Bab 23: Sepanjang Hidup
“Apa maksudmu?”
“Kau pasti tahu maksudku.” Nia Yuan menatap Xu Zhe Zhi tanpa ragu, “Kalau aku bicara terus terang, mungkin ini akan melukaimu, tapi... keluargamu sudah bangkrut, bukan?”
Ekspresi Xu Zhe Zhi sedingin embun beku, bahkan suaranya menyelipkan hawa dingin, “Lalu kenapa jika memang begitu?”
Nia Yuan terkejut oleh tatapannya.
Belum pernah ia melihat sisi Xu Zhe Zhi yang seperti ini.
Kata-kata yang sudah di ujung lidahnya pun spontan ditahan. Tapi kemudian ia tersadar, dirinya adalah yang lebih tua, bagaimana mungkin bisa gentar hanya karena seorang junior lima tahun lebih muda darinya.
“Aku tahu, sebelum Xu Yuan He kembali ke keluarga besarnya, keluargamu pernah sangat berjasa; aku paham uang yang diberikan saat itu bagi keluargamu adalah jumlah besar; dan aku juga paham arti membalas budi. Tapi sekarang keluargamu menghadapi situasi seperti ini, Xu Yuan He juga baru saja menjabat sebagai direktur, apakah kau masih ingin mempertahankan statusmu sebagai tunangannya, membiarkan dia menanggung tekanan besar dari luar hanya demi menepati janji membalas budi itu, untuk menjaga anak kecil sepertimu?”
Anak kecil?
Xu Zhe Zhi tertawa.
“Sejak tadi sudah kukatakan, percakapan ini tak ada gunanya. Intinya, kau hanya ingin bilang kau ingin bersama Xu Yuan He, ingin aku melepaskan statusku sebagai tunangannya, bukan?”
Nia Yuan menarik napas dalam-dalam, “Benar.”
“Tapi atas dasar apa?” Xu Zhe Zhi menatapnya dengan dingin, “Kau itu siapa, sampai-sampai merasa berhak mengatur urusanku, bahkan ingin mengatur urusan Xu Yuan He?”
Baginya semua ini sungguh lucu.
Dulu, ketika keluarganya belum bangkrut, ia sering bersikap bodoh, membawakan teman-teman makan minum, mentraktir, menemani berbelanja.
Tapi setelah jatuh, satu per satu orang mengambil kesempatan untuk menindasnya, memaksanya melakukan hal yang tak ia inginkan.
Tak ada satu pun yang benar-benar peduli pada perasaannya, apakah hari ini ia sudah makan, atau bagaimana ia menjalani hari-hari tanpa kedua orang tua di sisinya.
Nia Yuan terdiam karena kata-katanya.
Baru hendak membuka suara, Xu Zhe Zhi memotong sambil menunjuk ke arah pintu, “Keluar. Toko ini tak menerima kehadiranmu. Dan, jangan pernah bawa-bawa topik tadi di depanku lagi, mengingat kau teman Xu Yuan He, aku tak akan mempermasalahkan kali ini. Tapi tak akan ada yang kedua. Jika kau berani lagi, aku tak segan mewujudkan kekhawatiranmu menjadi nyata.”
Kali ini Xu Zhe Zhi benar-benar serius.
Andai saja Nia Yuan tak membuat keributan seperti ini, barangkali ia pun tak sadar betapa ia membenci wanita lain yang mengincar miliknya.
Kalau memang secara status ia adalah tunangannya, maka ia akan gunakan haknya.
Soal ke depan, Xu Zhe Zhi tak suka membuang waktu untuk hal yang sia-sia.
Segala sesuatu akan ia putuskan setelah ia benar-benar puas.
Nia Yuan menatap Xu Zhe Zhi beberapa saat, mendapati sorot dingin yang tak bisa dibantah di wajahnya, ia mengepalkan tangan.
Pembicaraan ini tidak berjalan sesuai harapannya.
Tak ada jalan lain.
Nia Yuan membuka mulut, hendak mengucapkan kata-kata ancaman untuk ‘menakut-nakuti’ Xu Zhe Zhi, namun tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari belakang.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Tubuh Nia Yuan sontak menegang!
Barulah ia sadar, Xu Yuan He yang baru setengah batang rokok sudah masuk ke dalam.
Kini, ia berdiri membelakangi cahaya, garis wajahnya yang tajam dan sorot matanya yang dalam membuatnya tampak dingin dan tak berperasaan.
Tanya itu memang ditujukan pada Nia Yuan, tapi matanya justru tertuju pada Xu Zhe Zhi.
Sejak mendengar Lin Chu Ji keluar meminta uang pada Qi Zhi Jie, ia sudah merasa ada yang janggal.
Sejak kapan Xu Zhe Zhi begitu akrab dengan Nia Yuan?
Sampai-sampai harus menyuruh sahabatnya pergi agar bisa bicara berdua saja.
