Bab 38: Kisah Lama yang Tersembunyi
Beberapa gadis muda itu buru-buru melepaskan tangan mereka dan tersenyum canggung, “Rofi jelas bukan orang seperti itu, kan?”
“Siapa yang tahu! Sampai-sampai bisa menaklukkan seorang direktur utama, siapa tahu dia sebenarnya orang seperti apa?”
Rofi samar-samar merasa ada yang tidak beres, “Sebenarnya kalian sedang membicarakan apa?”
Gadis-gadis itu tertawa seru, “Rofi, kamu masih saja pura-pura tidak tahu. Direktur Zheng tadi baru saja mengaku di restoran. Kamu tidak lihat sendiri betapa sedihnya Ubi kita?”
Rofi mulai merasa firasat buruk, “Direktur Zheng mengakui apa?”
“Kamu itu pacarnya! Kamu tidak tahu betapa kagetnya kami waktu mendengar kabar itu! Tapi sepertinya sekarang satu kantor Heng Tian sudah tahu semua.”
“Apa?!” Rofi hampir saja menepuk meja.
“Aduh, Rofi, jangan tegang begitu. Kami tahu kamu ingin tetap rendah hati. Tapi Direktur Zheng saja tidak takut, kenapa kamu harus takut? Kamu bahkan belum dengar bagaimana nada bicaranya. Nih, aku tirukan—‘Oh, dia pacar saya.’ Kalian pasti sudah lama bersama, ya? Rahasia yang kalian jaga, wah, wah, wah…”
“Itu omong kosong belaka!”
Jelas sekali, pembelaan Rofi itu langsung tenggelam di tengah-tengah kegaduhan gosip yang sepertinya tak akan segera mereda.
“Zheng... Tian... Ye.” Ia menyebut nama itu satu per satu, menahan marah.
Rofi benar-benar jadi primadona di kantor.
Di waktu senggang, rekan kerja dari departemen lain sering datang ke bagian desain, menunjuk-nunjuk dan membisikkan, “Itu lho, pacar direktur utama, Rofi.”
Saat berjalan di koridor, berbagai tatapan mengarah padanya, diiringi bisikan-bisikan, “Itu pacar direktur utama.”
Gosip yang terang-terangan di tempat umum itu saja sudah cukup menyebalkan. Yang paling membuat kesal, justru saat di toilet. Sudah lebih dari sekali Rofi mendengar namanya disebut-sebut dengan nada penuh kebencian.
“Kamu tahu nggak? Dulu Rofi itu asisten di kantor direktur utama, ternyata dia pacar Direktur Zheng.”
“Pantas saja dia bisa bertahan lebih dari setahun di kantor direktur, ternyata memang sudah berhasil menggaet dia.”
“Padahal kelihatannya polos, tapi siapa tahu sebenarnya sehebat apa di ranjang, sampai Direktur Zheng dibuat bahagia. Dia sendiri yang mengaku di restoran kalau Rofi pacarnya.”
“Benar banget, wanita yang berusaha dekat dengan Direktur Zheng itu banyak, bahkan artis pendatang baru itu terang-terangan bilang paling mengagumi dia. Tapi baru kali ini dia mengaku sendiri siapa pacarnya.”
“Makanya jangan menilai orang dari penampilan, pegawai kecil saja bisa langsung jadi calon nyonya direktur. Jangan sampai nanti salah bicara sama dia.”
Segala hinaan itu benar-benar membuat Rofi tak tahan. Ia membuka pintu bilik toilet dengan kasar, menatap para rekan kerja yang bahkan ia tak kenal namanya itu, yang kini terlihat panik, dan hatinya terasa sedikit lega.
Namun setelahnya, ia malah merasa semakin sesak. Awalnya ia ingin mengabaikan segala gosip itu, juga tidak mau peduli pada Zheng Tianye, si brengsek yang entah apa maunya. Tapi, jika harus terus-menerus menjadi pusat perhatian gosip di seluruh perusahaan, ia benar-benar tak sanggup.
Dengan penuh amarah, Rofi menerobos masuk ke kantor Zheng Tianye saat ia sedang rapat dengan beberapa petinggi. Para pimpinan itu, begitu melihat ekspresi Rofi, langsung bergegas berdiri, berpamitan, dan meninggalkan ruangan.
