Bab 29: Pelukan Pertama Harus Disimpan untuk Calon Pacar
Belum sempat ia mengalihkan pandangan, satu pesan lagi masuk.
[Ling Chujing: Kalau sempat, aku bisa bantu kamu cari tahu sikap kakakku! Kalau kamu sampai bisa menikah dengan keluarga kami, aku sendiri nggak bisa membayangkan betapa bahagianya aku~ Hahaha, biar aku latihan dulu: Kakak Ipar Zhi Zhi~ {emoji kepala anjing}]
Xu Yuanhe seperti baru saja melihat sesuatu yang benar-benar konyol, ia tertawa sinis.
Bersama dengan itu, dalam dadanya seolah-olah ada api besar yang membakar, merembet hingga ke matanya.
"Xu Zhezhi."
Xu Zhezhi masih menunggu Xu Yuanhe menanyakan kondisi tubuhnya, namun ketika ia mendengar namanya dipanggil, ia sedikit mengangkat pandangan, langsung bertemu dengan tatapan pria itu yang gelap dan dalam.
"Kamu tahu nggak, di usia seperti ini seharusnya kamu sedang melakukan apa?"
Xu Zhezhi jarang melihatnya seperti ini, ia mendadak tertegun, "Belajar?"
Xu Yuanhe menatapnya tajam, wajahnya seram dan muram, "Bagus kalau kamu tahu. Apa yang seharusnya kamu lakukan, apa yang tidak boleh, aku rasa aku nggak perlu mengajarkan padamu, kan?"
Xu Zhezhi tiba-tiba saja dimarahi, hatinya terasa aneh, nadanya pun ikut menjadi dingin, "Kalau begitu, bilang saja, apa yang tidak boleh aku lakukan?"
Apa-apaan ini?
Orang baru saja sadar dari pingsan, sudah ditanyai seperti sedang diinterogasi.
Bukannya cuma mau menyinggung soal dia tidak boleh berkelahi di sekolah?
Padahal dia sudah tahu! Sudah tahu bagaimana orang-orang itu menjelek-jelekkanku di belakang.
Namun, baru saja pikiran itu muncul, ia sudah melihat pria itu menatapnya sinis, lalu berkata dengan datar, "Xu Zhezhi, kamu baru kelas dua SMA, belum waktunya pacaran. Ada beberapa hal yang aku yakin kamu sendiri sudah tahu harus bagaimana. Mulai sekarang, kalau di luar berinteraksi dengan laki-laki, kamu sendiri harus tahu batasnya."
Xu Zhezhi: "???"
Sudut bibirnya berkedut, "Xu Yuanhe, kamu lagi kenapa, kapan aku pernah..."
Baru berkata setengah, tanpa sengaja ia melirik layar ponsel di sofa yang masih menyala, matanya langsung membelalak!
Astaga!
Ling Chujing ini benar-benar ngawur, ngaco banget ngomongnya!!!
Tubuhnya langsung condong ke depan, buru-buru meloncat menuju ponsel itu.
Namun Xu Yuanhe malah mengira ia merasa tidak enak badan dan khawatir ia jatuh, secara refleks meraih lengannya.
Dua kekuatan saling bertabrakan, tubuh Xu Zhezhi kehilangan keseimbangan, "plak", ia langsung duduk di pangkuan Xu Yuanhe—
Hangat tubuhnya menembus bahan tipis piyama, di hidungnya tercium aroma cedar yang asing namun juga familiar.
Tidak seperti biasanya, saat ini pria itu benar-benar seperti tokoh utama dalam novel-novel populer, kedua tangannya mengunci pinggang rampingnya, dan dari napasnya ia bisa merasakan detak jantung yang kuat, auranya benar-benar menekan...
Wajah Xu Zhezhi seketika memerah bagaikan tersulut api!
Ia berusaha bangkit, ingin turun dari tubuh Xu Yuanhe, namun tanpa sengaja kakinya menginjak sandal pria itu.
Xu Yuanhe juga baru tersadar dari keterkejutannya barusan.
Ia mengerutkan dahi, menahan tubuhnya.
"Jangan bergerak."
Lalu, dengan sedikit tenaga, ia memindahkan gadis itu ke sofa di samping.
Setelah itu baru ia berdiri dan bertanya, "Kamu cari apa?"
Xu Zhezhi melihat ekspresi dan suara pria itu tetap datar seperti biasa, tak bisa menahan diri untuk melirik ke bawah.
Sekejap, debaran di dadanya seperti disiram air dingin, langsung padam.
Dia benar-benar tidak bereaksi apa-apa!
Ini benar-benar laki-laki atau bukan sih!!!
Xu Yuanhe melihat ia diam saja, lalu bertanya lagi.
Xu Zhezhi agak jengkel, nadanya kaku, "Cari sesuatu yang bikin tidak enak."
"Apa?"
"Bukan apa-apa."
