minghao, sahabat baik Zhou Ming. Namun, setahun yang lalu kau bersekongkol dengan orang lain untuk menjatuhkan Zhou Ming, diam-diam menguras harta perusahaannya. Akibatnya, Zhou Ming terjebak utang, dan kau melarikan diri dari Tiongkok dengan membawa banyak uang."
"Tidak kusangka kau masih berani kembali ke sini?" Chu Yang berkata dingin.
"Kau..." Wajah Zhao Buxiang penuh kepanikan. Keringat dingin menetes di dahinya, namun ia masih berusaha terlihat tenang, "Jangan memfitnahku. Aku tidak kenal siapa itu Zhao Liuguang. Namaku Zhang Buxiang, kalian bisa periksa data kepolisian. Aku sama sekali tidak ada hubungan dengan Zhao Liuguang."
"Kau datang ke sini untuk menjalankan tugas orang lain, bukan?" tanya Chu Yang dengan nada yang seolah telah mengetahui segalanya.
"Jangan asal bicara!" Setelah disinggung oleh Chu Yang, wajah Zhao Buxiang makin dipenuhi rasa takut, dan ia mulai berpikir untuk melarikan diri.
Pada saat itu, Su Xuerou dan Liu Yu menatap Chu Yang dengan mata terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja didengar. Melihat reaksi Zhao Buxiang, mereka tahu perkataan Chu Yang hampir sepenuhnya benar. Namun, bagaimana Chu Yang bisa mengetahui hal ini? Bukankah masalah itu sudah sepenuhnya ditutup setengah tahun lalu dan hanya segelintir orang saja yang tahu?
"Biarkan aku menebak tujuanmu kemari," Chu Yang berkata tenang, wajahnya menampilkan kepercayaan diri yang mantap, "Kau ingin mengulangi siasat lamamu, diam-diam bersekongkol dengan pihak lain lalu menguras semua uang milik Xueyang, bukan?"
"Semua tuduhan yang kau sebutkan itu tidak berdasar. Apa kau punya bukti?" Melihat orang-orang mulai mengerumuni mereka, Zhao Buxiang masih berusaha melakukan perlawanan terakhir.
"Bukti?" Chu Yang menyeringai, lalu menyerahkan ponselnya ke Zhao Buxiang. "Apa yang kau maksud ini?"
Begitu melihat isi berita di layar ponsel Chu Yang, Zhao Buxiang langsung membelalakkan mata. Berita itu jelas-jelas mengabarkan tentang pelariannya dengan membawa uang perusahaan, lengkap dengan foto dirinya yang sangat jelas. Siapa pun yang melihatnya pasti tahu itu dirinya, karena ada tahi lalat besar di dagunya yang menjadi ciri khas.
"Tidak, itu tidak mungkin," Zhao Buxiang panik. "Tuan Muda Lin sudah menutup rapat kasus ini. Bagaimana mungkin berita itu masih ada padamu!"
"Sialan, ternyata benar dia orang tak tahu balas budi itu. Direktur Zhou sudah memperlakukannya seperti saudara sendiri, tapi tega-teganya dia berbuat seperti ini."
"Betul! Orang semacam dia seharusnya langsung dilaporkan ke polisi!"
Suara bisik-bisik orang di sekitar seolah menusuk saraf Zhao Buxiang. Matanya penuh kegelisahan, terus mencari peluang untuk kabur.
"Cukup, lihatlah betapa pengecutnya dirimu," suara Chu Yang terdengar datar. "Aku tidak akan melaporkanmu ke polisi."
Chu Yang tahu ada orang kuat yang melindungi Zhao Buxiang dari belakang. Lagipula, tipe orang licik seperti Zhao Buxiang tidak mungkin meninggalkan jejak, jika tidak Zhou Ming pasti sudah mengetahui semuanya sebelum perusahaannya hancur. Jadi, melapor ke polisi pun tidak banyak gunanya. Alasan Zhao Buxiang ingin kabur hanyalah karena dia takut Zhou Ming akan membalas dendam.
"Sampaikan pada Lin Hongfei, trik murahan seperti ini tidak perlu digunakan lagi. Melihatnya saja sudah membuatku malu untuknya," ujar Chu Yang dengan santai. Sebelumnya, Zhao Buxiang sempat keceplosan menyebut nama Tuan Muda Lin, dan satu-satunya orang bermarga Lin yang punya masalah dengan Chu Yang dan juga menaruh hati pada Su Xuerou hanyalah Lin Hongfei.
Begitu mendengar ucapan Chu Yang, wajah Zhao Buxiang langsung pucat pasi. Ia buru-buru berkata dengan panik, "Bukan Lin Hongfei! Aku tidak mengenalnya! Sungguh, aku tidak kenal dia!"
