Bab 35: Pertemuan Tak Terduga
Dalam masa menunggu, Xu Zhezhi sempat-sempatnya mengeluarkan ponsel untuk melihat sejenak. Baru ia sadari, ada permintaan pertemanan dari seseorang yang tak dikenal. Pesan verifikasi yang dikirimkan pun sangat singkat:
[Aku Xiao Congyu]
Xu Zhezhi mengerutkan kening, lalu menghapus pesan itu tanpa ragu. Ia sama sekali tak tertarik menambah bocah kecil itu ke daftar temannya.
Namun, rupanya pihak sana tidak menyerah. Dalam beberapa jam berikutnya selama mereka berjalan-jalan, permintaan pertemanan dari Xiao Congyu terus-menerus masuk ke ponsel Xu Zhezhi, berkali-kali tanpa henti. Bahkan setelah diblokir, ia selalu bisa menemukan akun baru untuk kembali mengajukan permintaan.
Xu Yuanhe berjalan di samping Xu Zhezhi. Melihat ponsel Xu Zhezhi yang berdering tiap beberapa saat, ia berhenti sejenak, “Kalau memang ada urusan penting, kau boleh urus dulu.”
Xu Zhezhi tertegun, “Aku gak apa-apa kok.”
“Ponselmu terus berbunyi,” Xu Yuanhe melirik tasnya, “Bagaimanapun, paling tidak beri kesempatan kepada orang itu untuk menjelaskan.”
Xu Zhezhi terdiam sejenak, “Kau tahu siapa dia?”
Xu Yuanhe mengangguk.
“Tadi waktu kau buka ponsel, aku tak sengaja melihatnya. Yang mau menambahmu itu sepupuku.”
“Sepupu?!” Xu Zhezhi membelalakkan mata karena terkejut, “Kau bilang Xiao Congyu? Aku ingat waktu hari kembali ke sekolah, kalian sempat bertemu di depan gerbang, dan kalian tampak tidak saling kenal saat itu.”
“Memang waktu itu belum kenal. Aku baru pernah melihat fotonya di ponsel Kakek, beberapa tahun lalu setelah aku kembali ke keluarga Xu.”
Pantas saja.
Pantas saja latar belakang keluarga dan penampilan Xiao Congyu begitu istimewa.
“Lalu, bagaimana kau mengenalinya kemudian?”
“Pada hari kedua setelah kau pingsan,” Xu Yuanhe melihat ada toko sofa di depan, lalu mengajak Xu Zhezhi masuk, “Aku bertemu orang tua Xiao Congyu di ruang kepala sekolah.”
Xu Zhezhi jadi kehabisan kata-kata. Dunia ini sungguh sempit. Hanya gara-gara menonton pertandingan basket, sudah menimbulkan begitu banyak kejadian.
“Kalau begitu, kenapa dia masih menghubungiku? Bukankah semua sudah dijelaskan di ruang kepala sekolah?”
Xu Yuanhe berhenti di depan sofa kulit asli, lalu berbalik menjelaskan, “Bagaimanapun, semua ini bermula dari dia. Mungkin dia hanya ingin mengundangmu makan, meminta maaf secara langsung. Kalau kau tidak berminat, setelah menerima permintaannya, kau bisa tolak secara baik-baik.”
“Oh.”
Selesai membahas itu, Xu Yuanhe mengajak Xu Zhezhi mendekat, “Coba duduk di sofa ini, bagaimana menurutmu?”
Xu Zhezhi melirik sekilas, tetap berdiri sambil menyilangkan tangan, “Kurang bagus. Warnanya terlalu gelap.”
“Kalau yang di sebelahnya?”
“Itu terlalu terang.”
…
Selama proses membeli furnitur, Xu Yuanhe selalu menyesuaikan pilihan dengan selera Xu Zhezhi. Namun ketika keduanya duduk di ruang VIP untuk membayar, tanpa diduga, mereka bertemu juga dengan Xiao Congyu yang juga sedang memilih furnitur.
Begitu melihat Xu Zhezhi, Xiao Congyu sempat terpaku. Ia tidak menyangka akan bertemu gadis itu di tempat ini.
“Kakak kelas? Kau juga beli sofa?”
Xu Zhezhi sudah lelah berkeliling, ia bersandar santai di kursi pijat sambil meminum air. Mendengar suara Xiao Congyu, ia menelan air, lalu menatap sekilas.
Tampak Xiao Congyu memakai jaket bulu hitam model pendek, resleting tertutup rapat hingga hanya dagunya yang tegas terlihat. Di bawah alisnya yang indah terdapat sepasang mata jernih bersinar, dan ia tampak gembira melihat Xu Zhezhi, bahkan sorot matanya pun dipenuhi senyum.
Xu Yuanhe yang sedang mengisi alamat di nota belanja juga melirik ke sana. Melihat ekspresi Xiao Congyu saat menatap Xu Zhezhi, tatapannya jadi dalam, namun ia segera kembali mengisi data.
