Bab 76: Memasuki Gerbang Jalan

Indra Dewa Di manakah tempat yang benar-benar terbebas dari debu dunia? 2443kata 2026-02-08 10:29:53

Liu Ningning tak menyangka, orang berbaju hitam itu ternyata berasal dari Paviliun Manusia, dan menguasai teknik bela diri Su Qing.

Jiang Lin juga tak menyangka, ternyata Paviliun Manusia memiliki peralatan yang canggih. Hanya mereka yang bergabung dan berjasa besar saja yang bisa mengetahuinya.

Haruskah ia lebih memerhatikan Liu Ningning, membimbingnya agar menjadi mata-mata pribadinya?

Ia tiba-tiba menyadari, dirinya sangat asing dengan dunia ini. Pengetahuan yang selama ini ia yakini perlahan-lahan dipatahkan. Ia sadar, seharusnya ia tak hanya memahami orang dari dunia lain, tapi juga mengenali bumi ini.

Sepuluh tahun kemudian, saat energi spiritual bangkit kembali, bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan posisi yang kuat hanya dengan kemampuannya sendiri? Ketika saatnya tiba, apakah orang lain akan percaya dan mengikuti kata-katanya begitu saja?

“Paviliun Manusia, Gerbang Dao.” Jiang Lin berbisik, telah membuat keputusan di dalam hati. Ia harus memiliki status yang lebih tinggi, dan juga, mengumpulkan lebih banyak uang.

Tak takut racun pil, ia ingin mengumpulkan uang sebanyak mungkin, dan mempercepat peningkatan kemampuannya demi menghadapi pertempuran di masa depan.

“Dengan adanya Formasi Konsentrasi Cairan ini, paling lambat tiga hari lagi, aku sudah bisa menembus ke tingkat Zhenyuan.”

Jiang Lin mencatat formasi itu, lalu mencoba memanfaatkan formasi Lima Unsur sebagai penopang. Ternyata sama sekali tak ada masalah.

Lima Unsur adalah akar dari segalanya, melahirkan segala sesuatu di dunia. Ternyata memang benar, semua formasi yang ia kuasai bisa menampungnya. Ia jadi penasaran, apakah suatu saat nanti formasi ini bisa menopang sebuah dunia? Seperti dewa Pangu yang menciptakan dunia dan memainkannya.

Formasi Konsentrasi Cairan berputar, energi sejati di tubuhnya dengan cepat berubah. Dengan teknik pemurnian khas Gerbang Dao, Formasi Cahaya Emas juga diaktifkan. Ia tak tahu seberapa cepat efek pil konsentrasi yuan, tapi ia yakin, tetap tak sebanding dengan kecepatannya saat ini.

Selain itu, dengan menggabungkan beragam formasi, kemampuan Jiang Lin menyerap energi spiritual akan sangat cepat di masa depan. Formasi Pengumpul Energi dipadukan dengan Formasi Konsentrasi Cairan, seperti menggunakan cheat. Apalagi kalau ditambah pil, pasti ledakan kemajuan.

Satu malam berlalu, hampir setengah energi sejatinya telah menjadi cair. Dengan kecepatan ini, tak sampai tiga hari seluruhnya akan berubah menjadi Zhenyuan.

Hari kedua, mereka tak perlu masuk kerja karena sudah minta izin. Untuk mendapatkan uang, Li Santai pun memutuskan untuk tidak santai lagi dan menjadi pelayan merangkap bos.

“Jiang Lin, Kakak Zhou menelepon, mengundang kita untuk resmi masuk ke Gerbang Dao,” seru Wang Jenius.

“Baik, aku segera datang.” Setelah selesai bersih-bersih, Jiang Lin keluar bersama Wang Jenius. “Yaya, kau di rumah saja, jangan pergi ke mana-mana.”

“Kakak, bawa saja Yaya bersamamu,” pinta Yaya khawatir, takut sesuatu terjadi pada Jiang Lin saat ia keluar.

“Yaya, ini adalah upacara penerimaan Gerbang Dao, kalian tak bisa ikut. Tenang saja, aku akan baik-baik saja,” Wang Jenius tersenyum. “Jangan khawatir, hanya keluar sebentar, beberapa jam saja kami akan kembali.”

“Baiklah.” Yaya pun cemberut, tampak kurang senang.

Jiang Lin menghela napas lega. Kalau Yaya ikut juga, ia hanya bisa loncat dari balkon atau mencari orang untuk menahan Yaya.

Markas Gerbang Dao tak jauh dari Menara Latihan, berada di sebuah rumah besar kuno. Dua pemuda berpakaian Taois berjaga di depan pintu, sementara dua patung lembu hijau berdiri gagah di sisi gerbang.

Setelah Jiang Lin dan Wang Jenius menyebutkan nama, kedua pemuda Taois itu memberi hormat dan mempersilakan masuk. Salah satunya berkata sopan, “Kakak Zhou sedang menunggu kalian di aula utama, silakan ikuti aku.”

“Terima kasih, Kakak,” balas Wang Jenius dengan hormat, lalu melangkah masuk bersama Jiang Lin.

“Kau sopan sekali pada orang Gerbang Dao,” bisik Jiang Lin.

“Jelaslah, Gerbang Dao itu raksasa di negeri ini. Keluargaku Wang, tak ada apa-apanya,” Wang Jenius mendengus. Meski keluarga Wang kaya, tetap tak sebanding dengan Gerbang Dao, apalagi mereka punya grandmaster.

