Bab 15: Karma Mantan
Karena Zheng Tianye mengetahui alamat tempat tinggalnya, beberapa hari sebelumnya Luo Fei sudah membatalkan kontrakan dan secepat mungkin pindah ke rumah baru. Keesokan harinya, ia langsung menelepon kepala bagian personalia untuk mengundurkan diri. Kepala personalia itu terkejut sekaligus serba salah; mengetahui hubungan antara Luo Fei dan Zheng Tianye, ia pun ragu-ragu bertanya lewat telepon apakah Luo Fei ingin berdiskusi lebih dulu dengan Direktur Zheng.
Luo Fei dengan tegas menolak melalui ponsel, menyatakan bahwa dirinya sama sekali tak ada urusan lagi dengan Zheng Tianye. Ia juga menambahkan bahwa denda pelanggaran kontrak sudah ditransfer, lalu menutup telepon dengan tegas. Rasanya, ia belum pernah merasa sebebas dan sesenang itu sebelumnya—lega tanpa beban!
Kepala bagian personalia adalah orang yang sudah lama bekerja di Heng Tian. Setelah menutup telepon, ia menggaruk kepala, berpikir, apa mungkin Direktur dan Luo Fei bertengkar lagi? Bukankah kabarnya, waktu perjalanan dinas kemarin, mereka sangat mesra sampai membuat iri semua orang di bagian desain?
Bagaimanapun juga, Luo Fei adalah bagian dari kantor direktur, dan dirinya belum menerima pemberitahuan resmi, melainkan langsung mendapat kabar pengunduran diri dari Luo Fei sendiri, itu pun lewat telepon—jelas tidak wajar. Memikirkan hal itu, ia segera bergegas naik ke lantai atas untuk melapor kepada Zheng Tianye.
Saat ia mengetuk dan masuk, Zheng Tianye sedang tersenyum sendiri menatap ponsel, sepenuhnya seperti orang yang sedang jatuh cinta. Selama bertahun-tahun, kepala personalia hanya pernah melihat wajah serius dan dingin Zheng Tianye. Melihat ekspresi seperti itu—kekanak-kanakan dan bodoh—ia langsung bergidik tiga kali dan terbatuk dua kali, “Direktur, ada hal yang harus saya laporkan!”
Zheng Tianye kembali sadar, dengan enggan memalingkan pandangan dari ponsel, wajahnya kembali serius. “Apa?”
“Itu... Luo Fei menelepon tadi, bilang ingin mengundurkan diri. Anda sudah tahu?”
Kening Zheng Tianye sedikit berkerut. “Mengundurkan diri? Kapan?”
“Baru saja menelepon, katanya denda pelanggaran kontrak juga sudah dikirim.”
Tadinya Zheng Tianye masih mengira Luo Fei sedang ngambek, namun setelah mendengar penjelasan itu, ia merasa ada yang tidak beres. Keningnya semakin berkerut, lalu ia berkata pelan, “Baik, saya mengerti. Silakan keluar.”
Setelah kepala personalia pergi, ia segera mengambil ponsel dan menelepon nomor Luo Fei. Foto profil yang muncul di layar adalah foto mereka berdua yang diambil di pantai.
—Nomor yang Anda hubungi tidak dapat dihubungi.
Suara lembut nan mekanis itu berulang kali menggema di ruangan kantor yang luas. Kemarahan Zheng Tianye perlahan-lahan memuncak. Ia membanting telepon ke meja dengan keras. Setelah berpikir sejenak, ia mengambil jas dan langsung keluar dari kantor.
Ia mengemudi menuju apartemen Luo Fei, namun begitu turun dan sampai di depan pintu, ia mendapati pintu terbuka lebar. Dua anak muda sedang memindahkan barang ke dalam.
Ia mengerutkan kening, menahan salah satu dari mereka, “Kalian sedang apa?”
“Pindah rumah!”
“Pindah? Maksudmu, penghuni sebelumnya sudah pindah?”
“Iya, kami baru saja masuk.”
Zheng Tianye menggertakkan gigi, mengumpat lirih, “Perempuan sialan, apa lagi yang kau lakukan kali ini?!”
Kedua anak muda itu memandang pria dingin yang tiba-tiba muncul itu dengan bingung, lalu buru-buru masuk ke dalam dan menutup pintu pelan-pelan.