Zheng Tianye menatap Rofi, raut wajah tampan itu menampakkan sedikit kemarahan. “Apa-apaan ini? Sedikit pun tidak tahu sopan santun?” Tapi kemudian ia seolah teringat sesuatu, tersenyum lebar, lalu mengitari meja dan mendekatinya. “Apa kamu datang mau minta maaf? Sudahlah, aku laki-laki, tidak akan mempermasalahkan sikap kekanak-kanakanmu. Aku maafkan kau.”
Rofi bengong, tidak mengerti apa maksudnya. Tapi ia segera teringat tujuan utamanya, dan dengan wajah dingin ia bertanya, “Zheng Tianye, sebenarnya apa maumu?”
Zheng Tianye tampak bingung, “Maksudmu apa?”
Rofi sampai harus berteriak menahan marah, “Kenapa kamu bilang di depan semua orang bahwa aku pacarmu?”
“Oh, itu toh!” Zheng Tianye mengangguk mengerti. “Apa kamu ingin hubungan kita diam-diam saja? Tapi sekarang sudah terlanjur ketahuan, tidak bisa ditarik lagi. Lagi pula, semua orang tahu kamu pacarku, memangnya ada ruginya?”
Rofi merasa kepalanya mau pecah, ia mengepalkan tangan dan tanpa pikir panjang memukul pria di depannya, “Siapa pacarmu! Siapa pacarmu!”
Zheng Tianye sedikit kesakitan, terpaksa menahan pergelangan tangannya. Mereka jadi sangat dekat, napas Rofi yang terengah-engah terasa di dagunya, wajahnya yang memerah karena marah begitu dekat. Zheng Tianye seketika kehilangan kendali, darahnya berdesir, dan sebelum Rofi sempat bicara lagi, ia menunduk dan mencium bibirnya.
Rofi terpaku seketika, benar-benar tak bisa bergerak. Ia membiarkan pria itu mencium dan menguasai bibir serta lidahnya, membiarkan aroma tubuh Zheng Tianye menyelimuti dirinya. Entah berapa lama, hingga akhirnya Zheng Tianye pun kehabisan napas dan terpaksa melepaskan ciumannya.
Namun melihat wajah Rofi yang masih memerah dan linglung, ia tak kuasa menahan diri. Ia mencium dahi, telinga, dan akhirnya leher Rofi dengan sangat lembut, lalu memeluknya erat-erat.
Sampai Rofi mendengar napas di telinganya semakin berat, dan merasakan ada sesuatu yang keras menekan kakinya, barulah ia tersadar dan sekuat tenaga mendorong Zheng Tianye.
Zheng Tianye terhuyung dua langkah, bersandar di meja, wajahnya memerah dan napasnya tak beraturan.
Tanpa sengaja, Rofi melirik ke bawah, dan melihat benjolan jelas di celana pria itu. Wajahnya yang sudah memerah, kini makin merah padam. Ia mengumpat penuh amarah, “Dasar hewan!”
Zheng Tianye, malu dan sedikit kesal, kembali duduk di kursinya, memandang Rofi dengan jengkel, “Sedikit pun tidak sadar diri sebagai pacar.”
Rofi akhirnya benar-benar tak tahan, menahan dorongan untuk menghajarnya, dan memelas, “Direktur Zheng, soal kamu pernah—memperkosaku, aku sudah tidak ingin mempermasalahkan itu. Tapi kumohon, jangan main-main denganku lagi. Sebenarnya apa maumu? Katakan saja, asal aku bisa, aku akan lakukan, meskipun harus mati.”
Memper—apa? Betapa buruknya kata itu. Zheng Tianye menunjukkan wajah tak suka, menatap Rofi, “Aku tidak minta apa-apa. Aku hanya ingin kau memperlakukanku seperti pacarmu, seperti yang dilakukan wanita lain pada kekasihnya.”
Selesai bicara, ia menegakkan kepala dengan bangga, seolah berkata, mudah sekali kan?
Rofi hanya bisa menunduk, lalu bertanya lirih, “Direktur Zheng, apa Anda menyukaiku?”
Begitu pertanyaan itu terucap, ia sendiri merasa tidak masuk akal. Selama lebih dari setahun di kantor direktur, Zheng Tianye selalu bersikap dingin dan kasar padanya, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyukai dirinya.