Mereka mengikuti pemuda Taois masuk ke halaman. Bunga-bunga bermekaran, tanah bersih tanpa debu.

Begitu tiba di aula utama, aroma dupa yang kuat langsung menyeruak. Tujuh atau delapan Taois sedang khusyuk membakar dupa, bersikap hormat dan penuh ketulusan, wajah-wajah mereka serius tanpa sedikit pun kelengahan.

Benarkah aku akan bergabung dengan kelompok aneh ini? Jiang Lin mendadak ragu, tapi karena sudah sampai, menolak pun tak mungkin. Ia hanya bisa berharap anggota Gerbang Dao lainnya lebih normal.

“Kalian berdua, kemarilah,” panggil Tuan Zhou.

“Bagaimana proses penerimaannya?” tanya Jiang Lin sambil melangkah maju.

“Situasi darurat, semuanya dibuat sederhana. Selesai membakar dupa, berarti resmi menjadi anggota Gerbang Dao,” jawab Tuan Zhou.

Seorang Taois muda menyalakan dupa dan menyerahkannya pada Jiang Lin dan Wang Jenius.

Jiang Lin memandangi altar. Di sana hanya ada papan nama, tanpa patung. Di bagian paling atas tertulis nama Pangu, lalu Tiga Kesucian, kemudian Fuxi, Nüwa, dan tokoh-tokoh mitologi lainnya.

Keduanya membakar dupa dengan hormat, lalu menancapkannya ke tungku dupa. Tuan Zhou mengeluarkan sebuah buku, “Dengan ini, kalian telah resmi menjadi anggota Gerbang Dao. Wang Jenius, pewaris Taishang Zushi, gelar Taois: Taixu.”

“Jiang Lin, ahli formasi, pewaris Fuxi Zushi, gelar Taois: Fuxu.”

“Sama-sama ‘Xu’?” Jiang Lin mendengus. Tak ada nama yang lebih bagus? Gelar Wang Jenius itu, sampai sekarang masih perjaka tua, jangan-jangan memang sesuai namanya?

“Bagaimana kalau jadi Voldemort, atau Fufa? Aku bisa ganti,” Tuan Zhou membolak-balik buku, mengangkat kuas hendak mengubah gelar Taoisnya.

“Jangan, tetap saja Fuxu,” Jiang Lin tersenyum kecut. Benar-benar payah soal nama.

“Ini adalah kartu identitas Gerbang Dao, simbol keanggotaan kalian, simpan baik-baik, jangan sampai hilang.” Seorang Taois menyerahkan dua buah kartu berbahan aneh pada mereka.

Kartu Jiang Lin di satu sisinya bertuliskan “Dao”, di sisi lain “Fu”, menandakan ia adalah pewaris Fuxi dari Gerbang Dao. Sementara kartu Wang Jenius bertuliskan “Dao” dan “Tai”, pewaris Taishang.

“Kalian diundang ke sini, selain untuk penerimaan anggota, juga membahas soal peninggalan kuno,” kata Tuan Zhou. “Soal pembagiannya nanti, kalian punya pendapat?”

“Tentu, semua ramuan spiritual untuk kami, sedangkan kalian mengambil warisan apa pun,” kata Jiang Lin.

“Bisa saja,” angguk Tuan Zhou. “Gerbang Dao tak kekurangan ramuan, tapi jika ada yang tingkat atas, kami akan mengambil sebagian.”

Ramuan biasa saja tak menarik bagi Gerbang Dao, tapi yang tingkat atas sangat berharga.

“Setuju,” Jiang Lin mengangguk. “Nanti, setelah masuk peninggalan, jika ada kesulitan kita saling bantu, jangan sampai bertengkar demi keuntungan kecil.”

Itu yang paling penting. Jiang Lin tak ingin berselisih dengan Gerbang Dao, juga tak mau mereka semena-mena.

“Tak perlu khawatir, sejak mengajak kalian, Gerbang Dao takkan mengingkari janji. Kita pasti saling membantu, takkan serakah soal untung kecil,” Tuan Zhou tersenyum.

“Kalau begitu, sampai jumpa di peninggalan nanti. Saya pamit.” Jiang Lin membungkuk dan hendak pergi.

“Tunggu, jubah Taois untukmu belum diambil,” ujar Tuan Zhou.

“Jiang Lin, kalau kau buru-buru, biar aku yang ambilkan. Pulang saja dulu,” seru Wang Jenius.

“Mau apa kau? Tak mau pulang bersamaku?” Jiang Lin menatapnya waspada. Apa lagi yang ingin dia lakukan?

“Ada urusan mendadak, ingin bicara sebentar dengan Ningning. Sudah beberapa hari tak bertemu, pasti dia kangen,” Wang Jenius memasang wajah penuh harap.

“Ningning itu kakak seperguruanmu,” sela Tuan Zhou.

“Malah lebih menantang kalau kakak. Sudahlah, cepat pergi sana,” Wang Jenius mendorong Jiang Lin keluar.

“Kalau begitu, cepat pulang,” ujar Jiang Lin, tak mau berdebat. Kebetulan ada urusan sendiri, lebih baik Wang Jenius tak ikut, jadi ia tak perlu memikirkan cara mengusirnya.

Setelah keluar dari rumah Gerbang Dao, Jiang Lin tak langsung pulang. Ia mengambil jubah hitam yang disembunyikannya, lalu mengenakannya. Jika menghitung waktu, orang-orang Yan Wujun pasti segera tiba. Ia harus bergegas.