Ia tak tenang dan ingin masuk mengecek, namun ponsel justru berdering saat itu.
Begitu selesai menelpon dan kembali, ia melihat Xu Zhe Zhi dari balik kaca bening, penuh amarah.
Selama ini, ia mengenal Xu Zhe Zhi sebagai sosok yang angkuh, cerdik, matanya berkilau tiap terlintas ide nakal.
Bahkan saat marah pun, ekspresinya tetap hidup.
Tapi barusan, seluruh dirinya seperti penuh duri, sorot matanya sedingin orang asing.
Persis seperti yang ia lihat di aula pesta hari itu.
Tampak dingin, padahal aslinya hanya menahan tekanan.
“Tak ada apa-apa, aku hanya mengobrol santai dengan Zhe Zhe,” jawab Nia Yuan, menahan emosinya sambil tersenyum.
“Mengobrol santai?” Tatapan Xu Yuan He beralih tajam, matanya yang biasanya bisa berubah sangat lembut kini serupa air es di bawah salju ribuan tahun, sedingin maut.
Nia Yuan pun punya harga diri.
Mendengar jelas Xu Yuan He membela lawannya, ia jadi lupa takut, menatap laki-laki itu dengan mata tajam.
“Kau sedang menginterogasiku?”
Xu Yuan He mengernyit, merasa pertanyaan itu aneh.
Seolah sepasang kekasih sedang bertengkar karena orang ketiga.
Ia enggan menjawab, langsung menggenggam tangan Xu Zhe Zhi dan menariknya ke dalam, tapi Nia Yuan memanggil dari belakang.
“Jadi, alasan kau menolakku itu karena Xu Zhe Zhi?”
Tubuh Xu Yuan He menegang.
Ia berbalik, wajahnya menggelap, “Nia Yuan, jangan bercanda soal ini.”
“Bercanda?” Nia Yuan mendongak lalu tersenyum getir, “Meski dia masih di bawah umur, bukankah dia memang tunanganmu secara resmi? Apa salahnya aku bertanya seperti ini? Bertahun-tahun aku terang-terangan maupun diam-diam menyatakan perasaan padamu, berapa kali aku harus...”
“Nia Yuan!” Xu Yuan He membentak dingin, sorot matanya jelas-jelas memperingatkan, “Sudah berkali-kali kukatakan, jangan terlalu keras kepala.”
Dadanya terasa seperti tertusuk ribuan panah.
Wajah Nia Yuan pucat, bibirnya bergetar, tapi tak ada kata yang bisa keluar.
Pada akhirnya, ia hanya bisa menyaksikan Xu Yuan He menggenggam tangan Xu Zhe Zhi, membawa gadis itu masuk ke pintu belakang toko bunga.
——
Xu Zhe Zhi diseret Xu Yuan He menuju dapur di belakang.
Cengkeraman lelaki itu begitu kuat sampai ia mengernyit menahan sakit, lantas berusaha melepaskan diri.
Begitu mendapati lengan yang ia genggam telah kosong, Xu Yuan He menoleh, “Apa-apaan ini?”
“Kau sendiri apa-apaan?” Xu Zhe Zhi sedang kesal, matanya menyala, “Kenapa menarikku masuk, tanpa sepatah kata pun?”
Xu Yuan He berhenti, balik bertanya, “Harusnya aku yang tanya. Kalau terjadi sesuatu, kau malah menyuruh orang terdekat pergi. Kalau orang itu berbuat sesuatu atau mengucapkan hal buruk padamu, bagaimana?”
Xu Zhe Zhi sebenarnya tadi kesal.
Namun mendengar itu, separuh amarahnya lenyap, ia menyempitkan mata pura-pura tak mengerti, “Jangan-jangan kau mengkhawatirkanku?”
Xu Yuan He tertegun.
Memang, ia khawatir gadis itu dirugikan atau dipermalukan, itulah sebabnya ia begitu gelisah.
Tapi melihat tingkah Xu Zhe Zhi yang seperti rubah kecil yang menang, ia jadi gemas sekaligus geli.
“Ayahmu mempercayakanmu padaku, wajar jika aku bertanggung jawab atasmu.”
Hatinya seperti meledak kembang api.
Sudut bibir Xu Zhe Zhi terangkat samar, dan saat ia tak bisa menahan, ia pun tersenyum lepas dari hati.
“Kalau begitu, kenapa tidak sekalian seumur hidup?”
Xu Yuan He memandangnya, dadanya berdegup kencang.
Mungkin karena gadis itu jarang tersenyum lebar, maka sekali tertawa, seolah mengusir seluruh kegelapan di ruangan, begitu memesona dan mencolok.
Entah mengapa, Xu Yuan He tiba-tiba berpikir, ‘bisa menatap senyuman ini seumur hidup pun tak apa’, lalu ia mengikuti kata hatinya,
“Kalau begitu, seumur hidup.”