Zheng Tianye tampak sedikit kikuk, membersihkan tenggorokannya, “Aku melihat kau diam-diam menyukaiku selama dua tahun lebih, begitu setia. Aku tidak ingin menyakitimu, jadi…”
Diam-diam suka? Setia? Dua tahun lebih?
Rofi tiba-tiba teringat kata-kata pria itu saat memaksanya dulu, juga semua sikap anehnya belakangan ini. Ia akhirnya mulai paham.
Ternyata, pria ini sejak awal terlalu percaya diri menganggap dirinya dicintai. Entah dari mana ia mendapat kesimpulan itu, padahal Rofi sudah punya pacar sendiri—walau sekarang ia tidak mau lagi mengingat Wu Chen.
Ia menarik napas panjang, lalu berkata dengan tenang, “Direktur Zheng, aku tidak tahu apa yang pernah kulakukan sampai membuatmu berpikir aku menyukaimu. Jika memang ada, percayalah, itu tidak sengaja. Aku tahu banyak wanita yang menyukaimu, tapi jelas aku bukan salah satunya.”
Wajah Zheng Tianye mengeras, “Masih tidak mau mengaku? Dua tahun lalu, kamu pernah menyatakan cinta padaku di bar, di depan banyak orang.”
Rofi bingung, awalnya mengira Zheng Tianye berbohong. Namun tiba-tiba, sebuah memori muncul di kepalanya.
Itu saat kelulusan, teman-teman satu kamar akan berpisah, lalu merayakan di bar. Karena terlalu gembira dan minum sedikit, saat bermain truth or dare, ia kena hukuman dan harus menyatakan cinta pada seorang pria tampan yang duduk tidak jauh dari mereka. Ia pun, dengan semangat dan sedikit mabuk, mendatangi pria itu dan bicara panjang lebar.
Kalau memang itu, sungguh tak masuk akal.
“Jadi, kamu pria yang dulu aku nyatakan cinta di bar itu?”
Zheng Tianye mengangguk bangga, “Akhirnya kamu mengaku.”
Rofi mengeluh, “Direktur Zheng, waktu itu aku sama sekali tidak mengenalmu, dan itu cuma permainan truth or dare. Masa kamu tidak sadar?”
Siapa pun pasti tahu.
Zheng Tianye mengabaikan pertanyaannya, wajahnya masam, “Kalau begitu, kenapa kamu melamar ke Heng Tian?”
“Karena lulus seleksi, makanya masuk.”
“Lalu kenapa kamu minta pindah ke kantor direktur utama?”
“Aduh, aku ini cuma pegawai kecil, penempatan tergantung bagian HRD. Aku benar-benar bukan sengaja mengejarmu. Coba pikir, sikapku selalu wajar, apa ada yang terkesan menggoda? Aku berani sumpah, aku, Rofi, tidak pernah menyukaimu.”
Bahkan, ia ingin menambahkan, meski kamu uang sekalipun, tidak semua wanita di dunia pasti suka padamu.
Zheng Tianye benar-benar berpikir serius, lama kemudian ia mengambil kesimpulan sendiri, “Aku tahu, kamu pasti malu mengaku. Tidak apa, kamu tidak perlu bilang, aku sudah tahu.”
Zheng Tianye sama sekali tidak sadar betapa keras kepalanya.
Menurutnya, Rofi memang menyukainya. Sejak pertemuan pertama di bar, ketika Rofi menyatakan cinta, lalu berusaha masuk Heng Tian, dan akhirnya dipindahkan ke kantornya.
Menurutnya, semua sikap sopan dan hati-hati Rofi padanya, perubahan cara berpakaian yang makin dewasa dan menarik, hingga selalu menemani lembur, semua itu karena Rofi mencintainya.
Dan ia pun menikmati rasa kagum itu. Ia merasa tidak seharusnya mengecewakan seorang wanita yang begitu tulus. Karena itu, ia memutuskan menerima Rofi, demi wanita yang mencintainya setengah mati.
Rofi benar-benar tidak bisa lagi berbicara dengan pria itu, akhirnya ia lari keluar sambil menggenggam erat tangannya. Zheng Tianye hanya bisa menatap pintu yang dibanting keras-keras, lalu menunduk melirik bagian bawah tubuhnya yang masih menegang, memasukkan tangan ke saku, dan menggerutu, “Dasar perempuan sialan, lihat saja nanti, akan kubuat kau tak berdaya!”