“Aku menemani sepupumu belanja,” ujar Xu Zhezhi setelah tahu siapa yang datang, lalu mengalihkan pandangan, kembali asyik menonton video di ponsel.
Baru setelah diingatkan, Xiao Congyu sadar bahwa di ruang VIP itu ada orang lain. Pria itu bertubuh tinggi ramping, mengenakan mantel hitam berpotongan rapi, bahannya berkualitas tinggi, garisnya membalut bahu lebar dan pinggang rampingnya dengan sempurna. Di lehernya terikat sabuk biru kelabu buatan tangan. Tatapan matanya gelap, dingin dan berjarak, menambah aura yang membuat orang segan mendekat.
Sejak tahu bahwa pria itu adalah tokoh legendaris yang sering diceritakan keluarga besarnya, Xiao Congyu selalu merasa sedikit gentar. Kini, bertatap muka langsung, ia makin gugup, segera mengalihkan pandangan dari Xu Zhezhi.
“Sepupu, kau juga di sini?” tanyanya.
Xu Yuanhe mengangguk tipis, “Kau datang sendiri?”
Xiao Congyu menggeleng, “Tidak, aku sama ibuku. Dia lagi di bagian perlengkapan tempat tidur.”
“Baiklah, kalau sudah selesai, pulanglah lebih awal.”
Percakapan singkat itu segera berakhir, dan Xu Yuanhe tampak tidak berniat berbasa-basi.
Xiao Congyu diam-diam menghela napas lega, tapi sudut matanya tetap tak bisa menahan diri melirik ke arah Xu Zhezhi.
Sebenarnya, setiap kali bertemu Xu Zhezhi di luar, selalu saja ada sepupunya itu di samping. Apa hubungan mereka? Pacar? Tapi ia segera menepis pikiran itu. Orang seperti sepupunya, masa suka gadis yang jauh lebih muda? Selain pacar, hubungan apalagi yang mungkin?
Masa iya keluarga? Tapi setahunya Xu Yuanhe tidak punya saudara kandung.
Saat ia sedang melamun, terdengar langkah kaki menghampiri. Xiao Congyu baru sadar bahwa Xu Zhezhi dan Xu Yuanhe sudah selesai membayar dan hendak pergi.
Teringat sesuatu, ia memberanikan diri memanggil, “Kakak kelas!”
Xu Zhezhi menoleh, “Ya?”
“Itu…,” melihat pria yang berdiri di belakang Xu Zhezhi juga berhenti, Xiao Congyu mendadak gugup, “Bisa tolong terima permintaan pertemananku? Aku sungguh ingin mewakili Liu Xue meminta maaf padamu. Bagaimanapun… semua ini bermula dari aku.”
Xu Zhezhi menatapnya beberapa saat, lalu mengangguk pasrah. “Baiklah, tapi lain kali kalau di sekolah, jangan panggil-panggil namaku hanya soal sepele.”
Xiao Congyu memang khawatir Xu Zhezhi akan mengalami masalah lagi gara-gara dirinya, makanya ia mencari cara untuk menghubunginya. Mendengar peringatan Xu Zhezhi, ia langsung mengangguk, “Baik, aku tidak akan lakukan lagi.”
“Ya, kami pergi dulu. Dadah.”
Selesai berkata begitu, Xu Zhezhi mencolek lengan Xu Yuanhe, dan mereka pun pergi bersama.
Xiao Congyu memandangi punggung mereka yang menjauh, tanpa sadar melamun.
Saat ibunya kembali, melihat sikap aneh anaknya, ia mengira putranya sakit, lalu menyentuh dahinya.
“Tidak demam, Congyu, kau kenapa?”
Xiao Congyu mundur selangkah, menghindar dari sentuhan ibunya, lalu berkata, “Aku tidak sakit. Lagi pula, sudah berapa kali ku bilang, aku hampir dewasa, jangan suka menyentuhku seperti anak kecil lagi.”
Ibu Xiao tertawa kecil, “Kenapa? Sudah dewasa bukan anakku lagi? Ibu menyentuh anak sendiri, salah apa?”
Xiao Congyu mengerutkan kening, “Bagaimana kalau nanti aku punya pacar? Kalau dia lihat kan tidak enak.”
Ibu Xiao tertegun beberapa detik, lalu tertawa terbahak-bahak, “Eh? Jangan-jangan kau sudah suka seseorang?”
Xiao Congyu refleks melirik ke arah Xu Zhezhi pergi, lalu buru-buru membantah, “Ibu, jangan ngaco. Sudah selesai belanjanya? Kalau sudah, ayo pulang.”
“Ih, malah malu. Ya sudah, ibu tak tanya lagi. Nanti tunggu kau bawa dia pulang ke rumah.”
“Ibu!”
“Hehehe, sudah, ibu diam.”
…