Bab 66: Pria Tampan yang Unik
Rumah itu adalah rumah tua, ranjangnya juga ranjang lama selebar satu setengah meter. Begitu bergerak agak kencang, ranjang itu langsung berderit nyaring, gema suaranya memantul di loteng kecil, terdengar sangat mengganggu.
Awalnya, Rofi yang penuh semangat, langsung terkejut mendengar suara di bawah tubuhnya. Ia mencengkeram orang di atasnya, bertanya dengan cemas, “Jangan-jangan ranjang ini bakal ambruk?”
Zendyano yang sedang terbakar gairah mana peduli soal itu, ia hanya terengah-engah menjawab sekenanya, “Nggak bakal.”
Tanpa banyak bicara, ia terus saja menaklukkan medan.
Rofi sudah lama tak tersentuh urusan ranjang, kini dirayu habis-habisan olehnya hingga pikirannya mulai mengabur. Suara derit ranjang yang tadinya mengganggu, kini justru terasa seperti musik pengiring yang makin membakar suasana.
Api bertemu kayu kering, sekali tersulut langsung membara tak terkendali.
Hingga akhirnya, Zendyano seakan kehilangan akal sehat, menindih Rofi dengan gerak yang semakin liar, seolah ingin membayar tuntas masa-masa yang mereka lewatkan tanpa kebersamaan.
Suara ranjang pun semakin keras. Tepat saat ia nyaris mencapai puncak dan hendak melancarkan serangan pamungkas, tiba-tiba terdengar bunyi gedebuk yang berat. Ranjang tua yang memang sudah hampir roboh itu akhirnya menyerah juga, ambruk seketika.
Rofi yang tadinya sedang mabuk asmara, langsung menjerit ketakutan dan spontan memeluk orang di atasnya.
Zendyano sendiri tak menyangka akan terjadi hal yang merusak suasana seperti itu. Untungnya, mereka sudah hampir selesai, meski dalam kepanikan, ia jelas tak sempat mundur.
Mereka berdua saling berpelukan, berusaha menenangkan diri dari keterkejutan. Zendyano menyentuh wajah Rofi yang ada dalam dekapannya, lalu dengan sedikit canggung bertanya, “...Kamu nggak apa-apa?”
Sampai ranjang ambruk, Rofi sama sekali tak menyangka kejadian seperti itu bisa menimpanya. Ia pun tak bisa menahan diri untuk mengeluh karena Zendyano telah salah memperkirakan kekuatan ranjangnya, dan mencubitnya dengan kesal, “Hampir saja aku mati ketakutan, semua gara-gara kamu!”
Zendyano membalikkan badan turun dari tubuh Rofi, lalu tertawa pelan, “Sepertinya aku terlalu hebat!”
“Kamu masih bisa ketawa juga?” Rofi mendorongnya, lalu duduk dan memperhatikan kondisi ranjang yang sudah rusak total. “Terus nanti malam, kamu tidur di mana?”
Zendyano sama sekali tak ambil pusing, ia malah menggelosor dan berguling di atas ranjang yang sudah berantakan, “Santai saja, tidur di lantai juga bisa.”
Rofi sempat ragu sejenak. Dia tahu, Zendyano yang terbiasa hidup mewah pasti tak akan nyaman tidur di lantai. Maka ia berkata, “Paling tidak beli kasur tipis deh. Kayaknya supermarket perabotan rumah masih buka, ayo kita buru-buru ke sana.”
Zendyano mengangguk, “Benar juga, nggak mungkin terus-terusan di lantai.”
Wajah Rofi langsung memerah, ia melirik kesal berulang kali sambil buru-buru mengenakan pakaian.
Mereka berdua bergegas ke supermarket perabotan rumah. Saat tiba, toko hampir tutup. Setelah memilih kasur, petugas pengantar meminta ongkos dua ratus ribu dengan alasan sudah terlalu malam.
Zendyano langsung menawar ke lima puluh ribu, hampir membuat petugasnya marah.
Rofi pikir, mereka juga tak punya pilihan lain, mana mungkin menggotong kasur sendiri. Akhirnya ia menyerahkan dua ratus ribu.
Isi dompet Zendyano hanya beberapa lembar uang receh, jadi semua pembayaran jatuh ke tangan Rofi. Sekali belanja saja, ia sudah menghabiskan lebih dari dua juta, membuatnya merasa agak nyesek. Melihat Zendyano yang tampan, tinggi, penuh percaya diri di sampingnya, ia jadi geli sendiri, dalam hati berpikir, mungkin beginilah rasanya kalau punya pacar cowok panggilan.
Tentu saja, Zendyano tak tahu isi hati Rofi. Ia masih bangga karena seorang wanita bersedia mengeluarkan uang untuk laki-laki, menurutnya itu pasti karena cinta. Namun, ia ingin cinta yang lebih dalam, cinta yang membuat perempuan itu tak bisa hidup tanpanya.
Sayangnya, kenyataan sungguh kejam. Setengah jam kemudian, Zendyano menerima kenyataan pahit.
