Bab 150 Dewa Pengemudi Wuling Turun ke Jalan
Begitu ucapan itu terlontar, Chu Yang melangkah pergi ke dalam kegelapan tanpa menoleh ke belakang, ditemani oleh Abang Scar dan yang lainnya. Chu Yang adalah seorang pria yang menjunjung tinggi kesetiaan. Sekalipun Su Xuerou nantinya akan kembali menjaga jarak atau bahkan memilih berpisah darinya, tindakan ini tetap harus ia lakukan!
Hua Hu dan anak buahnya tanpa ampun dilempar ke dalam mobil van oleh Abang Scar. Tubuh mereka yang memang sudah babak belur langsung meringis kesakitan sambil merintih tanpa henti.
Chu Yang mengemudikan sedan Mercedes-Benz miliknya melesat kencang di depan. Sementara itu, Abang Scar memang layak dijuluki sebagai Dewa Balap Wuling. Meskipun kendaraannya memuat hampir dua puluhan orang, ia tetap mampu membuntuti Chu Yang dengan rapat, menjaga jarak dengan mantap tepat di belakang mobil Chu Yang.
Pemuda berambut pirang di kursi penumpang tampak sedikit pucat. Ia menatap jarum speedometer yang terus merangkak naik dengan jantung berdegup kencang, lalu berbisik dengan suara gemetar, "Abang... Abang Scar, sebaiknya kita pelankan laju kendaraannya. Lagipula hanya ada satu jalan ini, kita tidak mungkin kehilangan jejak."
"Hehehe!" Abang Scar tersenyum penuh percaya diri, lalu menunjuk ke arah si rambut pirang dengan dagunya. Menangkap isyarat tersebut, pemuda itu dengan sigap menyalakan sebatang rokok dan menylipkannya ke mulut Abang Scar.
Setelah menghirup dalam-dalam dan mengembuskan kepulan asapnya, Abang Scar berkata, "Tenang saja, Abang Scar ini mantan pembalap. Hal seperti ini mah kecil. Jangankan cuma muatan segini, ditambah dua puluh orang lagi pun Abang Scar tetap bakal bawa kamu meliak-liuk dengan penuh gaya!"
Si rambut pirang hanya merespons singkat, namun rasa tegang di hatinya sama sekali tidak berkurang. Setiap kali Abang Scar menikung, ia melakukannya dengan teknik *drifting* yang sangat lihai, namun justru membuat si rambut pirang merasa bahwa ia dan mobil beserta isinya akan segera terlempar keluar jalur.
Oleh karena itu, saat ini pemuda berambut pirang tersebut hanya bisa terus berdoa dalam hati agar Chu Yang segera sampai di tempat tujuan.
Tak lama kemudian, rombongan memasuki jalur pegunungan. Chu Yang yang berada di depan masih melaju dengan kecepatan tinggi, sementara Abang Scar di belakang mulai menurunkan kecepatan dengan ekspresi serius. Memang benar ia adalah mantan pembalap, tapi bukan berarti ia cukup bodoh untuk mempertaruhkan nyawanya demi pamer...
Melihat Abang Scar mengurangi kecepatan, si rambut pirang menghela napas lega. Untung saja Abang Scar tidak nekat, kalau tidak, ia sudah bersiap melompat keluar dari mobil karena tidak sanggup menahan rasa ngeri.
Deretan panjang pengendara sepeda motor di belakang juga ikut bernapas lega. Da Hei dan kawan-kawan kini semakin mengagumi Abang Scar. Mereka tidak menyangka bahwa sepeda motor modifikasi mereka justru tidak mampu menandingi mobil van Wuling bekas milik Abang Scar...
Tak berselang lama, jalan pegunungan di hadapan mereka berakhir, dan mobil Chu Yang berhenti dengan mulus di depan.
Abang Scar segera turun dari mobil. Melihat Chu Yang bersandar di kap mobil sambil mendongak menatap bulan sabit yang mengintip malu-malu di balik awan, Abang Scar berkata, "Kak Yang, kami sudah tiba."
Chu Yang mengalihkan pandangannya, mematikan puntung rokok di tangannya, lalu mengangguk dan berkata, "Bawa mereka turun."
Mendengar perintah itu, si rambut pirang dan yang lainnya langsung mendorong Hua Hu serta anak buahnya menghadap Chu Yang.
Chu Yang kembali mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu berkata kepada Abang Scar, "Suruh mereka semua kembali dulu."
Abang Scar mengangguk, lalu memberi isyarat kepada Da Hei dan para pria bertato lainnya untuk pergi. Si rambut pirang sempat melirik Da Hei di atas sepeda motor, kemudian beralih menatap Chu Yang. Ia melangkah maju dan bertanya dengan penuh ketegangan, "Kak Yang, bolehkah aku tetap tinggal?"
Chu Yang menatap pemuda berambut pirang itu dengan penuh minat, lalu bertanya, "Sudah pikirkan baik-baik?"
Si rambut pirang mengangguk dengan mantap.
Sepeninggal Da Hei dan rombongan motor yang melesat pergi meninggalkan debu, Chu Yang menatap dingin ke arah Hua Hu dan kelompoknya, lalu berucap datar, "Ayo jalan!"
Hua Hu dan anak buahnya tidak berani membantah. Dengan saling memapah, mereka berjalan pincang menuju kedalaman hutan pegunungan.
