Bab 24: Tenang Saja, Dia Tidak Akan Mati

Dalam pengasingan, tabib muda berbakat menyelamatkan seluruh keluarga bangsawan negara. Wu Baiwan 2499kata 2026-02-10 01:33:37

Zhang Qing memang orang yang mudah tersulut emosi, apalagi kali ini ia justru dibentak oleh seorang tahanan yang dipimpinnya sendiri. Ia pun refleks mencabut cambuk yang terselip di pinggangnya.

Melihat itu, Zhou Lao Ba segera menghadang.

“Tenang dulu,” ujarnya.

Zhang Qing tampak tak terima, berusaha melewati Zhou Lao Ba untuk melabrak He Zhirang.

Mo Jiuye yang berbaring di atas gerobak kayu, memperhatikan semua itu dari kejauhan. Begitu melihat gelagat Zhang Qing hendak berbuat kasar, ia sudah bersiap untuk bangkit dan melindungi istrinya.

Bagaimanapun juga, sebagai suami, ia tidak akan membiarkan istrinya diperlakukan sewenang-wenang.

Para perempuan keluarga Mo pun sama gelisahnya. Sejak He Zhirang bergegas menolong Peng Wang yang keracunan ular, mereka tak pernah merasa tenang. Bahkan rasa lapar di perut pun seakan tak terasa.

Nyonya Tua Mo, yang jeli, memperhatikan dada putranya naik turun dengan keras; ia pun bisa menebak kegundahan hati Mo Jiuye.

Demi menjaga keadaan tetap terkendali, ia duduk di samping gerobak dan berbisik pelan, “Jangan gegabah.”

Namun, bagaimana mungkin Mo Jiuye bisa tenang? Apapun perasaannya terhadap He Zhirang, sebagai satu-satunya pria di keluarga Mo, jika ia bahkan tak mampu melindungi para perempuan di rumahnya, lebih baik mati saja daripada hidup seperti ini.

Namun, demi menenangkan ibunya, ia menahan diri dan tidak bergerak.

Pada saat itulah, He Zhirang sudah bangkit dari balik pohon dan melangkah tenang ke arah para petugas. Air mukanya sedemikian tenang, tak tampak sedikit pun ketakutan terhadap cambuk Zhang Qing.

Zhou Lao Ba menahan lengan Zhang Qing agar tak bertindak, lalu bertanya pada He Zhirang.

“Bagaimana keadaan kepala kami?”

Sejak pertama berhadapan dengan para petugas ini, He Zhirang sudah memperhatikan, Zhang Qing adalah tipe orang yang mudah meledak, sedikit-sedikit ingin menggunakan kekerasan—bisa dibilang, otot lebih banyak bekerja daripada otaknya.

Sebaliknya, Zhou Lao Ba justru lebih tenang dan cermat, jelas memiliki pertimbangan matang.

Karena itu, ia mengabaikan tatapan tajam Zhang Qing dan langsung berbicara pada Zhou Lao Ba.

“Tenang saja, dia tidak akan mati.”

Belum sempat Zhou Lao Ba bicara, Zhang Qing sudah melepaskan diri dari pegangan temannya dan berlari ke balik pohon.

“He, kalau berani bohong, awas saja, kubikin mampus kamu!”

He Zhirang bahkan tidak menoleh, berdiri dengan tangan bersedekap di tempat.

Zhou Lao Ba memang jauh lebih bijak daripada Zhang Qing. Ia tidak langsung memeriksa keadaan Peng Wang, melainkan kembali bertanya pada He Zhirang.

“Kamu yakin racunnya sudah dinetralisir?”

“Aku yakin. Bahkan bisa kupastikan, dalam waktu satu jam ia akan sadar,” jawab He Zhirang mantap.

Zhou Lao Ba memperhatikan sikap tenang He Zhirang dan merasa ia tidak berbohong.

“Baiklah. Kalau kepala bangun, kami pasti tidak akan melupakan jasamu.”

Itulah yang ditunggu-tunggu He Zhirang sejak tadi, namun ia tetap waspada; selama Peng Wang belum benar-benar sadar, janji siapa pun belum bisa dipegang.

“Sudah, kalian urus saja Peng Wang. Aku haus, lelah, dan mengantuk. Aku mau istirahat.”

Setelah berkata begitu, He Zhirang pun melangkah pergi ke arah keluarga Mo.

Zhou Lao Ba tidak berkata apa-apa lagi, namun sudah memasang niat dalam hati.

Baru beberapa langkah He Zhirang berjalan, para perempuan keluarga Mo langsung menyambutnya.

“Adik ipar, cepat istirahat,” kata Kakak Ipar Kelima, Zhao Jiajia, sambil menopangnya.