Setelah mereka selesai memasang kasur, dan Rofi melihat waktu sudah larut, ia pun pamit pulang. Zendyano mengantarnya turun, hingga di gerbang perumahan, tiba-tiba Rofi teringat sesuatu, “Eh, aku harus cepat-cepat beli obat.”
Zendyano bingung, mengira obat apa, lalu mengikutinya ke apotek. Begitu melihat obat yang diminta Rofi pada apoteker, wajahnya langsung berubah muram. Ia kira Rofi akan membiarkan kejadian malam itu berlalu tanpa tindakan, siapa tahu sepuluh bulan kemudian akan lahir seorang anak kecil, entah kecil Zendyano atau kecil Rofi. Tak disangka, Rofi ternyata sangat waspada.
Rofi membeli obat itu dengan sangat hati-hati, seperti sedang melakukan transaksi rahasia. Baru setelah selesai, ia teringat Zendyano yang sejak tadi diam saja, lalu menoleh dan bertanya heran, “Kenapa sih mukanya begitu?”
Zendyano menjawab malas, “Nggak apa-apa.” Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, “Obat kayak gitu nggak bagus kalau diminum.”
“Juga salahmu,” jawab Rofi santai saja.
Zendyano meliriknya, lalu berjalan ke meja kasir dan berseru pada apoteker, “Tolong, ambilkan dua kotak kondom.”
Rofi mendengar itu langsung wajahnya memerah, mencubit Zendyano sambil berbisik, “Bisa nggak sih pelan-pelan ngomongnya?”
Zendyano tak peduli, “Kan bukan melakukan kejahatan, kenapa mesti malu? Lagi pula, cuma kita berdua kok di sini.”
Apoteker mendengar percakapan mereka dan tersenyum pelan. Ia mengambil empat kotak kecil dan meletakkannya di atas meja kaca, “Silakan, Bapak, mau pilih yang mana?”
Zendyano melirik sebentar, lalu dengan wajah serius bertanya, “Mana yang paling murah?”
Melihat penampilan Zendyano yang tinggi, gagah, dan berpakaian rapi, apoteker itu tak menyangka kalau ia masih memperhitungkan harga untuk barang semacam itu. Ia pun menjawab sambil tersenyum, “Semua ini harganya kurang lebih sama, kualitasnya juga bagus.”
Namun, Zendyano tetap tak peduli, “Ambilkan saja yang paling murah.”
Rofi tertegun, bingung dengan sikapnya, “Kamu ini gimana sih?” Tapi ia merasa membahas soal ini di depan umum agak memalukan, jadi ia langsung mengambil dua kotak dari meja dan berkata pada apoteker, “Dua ini saja, berapa harganya?”
Tak disangka, sebelum apoteker menjawab, Zendyano langsung meraih kotak-kotak dari tangan Rofi dan menyerahkannya kembali pada apoteker, “Saya mau yang paling murah.”
Apoteker itu melihat ekspresi serius Zendyano, lalu mengangkat kotak-kotak di meja dan mengambilkan yang lain dari rak. Saat itu, ia mendengar Zendyano berkata pada Rofi dengan suara aneh, “Sekalipun aku miskin, aku nggak akan membiarkan kamu yang bayar untuk urusan begini. Paling-paling pakai yang murah saja. Toh kamu juga nggak akan terlalu terasa bedanya.”
Waktu apoteker itu menyerahkan dua kotak kondom murah tak bermerek pada Zendyano, Rofi sudah menutup wajah dengan tangan. Ia benar-benar ingin segera pergi dari situ, malu bukan main.
Zendyano sendiri tampak santai, bahkan sempat memastikan lagi pada apoteker bahwa produk itu tidak berbahaya bagi tubuh, baru ia membayar dan merangkul Rofi pergi.
Setelah mereka pergi, apoteker yang sendirian di apotek itu bergumam pelan, “Nggak nyangka, tampangnya keren begitu, ternyata beli kondom pun pilih yang paling murah. Memang, penampilan kadang menipu.”
Setelah mengantar Rofi pulang, Zendyano kembali sendiri ke apotek tadi.
Apoteker itu langsung menatapnya dengan penuh simpati, “Pak, tadi saya sudah kasih yang paling murah, lho!”
Zendyano dengan wajah datar masuk ke kasir, mengeluarkan segepok uang receh dari dompetnya, “Tolong ambilkan dua kotak Okamoto, seri 003.”
Apoteker itu sempat tertegun, lalu buru-buru mengambilkan yang diminta dan menyerahkannya pada Zendyano, yang pergi tanpa menoleh.
Beberapa saat setelah itu, ia melihat tumpukan uang receh di tangannya dan bergumam lagi, “Ternyata, semiskin-miskinnya laki-laki, untuk urusan ini pun tetap nggak berani berhemat. Soalnya, ini menyangkut nyawa!”
Penulis ingin berkata: Untuk membuktikan aku masih update, aku unggah satu bab pendek dulu. Nanti malam mungkin ada bab lanjutan, tapi jangan ditunggu, ya~~~ Kalau pun ada pasti akan telat~~~
Eh... ceritanya belum tamat, kok semuanya pada hilang??? Sedih banget~~~~