Bab Tiga Puluh Dua: Perusahaan Dirampas
Setelah Chu Yang selesai bicara, kakek itu pun tak berkata apa-apa lagi. Ia mulai menatap Chu Yang dengan saksama, rona puas di wajahnya semakin jelas.
"Anak muda, bolehkah aku minta sebatang rokok?" tanya kakek itu sambil mengecap bibirnya.
Mendengar itu, Chu Yang dengan tenang mengeluarkan kotak rokok dari saku, memberikan sebatang pada kakek itu lalu menyelipkan satu batang juga di mulutnya.
"Terima kasih," ujar sang kakek sambil tersenyum. Setelah itu, ia menjentikkan jarinya dan, sungguh ajaib, dari ujung jarinya muncul nyala api!
Chu Yang memandang kakek itu dengan sedikit terkejut, namun ia tidak berkata apa pun. Ekspresinya tetap datar; kejadian aneh bukanlah hal baru baginya, jadi ia tidak terlalu terkejut.
Melihat ketenangan Chu Yang, kakek itu menyunggingkan senyum misterius di sudut bibirnya. Ia pun tidak berbicara lagi, melainkan duduk bersama Chu Yang di pojok tembok, menikmati rokok bersama.
Setelah mematikan puntung rokok, Chu Yang mengeluarkan ponsel untuk melihat waktu. Sudah hampir waktunya Su Xuerou pulang kerja. Ia pun menyimpan ponsel dan tanpa sepatah kata melangkah pergi.
Melihat bayang punggung Chu Yang yang menjauh, mata kakek itu berputar lalu ia memanggil, "Nak, tunggu sebentar!"
Begitu Chu Yang menoleh, kakek itu mengeluarkan sebuah kartu hitam pekat dan menyerahkannya padanya. "Kakek tidak punya barang bagus, anggap saja undangan ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah membagi rokok."
Chu Yang menerima kartu itu dengan heran dan memperhatikannya. Kartu itu terlihat biasa saja. Hanya ada tiga huruf timbul besar bertuliskan "Paviliun Tian Gong".
Setelah memperhatikannya, Chu Yang mengangkat kepala. Kakek itu sudah lenyap tanpa jejak, hanya tersisa aroma rokok murah yang menusuk hidung di udara.
Chu Yang menatap lurus ke satu arah, merenung sejenak, lalu memasukkan kartu itu ke dalam saku dan berjalan pulang.
...
Hari-hari berlalu tanpa terasa. Beberapa hari ini, Su Xuerou sama sekali tidak bicara sepatah kata pun kepada Chu Yang. Perang dingin seperti ini justru membuat Su Xueya senang, sehingga gadis kecil itu setiap hari tersenyum lebar sambil bersenandung riang.
Setiap kali Chu Yang berjalan ke depan pintu kamar, Su Xuerou selalu mengunci pintu dari dalam. Chu Yang hanya bisa menghela napas, tidak bisa berbuat apa-apa. Namun setiap malam, saat semua sunyi, ia selalu menyelinap masuk lewat jendela, duduk di tepi ranjang menikmati kecantikan wajah Su Xuerou yang sedang tidur.
Setiap pagi, Chu Yang pun keluar lewat jendela, lalu dengan santai pergi ke pasar membeli sayur.
...
Hari ini, Su Xuerou datang ke kantor lebih awal. Begitu masuk ke pintu utama, ia melihat sekelompok orang membawa barang-barangnya dalam kotak besar, berjalan keluar dengan wajah muram.
"Xiao Li, kalian sedang apa?" Su Xuerou menghentikan seorang gadis yang menunduk dan bertanya.
Mendengar itu, gadis itu mengangkat kepala dengan gembira, menatap Su Xuerou, "Direktur Su, akhirnya Anda datang. Anda tidak tahu, hari ini ada Direktur Su lain datang ke perusahaan, katanya mulai sekarang dia adalah presiden perusahaan ini. Lalu semua orang yang menentangnya langsung dipecat!"
"Apa?" seru Su Xuerou kaget. Kegelisahan langsung menyergap hatinya. "Aku akan lihat sendiri," ujarnya.
Tanpa menunggu, Su Xuerou berlari kecil masuk ke lift, perasaan tidak tenang makin kuat dalam hatinya.
"Direktur Su, ini laporan keuangan tahun ini, silakan Anda periksa," suara manajer keuangan terdengar bahkan sebelum Su Xuerou masuk ke ruangannya.
