Bab 3: Gadis Cantik yang Malang
Sejak dipindahkan ke kantor direktur utama, Rofi hampir tidak pernah pulang sebelum jam delapan malam. Ada satu aturan tidak tertulis pada posisinya: selama direktur utama belum pulang, asisten pun tak boleh pergi lebih dulu. Celakanya, Zain Tianye tampak seperti pecandu kerja, setiap hari lembur seolah sudah menjadi rutinitasnya.
Yang paling menyebalkan adalah, meski tidak ada pekerjaan, ia tetap saja betah di kantor. Sebelum waktunya, ia tak pernah pulang ke rumah.
Suatu kali, lewat jam kerja, Rofi mengantarkan dokumen ke ruangannya. Ia melihat Zain Tianye menatap komputer dengan serius. Rasa penasaran membuat Rofi mengintip layar itu, dan hampir saja ia muntah darah karena kesal.
Ternyata yang dilakukan oleh direktur utama itu hanyalah bermain game di kantor setelah jam kerja. Parahnya lagi, game yang ia mainkan hanyalah Perang Tanaman Melawan Zombie, sebuah permainan yang sama sekali tidak membutuhkan keahlian khusus.
Saat itu juga Rofi ingin menangis sambil memohon, “Kalau mau main, mainlah di rumah saja, jangan membuatku harus menunggu Anda di kantor!” Namun, ia berusaha keras menahan keinginannya untuk memberontak. Setelah keluar dari ruang Zain Tianye, Rofi melirik ruang sekretariat di sebelah yang sudah lama kosong, dan sungguh terasa keinginan untuk berhenti begitu saja. Namun, mengingat gaji bulanan yang cukup besar, keinginan itu hanya terlintas sekejap, lalu menguap begitu saja.
Sebenarnya itu masih bisa ditoleransi. Yang paling kejam adalah, di akhir pekan pun, Rofi harus sering menerima panggilan dari bos besar untuk datang ke kantor dan lembur.
Kadang Rofi juga heran, Zain Tianye hampir selalu berada di kantor, seharusnya tak punya waktu ke mana-mana. Tapi, mengapa gosip-gosip asmara di luar sana tidak pernah berhenti?
Ia benar-benar tak habis pikir. Mungkin kehidupan seorang “tirani kuda pejantan” memang tak bisa dipahami oleh orang biasa seperti dirinya.
Kini, satu-satunya hal yang ia pikirkan hanyalah urusan pernikahannya dengan Wusan.
Wusan adalah pacar Rofi. Mereka berdua adalah alumni universitas yang sama di sebuah kota kecil, Wusan setahun lebih tua dari Rofi.
Sejak kecil, Rofi memang cantik—di kampus pun ia dikenal sebagai primadona. Meski ia tidak terlalu peduli dengan penampilan, masih tetap berpakaian sederhana seperti masa sekolah menengah, kecantikannya tetap tak bisa disembunyikan. Baru masuk kuliah saja, sudah banyak laki-laki yang mengejarnya, termasuk Wusan.
Wusan tidak bisa dibilang tampan, kondisi keluarganya juga biasa saja, hanya lebih pandai dan rajin dibandingkan orang kebanyakan—bahkan terlihat agak kaku dan lugu. Ketika menyukai seorang gadis, ia tentu tidak seperti laki-laki lain yang terang-terangan memberi bunga dan hadiah atau menyatakan cinta, tapi memilih melakukan hal-hal kecil untuk Rofi, seperti mengambilkan air, membooking tempat duduk di kelas, atau membelikan tiket pulang saat liburan dan membawakan barang-barang Rofi.
Dua tahun lebih berlalu seperti itu, akhirnya Rofi luluh oleh ketulusan dan kesetiaan Wusan, dan mereka pun resmi berpacaran. Saat itu, teman-teman sekamar Rofi cukup terkejut dan kecewa. Mereka lebih mendukung kakak kelas tampan yang pernah bermain gitar dan bernyanyi untuk Rofi di bawah asrama.
Namun, bagi Rofi sendiri, Wusan sudah cukup memuaskan. Meski Wusan tak tampan dan tak kaya, ia benar-benar tulus mencintainya. Selain itu, menurut Rofi, pria yang terlalu tampan dan kaya biasanya tidak bisa diandalkan. Contohnya saja kakak kelas yang pernah bermain gitar untuknya itu, setelah menyatakan cinta, tak sampai tiga hari sudah pergi ke luar negeri untuk kuliah. Jelas-jelas hanya sekadar main-main!
Perempuan memang harus memilih pria yang bisa diandalkan. Jangan cari yang lebih unggul, karena yang seperti itu baru tahu cara menghargai. Dan Wusan adalah contoh nyatanya.