Apalagi He Zhirang yang sejak tadi sibuk menolong, mereka yang hanya duduk diam saja sudah merasa letih bukan main.

Beberapa kakak ipar lain serta Mo Hanyue pun turut mengelilingi dan membawa He Zhirang kembali ke tempat mereka.

“He Zhirang, kamu benar-benar berhasil menetralkan racun ular itu?”

Nyonya Tua Mo dan Mo Jiuye sama-sama merasa ragu. Sebelum Mo Jiuye menikah, Nyonya Tua Mo memang pernah diam-diam mencari tahu tentang He Zhirang lewat beberapa jalur.

Yang ia dengar, He Zhirang hanyalah seorang putri bangsawan yang jarang keluar rumah dan tak pernah terdengar punya kemampuan medis.

Namun, sejak semalam berinteraksi, Nyonya Tua Mo jadi yakin satu hal: menantu kesembilan ini sungguh berbeda. Baik kecerdasan maupun kemampuan, jelas tak bisa disandingkan dengan delapan menantu lainnya.

Kalau saja hari ini ia tidak melihat sendiri perlakuan keluarga He terhadap He Zhirang, ia pasti masih meragukan identitas menantunya itu.

Kini masalah identitas sudah terjawab, tapi keahliannya dalam pengobatan... sungguh membingungkan!

He Zhirang tentu paham makna keraguan mertuanya. Sebenarnya ia sudah mempertimbangkan sebelumnya, dari sekian banyak rahasianya, hanya keahlian medis inilah yang bisa ia tunjukkan secara terbuka.

Karena itu, ia pun menyiapkan alasan yang masuk akal.

“Ibu, sewaktu kecil, aku beruntung mendapat sebuah kitab pengobatan dari seorang ahli. Seperti yang Ibu tahu, aku memang tidak suka keluar rumah. Sehari-hari, aku hanya mengisi waktu dengan mempelajari kitab itu. Lambat laun, semua ilmunya sudah kumengerti. Sekarang, mengobati orang jadi hal yang mudah bagiku.”

Bagi Nyonya Tua Mo, memang benar He Zhirang sangat jarang keluar rumah. Maka ia pun percaya pada alasan yang diutarakan menantunya.

“Kalau memang kamu mengerti ilmu pengobatan, Ibu jadi tenang,” ujarnya jujur, tanpa tedeng aling-aling.

He Zhirang benar-benar kelelahan sekarang. Ia melihat-lihat sekitar, hanya ada rerumputan dan pepohonan. Saat penggeledahan oleh petugas, mereka sama sekali tidak diizinkan membawa barang sedikit pun, apalagi bantal atau selimut.

Padahal, dalam ruang penyimpanan miliknya masih ada selimut bulu bebek putih dari kehidupan sebelumnya, tapi mustahil bisa dikeluarkan saat ini.

Ia pun teringat pada sebuah ungkapan: “Sendiri di bawah langit, langit jadi selimut, bumi jadi alas, gunung dan sungai jadi bantal.”

Saat ia sedang melamun, Mo Hanyue tiba-tiba mengadukan diri dengan suara manja.

“Ibu, aku lapar dan mengantuk. Harus bagaimana?”

Nyonya Tua Mo pun merasa pusing mendengarnya. Bukan hanya Mo Hanyue yang sejak kecil hidup serba berkecukupan, para perempuan lain pun semuanya anak orang berada.

Perut kosong, tidur beratapkan langit, sampai pagi pun kalau tidak sakit sudah untung.

Ia mengelus kepala Mo Hanyue yang awut-awutan, lalu berkata dengan nada berat, “Hanyue, ini baru hari pertama kita keluar. Ke depan, kita harus hidup seperti ini. Kamu harus belajar beradaptasi.”

Menghadapi para anak muda, ia hanya bisa tegar. Begitu ia goyah di depan mereka, mental semua orang pasti runtuh.

He Zhirang sendiri pun belum tahu benar seperti apa watak Peng Wang. Kalau ia tahu berterima kasih, keluarga Mo mungkin akan sedikit diperhatikan setelah ini.

Sebaliknya, kalau dia berkhianat dan tidak menganggap budi, maka semua usaha hari ini menjadi sia-sia.

Kalau memang begitu, ke depan ia harus mencari jalan lain demi memperbaiki nasib keluarga Mo.

Saat itu, He Zhirang hanya berharap Peng Wang cepat sadar dan menjadi orang yang tahu berterima kasih. Dengan begitu, mungkin malam ini mereka bisa tidur lebih tenang.

Tiba-tiba, dari arah para petugas terdengar suara tawa riang.

“Hahaha… syukurlah, kepala sudah sadar!”

“Kepala, bagaimana perasaanmu?”

“Kepala, kau hampir saja membuat kami mati ketakutan!”