"Bagus, kamu memang tahu diri!" suara Su Gaoyi yang familiar namun menyakitkan telinga pun terdengar.
"Ternyata benar!" geram Su Xuerou dalam hati. Ia pun mendorong pintu kantor dengan keras.
"Su Gaoyi, apa yang kau lakukan di sini?" belum sempat masuk, Su Xuerou sudah membentak.
"Wah, bukankah ini adikku sendiri?" Su Gaoyi berpura-pura terkejut, "Kenapa marah sekali? Apa Chu Yang lagi-lagi selingkuh?"
Begitu nama Chu Yang disebut, hati Su Xuerou langsung dipenuhi kekesalan. Melihat wajah Su Gaoyi yang menyebalkan, ia berkata dengan nada tak puas, "Pergi kau, aku tidak sudi melihatmu di sini!"
"Haha!" Su Gaoyi mengejek, "Begitu caramu bicara pada kepala keluarga Su? Kau benar-benar tak menghormatiku sebagai kepala keluarga!"
"Aku..." Su Xuerou ingin membalas, namun seperti kata Su Gaoyi, sekarang ia adalah kepala keluarga, pemimpin tertinggi keluarga Su, segala keputusan ada di tangannya.
"Kudengar, sebaiknya kau cepat-cepat ceraikan Chu Yang, mumpung kau masih muda dan cantik. Tak akan ada yang menganggapmu perempuan rusak," kata Su Gaoyi dingin, menekankan kata-kata terakhir.
"Urus saja urusanmu sendiri!" Su Xuerou menahan amarah.
"Aku sekarang kepala keluarga, tentu harus memikirkan keluarga Su. Aku harus memaksimalkan nilai setiap orang. Kudengar, putra keluarga Lin masih memikirkanmu!"
"Putra keluarga Lin itu kaya, punya kekuasaan, tampan pula. Mana yang kurang dari Chu Yang si pecundang itu? Untuk apa bertahan pada satu pohon yang sudah mati? Menikah dengan keluarga Lin, kau jadi nyonya besar, hidup serba mewah, baju indah tak terhitung jumlahnya. Apa kau tak tergoda?"
"Cukup!" wajah Su Xuerou kini penuh amarah. "Urusan hidupku tak perlu kau campuri. Sekarang aku mau bekerja, kau silakan pergi!"
"Huh, tak tahu diuntung!" Su Gaoyi mendengus dingin, lalu menatap Su Xuerou dengan sorot dingin, "Kerja? Lebih baik kau pulang dan kerja di rumah saja!"
"Apa maksudmu, Su Gaoyi?" tanya Su Xuerou.
"Maksudku?" Su Gaoyi tersenyum mengejek, lalu berkata pada Manajer Zhang, "Manajer Zhang, jelaskan padanya maksudku."
Mendengar itu, Manajer Zhang membetulkan kacamatanya lalu berkata, "Direktur Su—eh, maksudku Nona Su, perusahaan ini sekarang sudah milik Presiden Su Gaoyi. Perusahaan ini tidak ada hubungannya lagi dengan Anda!"
Seolah disambar petir, Su Xuerou mendadak limbung. Su Cheng sudah menyerahkan semua aset pada Su Gaoyi, dan Su Gaoyi menyuruh Su Cheng pensiun. Kini, Su Gaoyi tak berhenti sampai di situ, bahkan perusahaannya sendiri pun hendak direnggut, memutus satu-satunya sumber penghasilan keluarga mereka!
"Atas dasar apa kau melakukan ini?" Su Xuerou bertanya keras.
"Atas dasar apa?" Su Gaoyi menegakkan leher dengan bangga, "Karena aku kepala keluarga Su, dan kau, Su Xuerou—bukan!"
Su Xuerou tak mampu membantah. Ia hanya bisa berkata dengan wajah muram, "Perusahaan ini kudirikan sendiri, tidak ada sangkut paut dengan keluarga Su!"
"Tidak ada hubungan? Kau bukan keluarga Su? Saat kau mendirikan perusahaan dulu, bukankah Su Cheng yang berinvestasi untukmu?" Su Gaoyi bicara dingin, "Atau kau dan keluargamu mau melepaskan diri dari keluarga Su?"
"Kalau begitu, perusahaan ini tidak kuinginkan," Su Gaoyi mengejek. Selama Su Xuerou keluar dari keluarga Su, ia punya seribu satu cara untuk membuat perusahaan kecil itu bangkrut dan gulung tikar. Satu-satunya akhir yang menanti Su Xuerou adalah—tak punya apa-apa!