Bab 11: Badai Pertengkaran
“Aneh sekali... Bagaimana Kakak Yuan He tahu kau ada di sini?”
Suara Lin Chujing di sampingnya tiba-tiba memecah keheningan.
Xu Zhezhi segera tersadar dan menatapnya, “Apa?”
Lin Chujing menunjuk ke layar ponsel Xu Zhezhi, “Sumpah, aku tidak sengaja melihat layar ponselmu! Tapi avatar kucing Kakak Yuan He itu benar-benar mencolok!”
Avatar kucing.
Xu Zhezhi juga sempat memperhatikannya saat pertama kali menambahkan Xu Yuan He di WeChat. Gambarnya seekor kucing Inggris hitam pekat yang sedang berbaring di atas selimut putih berbulu, matanya bulat, kepalanya bulat, tubuhnya meringkuk menjadi satu lingkaran.
Sangat menggemaskan.
Namun, ia sendiri tak tahu apakah kucing itu memang dipeliharanya.
“Mungkin dia lihat postinganku di Moments,” Xu Zhezhi menjawab pertanyaan tadi, lalu mengalihkan pandangan dari ponsel dan kembali menatap ke depan.
Sayangnya, pintu aula tempat Yuan He berada sudah tertutup.
“Kau sudah posting di Moments? Kalau begitu aku juga mau ambil beberapa foto.”
Lin Chujing yang sedang bersemangat melihat foto-foto indah yang diunggah Xu Zhezhi, ikut-ikutan ingin memotret beberapa kue cantik dan mengunggahnya.
Akhirnya, di kursi itu hanya tinggal Xu Zhezhi seorang diri.
Ia tak mempermasalahkan, lalu membuka sebuah gim strategi menara dan mulai asyik mengetuk layar.
Kadang membangun rumah kecil, kadang melihat panduan upgrade, benar-benar menikmati permainannya.
Namun tepat saat ia hendak memulai pertandingan untuk merebut sumber daya, beberapa orang perlahan-lahan mendekatinya dari belakang.
“Eh, bukankah ini Putri Besar Keluarga Xu? Kenapa duduk sendirian di sini?” Seorang gadis tinggi kurus yang menenteng tas baru merek terkenal membuka suara lebih dulu.
Segera, yang lain menimpali, “Masih perlu ditanya? Sudah bangkrut, tidak ada lagi yang mau menjilat.”
“Apa sih yang kalian bicarakan? Dia kan belum mengaku. Lagipula, di Jinggang ini berapa banyak keluarga kaya bermarga Xu? Mana mungkin Xu Zhezhi kita yang bangkrut, kan?”
“Hahaha, siapa tahu,” celetuk seorang gadis yang agak pendek, lalu melirik tas yang disandang Xu Zhezhi, “Kalau tidak salah, itu koleksi musim gugur tahun lalu, kan? Zhezhi, tidak bosan apa, pakai tas yang sama terus-menerus?”
Xu Zhezhi menurunkan ponsel, menjejakkan ujung kaki ke lantai, dan memutar kursinya menghadap mereka.
Melihat yang datang adalah Shao Xuejia dan Liu Yiwan dari kelas sebelah, bibirnya langsung terangkat sinis.
Benar saja, burung merak yang jatuh tak lebih baik dari ayam.
Dulu dua orang ini selalu menunduk dan membungkuk di hadapannya, kini hanya karena kabar angin, tanpa kepastian keluarganya bangkrut, mereka sudah buru-buru datang untuk pamer kemenangan.
Xu Zhezhi menyandarkan kepala dengan malas dan mendesah ringan, “Kalian tahu tidak, apa arti dari koleksi klasik?”
Shao Xuejia menaikkan alis, “Maksudmu? Jangan bilang tas yang kau pakai itu koleksi klasik? Xu Zhezhi, jangan anggap kami bodoh, itu jelas tas biasa...”