Xu Zhezhi mengambil ponselnya, menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju kamar tamu.
"Aku lelah, mau istirahat dulu di kamar. Kalau Ling Chujing datang, panggil aku."
Xu Yuanhe mengerutkan dahi, tadinya ingin memanggilnya.
Namun mengingat kejadian barusan, akhirnya ia mengurungkan niat.
Baru setelah bayangan Xu Zhezhi benar-benar menghilang di sudut tangga, ia duduk kembali di sofa, bersandar dan menutupi matanya dengan tangan.
Di udara, seakan masih tersisa aroma bunga yang hanya dimiliki gadis itu.
Semakin ditahan, hawa panas di tubuhnya justru semakin menggebu.
Entah berapa lama, Xu Yuanhe mengumpat pelan, lalu melangkah menuju kamar mandi...
—
Begitu masuk kamar, Xu Zhezhi langsung menjatuhkan diri ke atas ranjang.
Adegan barusan terus terputar di kepalanya, pipinya terasa panas, memerah seperti terbakar.
Ia meraih air di samping ranjang, menenggak beberapa gelas hingga akhirnya panas di tubuhnya sedikit reda.
Namun gelas itu tetap digenggam erat, belum juga diletakkan.
Beberapa detik kemudian, ia tiba-tiba berdiri, cepat-cepat melepas semua pakaian, bertelanjang kaki berdiri di depan cermin.
Gadis di cermin bibirnya merah, giginya rapi, alis dan matanya indah seperti lukisan. Kulitnya putih bercahaya, garis bahu dan lehernya anggun, kedua kakinya jenjang dan lurus, benar-benar tipe kaki yang disukai para cowok dalam komik.
Matanya berkeliling, akhirnya jatuh pada bagian dadanya.
Jadi, apakah ini alasannya?
Membuat pria itu menganggapnya hanya gadis kecil yang belum tumbuh sempurna?
Tapi, ia juga punya belahan, kan!
Xu Zhezhi mengeluh kesal dalam hati.
Namun setelah berpikir, ia malah seperti balon yang kempes.
Meski tidak mau mengakui, tapi memang usianya masih pakai bra remaja.
Meskipun diberi hormon, juga tak akan langsung membesar luar biasa.
Jadi, Xu Yuanhe memang tidak suka tipe seperti dirinya?
Toh, kalau dibandingkan dengan Nie Yuan yang seksi dan memesona itu, ia memang hanya terlihat seperti anak laki-laki yang bahkan tidak jelas mana depan mana belakang.
Tapi pikiran itu hanya sebentar, lalu ia usir jauh-jauh.
Bagaimanapun juga, dirinya masih punya kesempatan untuk berkembang, bukan? Setidaknya, wajahnya ini adalah keunggulan terbesar!
Setelah berpikir jernih, memandang kamar tamu yang mewah ini, Xu Zhezhi tiba-tiba mendapat ide.
Orang bilang, semakin dekat semakin mudah mendapat kesempatan.
Ia harus cari cara agar bisa cepat tinggal di rumah Xu Yuanhe.
Kalau sudah begitu, semuanya akan lebih mudah!
—
Kabar Xu Zhezhi yang pingsan di sekolah lalu tinggal di rumah Xu Yuanhe langsung didengar oleh Qi Zhijie dan Meng Yuke.
Maka ketika Xu Zhezhi menerima pesan dari Xu Yuanhe dan keluar dari kamar, ruang tamu sudah penuh orang.
Meng Yuke begitu melihatnya, langsung berubah jadi induk ayam yang melebar, memeluk Xu Zhezhi erat-erat.
"Adikku!!! Kangen banget!!!"
Meng Yuke memejamkan mata, bibirnya sedikit manyun, ingin memberikan salam ciuman ala Prancis, namun langsung dapat tamparan dan mundur.
Begitu membuka mata, tampak wajah Xu Yuanhe yang gelap.
Meng Yuke langsung merasa tersinggung, "Apaan sih~ Xiao Hehe, peluk adik sebentar saja kenapa?"
Xu Yuanhe mendorongnya menjauh dengan wajah jijik, suaranya dingin menusuk, "Kalau mau genit, genitin saja adikmu sendiri."
"Aku mana punya adik? Tidak seperti kamu dan Lin Chuhai, masing-masing punya satu yang dilindungi."
Menyebut itu, Meng Yuke langsung menatap Lin Chujing dengan wajah terluka, "Kamu juga punya adik, kalau mau, peluk kamu juga nggak apa-apa."
Belum sempat kakaknya bertindak, Lin Chujing sudah lebih dulu menginjak kakinya dengan cepat!
"Jangan gitu dong. Pelukan pertamaku sama Zhezhi harus disimpan untuk calon pacarnya nanti! Benar kan, Zhezhi?"
Mendengar kata-kata itu, ekspresi Xu Yuanhe dan Xu Zhezhi yang berdiri di belakangnya langsung membeku!