Kabar bahwa bos besar Heng Tian sedang patah hati dengan cepat menyebar. Sebenarnya, sangat mudah mengetahui kabar itu. Pengunduran diri Luo Fei yang tiba-tiba, kemarahan Zheng Tianye yang hampir mengenai seluruh perusahaan, membuat keadaan di Heng Tian jadi sangat tegang.
Selama ini, Zheng Tianye memang dikenal berwatak keras, jarang berinteraksi dengan bawahan, suasana hatinya tak menentu dan mudah meledak. Ketika semua sifat itu muncul sekaligus dan berlangsung terus-menerus, sudah pasti mengguncang seluruh perusahaan.
Zheng Tianye tidak berhasil menemukan Luo Fei. Mengundurkan diri, pindah rumah, mengganti nomor telepon—di kota sebesar ini, sekalipun Zheng Tianye kaya dan berkuasa, mencari sosok kecil seperti Luo Fei di antara lautan manusia tetap butuh waktu. Lagipula, Zheng Tianye memang tak benar-benar berusaha mencarinya.
Karena bos Zheng benar-benar marah, sangat marah, ia tak akan semudah itu memaafkan Luo Fei. Sekalipun Luo Fei datang menyesal dan memohon ampun, ia pasti akan mempertimbangkan dengan sangat matang.
Dengan kata lain, Zheng Tianye tidak mencari Luo Fei, ia menunggu Luo Fei kembali dengan sendirinya, meminta maaf dan mengaku salah. Ia memang tak tahu pasti alasan kepergian Luo Fei, namun dalam pikirannya, bukan karena Luo Fei tidak mencintainya. Selama Luo Fei masih mencintainya, pasti akan kembali.
Namun keyakinan itu tidak bisa menghalangi perasaan buruk yang menghantuinya setiap hari.
Karena itu, siapa pun yang sedikit saja berurusan dengan direktur, pasti jadi sasaran kemarahan.
Sementara itu, Luo Fei yang baru saja pindah rumah, membayar sewa dan denda kontrak, kini hidupnya sedikit pas-pasan. Ia harus segera mencari pekerjaan baru. Hidupnya harus benar-benar meninggalkan segala bayang-bayang masa lalu dan memulai dari awal. Ia masih muda, segalanya masih mungkin. Baik Wuchen yang berselingkuh, maupun Zheng Tianye yang tiba-tiba membuatnya hancur, semua itu hanyalah lembaran yang telah berlalu.
Ia bukan tipe perempuan yang suka meratapi nasib. Walau diterpa cobaan bertubi-tubi, begitu ia mengambil keputusan, hatinya langsung terasa lapang.
Hanya saja, ia tak menyangka, saat tengah menapaki jalan baru dalam hidupnya, tiba-tiba ia menerima panggilan dari ibu Wuchen.
Nomor barunya hanya diketahui orang tuanya. Jelas ibu Wuchen mendapatkan nomor itu dari mereka. Saat Luo Fei dan Wuchen mulai berpacaran, kedua keluarga sudah saling akrab. Ibu Wuchen adalah tipe ibu yang sederhana dan baik hati. Ia menyayangi anaknya, juga menyayangi gadis yang dicintai anaknya. Ia selalu menghormati orang tua Luo Fei, kadang menelepon sekadar menanyakan kabar. Orang tua Luo Fei pasti sungkan untuk menolaknya.
Luo Fei memang terkejut menerima telpon itu, namun ia tidak mungkin melampiaskan kemarahan pada orang tua. Saat mengangkat telepon, nadanya tetap sopan dan hormat.
Tak disangka, suara di seberang sana terdengar parau menahan tangis, “Xiaofei, Tante tahu Wuchen bersalah padamu, tapi dia sudah sadar. Bisakah kamu datang menemuinya? Tante takut dia tak kuat lagi.”
Luo Fei mendengar keganjilan dari suara ibu Wuchen. “Tante, ada apa dengan Wuchen?”
“Wuchen sakit, sakit parah sekali.”
...
Dua bulan sudah berlalu sejak terakhir kali Luo Fei bertemu Wuchen, dan kini ia menemuinya di atas ranjang rumah sakit. Pemuda yang dulu sehat dan penuh semangat itu, kini tampak kurus kering.
Kalau Luo Fei cukup kejam, seharusnya ia merasa puas melihat balasan setimpal bagi laki-laki yang berselingkuh. Ini adalah ganjaran buat Wuchen.