Teman-teman sekamar dulu merasa kagum karena Rofi yang masih muda sudah bisa memahami hal semacam ini. Mereka sering bercanda bahwa ia adalah primadona yang paling membumi. Tentu saja, Rofi tidak tahu kalau di belakangnya, para gadis itu justru menganggap ia kurang pintar. Dari lima besar gadis tercantik di asrama waktu itu, setelah lulus—selain satu yang memang anak orang kaya—tiga lainnya ada yang pergi ke luar negeri bersama pacar tajir, ada yang menikah dengan pengusaha kaya dan hidup bergelimang kemewahan, ada juga yang dengan kecantikannya berhasil naik jabatan kurang dari dua tahun.
Hanya Rofi yang tetap setia dengan pacarnya yang bukan siapa-siapa, menyewa kamar sempit dan naik bus kota, hidup sederhana dan berjuang di kota ini. Sungguh sia-sia kecantikan yang ia miliki.
Ungkapan “perempuan cantik bisa menghemat dua puluh tahun perjuangan” sama sekali tidak berlaku untuk Rofi.
Setelah lulus, Rofi memilih tetap tinggal di kota ini, salah satunya karena Wusan juga bekerja di sini. Sejak kuliah mereka sudah saling mengenalkan orang tua. Kedua belah pihak pun sudah setuju dan menganggap hubungan mereka memang sudah semestinya.
Hanya saja, kini ada sedikit kendala: Rofi dan Wusan bekerja di dua sisi kota yang berbeda, satu di timur dan satu di barat, terpisah jarak tempuh dua jam. Karena keduanya masih baru memulai karier, tentu yang utama adalah mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantor. Akhirnya, mereka sama-sama menyewa kamar di dekat tempat kerja masing-masing, sehingga tidak pernah tinggal bersama seperti pasangan lain.
Sudah bertahun-tahun berpacaran, tapi belum pernah benar-benar berduaan, Rofi sendiri merasa malu. Tapi, Wusan berkata, “Karena ingin benar-benar menghargaimu, aku akan menunggu sampai kita menikah.”
Rofi pun merasa harus pura-pura terharu.
Awalnya, mereka masih sering menyempatkan diri untuk makan malam atau menonton film sepulang kerja. Tapi, karena Rofi hampir setiap hari harus lembur, akhirnya hanya bisa menjadi “pasangan akhir pekan”. Kalaupun Rofi harus lembur di akhir pekan, mereka bisa sebulan tidak bertemu.
Dalam keadaan seperti itu, bahkan Wusan yang biasanya sabar pun mulai merasa tidak puas. Setengah tahun lalu, ia mengusulkan untuk segera menikah dan mencari tempat tinggal di tengah-tengah, supaya meski lembur, tetap bisa sering bertemu.
Saat itu, Rofi tidak setuju. Pertama, karena mereka masih muda, baik secara mental maupun karier belum matang, jadi belum siap menikah. Kedua, saat Rofi masuk kantor direktur utama, ia menandatangani perjanjian: selama tiga tahun, ia tidak boleh menikah, jika melanggar, langsung dipecat.
Rofi benar-benar tidak rela kehilangan pekerjaan bergaji tinggi ini.
Wusan memang kecewa, tapi ia tidak memaksa. Hari-hari pun berjalan begitu saja.
Setengah tahun ini, walau tinggal di kota yang sama, mereka tetap seperti pasangan yang hanya bisa bertemu sekali-sekali. Wusan pun mulai terbiasa, apalagi dengan pekerjaannya yang makin sibuk, bahkan jika dua minggu tidak bertemu, ia sudah tidak mengeluh lagi. Kadang mereka sudah berjanji akan bertemu, tetapi jika Rofi tiba-tiba harus lembur, Wusan justru menghiburnya di telepon, “Tidak apa-apa, pekerjaan lebih penting.”
Bagi Rofi, tidak ada yang lebih berharga daripada punya pacar yang pengertian.
Kalau bukan karena ibu Wusan kembali menyinggung soal pernikahan, Rofi mengira mereka baru akan menikah beberapa tahun lagi.
Beberapa tahun lalu, ibu Wusan pernah sakit keras, dan sejak itu kesehatannya tidak pernah pulih. Karena hanya hidup berdua, Wusan sangat berbakti pada ibunya, segala permintaan selalu ia turuti. Tentu saja, ibu Wusan juga sangat menyayangi Rofi, kadang bahkan seperti lebih sayang Rofi daripada anaknya sendiri. Rofi merasa sangat beruntung, bukan hanya mendapat pacar baik, tapi juga calon ibu mertua yang menyenangkan. Ia sering mendengar cerita soal masalah menantu dan mertua, dan merasa dirinya benar-benar beruntung.
Atas permintaan ibu Wusan, mereka akhirnya memutuskan untuk menikah diam-diam. Setelah berpikir beberapa hari, Rofi akhirnya setuju menikah dengan Wusan. Tentu saja, karena ia tidak mungkin mengajukan cuti menikah, pernikahan mereka hanya akan didaftarkan secara sederhana, lalu mencari waktu untuk foto bersama. Rofi berpikir, jika nanti ada waktu, pesta pernikahan bisa diadakan belakangan.