Sekitar setengah jam berlalu, rombongan telah menembus lebatnya pepohonan dan tiba di tepi sebuah jurang yang curam.
"Bagaimana tempat ini?" tanya Chu Yang sambil tersenyum tipis kepada Hua Hu.
Hua Hu menatap Chu Yang dengan kebingungan. Namun, begitu ia menangkap kilatan niat membunuh yang tajam di mata Chu Yang, kedua kakinya mendadak lemas hingga ia jatuh bersimpuh di tanah.
"K-kau, apa maksudmu?" tanya Hua Hu dengan terbata-bata.
"Hahaha... Hehehe!" Chu Yang tertawa lepas penuh seringai. Tatapannya berubah setajam bilah pisau, menghujam langsung ke dalam mata Hua Hu saat ia berkata dengan dingin, "Malam gelap angin kencang adalah malam yang tepat untuk membunuh! Menurutmu apa yang ingin kulakukan?"
"T-tidak, jangan!" Hua Hu merangkak mundur ketakutan di atas tanah. Otaknya berputar cepat menahan rasa sakit luar biasa dari tangan dan kakinya yang patah, lalu dengan bunyi gedebuk, ia bersujud di hadapan Chu Yang.
"Kakak, aku salah. Aku benar-benar tahu kesalahanku. Jangan bunuh aku, kumohon jangan bunuh aku," ratap Hua Hu sambil menangis histeris. Di hadapan kematian, sisi kemanusiaan selalu tampak begitu rapuh. Sekalipun ia pernah membunuh orang saat bekerja untuk Tuan Wu di masa lalu, ketika dihadapkan pada ajalnya sendiri, lubuk hati Hua Hu tetap dikuasai oleh rasa takut yang mencekam.
Pandangan Chu Yang sama sekali tidak menyisakan kehangatan. Saat ini, ia tampak bagaikan serigala buas, matanya memancarkan kilau haus darah.
"Kalian telah menyentuh orang yang paling tidak seharusnya kalian sentuh!" ucap Chu Yang dingin. Ia kemudian melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Zhu Qiang.
Zhu Qiang mendongak menatap Chu Yang yang tiba-tiba telah berdiri di depannya. Matanya membelalak lebar dipenuhi teror, membuat lututnya lemas dan membawanya berlutut di tanah.
Chu Yang bergerak secepat kilat, mencengkeram kuat leher Zhu Qiang seraya berbisik dingin, "Tidak usah sungkan. Aku akan langsung mengirimmu menemui Raja Neraka. Di kehidupan selanjutnya, ingatlah untuk membuka mata lebih lebar saat memilih orang."
Selesai berkata demikian, Chu Yang mempererat cengkeraman tangannya. Zhu Qiang yang terangkat di udara langsung merasakan cengkeraman maut yang merenggut napasnya. Kakinya meronta-ronta lemas, kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Chu Yang mati-matian. Namun, bagaimana mungkin tenaganya mampu melepaskan cengkeraman Chu Yang?
Sesaat kemudian, kesadaran Zhu Qiang mulai kabur. Matanya mendelik ke atas, kakinya meronta untuk terakhir kalinya, dan ia pun resmi pergi menemui Raja Neraka.
Dengan ekspresi acuh tak acuh seolah sudah biasa melakukannya, Chu Yang melirik sejenak mayat di tangannya, lalu melemparkannya begitu saja ke dalam jurang yang gelap dan tak berdasar.
"Argh!" Melihat Chu Yang membunuh dengan keji, para anak buah Hua Hu menjerit ketakutan. Mereka langsung berlutut serempak, membenturkan kepala ke tanah sekuat tenaga sambil memohon, "Kakak, kami salah! Tolong jangan bunuh kami!"
Chu Yang menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, lalu berkata, "Yueyue adalah adik dari saudaraku. Kalian berani merundung dan menyakitinya. Membiarkan kalian mati dengan begitu mudah sudah menjadi bentuk belas kasihan terbesar dariku!"
Tatapan Chu Yang dipenuhi hawa dingin, bahkan jauh lebih membeku ketimbang malam kelam ini. Memang benar ia adalah seorang prajurit bayaran legendaris, namun gaya bertindaknya lebih menyerupai sesosok iblis. Jika bukan karena tempat ini berada di wilayah Tiongkok, Chu Yang pasti sudah membuat Hua Hu dan komplotannya merasakan siksaan di mana kematian terasa jauh lebih baik daripada hidup!
Chu Yang menginjak kepala salah seorang preman, membenamkannya telak ke dalam tanah hingga tak bisa bernapas. Wajah preman itu terkubur dalam lumpur tanpa celah udara, dan tak lama kemudian ia pun mulai meronta-ronta hebat.
Melihat gerakan meronta dari anak buahnya yang semakin lama semakin melemah, Hua Hu diliputi ketakutan yang luar biasa. Pikirannya kosong total, hanya satu kalimat yang terus berkelebat di benaknya: "Habislah aku, aku akan mati!"
Preman tersebut tewas kehabisan napas di dalam tanah akibat diinjak oleh Chu Yang. Setelah itu, Chu Yang melayangkan satu tendangan kuat, mengirim mayat preman tersebut meluncur menyusul Zhu Qiang ke dasar jurang.
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi "Bum!" yang menggema di lembah pegunungan yang sunyi di tengah malam.