Namun Luo Fei ternyata bukan perempuan berhati ular. Saat melihat Wuchen pertama kali, yang ia rasakan hanya perih dan iba.
Sudah cukup lama mereka tak bertemu. Wuchen menatapnya, matanya yang suram karena sakit tiba-tiba tampak berbinar, dan dengan suara terbata-bata ia memanggil, “Feifei...”
Suaranya lemah dan sedikit bergetar, entah karena terlalu terharu atau tubuhnya memang sudah sangat lemah.
Luo Fei menghela napas pelan, berjalan mendekat ke ranjang dan menggenggam tangan yang Wuchen ulurkan. Sementara di samping ranjang, ibu Wuchen tak kuasa menahan tangis, menutup mulut dan terisak pelan.
Setelah menenangkan Wuchen, Luo Fei mengajak ibu Wuchen keluar kamar.
“Tante, sebenarnya Wuchen sakit apa?”
Tadinya ibu Wuchen hanya terisak pelan, namun setelah mendengar pertanyaan itu, air matanya langsung bercucuran, bahkan tubuhnya ikut bergetar. Luo Fei pun ikut cemas, jangan-jangan Wuchen mengidap penyakit mematikan. Begitu terpikir, ia buru-buru menepis pikiran buruk itu dari benaknya.
Ibu Wuchen akhirnya bisa sedikit tenang, dan ia menceritakan penyakit Wuchen kepada Luo Fei. Ia hanyalah perempuan sederhana yang tidak banyak tahu soal istilah medis. Ia hanya tahu samar-samar bahwa organ hati Wuchen bermasalah. Meski bukan penyakit mematikan, tetap harus dioperasi besar dan ada risiko yang cukup tinggi.
Bukan, bahkan risikonya sangat besar.
Dan Luo Fei pun paham, masalah besar lainnya adalah biaya operasi dan pengobatan yang sangat mahal. Setelah dikurangi asuransi dan tabungan keluarga Wuchen, masih ada kekurangan yang cukup banyak.
Dalam situasi seperti ini, Luo Fei tidak mungkin lagi mempermasalahkan perselingkuhan Wuchen. Nyawa manusia jauh lebih penting.
Ia menepuk tangan ibu Wuchen, “Tenang, Tante. Saya akan bantu pikirkan caranya.”
Setelah selesai berbincang dan kembali ke dalam kamar, Luo Fei duduk di tepi ranjang Wuchen, menenangkan dan menyemangatinya dengan suara lembut. Tak ada lagi sisa kemarahan atau kebencian seperti sebelumnya.
Wuchen tampak sangat tersentuh. Meski bicara saja sudah menguras tenaga, sudut matanya tetap basah.
Luo Fei pun terdiam pilu, hanya bisa mengelus dada, merasa betapa hidup ini penuh ketidakpastian.
Sepulang ke rumah, hal pertama yang dilakukan Luo Fei adalah menelepon orang tuanya.
Memang, beberapa hari lalu ia sudah meminta sejumlah uang besar, dan kini harus meminta lagi rasanya sungguh tak enak. Tapi, apalagi yang bisa dilakukan?
Namun di luar dugaan, sebelum ia sempat berbicara, ibunya sudah lebih dulu mengeluh di telepon, “Feifei, kamu tahu tidak? Beberapa hari lalu, ayahmu tergoda omongan orang, lalu menghabiskan semua tabungan untuk membeli dua saham. Tidak disangka, langsung merugi dan nyangkut. Kalau terus begitu, bagaimana nasib kami nanti? Itu kan tabungan masa tua kami.”
Luo Fei terdiam beberapa saat, baru kemudian berkata, “Tidak apa-apa, Ma. Saham pasti ada naik turunnya. Jangan panik. Lagi pula, kan masih ada aku.”
Mendengar itu, ibunya tertawa lega, “Kalau kamu bilang begitu, ibu jadi tenang. Ibu yakin saham itu pasti naik lagi. Ngomong-ngomong, kamu menelepon ada apa?”
“Oh, tidak, cuma kangen saja sama Ibu.”
Mendengar itu, ibunya makin girang, lalu di telepon ia menceritakan banyak hal, mulai dari siapa yang menikah, siapa yang bercerai, dan sebagainya. Luo Fei mendengarkan dengan sabar cukup lama, sampai akhirnya menutup telepon dan rebah tak berdaya di sofa.