Menatap Zhao Buxiang yang semakin panik, Chu Yang terkekeh sinis, lalu berkata, "Ternyata kau tidak sepintar yang diceritakan orang-orang. Lin Hongfei pasti sudah kehabisan akal sampai mengutus orang bodoh sepertimu."
Di tengah kerumunan, Zhao Buxiang masih berusaha membela diri, tak ingin orang-orang mengaitkannya dengan Lin Hongfei. Namun, sikapnya yang gugup itu justru semakin memperjelas bahwa dia memang utusan Lin Hongfei.
Tak jauh dari sana, di tengah kerumunan, Lin Hongfei yang menyamar dengan pakaian rapat tampak menatap Chu Yang dengan sorot mata penuh dendam. Ia mendekat ke Lin Lao dan berkata dengan suara berat, "Orang itu sudah tidak berguna. Singkirkan saja."
"Baik," jawab Lin Lao dengan hormat, lalu perlahan meninggalkan tempat itu bersama Lin Hongfei.
Akhirnya, Zhao Buxiang yang tak bisa membela diri lagi pun harus pergi dari tempat itu dengan penuh rasa malu diiringi cercaan orang-orang. Ia segera mengeluarkan ponsel dan mulai memesan tiket pesawat. Ia harus segera meninggalkan Tiongkok sebelum kabar ini sampai ke telinga Tuan Muda Lin!
Berjalan tergesa-gesa, Zhao Buxiang masuk ke sebuah gang kecil yang sepi. Ia akhirnya menghela napas lega. Tiket pesawat sudah dipesan, pesawat akan lepas landas setengah jam lagi.
Zhao Buxiang mengeluarkan ponsel dan menelepon keluarganya.
"Mau pergi ke mana terburu-buru seperti itu?" Suara tua yang serak tiba-tiba terdengar.
Mendengar suara itu, hati Zhao Buxiang langsung bergetar. Ia mengangkat kepala dengan gelisah. Melihat Lin Lao berdiri di depannya tanpa ekspresi, Zhao Buxiang bertanya dengan nada gugup, "Lin Lao, apa yang kau lakukan di sini?"
Lin Lao tidak menjawab, hanya menatap Zhao Buxiang dengan dingin, lalu perlahan berkata, "Tuan Muda Lin sangat kecewa padamu."
Begitu kalimat itu selesai, sebuah belati tiba-tiba muncul di tangan Lin Lao.
"Tidak, jangan!" Zhao Buxiang menjerit ketakutan. Tiba-tiba, ia merasakan sakit yang menusuk di tenggorokannya.
Menunduk, ia melihat belati berkilauan yang menusuk lehernya. Pikirannya kosong, ia ingin menahan pendarahan di lehernya, tapi kesadarannya semakin menghilang.
Akhirnya, Zhao Buxiang bahkan tidak sempat menyentuh lehernya sendiri. Ia terjatuh tak berdaya ke tanah.
Pada saat itu, dari ujung telepon terdengar suara seorang wanita, "Halo, sayang, ada apa?"
...
Di sisi lain, setelah kepergian Zhao Buxiang, meja rekrutmen Chu Yang dan kawan-kawan langsung dipadati pelamar. Pertama, karena Chu Yang telah membongkar kebusukan Zhao Buxiang, aib dunia bisnis, dan mengusirnya dengan memalukan; kedua, karena keberadaan dua wanita cantik, Su Xuerou dan Liu Yu.
Orang-orang yang tadinya hanya menonton, kini tak bisa memalingkan pandangan dari kedua wanita cantik di sudut kecil itu. Mereka langsung antri dan menyerahkan lamaran kerja mereka.
Melihat akhirnya ada yang melamar, dan jumlahnya begitu banyak, wajah Su Xuerou dan Liu Yu pun berseri-seri. Sekarang mereka bisa benar-benar memilih orang-orang yang berkualitas dan berpotensi.
Setiap kali menemukan kandidat yang cocok, Su Xuerou secara refleks akan melirik ke arah Chu Yang. Hanya setelah Chu Yang mengangguk, barulah ia memutuskan untuk menerima orang itu.
Melihat Su Xuerou yang tampak kurang tegas, Liu Yu hanya bisa menggelengkan kepala dengan heran. Apakah ini masih Su Xuerou, sang presiden es nan cantik dan dingin yang ia kenal selama ini?
Namun, melihat senyum bahagia yang samar di sudut bibir Su Xuerou, Liu Yu tetap merasa senang untuk sahabatnya itu. Setelah bertahun-tahun bekerja bersama, baru kali inilah ia melihat Su Xuerou begitu bahagia.
Liu Yu menatap wajah dingin Chu Yang dengan rasa penasaran. Sebenarnya, pesona apa yang dimiliki pria ini, hingga bahkan Su Xuerou yang dingin dan elegan pun bisa dibuat jatuh hati olehnya?