“Hmph...” Xu Zhezhi terkekeh rendah, tapi senyumnya datar, “Koleksi klasik dan tas biasa saja kalian tak bisa bedakan, jangan-jangan kalian memang sedang melawak?”
Ia mengambil tas selempang yang dipakainya dan meletakkannya di atas meja kaca, “Ini adalah edisi terbatas dunia, hasil rancangan desainer internasional terkenal Konte Senna untuk istrinya sendiri. Motifnya jika disatukan membentuk nama lengkap sang istri. Tak hanya diakui sebagai karya warisan Konte, tapi juga merupakan penghormatan pada esensi merek ini, karya abadi sepanjang masa.”
Shao Xuejia mendengarkan dengan bingung.
Merek tas itu memang pernah ia beli, tapi hanya yang sedikit lebih mahal dari standar orang kebanyakan.
Jadi apa yang dikatakan Xu Zhezhi tadi sama sekali asing baginya!
Tapi ia hanya tertegun sejenak, lalu tertawa, “Anggap saja kau benar, tapi coba lihat, mana ada sosialita yang keluar rumah pakai tas yang sama terus-menerus?”
Sambil bicara, ia menyenggol Liu Yiwan di sampingnya.
Liu Yiwan pun maju selangkah, “Bukan cuma tas, kan? Gaun yang kau pakai itu juga sering kulihat di luar, jangan bilang itu juga ‘koleksi klasik edisi terbatas’.”
Senyum di wajah Xu Zhezhi tak berubah, tapi matanya makin dingin, “Kenapa, apa yang kupakai harus kuejelaskan pada orang lain? Kalian berdua, yang paham mode tahu kalau kalian pakai koleksi terbaru, yang tidak tahu pasti mengira itu barang pasar malam.”
Mendengar itu, kedua gadis itu langsung membeku senyumnya.
Jelas, Xu Zhezhi sedang menyindir mereka tidak punya kelas, sampai-sampai barang bermerek pun tampak murahan.
“Kau!” Wajah Shao Xuejia tampak kesal, “Xu Zhezhi, jangan terlalu sombong! Beritanya sudah tersebar, kalau bukan keluargamu siapa lagi?”
Liu Yiwan yang hatinya terbakar karena ucapan Xu Zhezhi, mengejek dingin dan hendak mengeluarkan ponsel untuk menunjukkan berita itu pada Xu Zhezhi.
Tiba-tiba saja, ponselnya direbut seseorang.
“Kalian berdua ada masalah, ya? Berani-beraninya membully Zhezhi di depan kelas kami? Apa kalian pikir kelas 5 tidak punya orang?”
Lin Chujing menatap marah pada dua gadis pengusik itu.
Benar-benar keterlaluan! Baru sepuluh menit ditinggal, sudah ada saja yang cari masalah dengan Zhezhi?
Apa mereka tidak punya kerjaan lain?!
“Lin Chujing, kenapa kau ambil ponselku? Kembalikan!” Liu Yiwan berusaha merebut, tapi tubuhnya pendek, sepatu hak setinggi delapan sentimeter yang dipakainya membuat geraknya canggung.
Bukan hanya gagal merebut dari Lin Chujing yang tinggi, ia hampir saja jatuh, tambah kesal dan makin berteriak-teriak.
Tapi Lin Chujing tak mundur sedikit pun, “Untuk apa kukembalikan? Biar kalian menebar fitnah seenaknya?”
“Aku tidak bohong! Suruh dia sendiri yang mengaku, benar tidak keluarga Xu sudah bangkrut!”
Sejak awal, pintu aula memang terbuka, meski keributan mereka tidak besar, siswa kelas 5 tetap memperhatikannya.
“Eh, ketua kelas, lihat deh, di sana ribut, ya?” Seorang siswa menarik lengan ketua kelas.
Ketua kelas yang sedang mengunyah makanan segera menoleh dan meletakkan sumpit dengan keras!
“Itu tasnya! Berani-beraninya sebar hoaks bilang Xu Zhezhi bangkrut! Aku harus ke sana melerai.”
Suaranya memang tidak keras, tapi cukup untuk menarik perhatian sebagian besar siswa di aula.
Bangkrut?
Xu Zhezhi?
Liu Yufei yang duduk dekat ketua kelas langsung menegang saat mendengar nama itu, lalu bergegas menyusul.
Sayangnya, mereka datang terlambat. Saat tiba, pertengkaran sudah mereda.
Penyebabnya sederhana, saat suasana sedang panas, Su Rourou baru saja keluar dari kamar mandi setelah menelpon.
Shao Xuejia dan Liu Yiwan adalah sahabat terdekatnya. Mendengar keributan di sana, ia merasa tidak enak dan buru-buru datang memeriksa.
Begitu mendengar sebentar, ia baru tahu rupanya mereka membahas apakah keluarga Xu Zhezhi sudah bangkrut atau belum!
Ia pun segera menarik kedua temannya menjauh.
Liu Yiwan masih belum terima, menoleh pada Su Rourou, “Rourou, kenapa kau menarikku? Tidak lihat wajah Xu Zhezhi barusan? Sudah miskin, masih saja sombong!”
Su Rourou mengusap kening, “Sudah, jangan ribut lagi. Dia sama sekali tidak bangkrut.”
“Tidak bangkrut?” Liu Yiwan kaget sejenak.
Shao Xuejia juga menoleh.
Melihat ekspresi mereka, Su Rourou tahu mereka salah paham gara-gara berita.
“Kalian tidak tahu, seminggu lalu aku bertemu Xu Zhezhi di salon kecantikan Kletina, bahkan kudengar dia telepon bilang baru saja bikin kartu keanggotaan di Csgel. Orang yang mampu belanja di sana, mana mungkin tidak punya uang?”
“Csgel?” Mata Liu Yiwan membelalak, “Itu kan minimal harus keluar uang ratusan juta!”
“Itulah, jangan suka suuzon. Jangan bikin malu terus ke sana.”
“Jangan-jangan Xu Zhezhi hanya pura-pura kaya di depanmu?” Shao Xuejia tetap ragu.
Liu Yiwan menimpali, “Walau aku belum pernah ke rumah Xu Zhezhi, menurutku selain keluarganya, di Jinggang tidak ada keluarga bermarga Xu yang sehebat itu.”
“Itu belum pasti, masih ada Keluarga Xu yang sudah berdiri seratus tahun. Itu baru keluarga bangsawan sejati, hanya saja mereka memang sangat low profile.”
“Benar juga...” gumam Shao Xuejia.
Melihat keduanya masih ragu, Su Rourou menghela napas, “Jujur saja ya, awalnya aku juga tidak percaya. Jadi besoknya aku minta teman untuk cek, ternyata Xu Zhezhi memang pelanggan VIP di Csgel, dan itu yang paling eksklusif.”
“Aduh, jadi tadi kita seperti badut saja...”
“Sudah, jangan diomongin lagi...”
...
Di sisi lain.
Saat ketua kelas dan Liu Yufei sampai, Xu Zhezhi baru saja berdiri dari kursinya.
Liu Yufei mengira ia marah dan hendak pergi, buru-buru menahan, “Xu Zhezhi, kau mau ke mana?”
Xu Zhezhi menatapnya curiga, lalu menarik tangannya, “Makan, memangnya ke mana lagi.”
Liu Yufei langsung bernapas lega.
Ia berjalan lebih dulu di depan, menunjukkan jalan pada Xu Zhezhi, dan saat di pintu masih sempat berkata, “Di sini tidak ada jus hawthorn segar, aku sudah suruh orang belikan ke luar, mungkin agak lama sampai. Sementara kau minum saja yang lain dulu.”
Xu Zhezhi mengangguk, lalu masuk ke dalam.
Namun, tak seorang pun dari mereka sadar, ketua kelas yang berdiri di belakang menatap punggung Xu Zhezhi yang menjauh, dan mendorong kacamatanya dengan makna yang dalam.